
Jutaan dunia tercipta hanya dengan membuka sebuah buku yang dimiliki oleh Lambaelda.
Tanpa membutuhkan sepasang tangan yang sudah hilang, Lambaelda masih bisa menggunakan sihirnya.
Meski setengah badanya sudah hilang, Lambaelda masih bisa bergerak tanpa bantuan sihir.
Jutaan dunia itu hampir memenuhi ruang kehampaan ini yang mana sedikit saja dunia itu terkena oleh entitas yang memenuhi ruang ini di bagian bawah...
Maka keseluruhan dari dunia itu akan langsung lenyap.
"Aku sudah tahu kau mampu bertahan dengan akhir kekosongan itu, namun kau harus tahu, memang ruang ini bisa di bilang bagian dari Verly, tapi tidak dengan entitas yang memenuhi ruang ini, semakin banyak terjadinya kekacauan di seluruh semesta maka... Secara tidak langsung membuat akhir itu semakin kuat, sejujurnya aku berubah pikiran untuk tidak melawanmu... suami Verly."(Lambaelda)Sambil tersenyum.
"Sayang... izinkan saya untuk tetap menjadi perubahan manusia, sejujurnya wanita ini sulit untuk di kalahkan, tapi.. jika saya berada di sisi suamiku, kurasa itu bukanlah sesuatu yang harus di takutkan."(Verly)
"Tentu, lagi pula aku sedikit mengerti tentang inti keberadaan miliku setelah apa yang kau katakan... Verly."
Saat sebelum Verly menuju di hadapan Lambaelda beberapa saat yang lalu...
***
"Verly?.. apa yang kau..."
Saat aku dalam keadaan tubuhku mulai hancur di lahap oleh akhir kekosongan ini...
Verly yang keluar dengan wujud manusia langsung meraih wajahku lalu mengelus-elusnya tanpa sebuah alasan.
"Saya tidak bosan untuk melakukan hal semacam ini, mengelus-elus wajah anda... itu membuat rasa cinta istri anda ini menjadi terlarut. Saya melakukan ini untuk memberitahu anda sesuatu yang berhubungan dengan inti anda suamiku, setelah ini saya mungkin akan tewas berhadapan dengan Lambaelda, karena dia memiliki sesuatu yang bisa mengetahui keterhubungan inti keberadaan saya termasuk kelemahan saya."(Verly)
"..... Bukankah itu akan menjadi masalah? aku memilih kau tidak terlibat dengan pertarungan ini, tapi... kelihatanya itu mustahil ya."
Aku sambil memperhatikan Verly yang masih mengelus wajahku dengan raut wajah bahagia.
"Ya, untuk saat ini... dialah musuh yang cukup sulit untuk saya hadapi, dari pada dewa tertinggi lainnya... dia cukup sulit, anda tidak perlu khawatir, meski nanti saya akan mati, tapi belum tentu saya akan benar-benar lenyap, sejujurnya saya ingin melihat anda beraksi dengan inti keberadaan anda sekaligus sifat sihir anda, maka... saya akan memberitahu anda tentang sedikit inti anda, saya yakin... meski anda telah memakai wadah Another Body, masih belum cukup untuk menarik kekuatan inti anda, maka di sinilah tempat yang cocok untuk mengeluarkan sedikit kekuatan anda, apa suamiku masih ingat tentang kejadian di kota Domina?" (Verly)
"Maksudmu... Rethos?, memang benar... saat aku berada di dalam kekosongan, itu lebih mudah untuk meraih inti keberadaanku, apa maksudmu..."(Retnan)
"Ya sayang, kekuatan andalah yang dapat menghapus segala ketiadaan, di tambah dengan sifat sihir anda, itu justru bukanlah sesuatu yang mustahil bagi anda, inti keberadaan dengan orangnya itu terhubung seperti sebuah akar, atau sumbu, yang mana untuk bisa mencari inti anda, anda harus sedikit memakai sosok abstrak anda yang menjadi keterhubungan dengan inti keberadaan anda."(Verly)
"Begitukah.. aku mengerti... pantas saja aku dengan mudah menggunakan senjata dari intiku saat dalam wujud abstrak, karena.. itu juga adalah akar keterhubungan dengan intiku." (Retnan)
"Tapi... lebih baik, anda yang sekarang memanfaatkan situasi ini dengan menggunakan sihir anda, saya sangat jarang melihat suami saya menggunakan sihirnya." (Verly)
"Kau ada benarnya, malah aku lebih sering mengandalkan intimu, seperti aku menggunakan pedang [0/??] yang aku ciptakan dari sifat sihir, karena sifat sihirku adalah menciptakan kemungkinan maka tidak heran, aku bisa sedikit mengeluarkan kekuatan inti keberadaanku lalu menyatukanya."(Retnan)
"Baik, saya pikir anda sudah faham, baiklah... sisanya saya akan memberitahu rencana kita termasuk rencana untuk memanfaatkan sihir anda menjadi sangat luar biasa."(Verly)
"Aku hanya perlu melepaskan sedikit avatarku bukan? untuk bisa menggunakan sedikit inti keberadaanku."
Aku memperhatikan wajah Verly yang semakin dekat dengan bibirku.
"Benar sayang... saya akan menjelaskanya lewat hubungan kita sekarang, dari batin kita."(Verly)
***
Situasi saat ini...
"Jadi maksudmu, kau ingin mengarahkan jutaan dunia yang kau ciptakan itu ke arah akhir pusaran kekosongan itu? dan bermaksud untuk membuatnya semakin kuat kah, yang berarti kau sama saja telah melanggar aturan dunia, karena itu akan menciptakan dia semakin kuat."
Aku sekarang berada di ruang kehampaan dari atas ketinggian tanpa adanya gravitasi dengan Verly yang masih memeluk tubuhku.
Aku sambil mengalirkan sihirku ke satu titik di tanganku berhadapan dengan Lambaelda yang berada jauh dari pandangku.
"Kau bukanlah dewa, kau tidak akan mengerti apa-apa selain istrimu yang terus menggeliat seperti cacing di pelukanmu, dari pada itu lebih baik terimalah tawaranku aku akan membantumu setiap saat, kau tidak akan mengerti soal ranah di atas yang mana kekuatan yang aku lakukan ini bagi mereka hanya sebatas
kurang dari satu persen, yah... tapi itu terserah kepadamu, oh ya aku lupa soal temanmu."
(Lambaelda)
Saat dia mengatakanya sambil tersenyum...
Aku mulai meragukan kata-katanya, dan itu membuatku memiliki firasat buruk.
"Apa... yang kau lakukan pada
dirinya!?"
Aku dengan wajah serius mengatakanya dan menyentaknya.
"Bodoh, kenapa kau tidak hidup bahagia saja dengan istrimu yang masih memelukmu dari pada memperdulikan temanmu yang lemah itu, tapi jika kau sangat menginginkan sebuah jawaban. maka aku akan menjawab dia...
aku kirim ke sejalur dengan jalan menuju ranah lapisan atas... Nov Sanctuary. dimana dia pasti
akan bertemu dengan dewa-dewa yang melebihi dirinya di setiap jalan."(Lambaelda) tersenyum lebar.
Aku benar-benar merasa kesal tapi, aku mencoba untuk sedikit memahami situasi ini.
Tidak peduli apa yang dia alami sekarang, aku harus menolongnya, bagiku sangatlah sulit menemukan seorang teman yang secara tidak langsung bisa saling mengerti.
Aku juga yakin.... Afreon tidaklah selemah yang Lambaelda pikirkan.
"Yaa... untuk bisa menghampiri Afreon, bukankah setidaknya aku harus berhadapan dengan dirimu bukan?"
Tanpa pikir panjang aku langsung menggunakan sihirku tepat mengarah kepada akhir pusaran kekosongan itu, dengan pandangan tertuju pada Lambaelda.
Hingga seakan pusara akhir itu tertarik oleh tanganku yang mengarah padanya. ketika sampai di tengah tanganku... akhir pusaran kekosongan itu membentuk sebuah tombak tepat di genggamanku.
Aku sambil tersenyum dengan percaya diri melakukanya.
"....Suami Verly.... apa yang kau lakukan, kau.. menggunakan sihir penciptaan untuk membuat tombak dengan memanfaatkan akhir ini ha!? kau... ternyata bisa setara dengan dewa tertinggi, aku tertarik..!! aku tertarik..!! ayo... lemparkanlah aku dengan tombak itu...!!!" (Lambaelda)
Di saat Lambaelda yang berteriak dengan wajah tidak sabar.
Di sisi lain... tombak itu sudah tercipta di genggamanku.
"Verly... bisakah kau sedikit menyingkir dari tubuhku?"
Aku sambil memegang tombak itu dan menyuruh Verly yang masih memeluk tubuhku untuk sedikit menyingkir.
"Ahh.. anda malah berkesan untuk mengusir saya, padahal saya sedang sibuk merasakan
kenikmatan dari tubuh anda, yahh... lagi pula ini waktunya saya kembali menjadi mulut di telapak tangan anda."(Verly)
Perlahan Verly menjadi mulut di telapak tangan kiriku kembali.
Di saat yang sama...
Lambaelda terlihat mulai ingin melemparkan jutaan dunia ke arahku dan bukan ke arah pusaran akhir tersebut.
Jutaan dunia itu seperti memiliki sebuah jaring yang mana itu terhubung dengan dirinya yang sudah kehilangan setengah tubuh.
Aku langsung mengarahkan tombak ini ke arah Lambaelda yang jauh dari pandanganku.
"Percuma kau mengarahkan seluruh dunia itu ke arahku, karena tombak ini bukan menghancurkan sesuatu yang memiliki fisik, namun ketika tombak ini sudah menargetkan orang tersebut... maka tidak peduli sejauh mana mereka berlari, tidak peduli takdir apa yang mengikat mereka, tombak absolut ini bergerak tidak secara nyata, melainkan langsung menembus targetnya, kurasa itu sudah cukup untuk kau pahami."
Di waktu yang sama jutaan dunia yang tersebar di kehampaan ini yang di ciptakan oleh Lambaelda, langsung mengecil menjadi satu hingga... sampai terbentuk seperti sebuah permen.
Namun... Lambaelda yang sekarang tidak memiliki sepasang tangan dan setengah badan, aku tidak berpikir bahwa... dia memakan permen itu.
Hingga...
Dia benar-benar memakan permen itu yang terbentuk dari jutaan dunia dan dia lahap begitu saja.
Hingga... saat buku itu mulai terbuka sekali lagi...
Tiba-tiba aku melihat Lambaelda memiliki tubuhnya kembali.
Itu bukan dari regenerasinya namun... dia terlihat membuat avatar dirinya sekali lagi.
"Ya Ya... kalau begitu, aku akan bilang begini. apapun yang kau lakukan, apapun usaha kalian, apapun ambisi kalian, apapun ikatan cinta kalian, pada akhirnya... kali ini, aku akan merubah siapa yang akan menang." (Lambaelda)
Dia tersenyum lebar kepadaku seakan kepercayaan dirinya melebihi diriku.
"Baiklah... aku mulai... "
Aku yang sudah mengarahkan tombak yang berada di genggamanku ini ke arah Lambaelda langsung...
Tangan kananku mulai mengayunkan tombak ini dengan kepercayaan diri yang sudah aku bulatkan.
Dan sekarang...
"Ayo... majulah..!! Spear Of Emptiness..!!"
Aku melepaskan genggaman ayunan tombak itu...
membuat apapun yang terlintas dekat dengan tombak itu langsung di lenyapkan begitu saja.
Tidak ada tanda-tanda kehancuran seakan apapun yang terlintas akan langsung terhapus dengan begitu mudahnya.
Tombak itu melintasi kehampaan, kekosongan ini, hingga berakhir...
Tepat di kepala Lambaelda.
*Slash*
***
"Ahh.. aku kena ya... sangat di sayangkan, kalian suami istri yang sangat tangguh, aku juga
berharap memiliki hubungan denganmu... entah itu sebagai istri kedua, atau apalah... setidaknya, aku ingin melihamu beraksi itu sudah cukup, ya aku hanya bercanda."(Lambaelda)
Meski dia terkena tombak tepat di kepalanya... namun ia masih sempat menunjukan senyuman lebarnya.
"Bagiku Verly saja sudah cukup, entah seburuk apa dia, aku hanya berfikir bahwa apa yang ia lakukan adalah untuk diriku, dan meski ia memanfaatkanku itu tidak akan mempengaruhi keyakinanku."
Aku dengan santai berbicara kepada Lambaelda yang berada jauh dari pandanganku.
"Sangat di sayangkan ya... Jujur saja aku memang tertarik kepadamu namun dalam hal kekuatan, kau mengingatkanku beberapa momen yang memalukan. Ahh lupakan. "(Lambaelda)
"He?"
*Crinzz*
Suara lintasan tombak terdengar menusuk sesuatu...
Yang tidak lain... tombak yang seharusnya menusuk Lambaelda justru kembali menusuk kepadaku.
"Sa..Sayang... Sayang... sialan..!! keparat kau..!!
Lambaelda!!" (Verly)
Kehampaan kekosongan yang seharusnya tidak berisikan apapun... dan hanya sebatas ruang kosong...
Mulai menghacurkan apa yang ada di dalamnya, bahkan melibatkan entitas akhir kekosongan.
Seakan ruang hampa ini memiliki kehendaknya sendiri.
Itu bukan aku yang melakukannya, namun Verly yang tiba-tiba menunjukan rasa amarah.
Lalu... di saat yang sama...
Aku memegangi tangan Verly yang keluar dengan setengah badan dari dalam tubuhku.
Aku bermaksud mencoba untuk menghentikan dirinya dalam kondisi penuh amarah.
"Kenapa... kau keluar, dari dalam tubuhku, dengan wujud manusiamu kembali? aku tidak ingin melihatmu terlibat lagi."
Aku terus memegangi tangan Verly yang keluar dengan setengah badannya, sambil aku menunjukan wajah serius ku.
"Tapi... sayang..."(Verly) dengan wajah cemas.
"Kau tidak seperti yang dulu, yang mana, dirimu yang selalu memiliki kepercayaan yang tinggi ketika aku dalam masalah, aku ingin dirimu yang dulu, yang selalu percaya kepadaku, lagi pula... serangan apapun aku tidak pernah merasakannya, kali ini aku hanya lengah."(Retnan)
"Kau pikir begitu kah ha!?..."(Lambaelda)
Sekali lagi aku menoleh kepada Lambaelda dengan wajah seriusku.
Dia selalu tersenyum lebar saat dalam keadaan apapun, dia jauh lebih susah di tebak dari pada Verly.
"Maaf menganggu drama cinta ini, tapi... sejujurnya.. aku sudah merubah alur ini menjadi sangat tragis, umm... mungkin.. aku akan sedikit merubah kisah cinta ini menjadi... kemarahan kekasih!! itu pasti bagus ya itu pasti bagus, sekarang... mari kita lihat, drama romantis ini, dan...BANG!"(Lambaelda) menjulurkan tangannya.
"Huakkkk..!!"
Aku merasa sakit.. aku merasa sangat sakit. apa yang terjadi?..
Aku terus berpikir kenapa aku bisa merasakan rasa sakit dengan sosok abstrak yang aku miliki, meski aku masih tetap mempertahankan sosok manusiaku namun sejatinya aku memiliki tubuh abstrak.
Tidak... dia...
"Apa kau sudah menyadarinya? aku telah merubah sosok yang kau miliki menjadi... manusia biasa haaaa...!!? ini terlalu mengasikan, aku sampai-sampai akan gila oleh rasa ini seperti
Verly... nahhh... ini baru di mulai, bagaimana... rasanya, terkena tombakmu sendiri ha?, sebentar
lagi... kau akan hancur, saat wadah itu tidak bisa menahan tombakmu sendiri."(Lambaelda)
Sakit... ini sakit... darah terus keluar dari mulutku, perutku, mataku, seakan aku mulai hancur secara perlahan.
Another Body tidak akan bisa menahan ini karena sosok abstraku telah tiada.
Aku berharap... setidaknya Verly tidak akan marah lagi dengan apa yang terjadi kepadaku.
Namun...
Aku melihat dia mengigit bibirnya sendiri dengan raut wajah penuh amarah.
" Lambaelda... hentikan semua ini.. kau benar- benar membuatku marah, jika tidak... aku akan membuka kain yang menutupi mataku, dan sekali lagi... Aku akan membuka mataku, itu sudah cukup... Untuk membuat seluruh dewa ketakutan, bahkan Pillar Surgawi." (Verly) sambil memegangi kain yang menutupi matannya, dengan emosi yang ia tahan.
"Oi.. tunggu, aku hanya bercanda, jangan lakukan itu hanya karena masalah sepeleh, baiklah-baiklah... aku mengaku kalah, dan aku akan mengembalikan sosok abstrak milik suami tercintamu. Jadi... Hentikan tindakanmu itu." (Lambaelda) dengan wajah ragu melihat Verly bertindak.