A The Creators

A The Creators
Pilihan Untuk Memulai Petualangan



"Eh?..kembali seperti semula?"


Aku yang bingung tiba-tiba semua kota kembali seperti semula,seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


"Iya tuan,aku mengembalikan waktu


dan orang yang anda cari, sudah


saya tangkap dan saya kirim ke


suatu tempat yang jauh, apakah saya sangat berguna tuan?" (Verly)


"Ya.. aku hampir saja menyesali perbuatanku, tapi...kita jadi tidak tahu apa motif dari orang itu, yahh..setidaknya sekarang aku bisa mengelilingi kota ini yang begitu tidak modern, dan...aku merasa risih dengan mulutmu"


Aku dengan wajah kesal, sambil memutuskan berjalan mengelilingi kota.


"Hee..anda tidak tertarik dengan mulut wanita dewasa ya?, tapi terserah anda memperlakukan nya bagaimana, aku akan tetap berada di sini"


"Yahh...terserahlah, lagian wujud aslimu adalah naga dan berjiwa dewa, tapi...


wujud manusiamu lebih cantik, entah kenapa kau mengingatkanku seseorang yang aku cintai di dunia ku sebelumnya"


Aku berbincang dengan Verly sambil terus berjalan.


"Anda memiliki seseorang yang anda cintai selain saya?" (Verly)


"Ha?.. sejak kapan aku menyukaimu,


itu semua hanya masa lalu,


dan aku benar benar muak


dengan dunia itu, dan oh ya


ngomong-ngomong...


kau belum memberitahuku alasanmu membuat kontrak denganku, aku yakin kau tidak akan bertahan lama jika denganku,aku hanya seorang pecundang yang tak sengaja terkirim dari dunia ini" (Ratnan)


"Hee... soal itu, ada beberapa alasan,


kita itu sama, walau dalam artian


yang berbeda, setengah diriku adalah naga dan jiwaku adalah dewa, namun itu semua hanyalah ungkapan bagi mereka yang tidak mengetahui sosok saya yang sebenarnya" (Verly)


"Maksudmu... semua yang kau katakan itu bohong?" (Ratnan)


Dan saat itu aku melihat dari mulutnya tersenyum lebar.


"Tidak juga sejujurnya... saya


sudah bosan hidup di dunia yang tidak di ketahui ini" (Verly)


Saat itu Aku terkejut dengan perkataan nya, aku memutuskan berhenti berjalan.


"Tunggu... kau tidak mengetahui dunia kita saat ini? bahkan dirimu yang sudah tinggal sejak lama?"


Aku dengan wajah terkejut mengatakanya.


"Hee..saya mengetahui semua


yang ada di dunia ini,


alasan perkataan saya merasa bosan tadi... tidak lain adalah...


mereka semua lemah, semua yang


ada di dunia ini lemah, wujud saya yang sebenarnya jauh lebih menawan dari semua yang ada di dunia ini, keberadaan saya, kekuatan saya, segalanya...saya lampaui, namun... saya memutuskan menjadi sosok naga sampai saya menemukan sesuatu yang membuat kebosanan saya menghilang"(Verly)


"Aku merasa perkataanmu tidak


bohong, tapi kenapa kau menyebut


dunia ini tidak di ketahui namun kau mengetahui segalanya?"


Aku benar-benar merasa bingung,


dan sekali lagi.. aku melihat mulutnya tersenyum lagi.


"Dunia ini tidak diketahui dalam


ketidak tahuan, begitu juga saya,


saya mengetahui segalanya namun


saya menganggap semua pengetahuan yang saya ketahui hanyalah ketidak tahuan, jika saya mengetahuinya itu


sama halnya membuat saya merasa


bosan yang berarti...


saya sekarang hanyalah naga yang


tidak berpengetahuan tinggi, jika


anda bertanya kita di dunia mana?


saya hanya bisa menjawab... ranah ini jauh dari dunia yang sebelumnya


anda tinggali" (Verly)


"Jadi maksudmu...aku adalah


"Sesuatu" itu?"


Aku dengan tatapan dingin melihat Verly


lewat mulutnya yang menempel berada di telapak tangan kiriku.


"Ahh... jangan menatap saya


dengan tatapan itu tuan.., anda


bisa-bisa membuat saya hamil,


dan itu benar... sejak awal saya menantikan keberadaan anda...


tuan, saya tidak perlu menjelaskan sedetail mungkin karena itu hanya


akan menjadi serangkaian sebuah


cerita dongeng"(Verly)


"Yahh... sudahlah, meski aku setengah dewa rasa ingin memakan sesuatu tetap saja masih ada, oh"


Dan saat itu aku melihat sebuah kedai dengan beberapa penginapan di dalamnya.


"Oh ya Verly,uang mata di dunia ini apa?"


Aku bertanya kepada Verly.


"Anda tidak perlu susah-susah,


di dunia ini mereka menerima


apapun yang menurut si pembeli berharga, jika seseorang tidak bisa membayarnya, maka tubuhnya


sebagai bayaranya, dan itu terlepas


dari hukum" (Verly)


"Maksudmu... di dunia ini tidak ada hukum kemanusiaan?"


Aku sedikit terkejut.


"Tidak juga, dunia ini bukan hanya


satu, otoritas yang lebih tinggi akan memimpin sebuah negeri"(Verly)


"Sudah ku duga, di dunia ini juga


sama, namun kau bilang bukan hanya satu, kuharap hukum masih di


tegakan di dunia lain, baiklah kita


akan ke sana"


Aku berlari menghampiri kedai


tersebut yang berada tepat di


pandangan mataku.


Dan saat aku memasukinya,


aku cukup terkejut dengan keadaan mereka-mereka yang berada di sana sangat tenang.


Suasana di sana cukup hening, dan aku memutuskan menginap di sini untuk beberapa hari kedepan.


"Permisi... aku ingin menginap dua hari dan juga berikan aku dua gelas


kopi,dan beberapa roti, hmm.. aku akan membayarnya pakai ini"


Aku memberikan kartu debitku kepada sang penjual, meski sedikit sesak sih merasakan nya, namun di dunia ini aku merasa tidak membutuhkanya lagi.


Dan akhirnya aku mendapatkan ruanganku, perlahan aku berjalan menghampiri ruangan penginapan


yang sudah aku dapatkan.


"Yahh.. meski tidak semewah di


duniaku namun ini cukup bagus suasanya"


Aku memasuki kamarku


dan langsung terbaring sambil


meminum kopi yang sudah ada di meja.


"Verly, kau boleh keluar"


Tiba-Tiba tubuh ku bercahaya dan secara langsung Verly sudah berada di hadapanku.


"Kenapa... anda tidak menyuruh saya membuat sebuah rumah?saya malah


merasa tidak berguna"


Aku melihat wajah Verly sedikit kecewa.


"Kau bisa membuatnya ya?


yahh..tidak masalah, aku ingin


memiliki suasana baru kau cobalah minum kopi ini, rasa nya lumayan...


yahh.. meski aku tahu sih kau itu dewa yang bisa membuat apa saja"


Aku sambil menyeruput kopiku.


"Tidak tuan... derajat anda jauh lebih tinggi, saya sudah memutuskannya


saat berkontrak dengan anda, ikatan


kita akan berjalan selamanya"


(Verly)


"Tidak kusangka kau bisa mengatakan hal yang romantis, sudahlah minumlah"


"Ta..Tapi, aku ingin... kita bertukar"(Verly)


"......."


Aku benar-benar bingung dengan cara berpikir nya yang terkadang aneh.


"Kau yakin?, aku akan mendapatkan kopimu loh"(Ratnan)


"Tentu... jika anda mau"(Verly)


Aku benar-benar tidak memahaminya


tapi dia terlihat ingin sekali bertukar


gelas dengan ku.


"Baiklah.. kita bertukar"


Pada akhirnya itulah keputusanku


dan aku tidak menyangka dia akan sebahagia itu.


"Akhirnya... aku mendapatkan


ciuman tidak langsung, Ahh..


aku yakin ini bekas mulut tuanku.."


(Verly)


"Kalau di pikir-pikir, kota ini cukup


damai namun juga tidak, tapi setidaknya aku bisa beristirahat, meski ini tidak senyaman saat aku beristirahat di ekor naga mu"


Aku sambil terbaring dan mutuskan


untuk menghilangkan penatku dengan tidur damai.


Hingga saat aku baru memejamkan


mata saat itu seseorang seperti mengangkat wajahku.


Aku yang menyadari langsung


membuka mata sekali lagi dan


langsung menoleh ke atas,


yang ternyata orang itu adalah


Verly yang sedang duduk di


sebelahku menaruh wajahku tepat


di atas pahanya.


"Bagaimana.. apa anda merasa sangat nyaman tuan? berada di paha seorang wanita dewasa, anda sangat beruntung"(Verly)


entah kenapa... ini adalah sesuatu yang jarang terjadi terhadapku,dan aku sedikit nyaman tentang hal ini.


" Ahh.. tubuhku mulai basah, kumohon tetap lah seperti itu tuan"(Verly)


"Maaf saja nona... yang bisa


kulihat hanyalah dada yang


menelonjang besar yang menutupi pandanganku"


Sekali lagi aku memutuskan bangun,


dan saat itu...


"Kena kau"


*Duarrrr...!!*


Aku mendengar sebuah ledakan di dalam ruanganku hingga hancur lebur, yang tidak lain di sebabkan olehku.


Lalu saat tertutup oleh asap,


aku melihat seseorang yang sejak awal aku sudah menyadari keberadaanya di kamarku.


Dia terjatuh terlihat mengenai ledakan itu namun tidak terlalu menerima luka parah.


Aku berajalan menghampiri orang tersebut yang berada di pandanganku.


"Wah... berani juga ada seorang pria yang mengganggu kenyamananku"


Aku meraih rambut pria itu lalu menariknya ke atas, seakan dia dalam genggamanku.


"...Verly kembalilah ke tanganku"


Seseorang tersebut masih dalam genggamanku, dan aku memerintah


Verly untuk kembali ke telapak tanganku.


Aku menatap orang itu sembari


bertanya apa tujuan dia mengawasiku.


Namun...


Setiap aku menanyainya selalu saja


dia abaikan, dia lebih memilih diam


dari pada memperdulikan dirinya


sendiri yang sedang terancam.


"Verly.. apa kau tahu tentang mereka?"


Aku memutuskan bertanya kepada Verly karena aku yakin dia mengetahui sesuatu dari pakaian yang orang Itu kenakan.


"Saya pikir, dia adalah pemberontak


sekaligus seorang ilmuwan yang


sedang berkelana, alasan saya menyatakan itu adalah... karena dia mengincar anda yang setengah


dewa, mereka membuat kerusuhan di kota ini untuk alasan tertentu, oh ya


saya pernah mendengar bahwa ada sebuah penelitian yang sampai


sekarang sedang berlangsung, kalau


tidak salah namanya.. SCOOT dan pakaian yang dia kenakan adalah


salah satu dari mereka"(Verly)


Lalu aku melihat respon orang itu


saat Verly mengatakan hal itu,


dia berteriak mengatakan


diam dan diam.


Namun sekejap aku langsung membungkam mulutnya.


"Tuan, arahkan mulut saya kedalam


mulut orang itu" (Verly)


Aku tidak mengerti maksudnya namun perlahan aku mulai melakukan apa yang Verly katakan, aku mengarahkan tangan kiriku yang dimana tempat mulut Verly berada ke arah mulut orang itu.


Dan saat aku melakukanya, seketika aku melihat reaksi orang itu seakan tersiksa dengan yang Verly lakukan.


Aku mendengar teriakan kesakitan dari orang itu, meski aku tidak mengerti apa tujuan Verly, tapi jujur saja aku benci dengan caranya.


Lama semakin lama, orang itu


semakin tersiksa, hingga dia


menggeliat kesakitan dengan apa yang Verly lakukan, aku yang memperhatikan nya membuatku ingin mual saja.


"Tuan...tarik saya kembali"


Perlahan aku menarik tanganku


kembali dari mulut orang itu, dan jujur saja ini benar-benar menjijikan, air liurnya begitu banyak.


Dan saat itu orang itu tiba-tiba pingsan


dengan mulut yang terbuka.


"Verly, kau benar-benar membuatku kehilangan ***** makan, bisa kau jelaskan apa yang kau lakukan?"


Aku mencoba bertanya kepada Verly yang hanya tersenyum setelah apa yang dia lakukan.


"Ah.. kurasa saya sedikit terbawa suasana, ya tuan,saya sedang


menggorek informasi yang dia miliki, bukan hanya itu saja, saya telah mendapatkan informasi dari seluruh orang terdekatnya, bahkan saya mendapatkan informasi sampai


ke nenek moyangnya atau lebih,


karena saya terlalu berlebihan melakukanya" (Verly)


Dan aku yang mendengarnya, sedikit bingung dengan perkataanya.


"Informasi?.. apa maksudmu.. pikiran mereka?"


Aku memutuskan bertanya sekali lagi.


"Tidak, informasi bukan hanya


sekedar ingatan, namun yang paling superior adalah " Waktu", saya


melihat semua informasi yang dia


miliki sampai ke akar muasalnya lewat garis waktu, garis waktu itu seperti sebuah rekaman waktu yang


memperlihatkan setiap kejadian di


setiap waktu"(Verly)


"Lalu...apa informasi tujuan dia menyerang kita?"


Aku memiliki firasat buruk tentang hal ini


dengan wajah serius aku bertanya kepada Verly.


"... Penelitian itu melakukanya secara bayang-bayang di berbagai negara, dan penelitian itu sekarang berlangsung di kota tua Domina ini, tujuanya tidak lain adalah... penelitian jiwa setiap makhuk hidup, seseorang yang kita temui sebelumnya sudah menyadari bahwa anda memiliki setengah jiwa dewa, itu sudah mencangkup anda adalah seseorang yang di incar mereka, saya yakin mereka hanyalah sekumpulan


orang bodoh"(Verly)


Memang aku sedikit benci terlibat


dalam masalah, namun setelah


semua kejadian itu dan semua yang


Verly katakan, aku merasa seperti


diriku yang dulu.


Diriku yang pernah menegakan keadilan


walau pada akhirnya tidak ada yang menghargai, namun waktu itu.. aku sangat senang setelah semua yang aku utarakan.


"Tuan.. bagaimana keputusan anda?


jika anda tidak ingin terlibat saya bisa membuat penghalang, dan kita bisa melanjutkan istirahat damai berdua saja"


(Verly)


Tapi kalau di pikir lagi...


aku merasa dunia ini bertentangan dengan caraku hidup, namun bukan berarti ini yang terburuk.


"Andai saja ada rokok batangan,


oh ya Verly, aku pikir kau bisa menciptakan apapun dengan sihirmu


apakah kau bisa menciptakan rokok?


di saat seperti ini... aku sangat membutuhkanya, dan tentu sebagai


gantinya aku akan menuruti perkataanmu namun hanya sekali, bagaimana?"


Sesaat aku mendengar suara tertawa


dari Verly lewat mulut nya,


Aku merasa akan ada hal buruk


setelahnya.


"Yaa..saya bisa, bahkan saya bisa


mengambil rokok dari dunia anda,


seharusnya.. anda juga bisa namun


itu membutuhkan waktu untuk mempelajari tingkatan sihir"(Verly)


Yang bisa kupikirkan saat ini adalah


ingin menikmati sebatang rokok sial.


"Ahh.. baiklah tolong berikan aku rokok dari dunia ku verly"


"Baiklah sesuai janji... " (Verly)


Aku melihat sebatang rokok keluar


dari pandanganku.


"Ini... tidak mungkin.. "


Aku terkejut dengan rokok yang


dikirimkan oleh Verly,


Rokok yang pernah menemani setiap


malam bosanku, rokok itu... surya..!!


"Ahh.. kenapa anda menunjukan


wajah bahagia saat melihat rokok,


dari pada saya sendiri?!" (Verly)


Perlahan aku menaruh rokok di


bibirku dan menyalakan sedikit api


dari sihirku, dan akhirnya... aku bisa menikmati rokok setelah beberapa


hari yang lalu mungkin.


"Hahh... ini menenangkan, tentu


wanita tidak akan tahu, bagaimana


cara rokok bekerja di saat dunia


menolak keberadaanku"


Aku sambil menikmati rokoku


dengan santai, dan saat itu aku


memilih pilihanku.


"Itu sama sekali tidak keren tuan,


di bandingkan dengan saya rokok


tidak akan bisa memuaskan *****


anda, jadi sekarang...


apa tindakan anda?"(Verly)


" Tentu aku-"


Di saat yang sama..


aku mendengar ledakan yang


cukup jauh.


Dan saat itulah... aku memulai petualangan baruku.


"Baiklah.. nona Verly..ayo kita segera


pergi ke ledakan bom itu"


Aku sambil berlari dengan menggunakan sirkuit sihirku, dan menghasilkan kecepatan luar biasa.