
Di sisi lain dalam ruang semesta... yang hanya memperlihatkan kehampaan dimana ruang-waktu tidak berlaku....
"Begitu... Achronos sudah mati ya, tapi aku masih merasakan, inti keberadaan nya masih ada, aku pikir seseorang itu hanya menahan Achronos."
"Apa yang anda lakukan setelah menyadari hal ini, saya bahkan melihat Nerph masih dalam mimpi buruk abadinya."
"... Tentu kita akan mengembalikan Achronos, kita membutuhkan sosok abstrak nya, untuk... membunuh dewa kehancuran... Verly, aku memilih takdir mempertemukan kita dari pada mencarinya, lagi pula aku tidak cocok menjadi pengelana karena wujud tua ini."
"Begitu ya saya malah lebih bosan menunggu, kebosanan itu sama aja akan membunuh diri sendiri, jadi.. mungkin saya akan pergi ke tanah suci dewa untuk mengambil pedang saya kembali, setelah itu saya akan mencari seseorang itu."
"Kau pemudah yang penuh semangat, terserah tapi jangan mengamuk di dunia Hollow ya."
"Tentu..."
***
Dunia Vertuz tempat bagi umat manusia menyembah mereka para dewa.
Bisa di bilang ini adalah tanah suci, dan sekarang aku sedang berjalan di salah satu kota besar, dengan pandangan gurun pasir di sekitar.
Namun aku pikir gurun pasir di sini sedikit berwarna emas, berbeda dengan gurun lainnya yang pernah aku lihat di duniaku sebelumnya.
Dan cuaca panas di sini... benar-benar tidak terasa, di tambah rata-rata penduduk di sini lebih menutup diri mereka memakai jubah.
Ini masih di luar tanah suci Vertuz, namun di salah satu kota besar Inilah aku melihat berbagai banyak hal.
Dari... pasar gelap, budak, wanitapelacur, perampokan, bahkan pemerkosaan secara publik, dan kejahatan lainnya.
Semakin aku berjalan lurus kedepan mengikuti jalan, semakin aku merasa bahwa kota ini jauh lebih buruk dari duniaku yang sebelumnya.
Melihat mereka-mereka yang menutupi diri dengan jubah, aku merasa aku harus melakukan nya juga.
Hingga...
Aku bertemu dengan seorang pemuda di tengah jalan tepat berada di hadapanku yang terlihat sengaja menghentikanku yang sedang berjalan.
"Ada apa?"
Aku bertanya dengan wajah datar kepada orang tersebut.
"Kau.. orang luar ya, dan kau terlihat seperti seorang pengelana, ikutlah denganku sebentar, aku ingin bernegosiasi denganmu."
Pemuda itu juga menutupi dirinya dengan jubah, aku tidak bisa melihat wajahnya, namun dari suaranya aku pikir dia serius mengatakan itu.
"... Terserah"
Pada akhirnya aku mengikuti pemuda itu yang mengajaku untuk bernegosiasi, meski aku sendiri tidak mengerti.
Kami berjalan dengan pemuda itu yang akan menunjukan jalan nya.
Aku tidak tahu dimana aku akan dikirim, tapi kelihatanya dia ingin membicarakan sesuatu dengan lokasi yang bersifat privasi.
Aku terus berjalan dengan pemuda itu melewati setiap gang-gang sempit, seakan ini terasa seperti melakukan transaksi gelap.
Hingga langkahnya terhenti saat menghadap ke sebuah kedai makan.
"Kita sampai, ayo kita masuk."
Dia berjalan masuk ke dalam kedai makan tersebut yang berada di hadapanya.
Aku yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa mengikuti jejaknya yang sedang berjalan mengunjungi kedai tersebut.
Saat diriku memasukinya... dan melihat dari segala arah aku tidak melihat orang lain berada di sana, ini begitu sepi yang terasa hanyalah kedai yang begitu kosong.
"Kurasa.. sekarang sudah aman."
Aku melihat pemuda itu perlahan melepaskan jubahnya.
Dan saat aku melihat penampilanya aku merasa tidak asing dengan pakaian yang ia kenakan.
Pemuda itu berambut pendek berwarna kuning, dengan pakaian yang menurutku sendiri itu seperti seragam anak SMA.
Sesaat... aku berpikir bahwa dia sama sepertiku di kirim ke dunia ini.
"... Apa kau... murid SMA?"
Aku memutuskan bertanya langsung dengan apa yang menurutku dia juga seseorang yang terkirim dari dunia ini.
"Pelajar?.. tidak, sejal awal aku sudah bisa menggunakan sihirku."
"He?.. kau bukan seseorang yang terkirim ke dunia ini?"
Aku cukup terkejut dengan pernyataanya jadi aku menanyainya sekali lagi.
"Ohh.. jangan-jangan kau bukan bagian dari dunia ini ya aku beruntung bertemu dengan orang luar di dunia Vertuz ini, tapi itu tergantung bagaimana kedepanya, perkenalkan namaku Afreon... pakaian ini aku dapatkan dari seseorang yang di kirim juga, namun saat-saat terakhirnya dia menitipkan pakaian ini kepadaku."(Afreon).
"Namaku Retnan, kalau begitu... apa yang kau maksud negosiasi itu?"
Aku rasa obrolan ini akan menarik, jadi aku memutuskan mencari tempat duduk dan setelah mendapatkan nya, perlahan aku mengeluarkan rokoku lalu menyalakanya dengan tujuan menikmati obrolan ini.
"Aku tahu kau ingin pergi ke Vertuz bukan?, dan aku memiliki firasat dirimu benar-benar kuat, untuk itu aku ingin ikut bersamamu ke Vertuz, setidaknya sampai kau bisa membawaku ke Altair, sebagai gantinya... aku akan ikut berkelana denganmu."(Afreon)
"....... Kurasa tidak perlu, tapi aku tidak mempermasalahkan kau ikut bersamaku ke Vertuz atau tidak, aku juga tidak akan bertanya alasannya, oh ya, aku akan bertanya alasamu kenapa kita membicarakan hal ini secara rahasia? seakan kau sudah menjadi buronan."
Aku bertanya sembari duduk menikmati rokoku.
"Tidak, tapi kau harus tahu... jika orang luar berbicara tentang Altair di kota ini... kau akan menjadi buronan mereka, Altair tempat suci yang konon katannya terhubung dengan kedua belas rasi bintang yang akan membawamu ke lapisan atas Nov Sanctuary, tapi tujuanku adalah.. apa yang mereka puja di sana."(Afreon)
Setelah mendengar penjelasanya sekali lagi aku berdiri.
"Itu tidak terdengar seperti namanya, baiklah kau yang akan memimpin jalannya, tapi ingat satu hal... jangan libatkan aku dengan masalahmu, yahh... mekipun aku sendiri tidak terlalu yakin tentang tujuanku kemari."(Retnan)
"Kau... pengelana yang aneh, kita sekarang berada di dunia Vertuz tapi bukan tempat Altair itu berada, aku yang akan membimbing jalan, oh ya lebih baik kau menutupi dirimu lagi, karena... bukan hanya berlaku ke kota ini saja, semua yang hidup di dunia Vertuz memilih untuk tidak membuka diri secara publik, karena... mereka yang menutup diri menganggap dirinya sendiri adalah sosok anonim seperti halnya tuhan itu sendiri, sedangkan mereka yang memilih terbuka, adalah orang yang menerima berkah dari tuhan, singkatnya orang yang terbuka menganggap orang yang tertutup adalah hambah nya, dan sebaliknya, seperti yang kau lihat... perampokan pemerkosaan, pasar gelap, semua itu hanyalah konspirasi yang di lakukan tanpa dasar hukum dunia, walau begitu tidak ada yang peduli tentang hal itu, yaa... jika di sini kau menjadi sosok yang terbuka kau dapat menerima segalanya dari sosok yang tertutup, sebaliknya jika dirimu yang tertutup tidak bisa memberikan apapun kepada yang terbuka, kau harus menjauhinya atau kau akan di eksekusi, dan dari semua itu... semua tertuju kepada Altair atau tempat suci."(Afreon)
"Oh ya satu pertanyaan lagi, apa kau... berasal dari dunia Vertuz?"(Retnan)
" Yaa.. namun itu dulu sebelum tuhan merebut semua yang aku miliki."(Afreon)
"Tuhan.. katamu?"
Aku cukup terkejut dengan perkataanya dan sedikit membuat diriku bingung.
"Tidak juga, tapi mereka yang tinggal di dunia Vertuz menganggap mereka adalah tuhan, yang aku maksud mereka adalah... [Pure Evil]
itu bukanlah singkatan namun istilah, mereka yang berkuasa atas dunia Vertuz, sekaligus.. orang yang ingin aku bunuh, aku akan menjelaskan lebih detail sembari berjalan."
***
Kami mulai berjalan... dengan Afreon berada di depan mengbimbing jalan.
Selangkah demi selangkah hingga aku melihat berbagai sifat, tindakan, sikap, setiap orang yang mana semakin aku menyusuri jalan ini seakan aku mulai mengerti dengan apa yang Afreon katakan.
Mereka yang tinggal di dunia Vertuz, hanyalah sekumpulan orang yang tidak memiliki arah tujuan untuk kembali pulang, seakan tempat ini menjadi sarana hiburan mereka.
Kemiskinan, ekonomi, pendidikan, hak, serta hukum.
Seakan semua hal itu tidak berlaku bagi dunia ini, mereka tidak perlu mencari makan dengan kerja keras, mereka bisa melalukan apapun dengan sihir mereka.
Kemiskinan? kurasa itu hanyalah ungkapan dari seseorang yang malas bergerak padahal mereka bisa saja mendadak kaya dengan menggunakan apa yang ada di dalam diri mereka.
Dari semua itu mereka melakukan atas dasar"KEINGINAN" serta "KEYAKINAN".
Seperti halnya menjadi tuhan.
Mereka hanya membuat kebenaran itu menjadi sebaliknya, hukum di tentukan dengan apa yang menurut mereka benar, serta hak di tentukan dari setiap pemikiran mereka masing-masing.
Setelah dasar itu tercipta mereka perlahan membuat aturan dunia baru yang bertengangan dengan dunia luar.
Dengan begitu setiap keinginan mereka secara idealisme, akan selalu terpenuhi dengan aturan yang sudah di buat tanpa adanya hukum-hukum lain yang di tentukan secara bersama seperti halnya negara lain.
Begitulah konsep dari dunia Vertuz tapi setelah mendengar ada otoritas yang memimpin dunia ini, kurasa semua ini di tentukan olehnya.
Kemudian...
Langkahku berhenti saat aku melihat seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan yang tiba-tiba menghampiriku begitu saja.
Pakaiannya terlihat compang-camping yang aku rasa itu benar-benar sudah kotor.
Aku tidak tahu harus bersikap apa di saat seperti ini.
"Tuhan.. ohh tuhan.. "
Dia terlihat berusaha meraih wajahku.
Aku yang menyadarinya...
Perlahan aku merendahkan diriku kepada anak itu lalu memberikanya beberapa pakaian yang layak.
Ini seakan bukan diriku yang sekarang, meski begitu aku tetap merasakan kehangatan tersendiri saat melihatnya.
"Baiklah... aku pergi ya"
Aku berdiri sekali lagi lalu mulai berjalan kembali mengikuti Afreon.
"He? bodoh.. apa yang kau-"
Saat aku mendengar perkataan Afreon sekali lagi aku menoleh kepada gadis kecil itu hingga aku merasakan hawa membunuh yang kuat.
Tidak.
Sejak awal gadis kecil itu...
"He?..."
Memang berniat membunuhku
bahkan tanpa aku sadari sebuah pisau belati sudah mengiris menusuk perutku.
"Woi.. bocah tengik..!!"(Afreon)
Aku sangat terkejut.
Sihir?Sejujurnya aku tidak yakin bahwa gadis sekecil dia sudah bisa menguasai sihir tingkatan.
Aku tidak merasakan sakit hanya saja... aku benar-benar terkejut dengan apa yang dia lakukan.
Dia menusukku tanpa meyentuh lalu memandangiku dengan ekspresi dingin, ini seperti hal yang biasa bagi dirinya.
Aku masih memasang ekspresi rasa terkejut seolah diriku membeku sesaat.
"Woi... kau.. eh? tidak ada darah?"
Aku melihat reaksi Afreon sedikit terkejut saat memperhatikan diriku yang telah menerima sebuah tusukan.
Lalu...
Tanpa pikir panjang tanganku meraih belati yang masih menancap ke dalam perutku dan langsung mencabutnya.
"Tidak mungkin.. siapa dirimu sebenarnya...?!"
Dia sedikit ketakutan setelah melihat lancaran pisau itu tidak berefek pada diriku.
Tak lama dia mulai melangkah mundur sambil menodongkan senjatanya ke arah ku.
Seketika, Afreon yang menyadari dia akan melarikan diri, perlahan aku merasakan sihir mengalir pada dirinya seakan itu siap untuk membunuh.
"Kau tidak perlu serius begitu menanggapinya, apa kau tega membunuh gadis kecil itu?"
Aku sambil mengarahkan tangan kananku ke arah depannya seakan menahan dirinya untuk mengejarnya.
"Sial..."
Dia terlihat kesal.
***
Satu setengah jam sudah berlalu.. walau begitu cuaca masih terlihat cerah.
Aku terus berjalan tanpa rasa lelah begitu juga dengan Afreon.
Mulai dari sini... Aku tidak melihat kota lagi, dan hanya gurun emas yang menjadi pemandangan.
Tapi kalau di pikir kembali... aku baru menyadarinya kalau dunia Vertuz tidak ada tanda-tanda monster sama sekali, ini seperti di kota tua Domina saja.
"Oh ya Afreon... kenapa gadis tadi mencoba membunuhku? dan... aku merasa dia memang ahlih."
Sembari kita berjalan aku ingin membuka percakapan.
"Ya aku lupa untuk memberitahu, tapi kau sedikit mengerti bukan, gadis kecil tadi memang telah ahlih dalam melakukan pembunuhan, mereka yang tidak memiliki tempat tinggal sejak mereka lahir di dunia Vertuz akan menjadi sosok yang tidak terkendali karena lingkungan mereka, apa lagi di dekat tanah suci Altair." (Afreon)
"Oh ya.. aku cukup bingung dengan tempat suci itu apa lagi.. katanya dunia Vertuz adalah tempat bagi ras setengahdewa, apa itu hanyalah sejarah?
kau tidak harus menjawab, aku hanya ingin mengatakanya saja."
Aku dengan ekspresi biasa bertanya dan terus berjalan bersama Afreon.
"Jadi... orang luar mengetahuinya, aku hanya bisa menjawab satu pertanyaanmu untuk sekarang, yang pertama.. soal tempat suci, tempat itu berada di tengah zona semesta lapisan bawah yang menghubungkan keseluruhan semesta tak terbatas, aku yakin seorang pengelana sepertimu tahu akan hal itu, tapi dengan penjelasan yang sedikit tidak singkron dalam pemikiranmu, jika kau ingin mengenal lebih dalam mengenai keseluruhan semesta lapisan bawah, aku bersedia untuk menjawab."(Afreon)
Dia menoleh kepadaku.
"Tidak, intinya setiap semesta saling terhubung bukan? namunaku tidak mengerti dengan zona semesta yang kau maksud."
Aku memutuskan bertanya langsung.
"Ya, sejak awal kau sudah berada di dalam zona semesta, yang mana zona ini adalah sebagai penghubung semesta lain, dan yang kau maksud semesta tak terbatas adalah bagian luar dari zona semesta berada"(Afreon)
" Jadi... zona semesta adalah pondasi atau inti lapisan bawah?"(Retnan)
"Hmm... bagaimana ya, ini seperti kau berada di dalam sebuah toples yang mana kau tidak akan menemukan "batas dan ujung" karena berada di lingkup lingkaran tak berujung, zona semesta Hollow adalah pondasi dari keseluruhan semesta di lapisan bawah atau hollow, sifat dari zona semesta bersifat independen dengan ruang sehingga batas itu tidak berlaku karena ini berada di ruang lingkup lingkaran yang secara independen mengabaikan ruang semesta, sedangkan semesta tak terbatas lainnya berada di luar toples yang terhubung ke dalam toples atau zona semesta ini, jika pondasi zona semesta hancur, maka semua semesta yang terhubung akan benar-benar hancur, kau tidak akan semudah itu menemukan ruang kehampaan, jika kau keluar dari toples kau hanya akan berada di luar semesta lain dari luar zona, kalau lapisan atas... mungkin lebih ke arah konseptual dan jauh lebih besar."(Afreon)
"Aku mengerti, jadi alasan itu segala sesuatu dapat terjadi karena keterikatan dengan semesta lainnya, lalu... soal setengah dewa?"(Retnan)
"Soal itu..."