
"Ngomong-Ngomong. Letica.. Apa
yang kau maksud dengan wujud
sifatku?"
Sekarang aku sedang terbang
berada di atas sekumpulan awan
dengan menggunakan sayap Letica.
Dan ini masih berada di lingkup
tangga yang tak jauh dari ranah
milik Letica yang sekarang kami tinggalkan.
Aku mencoba mengobrol dengan
Letica yang sekarang keberadaan
nya berada di dalam kastil miliku.
Kami saling berbicara tanpa
berinteraksi dan hanya sebatas
lewat batin kami.
"Itu karena kami juga terlahir dari
sifat anda tuan, mereka yang sama
seperti saya juga memiliki perbedaan
sifat. Seperti tuan Rethos.. Beliau
mewakili sifat anda yaitu....
ketenangan diri dan kelicikan.
Maka dari itu semua pekataanya
adalah dusta, di antara kami dialah
orang yang tidak ingin terlibat oleh apapun."(Letica)
"Entah kenapa itu justru terdengar
seperti hangatnya keluarga. Lalu..
Takdir apa yang menantiku sebentar
lagi? kau bilang semua informasiku
akan secara berturut di pertemukan
denganku dalam takdir yang di buat
oleh Verly. Ah maaf maksudnya
utusanku."
Aku dengan santai mengobrol
dengan Letica dan terus terbang
di atas sekumpulan awan.
"Sebenarnya... Mereka semua
berada di sekitar 'Tangga' yang
merujuk ke lapisan atas itu, seperti
saya yang bertemu dengan anda
di salah satu tangga. Dan nona
Verly telah mengatur mereka agar
menetap di setiap tangga secara
acak."(Letica)
"Jadi.. Mereka semua berada di
setiap tangga yang berbeda-beda,
apa kau mengetahui dimana
mereka semua di berbagai tangga?"
(Retnan)
"Tentu, lagi pula nona Verly telah
memberikan saya sebagian
kekuatan beliau agar saya dapat
mendampingi anda dengan bebas
tanpa memperdulikan hal lain.
Contohnya... Langsung melampaui
dua tangga sekaligus."(Letica)
"Aku sedikit penasaran tentang
pertemuan kalian, yahh.. masalah
itu aku serahkan padamu. Tapi... itu
juga aku harus bersama dengan
yang lain. Oh ya jika di pikirkan
kembali tentang kedudukanmu
sebagai Tuhan di tangga ini...
Apa kau memang berniat
meninggalkan tahtamu?"
(Retnan)
"Itu adalah keputusan mutlak,
saya harus bersama dengan anda,
maka... Saya akan benar-benar
meninggal otoritas Tuhan saya.
Tapi bukan berarti semua akan
berakhir ketika keberadaan saya
meninggalkan ranah tangga ini,
karena saya bisa membagi dua
keberadaan dengan memanfaatkan
sifat anda. Dimana... Saya yang
bersama dengan anda ini adalah
diri saya yang penuh dengan cinta
dan kasih sayang, sedangkan diri
saya yang menggantikan posisi
Ketuhanan di tangga ini adalah
diri saya yang penuh emosional."
(Letica)
".... Kau hebat, aku tidak mengira
bawahanku akan sekuat itu."(Retnan)
"Itu tidak benar, saya mungkin
hanya sebatas partikel kekuatan
anda yang sebenarnya. Lagi pula
semua itu berkat nona Verly."(Letica)
"Ngomong-Ngomong soal dia,
apakah dia memiliki maksud lain
soal keputusan kau menggantikan
posisinya?"(Retnan)
"Huh?.. Sa.. Saya rasa tidak, beliau
hanya ingin menebus kesalahan nya
karena telah melanggar janji.
Kenapa anda meragukan nona
Verly?"(Letica)
"..... Jujur saja, aku meragukan
semua perkataanmu tentang dia
yang menggantikan posisinya
denganmu. Tapi di sisi lain itu
hal yang bagus untuk dirinya."
(Retnan)
"Begitu ya, saya pikir itu hal yang
wajar. Tidak ada yang beliau
pikirkan selain anda, maka tidak
heran bila nona Verly sangat ingin
sesekali menggoda anda dengan
hasrat cinta beliau. Begitu juga
dengan saya, pertemuan ini seakan menjadi awal kebahagiaan saya, apa
lagi dengan anugrah yang di berikan
oleh nona Verly."(Letica)
"Hem selama dia berada di tempat
yang aman tanpa terlibat oleh
segala permasalahanku, itu justru
membuatku lebih bahagia.
Ngomong-ngomong soal dia...
apa kau mengetahui sesuatu tentang
kain yang menutupi matanya?"
Di saat aku bertanya tentang hal
tersebut, aku merasa heran dengan
Letica yang tiba-tiba tidak merespon
pertanyaanku untuk beberapa saat.
Seolah-olah perkataanku membuat
dirinya merasa ragu untuk menjawab.
"I... Itu... Soal itu... Saya kurang
mengetahunya. Tapi bisa di katakan
itu adalah " Akhir " dan nona Verly
menahan kekuatan tersebut di balik
kain itu. Selebihnya saya kurang
mengetahuinya karena nona Verly
sepenuhnya tidak menciptakan saya
dengan seluruh pengetahuan nya."
(Letica)
"Akhir?.. Jika di pikirkan kembali
tentang kejadian itu... Aku melihat
Verly hampir membuka kain tersebut
meski tidak terlalu jelas apa yang
aku amati waktu itu."
Aku bergumam sendiri sambil
memegang daguku seperti sedang berpikir.
"Ngomong-ngomong tuan.. Apa
anda ingin langsung saya kirim ke
mereka semua? saya yakin anda
sebenarnya hanya mengulur waktu
dengan mengobrol dengan saya,
tapi itu benar-benar membuat saya
semakin dekat dengan anda."
(Letica)
"Kau ada benarnya, sebenarnya aku
tidak ingin segera bertemu dengan
mereka karena... Aku tidak ingin
bertemu dengan nya lagi."(Retnan)
"Maksud anda... Nona Verly di
dunia yang saya buat? jika anda
ingin saya bisa menghapus konsep
dunia itu."(Letica)
"Tidak, semisal jika aku bertemu
dengan nya lagi. Aku ingin kau
segera membunuhnya, entah apa
yang merasukiku seakan aku
sedang bersama dengan Verly
yang sesungguhnya. Jika kau
menghapus konsep itu, orang lain
tidak akan bisa berhenti untuk
meraih tangga, duniamu jika di
lihat dalam sudut yang berbeda...
Itu seperti surga bagi mereka yang
"Syukurlah bila anda berpendapat
demikian. Baiklah... Kita akan pergi
ke mereka."(Letica)
*TIK*
Suara jentikan terdengar dari dalam
kastilku.
***
Di sisi lain... Di tengah kota sesuai
perjanjian untuk berkumpul kembali
bersama.
"Yahh... Akhirnya semua berkumpul,
dan hanya ketua saja yang belum
hadir."(Xanxus)
"Sialan itu. Tapi aku tidak menyangka
kita semua akan berjumpa kembali
dan itu berkat Sakuya."(Afreon)
".... Tidak-tidak, Retnan lah yang
memintaku untuk menjumpai
kalian semua. Tapi.. Sejujurnya
aku tidak peduli dengan orang bodoh
seperti kalian."(Sakuya) menatap
mereka dengan tatapan rendah.
"Entah kenapa kepribadian nya
berbeda dengan cepat."(Afreon)
dengan rasa ragu mendengarnya.
Di waktu yang sama.. Aku hadir
lewat sebuah portal yang tak jauh
dari mereka yang sedang berkumpul.
"Yah yah.. Maaf menunggu lama
kalian."
Aku berjalan menghampiri mereka
yang langsung tertuju kepadaku
ketika aku mengatakan hal tersebut.
Mereka terlihat begitu akrab dan
itu terlihat di wajah mereka masing-
masing.
"Kau begitu lama sekali, aku yakin
kau sedang bermain-main dengan
wanita lewat harapanmu."(Xanxus)
"Hahh... Aku yakin kau lemah soal
harapan itu, pantas saja kau datang
begitu lama."(Afreon)
"Mungkin yang di katakan Xanxus
itu benar. Yah berterima kasilah
kepada Sakuya yang hadir membantu
kalian."
Aku dengan santai mengatakan hal
tersebut, sambil memasukan kedua
tanganku ke dalam saku celana
dan memperlihatkan rasa senangku.
"Tidak.. Sejujurnya itu adalah
permintaanmu. Dan aku hanya
melakukan apa yang memang
harusku lakukan."(Sakuya)
"Kenapa.. Dia begitu baik sifatnya
dari pada bersamaku?"(Afreon)
bergumam sendiri dengan wajah
kesal.
"Aku benar-benar menyukai sifatmu,
di samping itu... Kita bisa segera
pergi dari tangga ini dan melanjutkan
perjalanan berikutnya."(Retnan)
"Jadi... Kau telah menemukan jalan
keluarnya? aku sempat berpikir
akan terjebak di tangga ini dengan
waktu cukup lama, karena memang
tangga ini benar-benar merepotkan."
(Afreon)
"Tapi... Kita tidak akan berada di
tangga yang sejajar dengan urutan
tangga ini. Maksudnya.. Kita akan
langsung pergi menuju tangga ke
13."(Retnan)
"He?"
Mereka langsung memasang wajah
bingung ketika aku mengatakan hal
yang sewajarnya membuat mereka
merasa bingung.
"Oh ya sebelum itu... Bisakah mulai
sekarang kau melindungiku Retnan?
Karena... Aku tidak boleh ceroboh
dalam menggunakan kekuatan yang
aku miliki sekarang. aku merasa organisasi mulai mengetahui diriku
yang sebenarnya."(Sakuya)
Aku melihat dia mengatakan hal
tersebut dengan rasa malu terlihat
di wajahnya.
"Ya aku tahu kekuatan yang kau
miliki harus bersifat privasi atau
kerahasiaan. Tapi.. Soal melindungi
kupikir bukan diriku saja."(Retnan)
"Itu benar.. Kami akan melindungi
satu sama lain. Dan jika kau ingin
ikut bertarung... Andalkanlah darah
Vampirmu itu. Meski aku tidak tahu
kekuatan apa yang sebenarnya kau
miliki."(Afreon)
"Ya begitulah."(Xanxus)
Mereka terlihat mengerti apa yang
ingin aku katakan, seolah-olah
mereka memiliki kerja sama tim
yang bagus. Aku sedikit menyukai
suasana ini.
"Ya.. Aku juga tidak ingin menjadi
beban, maka dari itu.. Aku juga
akan berusaha menjadi kuat tanpa
mengandalkan kekuatan ini."
(Sakuya)
Aku melihatnya mulai ceria kembali
dengan semangat yang ia tunjukan.
"Yosh.. Kita mulai. Letica... Aku
mengandalkanmu."
Aku berbicara dengan Letica
yang berada di dalam kastil tanpa
berinteraksi denganku, di samping
itu.. Orang lain juga tidak akan bisa
mendengar apa yang kami ucapkan.
Dengan cepat...
Aku mengarahkan tangan kananku
ke arah sampingku hingga suatu
portal mulai terbentuk.
"Baiklah... Portal itu akan mengarah
langsung ke tangga berikutnya."
(Retnan)
"Ayoo.. Kita pergi."(Afreon)
Mereka mulai berjalan memasuki
portal tersebut dengan semangat
mereka.
Namun aku memutuskan untuk
menjadi yang terakhir memasuki
portal itu.
Karena... Suatu keberadaan sedang
menungguku dari arah belakangku.
Yang tidak lain adalah... Verly yang
tercipta dari harapan, kami telah
di pertemukan kembali dengan
suasana yang berbeda.
"Sayang..."
Aku memutuskan untuk tidak
mengatakan apapun lagi soal
dirinya.
Bahkan meski dia memperlihatkan
wajah yang begitu menderita.
"Sayang... Apa kau akan pergi?
Jujur.. Aku ingin selalu ada di
sampingmu, aku ingin kita
membangun keluarga bahagia,
apa itu terlalu sulit untuk dirimu?..
aku mohon... kembalilah kepadaku,
kenapa... Kenapa..."
*Slash*
Sayap Letica keluar dan langsung
segera menusuk tubuh Verly sebelum
ia menyadarinya.
Aku sangat tidak ingin melihat
moment ini, dimana untuk ketiga
kalinya... Aku membuat dirinya
menderita.
Satu ayunan sayap tersebut
langsung memotong lehernya
sekaligus berbagai luka di tubuhnya.
"Maaf............... Tapi kau terlalu
baik untuk diriku yang penuh dosa."
Sekarang.. Perasaan semiku telah
berakhir. Aku mencoba untuk tidak
merasakan apapun di moment ini.
"A... Ku men.. cintaimu...."