
Tangga pertama mulai hancur...
semua yang terikat dan tercipta
segala bentuk penciptaan secara
langsung terhapus, ketika kehendak
tuhan dari tangga tersebut telah
pergi dari tahta.
Dan pada akhirnya... menjadi
ketiadaan.
Mereka yang memimpin setiap
tangga adalah tuhan di dunia
tersebut. namun mereka juga
masih terikat oleh ruang tangga
tersebut.
Jika mereka berada di luar tangga
mereka hanya akan menjadi
otoritas asli mereka dan tidak
akan lagi memakai istilah tuhan
yang mengatur segalanya di tangga
tersebut.
***
Di suatu tempat tepat di dataran
dengan pemandangan penuh kabut
menyelimuti di sekitar.
Kabut yang tebal membuat sinar
matahari tidak bisa menyentuh
setiap kulit kita. dan membuat
jalan ini serasa di penuhi cuaca
mendung.
Tidak ada orang lain hanya kita
saja yang berjalan dalam
kesunyian ini.
"Oi Xanxus... apa benar kita sudah
berada di tangga berikutnya?"
(Afreon)
"Benar kita sudah menginjaki
tangga ke dua" (Xanxus)
"Yah.. tak kusangka Retnan
sudah mengetahui informasi
untuk meraih tangga ini, dan
ternyata... kita hanya perlu
terus menggapai langit menuju
semesta yang lebih tinggi dan
sampailah di tangga ke dua ini"
(Afreon)
"Tidak, yang di maksud dengan
informasi yang telah di jelaskan
oleh Demonstia adalah....
memang untuk meraih tangga
berikutnya hanya perlu menuju
ke ruang semesta semakin ke atas,
yang masih di dalam lingkup tangga"
Saat aku mengatakan yang
sesungguhnya... mereka seketika
langsung terdiam diri dalam sesaat.
"He?.. maksudmu... menuju ke
ruang semesta yang telah di
ciptakan oleh pemimpin tersebut
yang berada di dalam tangga?.
tapi... Demonstia bilang bahwa,
kita harus mencari informasi
untuk meraih tangga berikutnya,
yaitu dengan mencari informasi
yang dewa telah atur bukan?,
ini seperti sebuah permainan
dan kita adalah salah satu pemain
tersebut, sedangkan pemimpin
tangga tersebut adalah master
dari game yang berhak mengatur
kapan saja permainan tersebut"
(Afreon)
"Yang di maksud dengan mencari
informasi itu adalah... bagaimana
cara agar kita bisa terus menuju
ke atas yang menjadi jalan keluar
dari dalam tangga tersebut, dan
tugas tuhan di sana adalah yang
memberi rintangan pada kita, jadi
pada dasarnya kita hanya perlu fokus
untuk terus meraih langit hingga
keluar dari dalam semesta tangga
tersebut, yang tertuju pada tangga
berikutnya"
Aku mengatakanya dengan santai
dan terus berjalan bersama mereka
"Itu kendengaranya cukup sulit,
tangga pertama saja... sudah
mencangkup semesta yang
tak terhitung jumlahnya, dan
kita harus berjalan mengabaikan
semua semesta itu" (Afreon)
"Jangan berpikir sempit, semesta-
semesta yang berada di dalam
tangga jumlah mereka tidak
menyebar namun semua itu
seakan di kemas, dalam sesuatu
yang tercipta, dan jumlah mereka
tetaplah di luar batas. kita melihat
semesta itu bagaikan hanya
sekecil bintang, namun semua itu
adalah kehidupan semesta yang
tidak terbatas ada di dalamnya, ini
juga seperti di dalam lapisan bukan?"
(Retnan)
"Dalam lapisan... maksudmu,
ini sama saja kita berada dalam
lapisan, semesta yang tak terbatas
ada di luar zona semesta, dan
semesta lainnya yang berada di
dalam zona semesta adalah...
jalan yang menghubungkan
lapisan berikutnya, artinya...
semesta yang terkemas itu
sama seperti di luar zona semesta,
sedangkan kita bertemu dengan
pemimpin tangga... sama seperti
kita berada di dalam zona, untuk
meraih yang lebih tinggi"(Afreon)
"Benar, konsep dari tangga sama
seperti lapisan namun... semua
semesta yang tekemas itu masih
di dalam tangga bukan berada di
luar tangga, yang artinya...
itu tergantung seberapa luas
ruang tangga mereka dalam
menampung setiap semesta yang
terkemas tersebut. jika ruang dalam
tangga tersebut memadai seperti
lapisan maka... tentu itu terlihat
seperti semesta itu sangat jauh
hingga kita berpikir bahwa itu
berada di luar tangga"
Aku dengan santai berbicara sambil
membuka sebungkus permen.
"Ya.. aku juga sempat berpikir
hal yang sama, artinya... setiap
tangga belum tentu sama, tuhan
dalam tangga mungkin jauh lebih
kuat mulai sekarang, karena...
lapisan atas berada dekat dengan
inti keberadaan mereka, jadi
semakin kita meraih tangga
kita akan bertemu dengan tuhan
dengan kekuatan yang cukup
totalitas, dan itu belum seberapa
banyaknya semesta yang ia
tampung"(Afreon)
"Ya begitulah" (Retnan)
Tak lama...
Kami melihat sebuah jalur
yang terlihat bercahaya di depan
pandangan kami.
Cahaya itu seperti langit pagi
menembus sebagaian kabut
yang menutupi jalan ini.
Tak lama kami langsung dengan
cepat menghampirinya.
Sesaat kita berada di sana...
kami terkejut yang ternyata
itu adalah ujung dari dataran ini.
Tidak ada kabut lagi dan akhirnya
kami melihat langit biru untuk
sekali lagi.
"Ini..."
Aku sadar saat aku melihat ke arah
bawah... ternyata kita berada
di dalam ketinggian yang benar-
benar terlihat lebih dari 1KM.
Tidak ada yang terlihat di bawah
sana, semua itu tertutup oleh
banyaknya awan yang menjadi
pandangan kami.
Itu seakan terlihat seperti sebuah
jurang di bawah sana
"Kupikir... kita harus turun di bawah
sana"
Aku mensarankan mereka yang
juga terlihat bingung saat melihat
semua ini.
"Tapi... kita tidak akan tahu apa
yang ada di bawah awan itu,
mungkin saja itu berisikan
tempatkan oleh tuhan di tangga ini,
tapi aku akan mengeceknya dengan sihirku" (Afreon) sambil
mengarahkan tangan kanan nya
ke arah depan yang berisikan
banyaknya awan menutupi di bawah
ke tinggian ini.
Sesaat... kita yang sedang berada
di atas ketinggian tebing, dan
Afreon yang sibuk membuka jalan
untuk pergi ke bawah.
Tiba-tiba sebuah cahaya melesat
dari atas langit mengarah ke arah
kita yang masih berada di atas
ketinggian.
Cahaya itu semakin membesar
saat semakin mendekati kita.
Dan aku melihat... sebuah sosok
bertanduk memakai kapak
mengarah ke arah kita, itu terlihat
dia ingin membunuh kami dengan
kapak tersebut.
Aku yang melihatnya langsung
menghentikan terjangan kapak
tersebut yang mengarah ke arah
kita.
*TING*
Suara besi yang bersentuhan
terdengar....
Aku menahan kapak tersebut
yang hampir mengenai kami
dengan jariku saja.
Dan saat itu...
Di saat yang sama aku melihat sosok tersebut yang ternyata itu adalah
makhluk mitologi yang terlihat seperti minotaur.
Aku cukup heran kenapa bisa
makhluk mitologi ada di sini
terlebih lagi dia tiba-tiba
menerjang kami seakan itu sudah
di perintahkan.
Tapi... aku merasakan kapak yang
masih aku tahan dengan jariku ini
bukanlah kapak biasa.
Aura kapak ini terbilang memiliki
sesuatu yang sangat kuat. meski
tekanan kapak yang minotaur
arahkan padaku sangat lemah.
Tanpa pikir panjang aku langsung
melempar kapak tersebut yang
masih aku tahan bersamaan
dengan minotaur yang masih
memegang kapak tersebut.
"Huaaa..."
Aku mengangkatnya dan langsung
melemparkanya ke atas langit.
*WUSHHH*
Suara deru angin terdengar keras...
Dalam keadaan yang masih
terlempar ke atas langit...
Dia seakan hanya menerima
deru angin tanpa sedikit pun
menentang lemparan itu, dan
tak lama... dia mulai menerjangku
kembali ke arahku dengan ujung
kapak mengarah kepadaku.
Itu begitu sangat cepat....
Aku sempat berpikir bahwa
Minotaur itu seakan bukan
makhluk seperti binatang yang
hanya mengandalkan insting,
makhluk ini malah seakan
memiliki kehendaknya sendiri,
pemikiranya sendiri, sama seperti
manusia.
"Sial apa-apaan makhluk ini,
merepotkan saja"
Aku memutuskan untuk tidak
bergerak, seakan aku akan
menerima terjangan kapak tersebut
yang semakin mengarah kepadaku.
Tidak ada yang memperdulikan
tindakanku ini, mereka seperti
telah percaya kepadaku.
Sambil aku membuka sebungkus
permen lagi...
Minotaur yang sedang menerjangku
dengan kapaknya dari atas langit,
saat dia berada dekat dengan keberadaanku... secara langsung Minotaur tersebut menghilang.
seakan itu terhapus dari dunia ini
bahkan tidak ada tanda-tanda alam
yang menunjukan hal tersebut.
Lalu... dengan santainya aku
menempuk tanganku dan secara
langsung....
Minotaur tersebut kembali.
***
"Apa kau ingin merasakan
kematian itu lagi? tanpa ada rasa
sakit, kurasa tidak"
Aku berbicara kepada Minotaur
tersebut dengan santainya.
Di dunia ini semua orang bisa
berbicara kepada siapapun tanpa
menggunakan sihir bahasa untuk
memahami semua makhluk hidup.
Ini secara otomatis orang yang
hidup atau terkirim ke salah satu
lapisan akan mendapatkan sihir
yang pasif untuk memahami
semua bahasa makhluk hidup.
Sihir sama halnya tenaga,
mereka hanya cukup hidup
untuk mendapatkanya.
"Kau... apa kau orang yang akan
merombak tangga ini?"(Minotaur)
Dia menatapku dengan wajah
banteng yang kesal.
Aku merespon perkataanya hanya
dengan menunjukan wajah
tersenyumku
"Kurasa... itu benar"
Aku sambil tersenyum lebar
ke arah Minotaur tersebut yang
berada di hadapanku.
"Sialan... kau...!!"(Minotaur)
Di saat yang sama...
Aku melihat dia mulai mengayunkan
kapak tersebut untuk sekali lagi
di hadapanku ini.
Aku terdiam sambil tersenyum,
menerima lancaran kapak tersebut
tanpa menentangnya.
Hingga... saat kapak tersebut
mengenai mengiris setengah
badanku. efeknya bukan hanya
sekedar melukaiku namun...
Semua dataran yang masih kami
injak ini... mulai runtuh dan hancur
hanya dengan dia menyentuh
seseorang memakai kapak tersebut.
Dan itu sudah jelas membuat
kami semua termasuk Minotaur
tersebut jatuh dari ketinggian ini
menuju awan yang menutupi
jalan ke bawah.
***
Di suatu tempat di bawah dari
ketinggian sebelumnya...
Tak lama...
Aku berdiri sekali lagi tanpa
menerima luka, bersamaan
dengan mereka semua.
"Sial.. itu tadi membuatku terkejut"
(Afreon) sambil bangkit kembali.
"Yang lebih penting, lihatlah kita
sudah berada di bawah, dari
ketinggian tebing itu, tapi..."
(Xanxus)
Saat Xanxus mengatakan hal
tersebut, sekali lagi aku melihat
sekeliling tempat ini yang hanya
berisikan lautan pasir namun
begitu banyak orang-orang yang
melakukan aktivitas di sini.
Di saat yang sama aku sadar...
makhluk Minotaur sebelumnya
sudah menghilang.
Di samping itu orang-orang
tersebut melakukan aktivitasi
membuat sebuah rumah dari
pasir menggunakan sihir mereka.
Aku berpikir ini hal yang normal
namun juga membuatku sedikit
penasaran.
Karena... di depan kami terlihat
ujung kerjaan yang bisa kita
pandang dengan mata kami
sendiri.
Itu begitu besar dengan populasi
para penduduk yang sangat besar.