
Di dalam kastil Verly....
*Tik-Tok-Tik-Tok*
Terdengar langkahan kaki yang
sedang berjalan menghampiri
Verly.
"Ahh... akhirnya kau datang juga
kepadaku."(Verly)
Dalam tengah kenikmatan yang
Verly rasakan sekarang di tahtanya,
suatu sosok tiba-tiba hadir
menjumpainya.
Sosok tersebut tidak menampilkan
wujudnya, itu tertutup oleh jubah
hitam dengan aura hitam yang
begitu tebal menyelimutinya.
Sehingga tidak begitu jelas siapa
sosok tersebut, namun postur
tubuhnya terlihat seperti seorang
wanita.
Tak lama... sosok tersebut sudah
berada di hadapan Verly yang
sedang duduk berada di tahtanya.
"Kenapa anda memanggil saya,
nona Verly, terlebih lagi... kenapa
anda telanjang di atas tahta.
Itu tidak terlihat anggun."
"Aku tidak peduli orang berpikir apa
tentangku, aku tidak pernah
memakai apa yang namanya
" Dalaman " ketika aku sendiri,
telanjang itu lebih baik. Yah lupakan
aku akan memakainya kembali."
(Verly)
Untuk sesat... suasana menjadi
hening, ketika Verly memakaikan
kembali pakaian kimono nya.
"Ini tidak biasanya anda memanggil
saya, apa ini ada hubunganya
dengan tuan saya?"
"Benar... itu ada hubunganya dengan
suami tercinta ku. Aku ingin kau
memiliki otoritas ku sebagai
pemandu nya."(Verly)
"He?.. Tu-Tunggu.. ini tidak seperti
anda yang biasanya, anda adalah
istinya bukan?"
Sosok tersebut terkejut ketika
mendengar hal yang seharusnya
tidak mungkin di ucapkan.
Namun justru Verly mengatakanya
dengan sangat santai.
"Aku memang memberikan mu
otoritasku sebagai orang yang
memandu suami ku di setiap
keadaan apapun. Tapi jangan
bermimpi kau dapat menggeser
keberadaan ku sebagai istrinya."
(Verly)
"Maaf jika itu menyinggung anda,
nona Verly. Tapi... Atas dasar apa
anda memberikan otoritas anda
semudah itu, padahal anda sangat
membenci jika ada orang yang
mencoba mendekati tuan saya."
"Itu benar, aku tidak memiliki
alasan lain selain... menjaga
suamiku. Kau hanya perlu menjadi
pendamping perjalanan nya hanya
itu saja. Jika kau bertanya alasan...
aku hanya ingin menjalani janji
kita bersama. Dimana... aku tidak
boleh terlibat oleh suamiku."(Verly)
dengan santainya mengatakanya.
".... Apa anda serius mengatakanya?
ini benar-benar tidak seperti anda."
Sosok tersebut merasa terheran-
heran dengan apa yang baru saja
Verly katakan.
"Ya, jika aku ragu atau menolak...
pastinya sejak awal keberadaan nya
akan aku lenyapkan. Lagi pula...
selama suamiku dalam keadaan
baik-baik saja, itu sudah cukup."
(Verly) sambil tersenyum santai.
"Jika begitu... saya menerima
perintah tersebut. Dan saya berjanji
akan selalu berada di sampingnya."
"Bagus... aku tidak memerintahmu
tapi aku meminta kepadamu. Dan
juga... Itu akan menjadikan awal
takdir yang sesungguhnya. Aku
yakin kau sudah mengetahui hal itu."
(Verly)
"Justru karena itu saya sangat
bersyukur bisa dengan segera
menemui tuan saya. Itu akan
menjadi moment yang paling
membahagiakan."
"Berterima kasihlah padaku karena
hal tersebut akan terjadi, tapi...
aku berpesan satu hal padamu."
(Verly)
Tiba-tiba suasana menjadi serius,
ini seakan Verly ingin mengatakan
sesuatu yang penting hingga
membuat sosok tersebut merasakan
hal yang sama.
"Apa itu nona Verly?"
".... Apapun yang terjadi, jika..."
(Verly)
"Eh?"
Tanpa ia sadari... Verly secara tidak
langsung tiba-tiba hadir di hadapan
sosok tersebut.
Lalu.. terlihat membisikan sesuatu
yang membuat sosok tersebut
hanya terdiam sesaat.
Dan sekali lagi tanpa di sadari...
Verly hadir kembali duduk di
tahtanya.
Seakan apa yang sebelumnya terjadi
bagaikan halusinasi.
"A-Anda... Itu sama saja anda
melibatkan diri dalam masalah."
"Hee... kau pikir diriku siapa? aku
adalah Verly Noir. Dimana tidak
ada yang dapat menentangku
terkecuali.. hanya seorang yang
aku cintai."(Verly)
"Saya dapat memahami hal itu,
tapi jangan pernah membuat
kerusuhan. Ini hanya sekedar
saran, jika anda tidak ingin
membuat tuan saya marah."
"Santai saja, hal itu tidak akan
pernah terjadi, karena... pada
akhirnya dia hanya peduli padaku, seorang."(Verly) menunjukan wajah
yang terlihat bahagia.
Namun.. justru rasa bahagia nya
membuat sosok tersebut merasa
ragu dengan arti senyumanya.
Seakan Verly memiliki maksud
lain.
Tapi yang jelas, itu tidak ada
hubunganya dengan ikatan yang
sudah terjalin, karena ia benar-benar menunjukan wajah bahagia karena
cinta.
Selama itu tidak membawa hal
buruk pada tuanya, bagi sosok
tersebut bukanlah suatu masalah.
"Mungkin... itu juga termasuk
saya."
Sosok tersebut sambil tersenyum
kepada Verly, walau keberadaan nya
tidak terlalu jelas.
anggap itu sebuah pujian. Dan satu
lagi yang ingin aku berikan."
Perlahan.. Verly mengeluarkan
sebuah kotak kecil, dimana
itu terdapat cincin dengan aura
sihir yang kuat.
"Apa... maksud anda?"
Sosok tersebut cukup bingung
dengan apa yang Verly tunjukan
padanya.
"Beberapa bulan yang lalu aku
juga memberikan suamiku sebuah
cincin, agar apapun yang terjadi...
kita tetap terikat, namun itu hanya
latar belakang dari fungsi yang
sebenarnya. Singkatnya... ini
adalah cincin yang akan saling
menghubungkan sesama pengguna,
aku ingin kau memilikinya."(Verly)
"Saya rasa....... Tidak perlu."
Verly langsung merasa bingung
dengan keputusan nya.
"Itu sama saja, saya tidak bisa
mengambil keputusan saya
sendiri dari otoritas yang anda
berikan. Yang artinya..."
Untuk sesaat.. mereka saling
memperhatikan.
"Hee... begitu ya, kau bermaksud
membuat ikatan sendiri, kau
benar-benar wanita yang menarik."
(Verly) sambil tersenyum lebar.
"Dan tentunya, nona Verly akan
selalu menjadi istri yang mulia."
"Umm... Bisakah kau kemari?
aku ingin membagi rasa cinta
kepadamu, sesama wanita."(Verly)
Sosok tersebut cukup bingung
dengan perintah Verly.
Tapi dari perkataanya itu tidak
menyangkut tuan nya.
"Baik nona Verly."
Perlahan... sosok tersebut mulai
berjalan menghampiri Verly yang
duduk berada di tahtanya.
Dan ketika sosok tersebut telah
hadir di hadapan Verly.
Tanpa sebuah alasan Verly mengelus
wajah sosok tersebut.
"Ahhh... kau benar-benar boneka
suamiku yang cantik. Kemarilah..."
(Verly)
"Emphh..."
Sebuah ciuman dari mulut ke mulut
terjadi...
Sosok tersebut benar-benar terkejut
melihat Verly dengan hasratnya
menerima setiap ludahnya.
Verly memperlihatkan wajah yang
begitu bahagia. Sedangkan sosok
tersebut benar-benar tidak bisa
membantahnya.
"Hmmpp... bagaimana?"(Verly)
"Hmmppp.. Hmmppp.. to-tolong
he.. hentikan."
Sosok tersebut seakan merasa
tersiksa dengan apa yang Verly
terus lakukan.
Mereka saling menerima lidah
satu sama lain.
Hingga sepuluh menit berakhir...
Verly langsung melepaskan
ciuman itu dari mulutnya.
Air liur begitu banyak di wajah
mereka. Namun Verly justru merasa menikmatinya dan ingin sekali lagi
melakukanya.
"Hahhh... Anda... benar-benar
gila.. tentang hal dewasa. Saya.."
Tanpa alasan... sosok tersebut
tiba-tiba kehilangan keseimbangan
dan pada akhirnya terjatuh.
"Huakk.."
Dan hal aneh yang terjadi pada
dirinya terus berlanjut, kini ia
mulai memuntahkan sesuatu
dari dalam mulut nya.
Dan secara perlahan...
sesuatu mulai keluar dari dalam
mulutnya.
"A-Apa ini... Apa yang sebenarnya
anda lakukan, nona Verly..!"
Sebuah bola sekecil kelereng
hadir di tangan sosok tersebut.
"Hee... Jangan menunjukan wajah
marah begitu. Sejujurnya.. Kau
tidak memiliki wujud sejati.
Maka... lewat ciuman sebelumnya
aku telah membuat wujud sejati
yang bisa kau tampilkan."(Verly)
dengan rasa senangnya.
"Sudah saya bilang bukan, saya
tidak ingin menerima pemberian
apapun dari anda. Karena... saya
yakin anda memiliki maksud lain.
Di setiap kebaikan anda."
Sosok tersebut mencoba bangkit
kembali, sambil memperlihatkan
wajah kesalnya terhadap Verly.
"Walah... akhirnya kau menunjukan
sifat mu yang sebenarnya, yah...
santai saja. Aku membuatnya
bukan dari kekuatanku, melainkan
itu memanglah wujud sejatimu
yang aku bentuk dari inti mu.
Dan.. apa kau yakin akan
menunjukan wujud tidak kejelasan
itu pada tuan mu?"(Verly)
Setelah mendengar perkataan
Verly.. sosok tersebut malah
diam membeku.
Seakan perkataanya membuat
dirinya berpikir kembali.
"A-Anda... dapat melakukan hal
seperti itu?.. anda langsung
memperlihatkan wujud sejati
inti keberadaan saya!? mustahil."
"Kenapa malah sekarang terkejut,
kau pikir... siapa diriku? lagi pula
itu hanya wujud sejati tapi tidak
dengan kekuatanya. Hanya sekedar
wujud aslimu. Makanlah bola kecil
itu, dan tunjukan... betapa indahnya
wujud aslimu."(Verly)
Sosok tersebut tidak merasakan
adanya kebohongan yang terlihat
di wajah Verly.
Itu seolah-olah Verly serius dengan
apa yang ia baru saja ucapkan.
"Saya tidak tahu... bahwa anda
benar-benar peduli dengan saya,
meski begitu... Saya justru malah
meragukan anda. Saya mohon
maaf.. sebesar-besarnya... nona
Verly."
Sosok tersebut langsung dengan
segera menundukan wajahnya
sebagai tanda perminta maafan.
"Aku senang mendengar entitas
tertinggi meminta maaf kepadaku,
itu benar-benar membuatku sangat
terbasahi. Dan mulai sekarang...
lakukanlah sesuai perintahku."
(Verly) sambil tersenyum lebar.
"Saya siap... menerimanya."