A The Creators

A The Creators
Perasaan Cinta Yang Hilang



"Ngomong-Ngomong. Letica.. Apa


yang kau maksud dengan wujud


sifatku?"


Sekarang aku sedang terbang


berada di atas sekumpulan awan


dengan menggunakan sayap Letica.


Dan ini masih berada di lingkup


tangga yang tak jauh dari ranah


milik Letica yang sekarang kami tinggalkan.


Aku mencoba mengobrol dengan


Letica yang sekarang keberadaan


nya berada di dalam kastil miliku.


Kami saling berbicara tanpa


berinteraksi dan hanya sebatas


lewat batin kami.


"Itu karena kami juga terlahir dari


sifat anda tuan, mereka yang sama


seperti saya juga memiliki perbedaan


sifat. Seperti tuan Rethos.. Beliau


mewakili sifat anda yaitu....


ketenangan diri dan kelicikan.


Maka dari itu semua pekataanya


adalah dusta, di antara kami dialah


orang yang tidak ingin terlibat oleh apapun."(Letica)


"Entah kenapa itu justru terdengar


seperti hangatnya keluarga. Lalu..


Takdir apa yang menantiku sebentar


lagi? kau bilang semua informasiku


akan secara berturut di pertemukan


denganku dalam takdir yang di buat


oleh Verly. Ah maaf maksudnya


utusanku."


Aku dengan santai mengobrol


dengan Letica dan terus terbang


di atas sekumpulan awan.


"Sebenarnya... Mereka semua


berada di sekitar 'Tangga' yang


merujuk ke lapisan atas itu, seperti


saya yang bertemu dengan anda


di salah satu tangga. Dan nona


Verly telah mengatur mereka agar


menetap di setiap tangga secara


acak."(Letica)


"Jadi.. Mereka semua berada di


setiap tangga yang berbeda-beda,


apa kau mengetahui dimana


mereka semua di berbagai tangga?"


(Retnan)


"Tentu, lagi pula nona Verly telah


memberikan saya sebagian


kekuatan beliau agar saya dapat


mendampingi anda dengan bebas


tanpa memperdulikan hal lain.


Contohnya... Langsung melampaui


dua tangga sekaligus."(Letica)


"Aku sedikit penasaran tentang


pertemuan kalian, yahh.. masalah


itu aku serahkan padamu. Tapi... itu


juga aku harus bersama dengan


yang lain. Oh ya jika di pikirkan


kembali tentang kedudukanmu


sebagai Tuhan di tangga ini...


Apa kau memang berniat


meninggalkan tahtamu?"


(Retnan)


"Itu adalah keputusan mutlak,


saya harus bersama dengan anda,


maka... Saya akan benar-benar


meninggal otoritas Tuhan saya.


Tapi bukan berarti semua akan


berakhir ketika keberadaan saya


meninggalkan ranah tangga ini,


karena saya bisa membagi dua


keberadaan dengan memanfaatkan


sifat anda. Dimana... Saya yang


bersama dengan anda ini adalah


diri saya yang penuh dengan cinta


dan kasih sayang, sedangkan diri


saya yang menggantikan posisi


Ketuhanan di tangga ini adalah


diri saya yang penuh emosional."


(Letica)


".... Kau hebat, aku tidak mengira


bawahanku akan sekuat itu."(Retnan)


"Itu tidak benar, saya mungkin


hanya sebatas partikel kekuatan


anda yang sebenarnya. Lagi pula


semua itu berkat nona Verly."(Letica)


"Ngomong-Ngomong soal dia,


apakah dia memiliki maksud lain


soal keputusan kau menggantikan


posisinya?"(Retnan)


"Huh?.. Sa.. Saya rasa tidak, beliau


hanya ingin menebus kesalahan nya


karena telah melanggar janji.


Kenapa anda meragukan nona


Verly?"(Letica)


"..... Jujur saja, aku meragukan


semua perkataanmu tentang dia


yang menggantikan posisinya


denganmu. Tapi di sisi lain itu


hal yang bagus untuk dirinya."


(Retnan)


"Begitu ya, saya pikir itu hal yang


wajar. Tidak ada yang beliau


pikirkan selain anda, maka tidak


heran bila nona Verly sangat ingin


sesekali menggoda anda dengan


hasrat cinta beliau. Begitu juga


dengan saya, pertemuan ini seakan menjadi awal kebahagiaan saya, apa


lagi dengan anugrah yang di berikan


oleh nona Verly."(Letica)


"Hem selama dia berada di tempat


yang aman tanpa terlibat oleh


segala permasalahanku, itu justru


membuatku lebih bahagia.


Ngomong-ngomong soal dia...


apa kau mengetahui sesuatu tentang


kain yang menutupi matanya?"


Di saat aku bertanya tentang hal


tersebut, aku merasa heran dengan


Letica yang tiba-tiba tidak merespon


pertanyaanku untuk beberapa saat.


Seolah-olah perkataanku membuat


dirinya merasa ragu untuk menjawab.


"I... Itu... Soal itu... Saya kurang


mengetahunya. Tapi bisa di katakan


itu adalah " Akhir " dan nona Verly


menahan kekuatan tersebut di balik


kain itu. Selebihnya saya kurang


mengetahuinya karena nona Verly


sepenuhnya tidak menciptakan saya


dengan seluruh pengetahuan nya."


(Letica)


"Akhir?.. Jika di pikirkan kembali


tentang kejadian itu... Aku melihat


Verly hampir membuka kain tersebut


meski tidak terlalu jelas apa yang


aku amati waktu itu."


Aku bergumam sendiri sambil


memegang daguku seperti sedang berpikir.


"Ngomong-ngomong tuan.. Apa


anda ingin langsung saya kirim ke


mereka semua? saya yakin anda


sebenarnya hanya mengulur waktu


dengan mengobrol dengan saya,


tapi itu benar-benar membuat saya


semakin dekat dengan anda."


(Letica)


"Kau ada benarnya, sebenarnya aku


tidak ingin segera bertemu dengan


mereka karena... Aku tidak ingin


bertemu dengan nya lagi."(Retnan)


"Maksud anda... Nona Verly di


dunia yang saya buat? jika anda


ingin saya bisa menghapus konsep


dunia itu."(Letica)


"Tidak, semisal jika aku bertemu


dengan nya lagi. Aku ingin kau


segera membunuhnya, entah apa


yang merasukiku seakan aku


sedang bersama dengan Verly


yang sesungguhnya. Jika kau


menghapus konsep itu, orang lain


tidak akan bisa berhenti untuk


meraih tangga, duniamu jika di


lihat dalam sudut yang berbeda...


Itu seperti surga bagi mereka yang


"Syukurlah bila anda berpendapat


demikian. Baiklah... Kita akan pergi


ke mereka."(Letica)


*TIK*


Suara jentikan terdengar dari dalam


kastilku.


***


Di sisi lain... Di tengah kota sesuai


perjanjian untuk berkumpul kembali


bersama.


"Yahh... Akhirnya semua berkumpul,


dan hanya ketua saja yang belum


hadir."(Xanxus)


"Sialan itu. Tapi aku tidak menyangka


kita semua akan berjumpa kembali


dan itu berkat Sakuya."(Afreon)


".... Tidak-tidak, Retnan lah yang


memintaku untuk menjumpai


kalian semua. Tapi.. Sejujurnya


aku tidak peduli dengan orang bodoh


seperti kalian."(Sakuya) menatap


mereka dengan tatapan rendah.


"Entah kenapa kepribadian nya


berbeda dengan cepat."(Afreon)


dengan rasa ragu mendengarnya.


Di waktu yang sama.. Aku hadir


lewat sebuah portal yang tak jauh


dari mereka yang sedang berkumpul.


"Yah yah.. Maaf menunggu lama


kalian."


Aku berjalan menghampiri mereka


yang langsung tertuju kepadaku


ketika aku mengatakan hal tersebut.


Mereka terlihat begitu akrab dan


itu terlihat di wajah mereka masing-


masing.


"Kau begitu lama sekali, aku yakin


kau sedang bermain-main dengan


wanita lewat harapanmu."(Xanxus)


"Hahh... Aku yakin kau lemah soal


harapan itu, pantas saja kau datang


begitu lama."(Afreon)


"Mungkin yang di katakan Xanxus


itu benar. Yah berterima kasilah


kepada Sakuya yang hadir membantu


kalian."


Aku dengan santai mengatakan hal


tersebut, sambil memasukan kedua


tanganku ke dalam saku celana


dan memperlihatkan rasa senangku.


"Tidak.. Sejujurnya itu adalah


permintaanmu. Dan aku hanya


melakukan apa yang memang


harusku lakukan."(Sakuya)


"Kenapa.. Dia begitu baik sifatnya


dari pada bersamaku?"(Afreon)


bergumam sendiri dengan wajah


kesal.


"Aku benar-benar menyukai sifatmu,


di samping itu... Kita bisa segera


pergi dari tangga ini dan melanjutkan


perjalanan berikutnya."(Retnan)


"Jadi... Kau telah menemukan jalan


keluarnya? aku sempat berpikir


akan terjebak di tangga ini dengan


waktu cukup lama, karena memang


tangga ini benar-benar merepotkan."


(Afreon)


"Tapi... Kita tidak akan berada di


tangga yang sejajar dengan urutan


tangga ini. Maksudnya.. Kita akan


langsung pergi menuju tangga ke


13."(Retnan)


"He?"


Mereka langsung memasang wajah


bingung ketika aku mengatakan hal


yang sewajarnya membuat mereka


merasa bingung.


"Oh ya sebelum itu... Bisakah mulai


sekarang kau melindungiku Retnan?


Karena... Aku tidak boleh ceroboh


dalam menggunakan kekuatan yang


aku miliki sekarang. aku merasa organisasi mulai mengetahui diriku


yang sebenarnya."(Sakuya)


Aku melihat dia mengatakan hal


tersebut dengan rasa malu terlihat


di wajahnya.


"Ya aku tahu kekuatan yang kau


miliki harus bersifat privasi atau


kerahasiaan. Tapi.. Soal melindungi


kupikir bukan diriku saja."(Retnan)


"Itu benar.. Kami akan melindungi


satu sama lain. Dan jika kau ingin


ikut bertarung... Andalkanlah darah


Vampirmu itu. Meski aku tidak tahu


kekuatan apa yang sebenarnya kau


miliki."(Afreon)


"Ya begitulah."(Xanxus)


Mereka terlihat mengerti apa yang


ingin aku katakan, seolah-olah


mereka memiliki kerja sama tim


yang bagus. Aku sedikit menyukai


suasana ini.


"Ya.. Aku juga tidak ingin menjadi


beban, maka dari itu.. Aku juga


akan berusaha menjadi kuat tanpa


mengandalkan kekuatan ini."


(Sakuya)


Aku melihatnya mulai ceria kembali


dengan semangat yang ia tunjukan.


"Yosh.. Kita mulai. Letica... Aku


mengandalkanmu."


Aku berbicara dengan Letica


yang berada di dalam kastil tanpa


berinteraksi denganku, di samping


itu.. Orang lain juga tidak akan bisa


mendengar apa yang kami ucapkan.


Dengan cepat...


Aku mengarahkan tangan kananku


ke arah sampingku hingga suatu


portal mulai terbentuk.


"Baiklah... Portal itu akan mengarah


langsung ke tangga berikutnya."


(Retnan)


"Ayoo.. Kita pergi."(Afreon)


Mereka mulai berjalan memasuki


portal tersebut dengan semangat


mereka.


Namun aku memutuskan untuk


menjadi yang terakhir memasuki


portal itu.


Karena... Suatu keberadaan sedang


menungguku dari arah belakangku.


Yang tidak lain adalah... Verly yang


tercipta dari harapan, kami telah


di pertemukan kembali dengan


suasana yang berbeda.


"Sayang..."


Aku memutuskan untuk tidak


mengatakan apapun lagi soal


dirinya.


Bahkan meski dia memperlihatkan


wajah yang begitu menderita.


"Sayang... Apa kau akan pergi?


Jujur.. Aku ingin selalu ada di


sampingmu, aku ingin kita


membangun keluarga bahagia,


apa itu terlalu sulit untuk dirimu?..


aku mohon... kembalilah kepadaku,


kenapa... Kenapa..."


*Slash*


Sayap Letica keluar dan langsung


segera menusuk tubuh Verly sebelum


ia menyadarinya.


Aku sangat tidak ingin melihat


moment ini, dimana untuk ketiga


kalinya... Aku membuat dirinya


menderita.


Satu ayunan sayap tersebut


langsung memotong lehernya


sekaligus berbagai luka di tubuhnya.


"Maaf............... Tapi kau terlalu


baik untuk diriku yang penuh dosa."


Sekarang.. Perasaan semiku telah


berakhir. Aku mencoba untuk tidak


merasakan apapun di moment ini.


"A... Ku men.. cintaimu...."