
"Sekarang... Beritahu... apa alasan
dirimu melakukan hal seperti tadi."
Aku sekarang sedang berhadapan
dengan sosok yang sebelumnya
mencoba menculik Verly.
Dan sekarang.. keadaan membalik,
dimana seseorang tersebut aku
sudutkan dengan pedang milik
Verly.
Dia tidak berkutik melawanku.
"Tu-Tunggu.. Santailah sedikit dan
jauhkan pedang yang terlihat kuat
itu dariku. Aku akan menjelaskanya
dengan santai di kedai."
"Kau pikir aku akan percaya?.."
Aku baru ingat, sekarang aku berada
di pinggir kota, mereka-mereka yang
melihatku menodongkan pedang
ke arah pria ini.
Membuatku berpikir kembali
tentang membunuh pria ini.
"Baiklah, aku akan mempercayaimu
lagi pula kau tidak akan bisa kabur,
dan juga.. aku ingin membicarakan
sesuatu kepadamu."
Aku langsung menjauhkan pedang
tersebut darinya.
Dan aku memutuskan untuk tidak
bertindak kejahatan di dunia ini.
Perlahan... pedang tersebut mulai
menghilang.
"Syukurlah kau mengerti."
Sosok tersebut membuka jubahnya,
dan terlihat ia memiliki penampilan
seperti seorang penjahat.
Di lihat dari rambut gondrongnya
berwarna merah, hingga pakaian
yang terlihat seperti preman.
Semua itu membuatku yakin bahwa
ia seorang penjahat dalam tengah
kedamaian ini.
Dan kami.. memutuskan untuk
pergi ke kedai untuk membicarakan
sesuatu.
***
Beberapa menit kemudian...
Akhirnya kami berada di dalam
kedai dengan satu meja yang
membuat kita saling berhadapan.
"Baiklah..!! kami pesan dua anggur
merah. Sekarang... Lebih baik kita
saling mengenal, aku juga seorang
organisasi. Namaku Kenma Obuna
salam kenal."
Aku mulai berpikir.. sifatnya sangat
berbeda jauh dengan apa yang
sebelumnya terjadi kepada kami.
Dia mengulurkan tangannya dengan
rasa senangnya.
"Aku Retnan."
Aku menerima uluran tangan
tersebut sebagai tanda saling
mengenal.
"Untuk sebelumnya maaf kawan,
pacarmu terlihat cantik jadi aku
tidak tahan."(Kenma) sambil
menikmati minumanya.
"Kupikir itu bukanlah alasan, yang
membuatmu ingin menjadi
penjahat di dalam perdamaian
dunia ini."(Retnan)
"Penjahat? tidak-tidak, mungkin..
lebih tepatnya seorang pahlawan.
Tangga ini adalah surga bagi para
organisasi. Tapi juga tidak."(Kenma)
Mendengar perkataanya membuatku
sedikit yakin, dia mengetahui sedikit
tentang tangga ini.
"Apa maksudmu dengan surga?
tapi kupikir kau ada benarnya."
(Retnan)
*Glek-Glek-Glek*
Suara beberapa kali tegukan minum
terdengar di telingaku.
"Ya, yang aku maksud dengan
surga adalah harapan. dari harapan
itulah terbentuknya dunia ini.
aku sudah berada di sini sejak
20 tahun lebih, tanpa terikat dengan
harapan."(Kenma)
"Jadi... Yang kau maksud harapan
adalah..."(Retnan)
"Benar, jika kau bingung tentang
dunia ini, yang berarti kau orang
baru yang hadir di tangga surga ini,
atau... Aku menyebutnya damai.
Yang jelas... Beberapa waktu lalu
kau pasti di jumpai dengan sesuatu
yang membuatmu terkejut, atau
mungkin wanita tadi adalah
sesuatu itu."(Kenma)
"Eh?"
Saat itu.. Aku telah menyadari
sesuatu.
"Berarti... wanita yang bersamaku..
tercipta dari harapan? tapi.. siapa?
aku tidak pernah mengharapkan
hal itu."(Retnan)
"Akhirnya kau bingung juga, harapan
yang aku maksud bukan dari kita
yang berharap, melainkan orang
terdekat kita yang mengharapkan
hal tersebut. Kau mungkin memiliki
seorang kekasih yang menginginkan
hal tersebut terjadi. Maka... tangga
ini dapat mengabulkan nya. Tapi...
bukan berarti hal baik selalu terjadi,
jika seseorang itu mengharapkan
hal buruk, sampai-sampai ia berdoa
dengan keras untuk mewujudkan
harapanya terjadi.. maka hal itu
akan terjadi."(Kenma)
"Harapan ya, jadi itu harapan Verly
tentang diriku. Lalu... apa yang
kau maksud dengan menjadi
pahlawan, dan tidak terikat oleh
harapan?"(Retnan)
"Umm.. entahlah aku hanya merasa,
tapi bisa di bilang.. di balik harapan
yang membangun dunia ini adalah
halusinasi yang membuatmu
ingin menetap di tangga ini. Aku
sarankan... jangan sampai kau
terbawa oleh harapan di dunia ini.
Jika kau masih ingin melanjutkan
perjalananmu."(Kenma)
"Maksudmu... harapan itulah yang
membuat mereka-mereka berpikir
untuk menetap di tangga ini?"
(Retnan)
"Benar, jika kau sampai terbawa
suasana oleh harapan itu, secara
perlahan kau akan mulai berpikir
untuk melupakan perjalananmu.
Dan lebih memilih menetap di sini
seumur hidupmu. Bagiku sendiri..
mengungkap dunia ini sangat
membutuhkan waktu yang lebih
lama. Dan ya, karena kegilaan
dunia ini anggota organisasiku
tewas dalam kebahagiaan yang
di sediakan oleh tangga ini. Aku
melakukan hal seperti tadi karena
aku tidak ingin mereka-mereka
tergila-gila oleh tangga ini."
(Kenma)
setelah mendengar penjelasan
Kenma, yang membuatku ragu.
"Lalu... apa yang akan terjadi kepada
anggota organisasi ku yang berpisah
dalam perjalanan ini? apa mereka
mengalami hal yang sama atau..
aku tidak bisa menemui mereka
kembali?"
Aku benar-benar semakin tidak
tahan dengan tangga ini, seakan
perlahan membuat diriku memaksa
berhendak untuk menggunakan
kekerasan.
Tapi.. aku harus percaya kepada
mereka. Karena aku yakin...
mereka tidak akan semudah itu
tenggelam di tangga ini.
Aku yakin mereka juga akan
menyadarinya.
"Ya, mungkin saja, dunia ini tercipta
dari harapan setiap individual.
Kau mungkin akan berpikir dimana
letak dunia lainnya berada?
jawabanya adalah... di luar zona
tangga ini. Dan kau pasti akan
berpikir.. dimana letak luar zona
itu? jawabanya adalah... di luar
dimensi ini."(Kenma)
"Dimensi?"
Aku cukup bingung dengan apa
yang baru saja ia katakan, namun
bukan berarti itu tidak masuk akal.
Ketika berpikir bahwa sihir di tangga
ini tidak berlaku.
"Benar, dimensi ini sama halnya
seperti di dalam zona, kita sekarang berada di dimensi tersebut, dan sejujurnya itu memisahkan cukup
jauh dengan luar zona, singkatnya
ini sama saja kita berada di luar
tangga. Konsep pada dimensi ini
adalah menahan sihir, sekuat apapun
sihirmu pada akhirnya itu hanya
akan mengembalikan aura sihirmu,
dan.. kemungkinan teman-temanmu
berada di tempat yang jauh berada,
itu tergantung harapan apa yang
mereka terima. Karena... Setiap
harapan akan melahirkan dunia
baru tapi itu hanya akan berada
di luar zona tangga. Sedangkan
semesta yang terlahir di dalam
zona... mereka menyatu menjadi
satu, hingga.. kau bisa menyebutnya
satu semesta tanpa ujung."(Kenma)
"Jadi.. semisal ada seseorang yang
menerima harapan dunia baru,
harapan itu akan terwujud?"(Retnan)
"Ya, sudahku bilang bukan, itu
tergantung harapan apa yang
mereka terima. Dunia di dimensi
ini luas seperti apa yang telah
aku katakan, tanpa ujung, jangan
sampai kau kehilangan jejak
mereka. Tapi aku yakin kau tidak
akan berpikir seperti itu. Kau terlihat
yakin kepada anggotamu."(Kenma)
"Lalu.. kita berada di luar tangga
maksudmu..."(Retnan)
*Glek-Glek-Glek*
Terdengar suara beberapa kali
tegukan.
"Ahh.. yang aku maksud adalah
dimensi ini. Entah kau berlari
kemana kau tidak akan pernah
menemukan ujungnya. Ini seperti
sebuah penjara yang tidak akan
pernah bisa kau temukan jalan
keluar. Kau tahu... dimensi ini
tertutup, kita sekarang seperti
berada di dalam toples yang tidak
ada jalan keluar. Sedangkan luar
zona tangga berada di luar toples, bermimpi untuk menemukan luar
zona tangga, itu mustahil kau hanya menemui ruang tak berujung.
Bahkan keberadaan Tuhan di tangga
ini tidak bisa di temui semudah itu."
(Kenma)
"Singkatnya... kemungkinkan
mereka sekarang berada sangat
jauh, atau mungkin berada di dunia
yang berbeda. Oh ya, bagaimana
cara menghilangkan harapan itu?
kupikir kau hanya merusak
harapan mereka seperti apa yang
kau lakukan tadi terhadapku."
(Retnan)
"Kecantikanya benar-benar
membuatku tergoda, mata yang
tertutup itu seakan bisa aku
manfaatkan, hanya bercanda...
aku melakukanya dengan cara
paksa, dimana dengan aku
menghilangkan sesuatu yang
menjadi harapan mereka itu,
mereka akan sadar tentang tujuan
mereka yang sebenarnya. Ini bukan
halusinasi, melainkan sesuatu yang
akan membawa kebaikan. Semisal
seseorang mengharapkanmu tapi
kau membenci harapan tersebut,
maka... harapan yang kau benci
akan perlahan... membuatmu
menerima harapan itu, inilah yang
membuat orang berpikir untuk
menetap di tangga ini. Yang aku
maksud dengan terikat secara
perlahan. Aku yakin kau membenci
hal itu, melihat dunia ini damai
yang tidak sepihak dengan
pemikiranmu, itu benar-benar
berbeda. Tapi kehidupanku di sini
juga tidak buruk. Semua orang
yang berada di dunia ini hanya
sibuk pada harapan mereka."
(Kenma) dengan santai sambil
meminum segelas anggurnya.
Setelah mendengar penjelasan
Kenma.. aku mulai mengerti tentang
tangga ini.
Meski terdapat kata "mustahil",
bukan berarti aku dan yang lainnya
tidak bisa melanjutkan perjalanan
kami.
Entah kenapa... aku mulai sedikit
tertarik dengan tangga ini, tidak.
lebih tepatnya.. entitas yang
memimpin tangga ini.
"Baiklah.. aku berterima kasih
kepadamu, sekarang.. aku mulai
mengerti semua ini."
Aku dengan rasa percaya diri
sambil berdiri dari kursiku.
"Apa kau sudah memutuskan
kemana kau akan pergi? aku pikir
organisasimu bukan orang biasa.
Yahh... apapun itu, jangan libatkan
kehidupan di tangga ini."(Kenma)
"Aku tidak perlu mencari mereka,
aku hanya perlu menunggu hari
dimana kita akan berkumpul
kembali. Sesuai janji itu."
Aku langsung mulai berjalan pergi
meninggalkan Kenma yang masih
duduk di meja tersebut.