A The Creators

A The Creators
Mempercayakan Kepada Mereka



"Begitu kah... jadi akhirnya kau


turun tangan setelah apa yang


mempengaruhi dirimu."


Aku berada di atas langit melihat


mereka semua yang berada di bawah


tepat di tengah dataran pasir mereka


tertuju pada satu hal yang tidak lain adalah... kehadiran dari entitas


tersebut.


Dia terlihat memakai sebuah


topeng hanya saja.. itu hanya


sebatas menutupi setengah


wajahnya yang terbilang dapat


melihat hanya sebatas satu mata.


Di tambah pakaian yang ia pakai


terlihat sedehana namun begitu


terkesan mengekspresikan


kehadiran yang begitu kuat


dengan aura sihir terasa menekan


di sekitarnya, dan juga rambut


kuning yang pendek serta kulit


yang seputih dengan raja Dystoria


membuat semua hal itu menjadi


benar-benar terkesan sangat


berbeda dari semua kehadiran


yang pernah aku temui.


Tanpa pikir panjang.. entitas itu


yang berada dekat dengan


mereka semua, aku langsung


memutuskan menghampiri


mereka.


"... Aku tidak pernah berpikir akan


ada seseorang yang mampu


mempengaruhi ciptaanku. Di tambah


kau telah mengambil salah satu


bagian dari inti tersebut yaitu


wanita vampire itu. Kurasa aku


harus menghukum kalian dengan


kekuatan penuh."


"Apa itu juga maksud di balik


kau ingin bertemu dengan raja


Dystoria?."(Retnan)


Dan saat itulah aku melihat respon


dari orang itu yang malah membalas


perkataanku dengan tertawa.


"Hhh.. Dystoria?.. ya aku ingin


bertemu denganya karena aku


pernah di kalahkan olehnya sebagai


dewa tertinggi perbuatanya cukup


menghancurkan harga diriku.


Namun... dia juga tidak akan bisa


membunuhku, buktinya aku tidak


di bunuh secara totalitas, apa


kalian tahu apa maksudnya itu?


karena dia bergantung kepadaku,


segalanya termasuk otoritasnya


sebagai tuhan di tangga ini"


"Retnan... bolehkah aku segera


menghunuskan pedangku ke arah


pria ini?.. dia begitu kuat... dan


membuatku sedikit bersemangat"


(Afreon) dengan rasa semangatnya


memanggilku.


"Ya, untuk sekarang aku tidak


ingin menanyakan apapun tentang


perkataanya, tapi sebelum...


memperkenalkan nama"


Aku tertuju pada entitas tersebut


dan berbicara kepadanya.


"Ternyata sesingkat ini percakapan


kita, baiklah... aku juga ingin segera


mengakhiri semua ini, dan namaku...


Baron Maxwell dewa tertinggi


perwujudan kebinasaan, yang-"


*Swooshh...*


Untuk sekilas...


Aku melihat Afreon sudah mulai


bergerak menerjang Baron yang


masih belum selesai berbicara.


Ia langsung menggunakan pedang


Authoritynya mengangkat kedua


bahunya dan mengarahkanya tepat


di leher Baron, seakan ia siap untuk


membunuhnya.


『Slash Everything』


Pedang cahaya emas itu mulai


breaksi ketika aura sihir mengalir


di sekujur tubuh Afreon.


Tidak ada kata mundur ketika


ujung pedang sudah mengarah


berada dekat dengan lawan.


Ini adalah refleks pergerakan


Afreon yang begitu sangat cepat,


mereka yang tidak bisa melihat


lajunya arah cahaya melintas


tidak akan pernah bisa menggapai


pergerakan Afreon yang mampu


melebihinya.


"Enyalah..."


Untuk sekilas... ketika ujung pedang


tersebut hampir menggores kulit


Baron... ia melihat mata yang hanya


terbuka satu, melirik ke arahnya


yang jika di pikir ini sangat sulit


jika Baron mampu menyadari


pergerakan Afreon yang begitu


sangat cepat.


Walau begitu, ini sudah terlambat


jika berpikir untuk kembali.


Hingga...


berbicara dalam batin"Kenapa.. aku


tidak bisa meraihnya?.. ini terasa


begitu lambat padahal ujung pedang


ini sedikit lagi sekitar 1CM aku bisa


menebas lehernya. Aku merasa dia


memperlambat gravitasi di sekitar


dirinya, gawat..."(Afreon)


*Slash*


Sebuah tebasan terlintas begitu


cepat mengarah ke arah samping


Baron, namun... hal yang sama


terjadi, tebasan itu juga ikut


melambat dan pada akhirnya


menebas ke arah langit.


"Sudahku duga itu masih belum


cukup."(Xanxus)


Segala bentuk entah itu memiliki


fisik maupun tidak, serangan


yang di miliki Baron seakan bersifat


pasif melambatkan segalanya.


Tak kunjung selesai, Afreon mulai


merasa kesal dengan situasinya,


ia memaksa dirinya sendiri untuk


bisa meraih Baron.


Sebuah aura begitu besar keluar


dari seluruh tubuh Afreon, ia


merasa yakin dengan mengeluarkan


aura sihir secara besar-besaran


yang mana ini sama saja dia telah


menyebarkan energi sihir dan dia


bermaksud melakukanya untuk


meraih Baron dengan aura sihir


tersebut, ketika hal itu terjadi...


dia dapat dengan mudah


mendapatkan momentum gerakan.


"Ya ampun... Afreon begitu terbawa


suasana, aku rasa.. apa yang Afreon


sekarang lakukan juga tidak akan


mencapai si Baron itu."


Aku memutuskan mulai bergerak,


menghampiri Afreon, dan tentu


sekaligus menghajar entitas itu.


"Percuma... apa yang kau lakukan


di dekat keberadaanku hanya akan


menghasilkan sia-sia, seperti yang


kau lakukan sekarang. Aura yang


mencoba menggapaiku juga ikut


melambat, dan-"


*Sring*


Aku langsung berlari secara


melampaui, dimana ini begitu


cepat hingga aku merasa seperti


menjadi sebuah partikel yang terasa


seakan mengabaikan linear waktu.


Dimataku.. semuanya terasa


begitu bisa aku lampaui gerakan


mereka, bahkan seakan waktu tidak


bisa mengejarku.


Hingga...


Secara langsung tanpa mereka


semua sadari... aku telah


memegang wajah baron dalam


genggaman tanganku seakan aku


bisa meremasnya dalam kondisi ini.


Tidak ada yang bisa menyadari


tindakanku, walau begitu.. Baron


yang dalam genggamanku terus


melirik ke arahku seakan dia


menyadari tindakanku.


Aku yang ingin segera mengakhiri


petempuran ini langsung dengan


cepat mengeluarkan sihirku.


『End Hole』


Sebuah pusaran hitam kecil


keluar dari jari telunjuku.


Dan ketika aku menaruhnya di


tengah tubuh Baron...


sebuah reaksi muncul pada


pusaran spiral kecil itu yang


tiba-tiba langsung menyerap


tubuh Baron dan dalam beberapa


hitungan detik langsung lenyap


dengan begitu saja.


Seakan Baron menjadi pusaran itu


dan akhirnya lenyap dalam hitungan


detik.


"He?.. Retnan?.. sejak kapan kau.."


(Afreon)


"Yah, dengan begini kita selesai,


walau... dalam artian yang berbeda"


Aku sudah menyadari hal ini akan


terjadi, dimana setelah Baron


menerima seranganku... aku merasa


dia tetaplah masih hidup, seakan apa yang ia tunjukan sebelumnya tidak


berpengaruh apa-apa.


Secara perlahan... entitas yang


bernama Baron itu mulai


membentuk kembali fisiknya,


dari topeng tersebut yang tidak


ikut hancur oleh sihirku.


"Ini bohong kan?.. dia masih hidup?"


(Risty)


"Aku merasa... dia tidak memiliki


wujud fisik." (Xanxus)


"Ya kau benar paman, dia tidak


memliki wujud fisik maka dari


itulah serangan apapun yang


mempengaruhi fisik tidak akan


terpengaruh. Dan itu membuktikan


satu alasan yang jelas, bahwa


topeng itulah yang menjadi patokan


Baron untuk meraih wujud fisiknya,


entah serangan apapun... topeng itu


terasa tidak bisa di hancurkan."


(Retnan)


Setelah Baron mendapatkan wujud


fisiknya kembali, suatu aura sihir


berwarna biru mulai keluar dari


punggungnya.


Itu terlihat secara perlahan mulai


membentuk sepasang tangan yang


amat terlihat besar hingga berpotensi dapat melemparkan sebuah gunung.


Dan aku merasa... dia yang


sekarang di penuhi oleh sihir


negatif.


"Ya ampun... ini malah seperti


melawan monster."


Aku sambil mengeluarkan sebatang


permen dan perlahan membukanya


lalu memakanya.


Di samping itu, aku berpikir ingin


melihat bagaimana cara mereka


bertarung dalam kerja sama tim.


"Oh kau Baron, aku ingin sedikit


bertanya tentang sebelumnya,


biar aku tebak. Apa yang di maksud


" Kebinasaa " itu adalah tanpa arti?"


Aku bertanya dengan santainya


kepada Baron yang sedikit jauh dari pandanganku.


"Sudahku duga, kau memiliki


sesuatu yang berbeda dari


semua yang pernah aku temui.


Kau juga tidak memiliki wujud


fisik bukan?.. namun ada sesuatu


yang menghalangi wujudmu,


itu begitu hampa. Dan soal


pertanyaanmu... lebih tepatnya...


menghapus arti hidup mereka.


Hidup tanpa arti... yang berarti


segala yang kau miliki termasuk


hidupmu, yang pada akhirnya akan


membawamu kepada kematian.


Itulah yang di maksud dengan


kebinasaan, kematian mutlak, ini


juga yang di alami oleh raja Dystoria,


segala kehidupanya sudah ada


pada genggamanku, dan jika aku


tewas... raja Dystoria juga akan


tewas, dan mulai sekarang...


aku tidak akan bermain-main lagi."


(Baron)


"Hem, begitu kah... tapi aku tidak


berpikir raja Dystoria akan mati


dengan semudah itu, yahh...


untuk pertempuran kali, aku akan


menyerahkan kepada kalian."


Mereka yang mendengar


pernyataanku langsung terkejut.


"Tunggu... bisakah kau memberikan


alasan yang jelas?" (Afreon)


"Entahlah... mungkin istriku sedang memanggilku, tidak, lebih tepatnya


aku ingin menganalisisnya di saat


kalian sibuk bertarung, bukankah


ini sama saja aku masih dalam


kerja sama tim?, yahh.. pokoknya


begitulah, aku tidak akan jauh-jauh


dari kalian"


Aku sambil tersenyum seakan


ini memiliki makna mempercayai


semuanya kepada mereka.


Dan perlahan aku mulai berjalan


pergi.


"Oh ya Baron, dalam satu jam...


akan aku pastikan kau akan


tewas di hadapan mereka"


Aku menunjukan ekspresi


percaya diri yang juga berkesan


merendahkan dirinya.