
Saat aku menghampiri lokasi dari ledakan tersebut yang berada di pinggir kota, aku melihat beberapa pihak lain memulai membuat kerusuhan untuk menghentikan mereka beberapa anggota dari SCOOT.
Di samping itu, aku melihat beberapa monster berakar bertubuh manusia tapi jumlah mereka tidak terlalu banyak.
Dan sisanya hanyalah manusia.
Saat melihat mereka-mereka yang asik bertempur, itu membuat suasana hatiku berubah menjadi sedikit bersemangat.
Entah bagaimana perasaan ini mulai tumbuh, namun sejak aku bersama Verly.
Aku merasa semuanya akan baik-baik saja.
Aku memutuskan ikut bertarung bersama mereka-mereka, aku mengambil sebuah tongkat besi lalu aku mengalirkan sihirku ke tongkat besi itu agar terlapisi sihir dan lebih kuat.
Aku memutuskan untuk membuatnya seperti sebuah tombak, aku bisa melihat aliran sihir yang melapisi tongkat besi itu.
Tapi sebelum memulai pertarungan alangkah baiknya menikmati rokok sebentar.
"Huhh... yosh"
Aku berlari menghampiri pertarungan itu yang sedang berlangsung dan aku langsung mengayunkan tombak ini.
Meski aku belum terlatih dalam bela diri. Namun aku cukup ahlih dalam memukul orang.
Satu per satu lawan berjatuhan dan semakin lama aku mulai merasa terbiasa dengan gerakan mereka.
"Hahaha..!! apa kau lihat aku mulut Verly?aku semakin memanas dengan suasana ini"
Aku terus menusuk setiap wajah mereka tanpa memperdulikan hal lain.
"Itulah tuanku, saya yang berada di balik jiwa anda juga sedang sibuk Ahh.."(Verly)
"He?.. kau sibuk dengan apa?"
Aku sambil terus mengayunkan tombak ini dan berbincang dengan Verly.
"Tidak boleh... dasar mesum" (Verly)
Aku sedikit bingung dengan apa yang di ucapkanya.
"Ha?.. ya terserahlah kau boleh keluar dan kemari"
Aku terus melancarkan serangan namun anehnya, aku melihat monster manusia itu tidak bergerak sama sekali.
"Saya rasa.. itu bukan perintah, lagi pula, mereka hanyalah cengunguk bagi saya dan-"(Verly)
Dan saat itu aku tidak mendengar suara dari Verly lagi.
" Ada apa?.. "
Aku mencoba bertanya dari mulutnya yang tidak menunjukan ekspresi tersenyum lagi.
"A..Ahh.. tidak ada,oh ya manusia berakar itu monster bertipe"Zoa"(Verly)
Aku yang baru mengunjungi dunia ini tentu aku bingung dengan apa yang Verly katakan.
"Wajar kalau anda belum mengetahuinya, tipe " Zoa" adalah monster yang cenderung menyerang wanita, selama itu tidak ada di sekitarnya maka dia tidak akan bergerak"(Verly)
"Bisakah kau jelaskan lebih rinci?"
Aku sambil terus melancarkan serangan dan berbicara dengan Verly.
"Ya tentu, di dunia ini beberapa monster di bagi menjadi beberapa tipe. Yang pertama undead, mereka ada karena tipe Zoa, namun mereka sangat lemah. lalu tipe Zoa ini adalah inti dari semua monster yang ada di dunia ini, Zoa hanya mengincar rahim wanita sebagai tempat reproduksi semua monster hingga terlahir jenis monster baru dan pertahananya cukup kuat, lalu tipe berikutnya itu tergantung dari jenis element sihir mereka, namun tuan... ini sesuatu yang jarang terjadi"
"Hahh... akhirnya semua beres lalu... darimana tipe Zoa berasal?"
Aku yang sudah selesai menghabisi mereka memutuskan berhenti sejenak tapi tidak dengan mereka-mereka yang mencoba membunuh monster Zoa itu.
"Hmm.. dari sisi negatif sihir, seperti halnya mereka yang telah mati maka sihir mereka akan berevolusi secara leluasa,dan jika semua terkumpul maka akan tercipta monster Zoa"(Verly)
Kemudian...
Sesuatu dari langit menerjang mengarah pada manusia berakar itu. Sekali lagi aku memperhatikan langit.. aku melihat sebuah parang besar dengan cepat menusuk monster Zoa itu.
Memang benar parang itu berjumlah satu, namun efek saat setelah mengenai salah satu dari mereka, sejekap aku melihat mereka semua lenyap begitu saja.
Aku tidak tahu siapa yang tiba-tiba melemparkan parang itu dari langit?.
Tapi tindakanya benar-benar membuatku tertarik.
Hingga di saat aku melihat mereka semua lenyap, aku mendengar suara langkahan kaki yang terdengar mengarah padaku.
"Kau kah yang sebelumnya memperbaiki kekacauan?"
Suara itu mengarah ke arah belakangku, aku langsung menoleh ke belakang dan melihat seorang laki-laki yang terlihat berwibawa, terlihat dari pakaian yang ia kenakan seperti kerajaan.
"... Sebentar.. kau tidak terkena pengulangan waktu?, oh ya dan namaku Retnan"
Aku mencoba membuka percakapan.
"Ya, karena aku salah satu Authority dari dewa Achronos, panggil saja diriku Nerph Acnova"(Nerph)
" Achronos... begitu kah"(Verly)
Dan saat itu aku mendengar Verly berkata sesuatu. Aku tidak mengerti apa yang mereka pikirkan dan katakan.
"Eee.. apa itu Authority Verly?.. tipe monster lanjutan?"
Aku mencoba bertanya.
"Tidak tuan, Authority itu seperti senjata para dewa, mereka seperti perwujudan dari senjata mereka singkatnya, mereka adalah senjata
para dewa dalam wujud manusia ketika sang dewa berhendak menggunakanya maka diri mereka akan menjadi senjata" (Verly)
"Wah mulut di telapak tanganmu bisa berbicara, yahh.. melihatnya itu membuatku berpikir yang aneh-aneh"(Nerph)
"Ohh.. ya begitulah, ngomong-ngomong apakah kau seorang pangeran?"
Inilah yang sejak awal ingin aku tanyakan.
"Kau mengetahui nya kah.. ya kota ini dipimpin oleh kerajaan yang berada sedikit jauh dari pusat kota tua ini, jika kalian berkenan mari ke kerajaan ku aku menyambut kalian"(Nerph)
Dia tersenyum saat menawarkan undangan itu kepadaku. Aku jadi tidak enak jika menolak.
"Baiklah..."
Pada akhirnya itulah keputusan yang aku pilih.
***
Sekitar setengah jam...
Akhirnya aku bisa melihat istana yang membentang ke atas sangat besar.
"Kita sudah sampai... ayo masuk"(Nerph)
Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana detailnya karena kerjaan ini benar-benar besar dan aku bisa melihat banyak nya pillar membentang di setiap pondasinya hingga banyak nya pelayan dengan penampilan seperti di dunia ku sebelumnya.
"Ini luar biasa... "
Aku sambil melihat ke segala arah di setiap sudut istana dan terus berjalan mengikuti pangeran yang berada di depanku.
"Duduklah di sana, aku akan menyiapkan ruang tidur untuk kalian" (Nerph)
Entah kenapa..
tawaranya sedikit membuatku tidak merasa nyaman.
"Aku heran, kenapa anda sebegitunya menyambut orang lain?"
Aku dengan sopan bertanya dan memutuskan sambil duduk di meja makan.
"Ya aku hanya berfirasat kalian kedepanya ingin menghancurkan penelitian itu bukan?, dan tentunya aku tidak bisa melakukanya seorang diri, aku akan menjelaskan detailnya setelah ini, kau makanlah dulu apa yang ada di meja"(Nerph)
Aku setengah dewa jadi rasa lapar aku tidak punya, tapi rasa makan tetaplah ada.
Aku memutuskan makan dan menunggu pangeran kembali.
Hingga setelah aku puas makan pangeran datang kembali dengan membawa sebuah pedang di kedua tanganya.
Dia perlahan berjalan menghampiri diriku yang duduk di meja makan.
Aku yang menyadarinya langsung berdiri di hadapanya.
" Aku ingin memberimu sebuah pedang.... Authority"(Nerph)
"Heh?"
Aku yang mendengar perkataan itu benar-benar membuatku terkejut. Tidak terkejut bagaimana itu adalah salah satu pedang dewa dan dia tiba-tiba memberikan nya kepada orang lain dengan begitu saja.
"Namun.. pedang ini sangat berbeda dengan semua pedang Authority, pedang ini terlepas dari segala keterikatan, sejak hadirnya senjata ini hingga sampai sekarang tidak ada seorang pun yang bisa menggunakan senjata ini, entah berbagai aspek apapun tidak bisa di ungkit bahwa senjata ini hanya memilih sang penguasa sebagai penggunanya, nama pedang ini...[RealityNova]"(Nerph)
"Re..Reality Nova katamu?!?!.."(Verly)
"He?"
Aku terkejut dengan reaksi Verly yang tiba-tiba berteriak seakan itu hal yang luar biasa. Dan untuk pertama kalinya aku melihat Verly terkejut.
Aku benar-benar tidak mengerti apa hebatnya dari senjata itu. Dan saat aku melihat reaksi
Verly yang begitu terkejut aku rasa senjata ini sangat keren.
"Tuan bodoh, itu adalah senjata yang bahkan aku sendiri tidak bisa menggunakanya"(Verly)
Bahkan dia mengucapkan hal tabu kepada tuan nya.
"Yahh.. bisakah anda memberikan alasan kenapa senjata yang sampai membuat mulut wanita ini terus mengeluarkan air liur banyak"
Sekali lagi aku bertanya kepada pangeran.
"Ohh.. kau sudah mempunyai pendamping hidup ya, maksudku kontrak, yahh.. aku ingin kau menerima ini tanpa sebuah alasan karena aku hanya berfirasat"(Nerph)
Lagi-lagi dia tersenyum dan mengatakan firasat lagi. kurasa aku hanya tinggal menerimanya saja.
"Baiklah... saya hanya harus menerima pedang yang terlihat keren itu kan"
Perlahan aku meraih pedang yang berada di kedua tangan pangeran.
Namun sesaat aku menyentuhnya sedikit saja tiba-tiba...
". . . . . . ."
"Me..Menghilang haa..!?!?"
Aku tidak tahu apa yang terjadi perasaan aku sedikit saja menyentuh senjata itu dan tiba-tiba menghilang dengan begitu saja.
Dan...
Aku melihat reaksi mereka yang juga bingung.
"Apa yang terjadi.. kenapa tiba-tiba pedang itu menghilang?"(Nerph)
Melihat reaksi pangeran yang juga terkejut membuat ku semakin tidak enak.
"O.. Oi, Verly apa kau mengetahui sesuatu?"
Aku bertanya dengan wajah ragu dan bingung.
"Yaa... dan melihatnya membuat perasaan ini berdetak kencang, kau tidak perlu khawatir pangeran, itu sudah berada di tangan orang yang memilikinya" (Verly)
Mendengar Verly yang mengatakan hal itu kepada pangeran. Membuat ku yakin bahwa semua akan baik-baik saja.
"Oh.. Baiklah, ini hampir malam kita akan membahas penelitian itu setelah malam tiba saja, kalian sebaiknya tinggal di kamar kerajaan ini saja aku sudah menyiapkanya"(Nerph)
Pangeran melemparkan sebuah kunci kamar ke arahku. Aku yang menyadarinya langsung menerima kunci tersebut.
"Yah setelah aku menghancurkan penginapan itu, kurasa aku cukup beruntung mendapatkan tempat lagi"
Aku sudah memutuskan untuk bermalam di istana ini. Pangeran mulai berjalan pergi dan aku langsung pergi menghampiri ruanganku.
Dan saat aku sampai... Aku cukup terkejut.
"Wahh... ini terasa sekelas hotel berbintang lima, dan ini terlalu besar untuk aku seorang diri"
Aku berjalan menghampiri kasur dan langsung terbaring.
"Tuan.. apa saya boleh keluar?"(Verly)
Memang aku merasa memiliki ruangan ini seorang diri. Tapi justru memiliki ruangan sebesarini membuatku ingin sendirian.
"Tidak, jika kau keluar itu hanya akan mengakibatkan kesalah pahaman, wo.. ada rokok? ini yang aku tunggu"
Aku menemukan rokok tepat di meja sebelah kasurku. Tentu aku dengan senang mengambilnya.
Aku memutuskan bangun lalu menghampiri jendela yang terbuka. Kemudian perlahan aku menyalakan rokok itu dengan santai menikmati suasana yang hening ini.
"Yahh.. enaknya, kau harus tahu setiap malam begini, suasana inilah yang aku inginkan Verly, begitu tenang dan hening, kalau di pikir-pikir pergantian malam di sini cukup cepat"
Aku sambil menikmati rokoku dengan pemandangan kota malam menjadi pandanganku.
"Dan juga... sejak datang kemari aku benar-benar lupa dengan dunia yang sebelumnya aku tinggali, yah aku sungguh beruntung bertemu denganmu, oh aku baru ingat... Apa permintaanmu waktu itu saat kita membuat perjanjian?eh"
Aku tidak melihat mulut Verly lagi di telapak tanganku.
Hingga...
Aku melihat Verly keluar tepat di belakang ku.
Aku cukup heran kenapa Verly tiba-tiba keluar padahal aku tidak memerintahnya.
"Tuan.. biasakah anda duduk sebentar di atas kasur?tentu saya tidak akan melakukan hal aneh"
(Verly)
Aku tidak mengerti apa maksudnya tapi aku anggap itulah permintaan yang ia ingin kan
"Oh.. baiklah"
Aku mematikan lalu membuang rokokku dan berjalan menghampiri kasur kembali.
Saat aku baru saja duduk tiba-tiba Verly mendorongku dengan sedikit sentuhan jarinya hingga aku terbaring di atas kasur
"Oi.. apa yang kau-"
*Tik*
Tiba-tiba tubuhku berhenti... Seakan aku membeku saat melihat Verly menjentikan jarinya.
Aku tidak bisa berbicara maupun bergerak.
Namun aku bisa melihat Verly merangkang di atas tubuhku.
"Maaf tuan.. anggap saja ini permintaan yang waktu itu, seteleh melihat sesuatu yang membuat tubuh saya merinding saya tidak bisa menahanya lagi"(Verly)
Dia tersenyum.. tersenyum bahagia namun aku merasakan sesuatu yang buruk terjadi.
Senyumanya bukan hanya menunjukan rasa cinta namun keinginan pribadi yang kuat.
"Saya ingin melihat pedang itu sekali lagi, namun saya tidak menemukanya di inti jiwa anda maupun yang lain, jadi saya harus melakukan ini untuk mencapai inti keberadaan anda, Ahh.. anda benar-benar hebat"(Verly)
Aku tidak merasakan apapun.. aku hanya bisa melihat Verly yang perlahan mengelus tubuhku hingga berhenti tepat di tengah jantungku.
" Jujur.. ini membuat tubuh saya menjadi panas, karena telarut oleh rasa cinta ini,tuan... saya benar-benar beruntung bisa bertemu dengan seseorang yang bisa menghilangkan kebosanan ini"(Verly)
Perlahan...
Jari-jari Verly menembus jantungku aku tidak merasakan sakit.
Namun melihat nya tersenyum lebar, aku merasa ini tidak akan menjadi masalah besar.
"Santai saja saya sudah membuat dimensi di ruangan ini jadi seseorang bahkan dewa tidak akan bisa memasuki ranah ini, anda tidak akan merasakan apa-apa"
*Sring*
Hingga aku melihat Verly seakan memasuki tubuhku. Dia menghilang begitu saja dan hanya menyisakan pakaianya.
Aku membeku selama lebih dari tiga jam tanpa kehadiran Verly yang tak kunjung kembali dari dalam tubuhku.
Kemudian...
Darah tiba-tiba keluar dari mulutku yang sedang membeku.
Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepada Verly.
Hingga sebuah lintasan cahaya keluar dari dalam tubuhku. Itu sangat cepat hingga aku merasa itu bukanlah cahaya karena terlihat menghantam hingga membuat dinding berlubang.
Sekali lagi aku melihat... dan yang ternyata itu adalah Verly.
Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadanya namun dia terlihat terbaring pingsan dan terus mengeluarkan darah dari mulutnya dengan tubuhnya yang hanya sebatas telanjang.
Aku ingin menolongnya tapi kondisiku masih membeku.
"Tu..an.. anda jangan khawatirkan saya, itu tadi sesuatu yang luar biasa, untung saja mataku masih tertutup kain, aku tidak menyangka dia memiliki sesuatu yang benar-benar menakutkan mungkin... jika dewa tertinggi melihat hal ini itu akan menjadi suatu ancaman bagi seluruh semesta, orang ini berpotensi menjadi raja dari semua semesta, tidak peduli bagaimana pun caranya... aku harus selalu berada di sampingnya untuk membimbing menjadi raja dan aku akan menjadi ratu yang akan ia cintai"(Verly)
Dia berdiri sekali lagi dan memakai kembali pakaiannya.
Lalu dia melihat ke arahku dan tiba-tiba kembali lagi menjadi mulut di telapak tanganku.
Perlahan rasa membeku sudah hilang dan aku bisa merasakan diriku lagi.
" Ternyata... semua sudah kau rencana kan yaa.. Verly, kau benar-benar wanita yang licik"
Aku sambil melihat nya tersenyum.
"Ya.. karena saya bahagia, rasa. bahagia menuntun saya kepada sesuatu yang luar biasa, dan.. kenapa anda juga tersenyum?"(Verly)
"Entah lah, aku pikir kau tidak akan pernah kembali, dan melihatmu kembali sejujurnya itu mengingatkanku kenangan tentang orang tuaku yang sekarang sudah menjadi penghuni surga"
"Kalau begitu.. anggap saja saya sebagai orang tua anda dan saya akan selalu menjaga dan mencintai anda selamanya" (Verly)
"Ha?.. tolong jangan melawak"
Namun perkataan yang ia ucapkan terdengar cukup serius.