
Situasi saat ini....
Di dalam kerajaan Dystoria...
"Hentikan Retnan..!!"
Suatu teriakan terdengar ketika
aku ingin segera menghunuskan
pedang ini ke arah Dystoria.
Aku yang mendengarnya langsung
menoleh ke arah teriakan itu
berasal.
"... Xanxus?.. kenapa kau ada di sini"
Aku melihat Xanxus yang tiba-tiba
datang yang aku pikir dialah orang
yang meneriakiku sebelumnya.
Aku tidak berpikir bahwa dia datang
kemari untuk mencoba menghentikan
pertarungan ini, karena sebelumnya
dia telah bersama Afreon atas
keinginanya sendiri.
Dia perlahan berjalan terlihat
menghampiriku yang tak jauh
dari pandangan matanya.
"Ternyata benar. Anda sang raja
yang saya hormati ketika anda
menjadi raja pahlawan" (Xanxus)
"Ohh... Xanxus kah kenapa kau bisa
ada di sini sebagai penjaga gerbang?"
(Dystoria)
Sesaat... aku merasa sedikit tersentak
melihat mereka yang terlihat sudah
saling mengenal satu sama lain.
"Saya hanya memiliki janji dengan
mereka ini. Dan Retnan... hentikan
tindakan konyolmu itu, ada hal yang
lebih gawat dari kondisimu yang
sekarang"(Xanxus) mengatakan
hal itu kepadaku dengan wajah
serius.
Perlahan... pedang katana milik Verly
mulai menghilang, aku memutuskan
untuk tidak terlalu mengedepankan
egoku dan mendengar apa yang
Xanxus ingin katakan.
Walau begitu keinginanku untuk
membungkam mulut sang raja itu
tetaplah tidak berubah.
"Jadi... apa yang membuatmu
datang kemari?, bukankah kau
sebelumnya bersama dengan Afreon?" (Retnan)
".... Itu beberapa waktu yang lalu"
(Xanxus)
"Beberapa waktu yang lalu?.."
Aku cukup heran mendengar
perkataan Xanxus, yang terdengar
meragukan.
"Ya, keberadaan mereka tiba-tiba
menghilang sesaat setelah ada
beberapa insiden yang terjadi
kepada kami. Yaitu hadirnya sebuah
lubang hitam yang tiba-tiba
menarik sejumlah beberapa orang
termasuk mereka. Dan aku yakin...
selama hal itu terjadi di dalam
tangga. Tuhan dalam tangga pasti
ada kaitanya, aku tidak mencurigai
anda... yang mulia, karena... ini juga
bertentangan dengan otoritas anda"
(Xanxus)
"Otoritas?.. itu tidak ada hubunganya
meski dunia hancur... Tuhan dalam
tangga tidak akan bertindak untuk
memperbaiki semuanya. Karena
mereka tahu... semua itu hanyalah
bagian dari permainan yang mereka
buat. Dan tugas mereka hanyalah
menantikan kehadiran setiap
organisasi yang mencoba meraih
lapisan atas. Pada dasarnya...
hal yang paling mudah untuk meraih
setiap tangga adalah menemui
Tuhan dalam tangga tersebut, tapi...
aku yakin kau sudah mengetahui
inti untuk terus meraih tangga.
Retnan, yah.. itu juga tergantung
seberapa kuat mereka untuk
tetap terus memegang otoritas
mereka"(Dystoria)
".... Permainan kah?... kita hadir
di sini sebagai pemain dalam
duniamu, yang artinya... segala hal
yang menjadikan perubahan dalam
setiap dunia. Adalah bagian dari
setiap permainanmu, termasuk
lubang hitam itu... bukan?"
Aku mengatakanya dengan nada
yang tegas, sekaligus rasa kesal
atas kejadian yang sebelumnya.
"Ya... aku yakin kau pasti mengerti.
Dan aku yakin kau masih sedikit
berkeinginan untuk menggores
kulitku, hanya karena aku telah mengetahui istrimu, itu tidak akan merubah apa-apa"(Xanxus)
"He?.."
Aku merasa sedikit tersentak
dengan apa yang baru saja dia
katakan, yang bagiku sendiri dia
mengatakanya dengan serius.
Walau meski sedikit meragukan,
dan bukan berarti aku akan
benar-benar mempercayai semua
perkataanya.
".... Meski aku memiliki kesan buruk
terhadapnya, bukan berarti aku tipe
orang yang ingin membalaskan
dendam. Meski dulu aku memiliki
rasa tersebut, tetapi setelah aku
membalaskan dendam pribadiku...
Aku jadi mengerti. Balas dendam hanyalah ungkapan perasaan yang
hanya memicu konflik yang sia-sia.
Aku berjanji tidak akan membongkar
apa yang telah aku ketahui darimu.
Bahkan janjiku dengan istrimu masih
aku pegang. Santai saja... entah apa
yang orang perbuat padaku, itu tidak
akan mempengaruhi janjiku. Bahkan meski aku di lempar ke akhir waktu.
Jarang sekali aku terbuka dengan
binatang seperti kalian, yang bahkan
tak layak aku pandang. Mungkin saja
karena... rasa cintaku yang masih
tumbuh kepadanya, meski aku
pernah di tolak"(Dystoria)
"Yah... aku tidak peduli apa yang
kau ocehkan. Aku sudah berjanji
untuk menyembunyikan keberadaan
seseorang yang bisa di percayai
olehnya. Maka aku tidak akan lagi
merasa ragu dan meninggalkan hasrat untuk membungkam mulutmu"
Aku mengatakanya dengan santai
dan memutuskan untuk mengakhiri
percakapan ini untuk berlanjut ke
topik yang sebenarnya.
"Ya... kupikir kau orang yang sangat
keras kepala. Aku hampir mengambil
tindakan jika kau terus mengelak
kepercayaanku. Dan... tidak. yang
kalian maksud lubang hitam itu
bukankah dari hasil ciptaan ku
melainkan... orang luar" (Dystoria)
"Apa... maksud anda... organisasi?"
(Xanxus)
"Tidak-tidak. Tapi entitas dewa
tertinggi"(Dystoria)sambil tersenyum
dengan santainya.
Senyuman yang juga menunjukan
rasa kepercayaan dirinya seakan
membuat apa yang dia katakan
benar-benar tidak ada kebohongan.
Walau begitu perkataanya sangat
bertentangan dengan otoritasnya
sebagai Tuhan di tangga.
Tidak.
Aku berpikir mungkin yang telah ia katakan tidak ada kaitanya dengan semua itu. dengan kata lain...
yang di maksud oleh Dystoria
adalah... entitas di luar tangga.
"Ya, yang kau pikirkan benar Retnan.
dia adalah dewa tertinggi dari
lapisan atas. Karena setelah balas dendamku terhadapnya... dia telah
menjadi entitas yang abnormal.
dia adalah sosok yang sangat
menjijikan, yang pernah membunuh
orang tuaku. Lebih tepatnya... dia
telah aku jadikan sebagai bagian penciptaan di tangga ku ini dan
berperan menjadi kekacauan angin
dekanasi. Untuk beberapa alasan...
aku memilih tubuhku untuk tetap
terus tertutupi oleh zirah ini, bekas
luka yang aku terima darinya
benar-benar bersifat selamanya"
(Dystoria)
"Jadi... pada dasarnya makhluk itu
di luar kendalimu kah.."(Retnan)
"Kau mengatakanya tanpa
menunjukan rasa ragu, aku sangat
iri denganmu dasar binatang.
Baiklah... aku akan memberikanmu
negosiasi. ... Jika kau mampu
melenyapkan entitas tersebut...
aku akan langsung mengirimu ke
tangga ke 10... bagaimana?"
(Dystoria) dia tersenyum kepadaku dengan rasa percaya dirinya.
Hal yang tak terduga di setiap
tindakanya benar-benar selalu
membuatku terkejut.
Aku sempat berpikir dia hanya
pemegang kedudukan tangga
ke dua saja, dan setelah mendengar
pernyataanya... aku mulai merasa
dia setara dengan Verly.
"... Jujur saja. Aku tidak melihat
kebohongan dari perkataanmu,
tapi... bagaimana caramu
melakukanya?" (Retnan)
"Astaga... kau pura-pura bodoh atau
apa?.. kau memiliki sifat sihir yang
mampu membuat kemungkinan,
apa kau sengaja tidak melakukanya?
atau kau memang arogan untuk
menunjukanya?" (Dystoria)sambil
tersenyum.
Aku benar-benar terkejut...
Dia bisa mengetahui apa yang
orang lain tidak semudah itu
ketahui. ini seolah-olah Dystoria
mengetahui segalanya tentang
diriku.
"Ya aku tahu, sifat sihirmu masih
di tingkat sederhana. Yang jelas...
aku akan mengirim kalian lewat
gerbang Surgawi. Dimana gerbang itu terhubung dengan segala hal.
jadi... bagaimana?" (Dystoria)
dengan rasa percaya diri.
Di saat itulah...
Aku melihat Xanxus mulai membuka
mulut.
"Entitas itu juga cukup sulit.
Mungkin jika semisal kita semua
tewas... setidaknya, aku ingin Retnan
yang menjadi pesan terakhir kami,
sebagai seseorang sekaligus
pemimpin organisasi menjadi yang terakhir mati"(Xanxus)
Aku tidak mengerti...
Tiba-tiba sesaat setelah mendengar
perkataan Xanxus... sebuah gejolak
tertawa hadir dalam diriku.
Seakan perasaan ini merespon
perkataan Xanxus. Hal ini juga
terkadang terjadi ketika aku bersama dengan Verly.
Walau aku tidak terlalu mengerti...
Aku tetap terus berusaha
menahan perasaan tawa ini, yang mencoba melawan ego ku.
"Hahhh...."
Aku menghela nafas untuk sekali
lagi.
"... Kau tidak perlu terlalu berpikir
hal yang tidak-tidak. Lagi pula...
Afreon tidak selemah itu di telan
oleh angin dengan begitu saja.
Jika memilih keputusan...
aku sebagai ketua organisasi..
menerima tawaran itu, kau juga
tidak keberatan bukan? Xanxus?"
Aku dengan rasa percaya diri
sedikit memberikan dorongan
kepada Xanxus agar ia tidak
meragukan keputusanku.
"Re.. Retnan?.. tentu. Aku yang
berhutang budi terhadap kalian
tentu saja akan selalu berpatisipasi
dalam situasi apapun" (Xanxus)
dengan rasa percaya diri.
"Yosh... sebelum memulai...
aku ingin membangkitkan wanita
yang telah kau bunuh itu"
*TIK*
Suara jentikanku terdengar....