A The Creators

A The Creators
Rasa Kebosanan



Satu hari telah berlalu...


[Dua Hari Lagi Sebelum Berkumpul]


"Wah.. Tidak biasanya kau mencari


keberadaanku. Oh ya aku merasakan


adanya guncangan yang besar


beberapa waktu lalu, apa itu kau?"


*Tik-Tok-Tik-Tok*


Suara langkahan kaki terdengar...


Yang tidak lain adalah diriku yang


sedang berjalan menghampiri


Kenma yang berada di atas balkon


dari salah satu kota.


Aku belum berada dekat denganya


dan dia sudah mengetahui akan


adanya kehadiranku yang datang mengampiri dirinya.


"Yahh... Mencari keberadaanmu


cukup membuang waktu di dunia


tanpa ujung ini. Dan.. Kupikir itu


benar."


Aku sambil berjalan santai


menghampiri Kenma dan perlahan mengeluarkan sebatang permen.


"Jadi... Konsultasi padaku apa


hari ini? ini sangat jarang orang


pintar sepertimu meminta


pengetahuan dari diriku yang selalu


terlibat masalah."(Kenma)


"Tidak, lagi pula aku tidak memiliki


tujuan lain di tangga ini, selain


dirimu yang bisa membuat rasa


bosan ini sedikit menghilang."


Sekarang.. Aku sudah berada di


hadapan nya, walau dia tidak


menolehkan dirinya kepadaku,


dan lebih memilih memandangi


langit pagi di ketinggian ini.


"Jadi... Begitukah pandanganmu


terhadapku, tapi kurasa itu wajar


karena kau telah meninggalkan


harapanmu di tangga ini yang berarti


kau sama saja tidak memiliki arah


tujuan untuk kembali. Jika aku jadi


dirimu... Memiliki wanita cantik


sepertinya, tentu tidak semudah itu


aku tinggalkan. Yahh... Aku benar-


benar iri."(Kenma)


"Jadi langsung saja kita ke inti


pembicaraan. Kemarin.. Aku


bertemu dengan orang yang


mengetahui tentang Tuhan di tangga


ini."


Aku dengan santainya mengatakan


hal tersebut sambil menikmati


secuil permen batang ini.


"Lalu?"(Kenma)


"Ada syarat agar aku bisa


mendapatkan apa yang aku cari,


yang jelas itu pasti berhubungan


dengan pertarungan. Dunia tanpa


sihir ini merepotkan, aku yakin kau


juga sebenarnya ingin segera keluar


dari tangga ini, tapi kau hanya


berpikir terus menikmatinya."


(Retnan)


"Wah... Senang seseorang bisa


mengerti diriku. Lalu... apa yang kau


inginkan kepadaku dengan syarat


itu? aku tidak berpikir akan ikut


bertarung. Tapi kupikir kau tidak akan meminta diriku melakukan hal


seperti itu."(Kenma)


Kami berbicara.. Tanpa menunjukan


wajah kami, yang saling berlawanan


arah.


"Begitu rupanya, ngomong-ngomong


sebelum aku menjelaskan. Aku ingin


mengetahui fakta tentang dirimu,


pertama... Tujuanmu melakukan


seperti apa yang kau lakukan


padaku sebelumnya, itu atas dasar


kesenangan namun... Di balik itu.


Kau ingin mendapatkan kekuatan


di setiap harapan mereka."


Di saat yang sama.. Setelah aku


mengatakan hal tersebut,


aku melihat Kenma tersentak mendengarnya.


Sebelumnya ia hanya berbicara


sambil memandangi langit tanpa


menolah kepadaku, setelah rasa


tersentak tersebut ia langsung


menoleh kepadaku yang berada


di belakangnya namun tidak


membalikan badanya ke arahku.


".... Apa maksudmu? mana mungkin


aku bisa melakukanya tanpa sihir


di sini."(Kenma)


"Tidak, kau mampu melakukanya


dengan inti keberadaanmu, inti di


sini tetaplah berlaku. Aku tahu kau


telah mengetahui hal itu. Yang ku


maksud adalah... Pertemuan kita


bukanlah kebetulan, sejak awal kau


sudah menjadikanku target agar kita


bisa saling bertemu, dan itu telah


di landasi dengan kekuatan inti


keberadaanmu yang dapat


mengetahui kuat tidaknya mereka,


ya, sebenarnya kau hanya ingin


menemui orang yang kuat di tangga


ini."(Retnan)


"Omong kosong, apa untungnya


aku mengincar hal tersebut, aku


melakukanya sesuai apa yang


aku inginkan tanpa ada maksud


lain."(Kenma)


Dan saat itulah aku mulai melihat


Kenma menunjukan wajah kesal


dan ragu di wajahnya.


"Jangan remehkan aku soal inti


keberadaan. Setelah kau telah


mengambil harapan mereka, justru


itu malah membuat ikatan baru


lewat inti keberadaan, yang artinya


kau sama saja telah membuat


kontrak dengan mereka hanya


bermodal membuat ikatan dengan


inti keberadaan mereka. Di samping


itu Kau juga dapat menggunakan


bagian dari inti keberadaan mereka,


yang aku maksud adalah senjata


dari inti keberadaan mereka, tapi...


sayang sekali ya.. Kekuatan itu tidak


bisa menggapai inti keberadaanku."


Aku mengatakanya dengan rasa


percaya diri yang terlihat di wajahku.


"Jadi maksudmu... Aku mengubah


harapan yang sudah terlepas dari


setiap individual. Menjadikanya


terikat oleh inti keberadaanku?


atas dasar apa kau berpikir seperti


itu?"(Kenma)


Aku mulai tertarik dengan obrolan


ini, melihat Kenma yang merasa


ragu, kupikir aku memiliki


kesempatan yang bagus.


"Tubuhmu. Tanpa kau sadari kau


telah memakai bagian dari inti


keberadaanmu seperti halnya zirah


yang saat ini kau pakai dalam bentuk


inti keberadaan, orang lain mungkin


tidak akan bisa melihatnya, tapi aku


bisa melihatnya tahu."


adanya cahaya ungu memancar


di mataku.


Di saat yang sama setelah aku


mengatakan hal tersebut, akhirnya


Kenma membalikan badan ke arahku.


"K-Kau bisa melihatnya?.. Mustahil,


kau mengetahui diriku sedang


memakai kekuatan inti keberadaan?


sejak kapan kau mencurigaiku?"


(Kenma) dengan tatapan serius


mengarah padaku.


"Tidak ada, sejak awal aku sudah


mengetahui kau menggunakan inti


keberadaanmu. Kau tahu.. Alasan


aku tidak membunuhmu waktu itu


adalah, karena suatu saat kau akan


di butuhkan."(Retnan)


"Di butuhkan?"(Kenma) dengan rasa


bingung.


"Ya, untuk itulah aku datang kemari,


kekuatanmu yang dapat mengikat


seseorang dengan inti keberadaan


itu, di butuhkan untuk apa yang telah


aku jelaskan sebelumnya. Jadi aku


ingin kau menjadi budak ku."


Aku dengan rasa percaya diri


dan tersenyum mengatakanya.


Tapi... Respon yang di tunjukan


Kenma malah di luar perkiraanku,


setelah mendengar pernyataanku.


Dia malah tersenyum meringis.


"Khe khe khe .. HAHAHAHAHAH!"


Aku cukup heran dengan jawaban


yang ia tunjukan padaku, aku tidak


berpikir perkataanku adalah sesuatu


yang harus di tertawakan.


"Hahhh... Kau benar, dengan begitu


aku dapat mengandalkan kekuatan


inti keberadaan mereka semua yang


ada di tangga ini hanya dengan


membuat ikatan inti yang saling


terhubung dan menggantikan posisi


harapan yang melekat pada mereka.


Kau tahu? hanya dengan orang lain


berinteraksi seperti menyentuh


diriku mereka yang terlepas dari


harapan di tangga ini akan


tergantikan harapan itu menjadi


ikatan inti keberadaan yang saling


terhubung, ini seperti kontrak,


namun memiliki makna yang


berbeda, jika kau telah berkontrak,


maka aku hanyalah sekedar menjadi


ikatan tersebut. Ya aku hanya bisa


memanfaatkan bagian inti mereka


tapi tidak bisa mempengaruhi inti


keberadaan mereka. Aku menyebut kekuatan ini adalah, [Armor Justice]. Tapi......... Apa maksudmu kau ingin


aku menjadi budakmu?"(Kenma)


Untuk sekali lagi, dia menatapku


dengan wajah serius dan kesal.


"Pada akhirnya kau hanya ingin


kekuatan bagian inti keberadaan


mereka bukan? aku akan membuat


kesepakatan. Jika kau menuruti


perkataanku, aku akan memberikan


dirimu senjata yang jauh lebih kuat


dari apa yang selama ini kau capai."


Tanpa adanya rasa ragu yang


terlihat di wajahku, aku yakin itu


cukup untuk membuatnya yakin.


Di samping itu dia menatapku


cukup lama, seakan dia mencoba


untuk mencari keraguan di wajahku.


"Aku memang tertarik dengan


tawaranmu, tapi.. Apa kau sungguh


serius dengan ucapanmu?"(Kenma)


"Apa dengan aku yang telah


melampaui kecepatan milikmu kau


masih meragukan nya?"(Retnan)


Untuk sesaat... Suasana menjadi


hening.


"......... Baiklah, aku percaya, jadi..


apa yang ingin kau lakukan pada


budakmu ini?"(Kenma)


Dan akhirnya aku bisa kembali ke


topik utama.


"Jadi... Saat dalam pertemuanku


dengan pria itu, ada satu wanita


yang membuatku ingin membunuh


dirinya. Tapi itu tidak semudah yang


aku pikirkan, dia telah membuat


kontrak dengan pria tersebut,


berinteraksi denganya itu cukup


sulit, jadi aku ingin kau mencoba


untuk membawanya jauh dari


pria tersebut, atau jika kau bisa...


aku ingin kau menyegelnya. Dari


pada membunuh, aku ingin


berbicara sesuatu kepadanya."


Aku dengan rasa percaya diri


mengatakan nya.


"Itu di luar kemampuanku tahu,


apa maksudmu... Kau ingin aku


menyangkutkan ikatan mereka?


Hey-hey... Aku merasa di bodohi.


Jika di pikir kembali... Apa kau


bermaksud menjadikanku umpan


ha?"(Kenma)


Untuk sesaat.. Aku tersenyum


meringis ketika mendengar ucapan


konyol dari Kenma, seolah-olah


itu seperti sebuah lelucon yang


membuatku ingin tertawa.


"Mungkin, kau tahu... Dunia tanpa


sihir ini membuatku berpikir, untuk


merubah cara bertarungku, jika kau


tidak ingin, kau bisa menolaknya.


Jujur saja... Aku melakukanya atas


dasar kebosananku. Tanpa anggota


organisasiku... Aku seperti bingung


dengan diriku sendiri."


Aku mengatakanya dengan santai


seperti aku memasukan kedua


tanganku kedalam saku celana,


sambil menunjukan rasa senangku.


"Sialan... Baiklah aku tetap setuju


dengan keputusanku, jika aku


tewas... Aku anggap itu sebuah


kecelakaan. Lagi pula sejak awal


aku memang tertarik."(Kenma)


"Bagus... Setelah semua berakhir,


aku akan mendatangimu lagi.


kalau begitu... Aku pergi, kuharap


kau masih hidup besok, lalukanlah


yang terbaik, apapun hasilnya..


Meski itu hanyalah rasa bosanku...


Kau tidak akan kubiarkan tewas


begitu saja. Untuk kali ini.. Aku


tidak akan memberikan orang


yang kukenal tewas tanpa arti


dengan begitu saja, Oh ya,


lakukanlah saat wanita itu muncul


di hadapanku."


Setelah mengatakan hal tersebut


aku perlahan berjalan pergi


meniggalkan Kenma yang hanya


terdiam memperhatikanku.


"Bosan ya?.. Hahh.. Terserah."