
Lima tahun kemudian...
"Ahh.. kau benar-benar terlihat tampan di umurmu yang sudah menginjak sepuluh tahun, nanti.. malam, ikut ibu ke kamar ibu ya."
"He? ada apa tiba-tiba? Bu..Bukan berarti aku berpikiran aneh-aneh loh ya." (Jajara)
"Hee... mumpung lagi senggang, ibu ingin pergi menemui kakekmu, kau ikut?"
Verly sambil tersenyum lebar kepada Jajara.
"Mau.. sudah lama aku tidak bertemu kakek Corneus, aku akan menunjukan sedikit kekuatan dari sifat sihir ku." (Jajara)
Verly dengan senang hati menggendong Jajara yang terlihat senang hari ini.
Mereka pergi berjalan menyusuri setiap berbagai pemandangan di tengah pegunungan.
"Wah.. lihat ibu ada monster kecil, apa itu terlihat berbahaya? Tapi kelihatannya tidak."(Jajara)
Jajara terlihat senang saat keluar bersama ibunya
terlebih lagi ia di manjakan dengan di gendong ibunya.
"Tidak, monster kecil jauh lebih berbahaya."
Verly sambil terus berjalan menggendong Jajara.
"He?kenapa?bukannya semakin besar monster maka semakin besar pula mereka menerima kapasitas sihir?" (Jajara)
"Itu tergantung dengan jenis monster apa mereka, jika Zoa kecil, itu jauh lebih berbahaya dari pada undead, karena... ibu pernah merasakannya."(Verly)
"Zoa kah sepertinya aku pernah dengar, kalau tidak salah itu menampung sejumlah hasrat wanita ya, bagaimana rasanya bu?" (Jajara)
Jajara terlihat penasaran dengan apa yang baru saja Verly katakan.
"Kau percaya ibu pernah melakukanya ya.."(Verly)
"Eh?.. jadi itu boongan? sial aku di tipu, oh ya ibu.. sebenarnya dimana ayah berada?"(Jajara)
Saat mendengarnya... langkah Verly terhenti.
Jajara merasa bingung dengan reaksi Verly yang tiba-tiba terhenti saat mendengar hal itu.
"Soal itu... ada di masa depan, dimana kau akan bertemu dengan ayahmu di masa depan."
Sejujurnya Verly tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya karena itu akan menghancurkan tujuannya.
Bagi Verly, Jajara hanyalah anak pungut.
"Masa depan?kenapa begitu?"(Jajara)
Jajara merasa bingung dengan perkataan Verly.
"Ya.. karena suatu saat, ibumu ini akan mendapatkan calon suami yang baik, dan tentunya dia akan menjadi ayahmu di masa depan, ayahmu datang di masa yang jauh dari masa ini, bahkan waktu tidak bisa menentukanya kapan dia akan datang."
Verly mengatakan apa yang dia pikirkan tanpa pikir panjang, meski itu artinya berbohong.
"Masa depan yaa... kuharap juga begitu, apa saat itu ibu masih bersamaku?"(Jajara)
Lagi-lagi pertanyaan yang membuat Verly berpikir untuk menemukan jawabanya.
"Mungkin tidak, karena... ada sesuatu yang harus ibu lakukan di saat umurmu menginjak sepuluh tahun, tapi tidak usah mengkhawatirkan diri ibu, yang perlu kau khawatirkan adalah kakekmu, dia sosok yang pernah merubah dunia ini, di saat ibu tidak ada... minta lah dia untuk mengbimbingmu, merubah cara pandangmu, karena kakekmu mengetahui semua tentang dirimu yang sebenarnya."
Verly mulai berjalan kembali dan tentu masih menggendong Jajara di punggungnya.
"Aku merasa... ibu sangat menghormati kakek, dan mendengarnya membuatku senang." (Jajara)
***
Hingga... satu jam kemudian...
Mereka berdua sampai ke tempat kakek Jajara yang berada di atas gunung.
Rumahnya terlihat seperti sebuah kuil dewa.
"Kakek...!!"
Jajara langsung menghampiri kakeknya dan memeluknya.
"Verly... kau datang kemari ya"(Corneus)
"Sebenarnya aku datang kemari ingin membahas sesuatu."
Verly sambil menunjukan ekspresi bahagia.
"Kurasa itu terlihat penting, nak Jajara.. lebih baik kau bermain dengan para hewan di sana."(Corneus)
" Baik..!!"
Jajara langsung pergi bermain meninggalkan mereka berdua.
"Baiklah.. mari masuk, aku ingin membahasnya di ruang tamu."
Pada akhirnya Verly memasuki rumah Corneus.
Dan di sana Verly sangat di sambut oleh berbagai pelayan.
"Jadi... apa yang ingin kau bahas?"(Corneus)
Verly langsung membahas nya dengan sangat rinci hingga...
"Apa katamu!?.. apa kau sudah gila.."(Corneus)
Tiba-tiba Corneus bereaksi terkejut saat setelah mendengar perkataan Verly.
" Kurasa begitu, kau tahu... aku sudah merasa bosan dengan dunia ini, tidak peduli.. seberapa kuat mereka, bagiku mereka semua lemah dan bahkan tidak mampu mempengaruhiku, aku ingin sesuatu suasana baru yang mampu menghilangkan rasa bosan ini."
Verly dengan wajah bahagia mengatakanya.
"Tapi... itu sudah gila, keberadaan dirimu di lapisan bawah Hollow saja sudah menjadi ancaman, kini kau ingin membuat keributan di lapisan atas Nov Sanctuary lagi? ayolah... lebih baik kau tetap bersamaku, kita bisa membuat keluarga bahagia, kau ingin anak berapa? kita bisa membuatnya."(Corneus)
"Kau yang sekarang benar-benar bau tanah, bahkan kepribadianmu berbeda dengan saat kau berhadapan dengan Argeus, aku jadi ingin sekali membunuhmu."
Verly sambil menunjukan tatapan mesum kepada Corneus.
"Kita akhiri saja obrolan ini.. kukira dengan aku memberitahu padamu aku bisa mendapatkan sesuatu, dan soal anak itu.. kau tidak usah ikut campur lagi mengerti?"
Pada akhirnya Verly memutuskan pergi kembali pulang tanpa ada sesuatu yang dia dapatkan di sana.
Hingga malam tiba...
"Ibu.. kau ada di kamar?"(Jajara)
"Ya, masuklah..."
Saat jajara masuk...
Ia terkejut melihat Verly telanjang bulat tanpa memakai pakaian kimono yang selalu ia pakai.
"Tunggu... i..ibu kenapa telanjang? aku sudah dewasa loh"(Jajara)
Jajara sedikit malu melihatnya.
" Sudahlah.. kemarilah ke pangkuan ibu di atas kasur."
Verly sambil menunjukan senyuman kasih sayang.
"Ba..Baiklah.."
Jajara langsung duduk di pangkuan Verly yang terlihat telanjang bulat.
"Bagaimana... nyaman bukan?"(Verly)
"Tentu... ini tidak seperti biasanya ibu memberiku surga aku juga bahagia ibuku sangat cantik" (Jajara)
"Syukurlah... ibu biasanya saat kesepian di kamar, kadang melakukan hal dewasa sendirian, tapi juga memandang bayang bulan di cermin yang memantul, itu terdengar membosankan bukan?"(Verly)
"Tidak, selagi ibu menikmatinya"(Jajara)
"Kalau begitu... bagaimana kalau kita bermain sebuah permainan?"(Verly)
"Apa itu?" (Jajara)
Dia sambil menunjukan wajah senang nya.
"Jika aku bahagia karena caramu aku selamanya akan melakukan ini di hadapan mu, sebaliknya jika kau tidak dapat membuatku bahagia... kau akan menjadi salah satu pelayanku di kastilku."
Verly menunjukan wajah percaya dirinya.
"Baiklah... ayo kita-"(Jajara)
Verly tiba-tiba memasukkan jarinya sendiri ke dalam mulut Jajara.
Seketika membuat Jajara sulit berbicara, sedangkan Verly tersenyum bahagia saat melakukannya.
Tidak ada yang mengerti apa maksud Verly melakukanya.
Hingga...
"Maaf... aku tidak akan membunuh anak yang aku sayangi, meski kau bukan anakku, tapi aku masih menyayangimu."
Verly meraih mata Jajara perlahan melebarkan matanya.
"HMMPP....!!HMMPPP...!!"
Jajara mencoba berteriak namun jari-jari Verly masih menahan mulutnya.
"Santai saja... ini tidak akan sakit kok."
"ARGHHHH....!!!"
Jajara menangis... ketakutan dengan apa yang ibunya lakukan padanya.
Ia menjerit terus mencoba menjerit walau rasa sakit terus terasa.
"AGHHHH...!!"
"Akhirnya... aku mendapatkan apa yang kuinginkan kan, dengan begini... segel yang di tanamkan pillar surgawi setelah insiden itu.. bisa aku lenyapkan, Ahh.. aku tidak sabar lagi.. menunggu tuanku datang, aku harap.. aku segera mengirim tuanku ke dunia ini."
Verly dengan wajah sangat bahagia bersorak bahagia walau ada tangis di baliknya.
"Sekarang... aku akan mengulangi kembali... insiden itu...!!, dengan mata ini... aku akan mendapatkan kembali kekuatanku."
Verly tanpa pikir panjang langsung memakan kedua bola mata itu dan secara langsung...
Gumpalan kegelapan muncul membuat segala yang berada di atas langit menjadi gelap gulita.
"VEREN...TEUZZZ...!!"
Dan sejak saat itu...
sekali lagi...
Verly menjadi ancaman terbesar di seluruh semesta.
***
Situasi saat ini...
Verly masih memakai kesadaranku....
"Seperti itulah... dan tak kusangka kau yang sekarang sangat tampan, rambut putih mu membuat mu memiliki aura seperti malaikat, aku turut senang melihatnya"
(Verly)
"Hentikan... senyuman palsumu, tapi.. meski itu permintaan kakek, sejujurnya aku tidak membencimu ibu, dalam lubuk hatiku aku masih memiliki perasaan yang dalam terhadapmu, meski kedua mata ini kau ambil untuk mengembaikan kekuatanmu... aku tidak terlalu membencinya, tapi.. justru rasa inilah yang membuatku harus membunuhmu ibu, jika... seandainya kau tidak membunuh rekanku, aku mungkin masih jatuh cinta denganmu bu.. dan mungkin aku akan memaafkan dosa besar mu."(Jajara)
Saat itu...
Aku melihat Verly tertawa terbahak-bahak setelah Jajara mengatakan hal tersebut.
Aku tidak mengerti apa yang di pikirkan oleh Verly, aku merasa dia hanya menikmati apa yang menurutnya pantas di tertawakan.
Padahal menurutku itu benar-benar tidak pantas untuk di tertawakan, aku tahu itu memang sifat alaminya...
Yang terkadang membuatku sakit hati mendengarnya.
"Hee.. lalu.. setelah insiden itu, apa kau melakukan apa yang sudah aku katakan?" (Verly)
Verly sambil tersenyum lebar.
"Ya aku mengikuti jalan kakek, dan merubah cara pandangku, dan akhirnya... aku mendapatkan hasilnya, aku menjadi salah satu dewa tertinggi yang berada di luar ranah ini, dan aku yakin... dengan tangan ini... aku bisa membunuh ibu dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadikan raga ibu menjadi boneka ku, tidak peduli apapun yang terjadi... aku pasti akan membunuh ibu, ini bukan soal dendam, ini juga permintaan kakek yang telah menyesal meminta permohonan ke padamu " (Jajara)
Aku melihat Jajara terlihat menunjukan ekspresi dingin kepada Verly.
" Jadi si tua bangka itu masih sehat ya.. yahh.. selama kau tidak menyentuh suamiku, bagiku-"(Verly)
"Dan membunuh sesuatu yang berharga bagimu..." (Jajara)
Jajara tiba-tiba memotong pembicaraan Verly yang belum selesai.
"Hee.. menarik, yang artinya kau-"
"Verly..!!"
Aku langsung menyentak Verly dalam diriku sendiri untuk memintanya berhenti berbicara.
Aku tidak tahan lagi dengan pembicaraan mereka yang hanya menunjukan hasrat diri mereka sendiri.
"Aku ingin... kau kembali menjadi mulut."
Aku memerintah Verly dengan nada bicara yang sedikit tegas.
Perlahan kesadaran diriku mulai bertukar kembali, lalu Verly kembali menempel menjadi mulut di telapak tangan kiriku.
"Kenapa kau bertukar kembali dengan ibuku... lemah."(Jajara)
Jajara menunjukan wajah seperti merendahkan diriku kepadaku.
Namun aku dengan santai mencoba menikmati suasana ini dengan sedikit mengeluarkan rokok lalu menyalakanya.
Aku berpikir tidak bisa mencernah suasana ini tanpa sedikit dorongan dari kebiasaanku.
" Hahhh.. Verly, kau benar-benar membuatku jengkel dengan perkataan mu, yahh.. kau harus merubah cara bicaramu itu dari kebiasaanmu."
Aku dengan santai berbicara kepada Verly sambil menikmati setiap hembusan asap rokokku.
"Baik tuan... saya akan mencoba menjadi istri yang terbaik untuk anda..."(Verly)
Verly menunjukan senyuman bahagia lewat mulutnya.
"Sekarang.. bagaimana ya... mungkin, sekali lagi aku akan menunjukan senjata ibumu... dengan sedikit keseriusanku."
Perlahan aku mengangkat tangan kananku ke arah depanku.
Hingga... sebuah katana pekat hitam kembali muncul dari bawah menuju ke tanganku yang mengarah ke depan.
Tapi kali ini berbeda...
Aura pekat hitam dari pedang itu membuat kehidupan menjadi tanah tandus di sekitarnya.
Sesuatu yang hidup akan mati di sekitarnya sebelum aku benar-benar mengangkat pedang itu.
"Apa ini... aku merasa aura dari pedang itu bukanlah sihir... tapi itu terlihat secara alami ada, yang berarti... itu.. inti keberadaan!? pedang itu.. milik ibu.. berasal dari inti keberadaan nya!?"(Jajara)
Aku melihat Jajara terlihat terkejut saat menyadari kekuatan dari inti keberadaan Verly yang di anggap ibunya.
"Tuan... kenapa anda tidak menggunakan kekuatan dari inti keberadaan anda saja?,
seperti Reality Nova, itu sudah lebih dari cukup untuk membunuh dia..."(Verly)
"Tidak, aku tidak bermaksud untuk membunuhnya, dia masih memiliki rasa terhadap mu, ini bukan berarti aku naif, hanya saja... aku masih memiliki jiwa manusia yang memahami semua itu, lagi pula.. dia sudah menjadi dewa tertinggi yang mana dia sekarang hanya bisa menggunakan beberapa persen kekuatan nya di lapisan bawah."
Aku masih menahan pedang itu di tanganku.
"Ahh.. melihat anda memegang senjata dari inti keberadaan saya, itu sama saja anda sudah... menodai tubuh saya ini... saya benar-benar sudah telarut, jadi... apa keputusan anda mulai sekarang?"(Verly)
"Aku ingin melihat... respon apa yang akan dia tunjukan."
Hingga... aku mulai melihat Jajara perlahan mengalirkan sihirnya ke satu titik di tangannya.
"Jadi... ini akan menjadi pertarungan ya.."
Aku dengan rasa percaya diri yang tinggi lalu perlahan tanganku mengambil pedang katana itu.
"Tidak juga, kau harus tau... lapisan bawah tidak bisa menahan keberadaanku jika aku dengan serius mengeluarkan kekuatan dewa miliku, aku yang kau lihat sekarang hanyalah avatar, tubuh asliku tidak bisa bertahan di sini, yang ada hanyalah hancurnya lapisan bawah, tapi... target yang aku incar sebenarnya adalah ibuku, tidak peduli apapun konsekuensinya aku harus membunuhnya di sini dan menjadikanya bonekaku, bila kau masih menghalangiku... kurasa... tidak ada pilihan lain bukan?"(Jajara)
Lalu sihir Jajara mulai merambat ke seluruh tubuhnya.
Aura yang begitu tenang membuat dirinya seakan benar-benar kuat.
"Begitu kah... lebih baik kau jangan remehkan pedang ibumu."
Aku langsung mengangkat katana itu... seketika aura kegelapan mulai menyebar luas menutupi cahaya di langit-langit.
Hingga hadirnya deru angin yang begitu dahsyat seakan pedang ini tidak bisa menahan dirinya.
Aku bisa merasakan katana ini memiliki energi untuk merubah segala hal menjadi akhir kekosongan yang melahap ruang-waktu.
Aku merasa percaya diri dengan apa yang harus kulakukan.
"Ya... Verly, aku bisa merasakan inti keberadaan mu terhubung dengan katana ini, dan sekarang..."
Aku dengan rasa tak sabar lagi untuk menebas apapun dengan katana ini.
Dengan cepat aku membuat kuda-kuda untuk menghempaskan satu ayunan.
Hingga...
"VEREN... TEUZZZ...!!"
Satu ayunan langsung aku hempaskan mengarah tepat di hadapan Jajara.
Kurang dari satu detik...
Irisan satu ayunan pedang itu langsung memotong lengan Jajara yang masih belum sempat mengeluarkan sihirnya.
Walau begitu Jajara masih bisa mengimbangi reaksi seranganku meski itu mengenai lengannya.
Dan jika mungkin tadi serangan katana ini benar-benar meleset... itu benar-benar akan merubah dunia ini menjadi kehampaan.
Aku terlalu bersemangat hingga aku lupa akan konsekuensinya.
"Tidak mungkin... pedang itu bisa mengimbangi kecepatanku? bahkan menghancurkan lapisan sihir di tubuhku yang memang aku buat untuk menjadi pelindung, dan... ini bohong kan?... ini pasti... bohong kan?.. aku... tidak bisa... meregenerasi... lenganku kembali?, tunggu... bukan hanya itu, aku merasa... serangan barusan... mengenai wujud asliku..!? buktinya... aku bisa merasakan sakit."(Jajara)
Aku melihat Jajara dengan wajah sangat terkejut setelah mengenai potongan dari katana itu.
Dia terus bergumam dalam kejauhan.
"Ini benar-benar gawat... mungkin jika tadi aku sepenuhnya menerima serangan itu... wujud asliku juga akan musnah, ibu... ibu... aku jadi ingin sekali mendapatkan dirinya."(Jajara)
Hingga aku mulai melihat Jajara bergerak sekali lagi mengarah padaku.
" Kurasa... ini bukan saatnya untuk memulai pertarungan dalam wujud avatarku yang sekarang, aku berubah pikiran, aku ingin... kita bertarung dengan serius di lapisan atas... Nov Sanctuary..!!, di sana aku bisa menggunakan kekuatan penuhku, aku mulai tertarik dengan kalian... ibu.. dan ayah."(Jajara)