
Semua pertarungan telah berakhir
dan kini Almus telah bersamaku
untuk membimbing jalan menuju
Tuhan di tangga ini.
Sekarang kami berada di sebuah
tempat dengan banyak pillar yang
membentang di setiap sisi, di
samping itu kami berjalan di atas
tangga yang akan membawa kami
ke tempat Tuhan itu berada.
Tidak ada hal yang bisa kami
pandang kecuali... Banyaknya
kumpulan awan yang seolah-olah
itu menutupi semuanya, ini seperti
kami berjalan di atas kumpulan
awan.
"..... Aku merasa tangga yang kita
pijaki ini tidak memiliki akhir,
ngomong-ngomong kita berada di
mana?"
Aku dengan rasa malas mengatakan
hal tersebut sambil terus berjalan
bersama Almus yang berada di
sampingku.
Dia tampak seperti biasanya yang
selalu menunjukan wajah penuh
percaya diri.
"Kau bisa melihat di segala arah,
banyak awan yang menjadi
pandanganmu, yang artinya kita
berada di tangga 10 yang
sebenarnya. Dan hanya aku yang
bisa mengaksesnya dengan mudah."
(Almus)
"Tunggu... Bukankah kita berada
di suatu dimensi tanpa ujung?
dan.. Apa itu bukanlah tangga 10?"
Aku bertanya tentang hal yang
membuatku bingung, sembari
kita terus berjalan.
".... Tanpa ujung, yang berarti
memiliki lingkup tak terbatas, tapi
bukan berarti itu tidak bisa di
akhiri. Yang aku maksud adalah
dengan melampauinya. Dimana..
Dimensi sebelumnya adalah bagian
kecil dari tangga yang sebenarnya,
yang bisa di artikan... Kita sekarang
berada di luar zona tangga."(Almus)
Untuk sekali lagi aku di bingungkan
dengan penjelasan nya.
"Kita berada di luar zona? Bukankah
itu di luar akses untuk meraih
tangga berikutnya?"(Retnan)
"Ya zona dalam, zona luar, itu masih
berada di dalam lingkup tangga,
dan hanya zona dalam yang
dapat mengakses jalan berikutnya,
tapi jangan berpikir kita telah
benar-benar kehilangan arah untuk
meraih tangga berikutnya,
awan-awan itu adalah apa yang di
sebut dunia dan kita berjalan berada
di atas kumpulan awan tersebut
dengan satu jalur tangga yang
tersisa."(Almus)
Saat itulah aku tersentak dan
menyadari sesuatu dari
penjelasan nya.
"Maksudmu... Jalur yang tersisa
yakni tangga yang kita pijaki ini
adalah masih dari bagian zona
tangga?... Sedangkan berada di
luar pillar itu telah menjadi bagian
luar zona?"(Retnan)
"Bagaimana?.. Hebat bukan Tuhan
di tangga ini. Mungkin satu-satunya
jalan untuk mengetahui Tuhan di
tangga ini dan jalan untuk mencapai
tangga berikutnya tanpa kepandaian
pengetahuan adalah seperti apa
yang ingin kau lakukan sebelumnya."
(Almus)
"Oh begitu, aku tidak tahu kau
sangat menyukai Tuhan di tangga
ini. Ngomong-ngomong aku masih
belum tahu tujuan pribadimu
bertemu denganku, waktu itu kau
mengatakan selain tujuan untuk
tugasmu... Kau secara pribadi
memiliki tujuan lain."(Retnan)
"Oh.. Aku justru berharap kau
bisa melupakan nya. Kalau boleh
jujur, Aku tidak terlalu berkeinginan
keras untuk melaksanakan tugasku
dengan sempurna, aku hanya ingin
bertemu denganmu ataupun istrimu
dalam keadaan yang sempurna dan
melawan kalian berdua tanpa
membawa tugasku, tapi itu sebelum
aku bertemu dengan Tuhan di tangga ini."(Almus)
"....... Apa hubunganya dengan
orang yang memimpin tangga ini?"
(Retnan)
Dan saat itulah.. Lagi-lagi dia
menunjukan wajah penuh rasa
percaya diri tanpa sebuah alasan.
"Entahlah.. Tapi ketika aku berniat
ingin membunuh dirimu dan istrimu
Tuhan di tangga ini malah meminta
agar aku pada akhirnya.. Mati di
tanganmu."(Almus)
"He?"
Aku sungguh terkejut ketika
mendengar sesuatu yang di luar
perkiraanku, itu seolah-olah
bukan hal yang biasa.
"Jadi... Apa sebenarnya hubungan
tangga ini sampai-sampai kau
melakukan perintahnya."(Almus)
"Perintah? mana mungkin aku
akan tunduk pada siapapun.
Itu lebih tepatnya... Janji, meski
aku orangnya penuh dengan hasrat
bertarung... Begini-begini aku
adalah seseorang yang telah
melihat semua kejadian di seluruh
lapisan bahkan saat pertarungan
sang fajar dengan cahaya bulan
generasi kedua. Perjanjianku di
mulai... Ketika aku menantang
seorang wanita yang terbilang
ialah sosok terkuat di lapisan atas,
lalu sebagai perjanjian nya...
dia mengatakan....
" Aku akan membiarkanmu hidup,
sebagai gantinya... Ketika kau
di perintahkan oleh para pillar
untuk melakukan tugas membunuh
salah seorang di tangga, jika hal itu
terjadi... Aku ingin kau berakhir di
tangan orang tersebut."
"Dan janji itu di sampaikan lagi
kepada Tuhan di tangga ini untuk
diriku."(Almus)
"Jadi maksudnya... Kau memilih
janji yang di sampaikan oleh
Tuhan di tangga ini dari pada
tugasmu?"(Retnan)
"Ya begitulah, aku tidak peduli lagi
dengan otoritas, lagi pula surga
tidak terbuka lagi untuk diriku.
Menjalani hidup dengan ambisi
diriku sendiri... Itu terasa lebih
mendebarkan, meski tugasku
gagal... Hal buruk tidak akan
terjadi kepadaku, sebelum...
Hukum dewa menemukanku."
(Almus)
Untuk sesaat... Suasana menjadi
hening.
"Oh ya soal tugasmu yang di beri
oleh para pillar, ini mungkin
pertanyaan yang tabu tapi jika
kau bisa memberi jawaban...
Itu akan membuat suasana ini
menjadi tidak membosankan.
Apa kau saat di berikan tugas oleh
para pillar.. Kau berinteraksi
dengan mereka?"(Retnan)
"..... Tidak, sejujurnya aku di beri
tugas tidak secara langsung,
melainkan dari seseorang yang
di utus untuk menyampaikan tugas
itu kepadaku. Kau harus tahu...
Para Pillar itu bukan sesuatu
yang dapat kau temui dengan
mudah, berinteraksi saja... itu
hal yang mustahil. Di samping itu
aku bukanlah penghuni lapisan
atas."(Almus)
"Huh?.. Tapi dari semua perkataan
seperti kau di beri akses untuk
bisa mencapai Tuhan di tangga ini.
Bukankah itu juga ada kaitan nya
dengan lapisan atas, dan aku
merasa kau sama seperti mereka."
(Retnan)
"Seperti mereka katamu?.. Yang
benar saja, aku lebih suka perbedaan
terlahir sama seperti mereka itu
bukanlah diriku, aku tidak terlahir
namun " Ada " sebagai pengacau
tatanan. Aku bukanlah perwujudan
seperti mereka. Dari pada memilih
berada di salah satu lapisan, aku
malah lebih menikmati berada di
luar lapisan, karena... Kekacauan
sering terjadi di sana. Dan soal
bagaimana aku bisa berinteraksi
dengan Tuhan di tangga ini dengan
mudah, kupikir dia sendirilah yang
memberi jalan agar aku dapat
bertemu dengan nya. Meski aku
sendiri tidak tahu apa maksudnya."
(Almus)
"Begitu ya."(Retnan)
Kami terus berjalan melangkahi
setiap tangga yang terlihat telah
mencapai akhir jalur ini.
"Baiklah... Beberapa langkah lagi
kau telah berada di tempat dimana
Tuhan di tangga ini berada, dan
aku hanya bisa menemanimu
sampai di sini saja, aku tidak ingin
bertemu dengan nya lagi. Kalau
begitu aku pergi... Dan terima kasih
atas pertarungan sebelumnya,
meski aku berakhir konyol. Dan
oh ya, aku berubah pikiran untuk
melawanmu lagi, sebagai gantinya
aku akan ada jika kau membutuhkan
bantuanku. Entah kenapa... Kau
bisa menjadi temanku. Ini seperti
bukan diriku saja."(Almus)
"Tidak, itu hanya akan merepotkan."
(Retnan)
"Ya... Kalau begitu aku pamit."(Almus)
Secara langsung.. Almus telah
pergi dengan begitu saja dari pandanganku.
Dan sekarang... Apa yang telah
aku inginkan telah berada di
hadapanku, tinggal beberapa
langkah lagi... Aku bisa dengan
segera mengakhiri perjalanan ini.