
Di tengah arena colosseum...
"Aku tidak ingin membahas dia,
lagi pula semua itu tidak ada
hubunganya dengan pertemuan
kita saat ini, dan juga... aku bukan
orang yang dikirim" (Afreon)
"Kau ada benarnya, tapi setidaknya
kau harus mengetahui satu hal.
aku orang yang di kirim oleh
dirinya, dan di berkahi kekuatan
yang sama sepertinya, kau tahu
dengan tujuan apa?... mengambil
hak dan otoritas semua dewa,
dan dia berpesan, jika aku telah
menemukan dewa kehancuran
Verly. maka aku harus benar-benar
membunuhnya karena orang itu
telah melanggar aturan yang
seharusnya tidak boleh di lakukan,
begitulah dia berpesan kepadaku,
kuharap... orang yang bernama
Verly tidak bersama organisasi
kalian"
Orang itu sambil tersenyum
kepada Afreon.
"Verly?... untung saja Retnan tidak
mendengar apa yang di katakanya,
karena dia masih berada di tempat
duduk penonton mungkin.
aku akan bertanya satu hal yang
tidak ada hubunganya dengan
semua ini, yaitu... apa kau
menyukai " Luar Angkasa?" yang
terletak di luar dunia ini? atau
lapisan ini?"(Afreon)
"Apa maksudmu?..."
"Tidak, aku tidak mempunyai
maksud lain, aku hanya bilang
bahwa lebih baik kau mengamuk
di sana dan hancurkan semua dunia, bukankah itu akan membuatmu
merasa yang terkuat?. dunia ini
hancur tidak akan ada yang peduli,
mereka hanya mengatur hukum
dan tatanan dunia"(Afreon) sambil
tersenyum berhadapan dengan
orang itu.
"Ya ampun... kau benar sekali lagi,
namun itu terlalu mudah bagiku
jadi tidak ada tantangan sama
sekali. oh ya.. aku lupa untuk
memperkenalkan namaku,
panggil saja aku... Zenuar Mahwell
atau Zenuar, kau tidak perlu
memperkenalkan nama, aku sudah
mengetahui semuanya, dan
sekarang. bagaimana cara
mengakhiri pertemuan ini?"
"Tentu... dengan kekerasan
karena itu cara yang efisien
tanpa meninggalkan rasa
dendam, mungkin sih" (Afreon)
dengan wajah percaya diri.
Dan secara langsung gumpalan aura
sihir sudah terbentuk menyeluruh
di seluruh tubuh Afreon.
***
Di sisi lain...
Dimana aku sedang membawa
pergi wanita itu untuk menjauh
sedikit dari pertarungan mereka.
Aku menggendongnya dan
memutuskan untuk menyembuhkan
tubuhnya yang masih terluka parah.
Dengan cepat aku langsung
membuatnya terbaring.
"Kau..."
Wanita itu mencoba berbicara
kepadaku dengan tubuh yang
masih terluka parah.
"Sudahlah, kau tidak perlu
memaksakan dirimu untuk
berbicara, ini bukan keinginanku
namun temanku yang memintanya,
lagi pula... jujur saja, kenapa kau
begitu sangat rapuh, kau bahkan
tidak cocok menjadi penguasa
tangga pertama"
Aku dengan santai berbicara
sambil sedikit memberikan sihirku
yang sebatas partikel sudah cukup
untuk menyembukan luka apapun.
Perlahan...
Aku merendahkah diriku kepada
wanita itu lalu memberikanya
satu sentuhan jariku dan langsung
dalam sekejap menyembuhkan
seluruh luka yang wanita itu terima.
"Kau... luar biasa dalam sihir"
Aku melihat wanita itu mulai
bangkit kembali, dan aku
langsung berdiri sekali lagi.
"Ha? kepribadianmu terlihat
berbeda jauh dengan sebelumnya,
dan... bisakah kau memberikan
kunci untuk pergi ke tangga
berikutnya?" (Retnan)
"Kau... organisasi ya, tentu aku
bisa, namun... lepaskan dulu
segel ini yang masih mengikatku
itu pun jika kau mampu"
Aku mulai bepikir wanita ini
mencoba memanfaatkan diriku
dengan kelicikanya.
"Ya... itu tidaklah sulit, cobalah
kau berdiri sekali lagi"
Setelah wanita itu berdiri...
Aku langsung menyentuh bagian
segel tersebut yang terpasang
di bagian leher wanita itu.
Sihirku mengalir dan langsung
menghancurkan segel tersebut.
"He?.. kau sangat hebat, mungkin
aku akan mengaku kalah jika kau
ikut serta dalam permainanku,
oh ya maaf aku belum memberitahu
namaku, tapi aku yakin kau sudah
mengetahui namaku saat melacak
keberadaanku, tapi aku akan
menggulanginya sekali lagi,
namaku.. Demonstia sang dewa perwujudan dari iblis"
Wanita itu tiba-tiba kehilangan
keseimbangan dan sekali lagi
terjatuh duduk.
"Perwujudan?.. kau hampir
sekelas dengan dewa tertinggi
bermodal asal muasalmu"
Aku sambil mengulurkan tanganku
kepada wanita itu untuk membantu
dirinya berdiri.
"Ya ampun aku merasa diriku
sangat diremehkan, tapi... biarlah"
(Demonstia) sambil menerima
uluran tanganku.
"Kenapa kau begitu menanggapi
semua perkataan begitu enteng?
seakan kau tidak keberatan, itu
terdengar menjadi keterbalikan
dari sifatmu" (Retnan)
"Soal itu... aku memiliki beberapa
alasan tersendiri, tapi... apa benar
semua yang kalian lakukan ini
atas permintaan teman kalian
yang berambut kuning itu?"
(Demonstia) sambil menelunjukan
jarinya ke suatu arah.
"Afreon?.. oh ya, memang dia yang
bertindak sejak awal sampai
sejauh ini, kenapa kau...."
Saat itu... aku melihat reaksi
wajah wanita ini yang sangat
berbeda dan semakin menjadi
berlawanan dengan sifat aslinya.
Saat...
Ketika mendengar nama Afreon
wajahnya langsung menjadi
malu memerah tanpa sebab.
"Afreon kah...." (Demonstia)
Aku melihat dia bergumam dengan
wajah bahagia. yah aku tidak peduli
sih apa yang sedang dia pikirkan.
"Umm... jika tidak ada hal lain,
aku akan pergi kembali ke tempat
penonton sebagai penonton"
(Retnan)
"Tunggu..."
*CLEP*
"Ha?"
Aku yang baru berkeinginan untuk
pergi tiba-tiba Demonstia
memegangi tanganku seakan
mencoba menghentikan diriku untuk pergi.
Dia bukan hanya sekedar
memegang salah satu tanganku
itu terasa dia meremas tanganku
dengan erat.
Di sinilah aku mulai berpikir...
dia tidak ada niatan jahat
sama sekali terhadap kami.
"Jangan kembali, setidaknya ikutlah
denganku di kastil iblisku"
(Demonstia)
Dia masih memegangi tanganku
dengan erat.
Tapi aku merasa tanganya sedikit
bergetar ketakutan.
"....Hahh... mana mungkin aku
meninggalkan temanku begitu saja,
itu sama saja aku telah mengkhianati
mereka" (Retnan)
"Begitu ya... tuan Afreon masih
melawan dia, aku... setidaknya..
harus melakukan sesuatu untuk
"He?"
***
Di tengah pertempuran...
Afreon X Zenuar.
*Tring.. Tring.. Tring.. Tring.. *
Suara benturan pedang dengan
pedang terdengar.
Mereka bertarung tanpa
menggunakan sihir mereka
hanya sebatas pedang yang saling
diayunkan.
Afreon menggunakan Authority
sedangkan Zenuar sebatas
menggunakan pedang biasa.
Mereka berdua menunjukan
perbedaaan dia antara mereka.
"Hahaha... apa pedangmu masih
belum bisa memadai pedang
perak biasa ini?, kurasa... ini
sudah saatnya kita serius"
(Zenuar) sambil tersenyum kepada
Afreon dan terus menganyunkan
pedangnya.
"Ya..." (Afreon) dengan rasa percaya
diri.
Mereka berdua mulai serius dalam
menggunakan sihir mereka,
aura sihir yang begitu besar
menyelimuti tubuh mereka.
Tanpa mereka sadari akibat
mereka menggunakan aura sihir
secara besar-besaran.
Membuat beberapa bencana alam
seperti angin topan, gempa
yang hanya sesaat, membuat
mereka yang tidak bersangkutan
menerima dampaknya.
"Sekarang... kita akan lihat
perbedaan di antara kita" (Zenuar)
Sesuatu menyelimuti pedang
biasa milik Zenuar hingga...
suatu perubahan mulai terlihat.
Aura sihir yang menyelimuti
pedang itu secara langsung membuat perubahan pedang tersebut menjadi sebuah sabit yang besar.
Sabit berwarna hitam pekat
dengan ujung pisau di selimuti
aura hitam yang keluar seakan
membuatnya seperti sabit
pencabut nyawa.
Tanpa pikir panjang Zenuar
langsung menerjang Afreon
yang berada di pandanganya
dengan kecepatan yang seakan
membuat waktu terhenti sesaat.
Ia mulai mangayunkan sabitnya
dengan senyuman kepastianya.
Kemudian...
Ketika sampai di hadapan Afreon
dengan ujung sabit yang sudah
mengarah ke wajahnya...
Sebaliknya Afreon tersenyum di
hadapan Zenuar yang seakan reaksi Afreon jauh lebih cepat.
"Bodohh..."
Afreon perlahan mengarahkan
pedang Authoritynya tepat
mengarah di sabit yang hampir menggores kulitnya.
Dan...
*Duaaarrrr~
Dentuman senjata yang saling
bertemu dan menggores membuat
apapun yang berada di sekitarnya
langsung hancur membuat siapa saja
yang berada di tempat itu langsung
terhempas.
Bukan hanya itu. meski mereka
saling menerima serangan yang
juga saling menghentikan serangan
dampak yang di timbulkan justru
lebih besar, di belakang mereka
terdapat dampak dari serangan
mereka yang tidak lain membuat
jalur lahar api yang di sebabkan
karena telah menggores lempeng
tektonik dengan luas yang amat
besar.
Namun...
Afreon salah prediksi, ia merasa
benar-benar telah menghindari
sabit yang menghunus ke wajahnya.
Tapi sebaliknya Afreon merasa
telah mengenai sesuatu.
"Hihihi...Yahaha...!! bodohhhh...
kau pikir aku akan melenyapkan
fisikmu? tentu tidak, setiap aku
melawan seseorang aku langsung
fokus kepada inti mereka, lihat...
kau pasti merasa inti keberadaanmu
telah mengenai sesuatu iya kan?"
(Zenuar) sambil tersenyum kepada
Afreon yang hanya terdiam.
"Jadi... fungsi sabit itu adalah...
untuk menarik akar keberadaanku
dan berusaha menarik inti
keberadaanku?..." (Afreon) dengan
wajah terkejut.
"Sekarang... aku hanya perlu fokus
menarik inti keberadaanmu dan
langsung aku..." (Zenuar)
Ucapan Zenuar terhenti saat...
Melihat Afreon yang tiba-tiba
tersenyum selebar mungkin,
hingga tertawa dengan kerasnya
tanpa adanya sebab.
Afreon terus tertawa, dan semakin
membuat Zenuar yang merasa
kemenangan sudah ada di tanganya
menjadi kebingungan dan ragu
setelah melihat reaksi Afreon
yang tidak merasa akan sebaliknya.
"A..Apa yang kau tertawakan!?"
(Zenuar) dengan wajah ragu
melihat Afreon yang terus tertawa.
"Hahh... kau pasti sudah tahu
bahwa aku dari ras Divine Spirit
yang murni. dimana... ras Spirit
unggul dalam sihir yang tidak
terbatas, sihir itu juga sama
seperti energi, yang mana...
sifat sihir juga ada karena hal khusus
dari inti keberadaan, dan...
sifat sihirku adalah keterhubungan,
meski kau telah menarik atau
mempengaruhi intiku... secara
tidak langsung, kau hanya akan
menggapai ha yang sia-sia"(Afreon)
"Tidak mungkin... ada juga inti
keberadaan yang terlahir seperti itu?
aneh... aku merasa, tidak bisa
meraih inti keberadaan lagi,
mungkinkah..." (Zenuar) dengan wajah terkejut.
"Ya.. ketika kau memengaruhi intiku
secara individual itu memutuskan
keterhubungan sihirmu yang
mencoba menarik inti
keberadaanku, sekarang... apa
tindakanmu?"(Afreon)
"Ya ampun... aku menemukan
sesuatu yang luar biasa di sini,
aku tertarik padamu, mungkin...
ini akan menjadi hal tabu tapi...
kurasa aku harus memakainya"
(Zenuar)
Ketika Zenuar mengarahkan
tanganya ke samping...
Sebuah gerbang portal mulai
terbuka dari arah samping
Zenuar.
Lalu... sesuatu muncul seperti
pedang yang terus memperlihatkan
panjangnya saat keluar dari portal
tersebut.
Tak membutuhkan waktu yang
lama pedang tersebut dengan
keseluruhanya memperlihatkan
dari gangang pedang sampai
ujung pedang sangat begitu panjang
hingga... panjangnya mencapai
20 meter.
Pedang itu terlihat berwarna
hitam dan di setiap sisi bercampur
warna putih tanpa adanya aura
sihir yang menyelimutinya.
Tanpa memegang pedang itu,
secara instant sudah berada
di genggaman Zenuar.
"Nahh...!! aku akan mulai serius,
pedang ini adalah salah satu
dari senjata tuhan, namun sebatas
copyan saja, hukum dewa telah
membuatkanku senjata ini yang
menyatu dengan inti keberadaanku
dimana... aku dapat menimbulkan
kehancuran tanpa suatu sebab.
sekarang.... mari kita mulai..!!"
Tangan Zenuar yang memegang
pedang tersebut mulai menganyunkan
senjata yang begitu panjang itu
langsung mengarah ke Afreon
yang hanya tersenyum melihatnya.
"Rasakan ini...!!"
*TINGGGGG*
"Eh?"
Semua begitu terkejut...
Ujung pedang yang hampir mencapai
tubuh Afreon tiba-tiba terhentikan
oleh sebuah genggaman tangan
seseorang, ia memegangi senjata
tersebut.
Seseorang tersebut yang tidak
lain adalah....
Demonstia.