A The Creators

A The Creators
Perlawanan



Di tengah arena colosseum...


"Aku tidak ingin membahas dia,


lagi pula semua itu tidak ada


hubunganya dengan pertemuan


kita saat ini, dan juga... aku bukan


orang yang dikirim" (Afreon)


"Kau ada benarnya, tapi setidaknya


kau harus mengetahui satu hal.


aku orang yang di kirim oleh


dirinya, dan di berkahi kekuatan


yang sama sepertinya, kau tahu


dengan tujuan apa?... mengambil


hak dan otoritas semua dewa,


dan dia berpesan, jika aku telah


menemukan dewa kehancuran


Verly. maka aku harus benar-benar


membunuhnya karena orang itu


telah melanggar aturan yang


seharusnya tidak boleh di lakukan,


begitulah dia berpesan kepadaku,


kuharap... orang yang bernama


Verly tidak bersama organisasi


kalian"


Orang itu sambil tersenyum


kepada Afreon.


"Verly?... untung saja Retnan tidak


mendengar apa yang di katakanya,


karena dia masih berada di tempat


duduk penonton mungkin.


aku akan bertanya satu hal yang


tidak ada hubunganya dengan


semua ini, yaitu... apa kau


menyukai " Luar Angkasa?" yang


terletak di luar dunia ini? atau


lapisan ini?"(Afreon)


"Apa maksudmu?..."


"Tidak, aku tidak mempunyai


maksud lain, aku hanya bilang


bahwa lebih baik kau mengamuk


di sana dan hancurkan semua dunia, bukankah itu akan membuatmu


merasa yang terkuat?. dunia ini


hancur tidak akan ada yang peduli,


mereka hanya mengatur hukum


dan tatanan dunia"(Afreon) sambil


tersenyum berhadapan dengan


orang itu.


"Ya ampun... kau benar sekali lagi,


namun itu terlalu mudah bagiku


jadi tidak ada tantangan sama


sekali. oh ya.. aku lupa untuk


memperkenalkan namaku,


panggil saja aku... Zenuar Mahwell


atau Zenuar, kau tidak perlu


memperkenalkan nama, aku sudah


mengetahui semuanya, dan


sekarang. bagaimana cara


mengakhiri pertemuan ini?"



"Tentu... dengan kekerasan


karena itu cara yang efisien


tanpa meninggalkan rasa


dendam, mungkin sih" (Afreon)


dengan wajah percaya diri.


Dan secara langsung gumpalan aura


sihir sudah terbentuk menyeluruh


di seluruh tubuh Afreon.


***


Di sisi lain...


Dimana aku sedang membawa


pergi wanita itu untuk menjauh


sedikit dari pertarungan mereka.


Aku menggendongnya dan


memutuskan untuk menyembuhkan


tubuhnya yang masih terluka parah.


Dengan cepat aku langsung


membuatnya terbaring.


"Kau..."


Wanita itu mencoba berbicara


kepadaku dengan tubuh yang


masih terluka parah.


"Sudahlah, kau tidak perlu


memaksakan dirimu untuk


berbicara, ini bukan keinginanku


namun temanku yang memintanya,


lagi pula... jujur saja, kenapa kau


begitu sangat rapuh, kau bahkan


tidak cocok menjadi penguasa


tangga pertama"


Aku dengan santai berbicara


sambil sedikit memberikan sihirku


yang sebatas partikel sudah cukup


untuk menyembukan luka apapun.


Perlahan...


Aku merendahkah diriku kepada


wanita itu lalu memberikanya


satu sentuhan jariku dan langsung


dalam sekejap menyembuhkan


seluruh luka yang wanita itu terima.


"Kau... luar biasa dalam sihir"


Aku melihat wanita itu mulai


bangkit kembali, dan aku


langsung berdiri sekali lagi.


"Ha? kepribadianmu terlihat


berbeda jauh dengan sebelumnya,


dan... bisakah kau memberikan


kunci untuk pergi ke tangga


berikutnya?" (Retnan)


"Kau... organisasi ya, tentu aku


bisa, namun... lepaskan dulu


segel ini yang masih mengikatku


itu pun jika kau mampu"


Aku mulai bepikir wanita ini


mencoba memanfaatkan diriku


dengan kelicikanya.


"Ya... itu tidaklah sulit, cobalah


kau berdiri sekali lagi"


Setelah wanita itu berdiri...


Aku langsung menyentuh bagian


segel tersebut yang terpasang


di bagian leher wanita itu.


Sihirku mengalir dan langsung


menghancurkan segel tersebut.


"He?.. kau sangat hebat, mungkin


aku akan mengaku kalah jika kau


ikut serta dalam permainanku,


oh ya maaf aku belum memberitahu


namaku, tapi aku yakin kau sudah


mengetahui namaku saat melacak


keberadaanku, tapi aku akan


menggulanginya sekali lagi,


namaku.. Demonstia sang dewa perwujudan dari iblis"


Wanita itu tiba-tiba kehilangan


keseimbangan dan sekali lagi


terjatuh duduk.


"Perwujudan?.. kau hampir


sekelas dengan dewa tertinggi


bermodal asal muasalmu"


Aku sambil mengulurkan tanganku


kepada wanita itu untuk membantu


dirinya berdiri.


"Ya ampun aku merasa diriku


sangat diremehkan, tapi... biarlah"


(Demonstia) sambil menerima


uluran tanganku.


"Kenapa kau begitu menanggapi


semua perkataan begitu enteng?


seakan kau tidak keberatan, itu


terdengar menjadi keterbalikan


dari sifatmu" (Retnan)


"Soal itu... aku memiliki beberapa


alasan tersendiri, tapi... apa benar


semua yang kalian lakukan ini


atas permintaan teman kalian


yang berambut kuning itu?"


(Demonstia) sambil menelunjukan


jarinya ke suatu arah.


"Afreon?.. oh ya, memang dia yang


bertindak sejak awal sampai


sejauh ini, kenapa kau...."


Saat itu... aku melihat reaksi


wajah wanita ini yang sangat


berbeda dan semakin menjadi


berlawanan dengan sifat aslinya.


Saat...


Ketika mendengar nama Afreon


wajahnya langsung menjadi


malu memerah tanpa sebab.


"Afreon kah...." (Demonstia)


Aku melihat dia bergumam dengan


wajah bahagia. yah aku tidak peduli


sih apa yang sedang dia pikirkan.


"Umm... jika tidak ada hal lain,


aku akan pergi kembali ke tempat


penonton sebagai penonton"


(Retnan)


"Tunggu..."


*CLEP*


"Ha?"


Aku yang baru berkeinginan untuk


pergi tiba-tiba Demonstia


memegangi tanganku seakan


mencoba menghentikan diriku untuk pergi.


Dia bukan hanya sekedar


memegang salah satu tanganku


itu terasa dia meremas tanganku


dengan erat.


Di sinilah aku mulai berpikir...


dia tidak ada niatan jahat


sama sekali terhadap kami.


"Jangan kembali, setidaknya ikutlah


denganku di kastil iblisku"


(Demonstia)


Dia masih memegangi tanganku


dengan erat.


Tapi aku merasa tanganya sedikit


bergetar ketakutan.


"....Hahh... mana mungkin aku


meninggalkan temanku begitu saja,


itu sama saja aku telah mengkhianati


mereka" (Retnan)


"Begitu ya... tuan Afreon masih


melawan dia, aku... setidaknya..


harus melakukan sesuatu untuk


"He?"


***


Di tengah pertempuran...


Afreon X Zenuar.


*Tring.. Tring.. Tring.. Tring.. *


Suara benturan pedang dengan


pedang terdengar.


Mereka bertarung tanpa


menggunakan sihir mereka


hanya sebatas pedang yang saling


diayunkan.


Afreon menggunakan Authority


sedangkan Zenuar sebatas


menggunakan pedang biasa.


Mereka berdua menunjukan


perbedaaan dia antara mereka.


"Hahaha... apa pedangmu masih


belum bisa memadai pedang


perak biasa ini?, kurasa... ini


sudah saatnya kita serius"


(Zenuar) sambil tersenyum kepada


Afreon dan terus menganyunkan


pedangnya.


"Ya..." (Afreon) dengan rasa percaya


diri.


Mereka berdua mulai serius dalam


menggunakan sihir mereka,


aura sihir yang begitu besar


menyelimuti tubuh mereka.


Tanpa mereka sadari akibat


mereka menggunakan aura sihir


secara besar-besaran.


Membuat beberapa bencana alam


seperti angin topan, gempa


yang hanya sesaat, membuat


mereka yang tidak bersangkutan


menerima dampaknya.


"Sekarang... kita akan lihat


perbedaan di antara kita" (Zenuar)


Sesuatu menyelimuti pedang


biasa milik Zenuar hingga...


suatu perubahan mulai terlihat.


Aura sihir yang menyelimuti


pedang itu secara langsung membuat perubahan pedang tersebut menjadi sebuah sabit yang besar.


Sabit berwarna hitam pekat


dengan ujung pisau di selimuti


aura hitam yang keluar seakan


membuatnya seperti sabit


pencabut nyawa.


Tanpa pikir panjang Zenuar


langsung menerjang Afreon


yang berada di pandanganya


dengan kecepatan yang seakan


membuat waktu terhenti sesaat.


Ia mulai mangayunkan sabitnya


dengan senyuman kepastianya.


Kemudian...


Ketika sampai di hadapan Afreon


dengan ujung sabit yang sudah


mengarah ke wajahnya...


Sebaliknya Afreon tersenyum di


hadapan Zenuar yang seakan reaksi Afreon jauh lebih cepat.


"Bodohh..."


Afreon perlahan mengarahkan


pedang Authoritynya tepat


mengarah di sabit yang hampir menggores kulitnya.


Dan...


*Duaaarrrr~


Dentuman senjata yang saling


bertemu dan menggores membuat


apapun yang berada di sekitarnya


langsung hancur membuat siapa saja


yang berada di tempat itu langsung


terhempas.


Bukan hanya itu. meski mereka


saling menerima serangan yang


juga saling menghentikan serangan


dampak yang di timbulkan justru


lebih besar, di belakang mereka


terdapat dampak dari serangan


mereka yang tidak lain membuat


jalur lahar api yang di sebabkan


karena telah menggores lempeng


tektonik dengan luas yang amat


besar.


Namun...


Afreon salah prediksi, ia merasa


benar-benar telah menghindari


sabit yang menghunus ke wajahnya.


Tapi sebaliknya Afreon merasa


telah mengenai sesuatu.


"Hihihi...Yahaha...!! bodohhhh...


kau pikir aku akan melenyapkan


fisikmu? tentu tidak, setiap aku


melawan seseorang aku langsung


fokus kepada inti mereka, lihat...


kau pasti merasa inti keberadaanmu


telah mengenai sesuatu iya kan?"


(Zenuar) sambil tersenyum kepada


Afreon yang hanya terdiam.


"Jadi... fungsi sabit itu adalah...


untuk menarik akar keberadaanku


dan berusaha menarik inti


keberadaanku?..." (Afreon) dengan


wajah terkejut.


"Sekarang... aku hanya perlu fokus


menarik inti keberadaanmu dan


langsung aku..." (Zenuar)


Ucapan Zenuar terhenti saat...


Melihat Afreon yang tiba-tiba


tersenyum selebar mungkin,


hingga tertawa dengan kerasnya


tanpa adanya sebab.


Afreon terus tertawa, dan semakin


membuat Zenuar yang merasa


kemenangan sudah ada di tanganya


menjadi kebingungan dan ragu


setelah melihat reaksi Afreon


yang tidak merasa akan sebaliknya.


"A..Apa yang kau tertawakan!?"


(Zenuar) dengan wajah ragu


melihat Afreon yang terus tertawa.


"Hahh... kau pasti sudah tahu


bahwa aku dari ras Divine Spirit


yang murni. dimana... ras Spirit


unggul dalam sihir yang tidak


terbatas, sihir itu juga sama


seperti energi, yang mana...


sifat sihir juga ada karena hal khusus


dari inti keberadaan, dan...


sifat sihirku adalah keterhubungan,


meski kau telah menarik atau


mempengaruhi intiku... secara


tidak langsung, kau hanya akan


menggapai ha yang sia-sia"(Afreon)


"Tidak mungkin... ada juga inti


keberadaan yang terlahir seperti itu?


aneh... aku merasa, tidak bisa


meraih inti keberadaan lagi,


mungkinkah..." (Zenuar) dengan wajah terkejut.


"Ya.. ketika kau memengaruhi intiku


secara individual itu memutuskan


keterhubungan sihirmu yang


mencoba menarik inti


keberadaanku, sekarang... apa


tindakanmu?"(Afreon)


"Ya ampun... aku menemukan


sesuatu yang luar biasa di sini,


aku tertarik padamu, mungkin...


ini akan menjadi hal tabu tapi...


kurasa aku harus memakainya"


(Zenuar)


Ketika Zenuar mengarahkan


tanganya ke samping...


Sebuah gerbang portal mulai


terbuka dari arah samping


Zenuar.


Lalu... sesuatu muncul seperti


pedang yang terus memperlihatkan


panjangnya saat keluar dari portal


tersebut.


Tak membutuhkan waktu yang


lama pedang tersebut dengan


keseluruhanya memperlihatkan


dari gangang pedang sampai


ujung pedang sangat begitu panjang


hingga... panjangnya mencapai


20 meter.


Pedang itu terlihat berwarna


hitam dan di setiap sisi bercampur


warna putih tanpa adanya aura


sihir yang menyelimutinya.


Tanpa memegang pedang itu,


secara instant sudah berada


di genggaman Zenuar.


"Nahh...!! aku akan mulai serius,


pedang ini adalah salah satu


dari senjata tuhan, namun sebatas


copyan saja, hukum dewa telah


membuatkanku senjata ini yang


menyatu dengan inti keberadaanku


dimana... aku dapat menimbulkan


kehancuran tanpa suatu sebab.


sekarang.... mari kita mulai..!!"


Tangan Zenuar yang memegang


pedang tersebut mulai menganyunkan


senjata yang begitu panjang itu


langsung mengarah ke Afreon


yang hanya tersenyum melihatnya.


"Rasakan ini...!!"


*TINGGGGG*


"Eh?"


Semua begitu terkejut...


Ujung pedang yang hampir mencapai


tubuh Afreon tiba-tiba terhentikan


oleh sebuah genggaman tangan


seseorang, ia memegangi senjata


tersebut.


Seseorang tersebut yang tidak


lain adalah....


Demonstia.