A The Creators

A The Creators
Dunia Tanpa Sihir



"Eh?"


Kini kami berada di tangga 10.


Dan yang menjadi awal pandangan


kita adalah...


Sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku, dan sulit untuk


di percaya.


Dimana ini seakan aku kembali


ke peradaban dunia lamaku.


Di lihat dari berbagai kelompok


burung yang terbang di langit sambil berkicauan ..


Sinar mentari pagi yang menyilaukan mataku ..


Suara ricuh dari para manusia yang sedang saling berbicara, bercanda, bernegosiasi ..


Dan udara segar yang membuatku


terus menerus menghirupnya,


walau ini berada di tengah perkotaan.


Ini semua benar-benar sulit untuk


di percaya.


Dan kami sekarang.. berada di


tengah kota dengan para penduduk


yang padat.


"A-Apa ini!?.. Benar-benar terlihat


modern. Apa kita... berada di masa


yang berbeda?"(Afreon)


"Kupikir tidak, hanya peradaban


saja yang memperlihatkan semua


ini. Tapi jika di pikir... kota ini


begitu indah. Banyak dari mereka


yang melakukan berbagai aktivitas."


(Sakuya)


"Dan anehnya lagi... kita tidak bisa


menggunakan sihir."(Afreon)


"Huh?"


Mereka begitu terkejut, ketika


menyadari sihir tidak berlaku


di tangga ini.


"Oi Retnan kenapa kau hanya


terdiam saja? apa ada hal yang


membuatmu ragu?"(Xanxus)


Mendengar perkataan Xanxus


membuatku sadar kembali, bahwa


tangga ini tidak menampung


sejumlah dunia tidak terbatas.


Seperti tangga pada umumnya,


seolah-olah kita sekarang berada


di luar dimensi.


"Ini benar-benar aneh, kupikir


semua orang yang hidup di tangga


ini adalah... para organisasi."


Aku mengatakan hal tersebut kepada


mereka dengan rasa keyakinan pada


diriku sendiri.


"Kau ada benarnya, ini dunia tanpa


sihir. Konsep tangga ini, adalah


mengekang keberadaan sihir


setiap seseorang yang hadir di


tangga ini. Ini kebalikan dari orang


yang di kirim ke lapisan. Seseorang


yang di kirim ke lapisan secara


konseptual mereka akan menyadari


apa itu sihir."(Sakuya)


"Apa kalian berpikir... Ini ulah dari


raja Dystoria?"(Xanxus)


"Itu tidak mungkin, seorang raja


agung seperti dirinya tidak bisa


memegang janjinya, Itu terlalu


ironis, ini begitu damai tanpa ada


sedikit konflik yang terjadi. Aku


cukup tertarik dengan apa yang


sekarang menjadi pemandangan


kita saat ini. Bagaimana dengan


kalian?.."(Afreon)


Afreon mencoba bertanya kepada


mereka tentang apa yang mereka


pikirkan saat ini.


"Kau benar, jujur saja... ini pertama


kalinya aku memandangi dunia yang fantasi ini. Aku ingin berkunjung


ke toko pakaian."(Sakuya)


"Aku... mungkin akan berkeliling


sebentar."


"Begitu ya, jadi... apa jawabanmu


Retnan?"(Afreon)


Mendengar keinginan mereka


yang baru mengenal dunia lamaku.


Aku berpikir mungkin ini waktu yang


tepat bagi mereka untuk beristirahat


sejenak.


Lagi pula di samping itu, masih ada


beberapa hal yang membuatku


terheran-heran.


"Baiklah, kalian boleh bebas dan


aku anggap kita sekarang melakukan


liburan. Dan ya, kita akan berkumpul


kembali dalam lima hari kedepan


di tempat yang sama dan waktu


yang sama."


Pada akhirnya aku memutuskan


pilihanku dengan apa yang mereka


inginkan.


Dan juga.. itu semua atas dasar


keinginanku yang ingin menguak


dunia tangga ini.


"Baiklah... kami pergi."


Mereka semua langsung pergi


dengan keinginan mereka masing-


masing yang akan membimbing


jalan mereka.


"Sekarang... dari mana aku akan


mulai. Tapi... sekali lagi ini sulit


di percaya kalau kota dunia ini


menggambarkan dunia lamaku.


Namun... kurasa aku sudah mengerti


kemana arah jalanku akan pergi."


Aku langsung dengan segera


menggerakan badanku, berjalan


pergi menuju suatu tempat yang aku


pikir itu menjadi tujuanku.


***


Ini adalah perkotaan dan seperti


biasanya, keramaian selalu terjadi


di berbagai sudut kota. Dari toko


swalayan, aktivitas orang yang


bekerja bahkan lampu merah yang


mengatur arus jalan raya.


Semua itu di penuhi dengan banyak


kesibukan setiap individual.


"Dunia ini berbeda dengan duniaku,


dan hanya menunjukan peradaban


saja yang sama. Dan juga... Ini


terdengar aneh bila tangga ini


hanya menampung dunia tunggal,


yah.. dunia tak terbatas itu tidak


bisa di amati dalam zona tangga ini


yang berarti... tangga ini memiliki


ruang yang besar. Yang tidak bisa


di jangkau oleh mata telanjang.


Satu hal yang aku yakini... dunia


yang ada di dalam zona tangga ini


menampung jumlah dunia tak


terbatas hanya saja, semua itu


terhubung menjadi satu, untuk saat


ini itulah yang bisa aku pikirkan."


Aku sekarang berjalan di tengah


kota dan pergi menuju ke suatu


mencari jawaban tentang tangga ini.


Yang tidak lain.. Sesuatu yang


menjadi pusat utama tangga ini.


"Sa-Sayang.. kau kah itu!?"


Suatu teriakan terdengar mencoba


memanggil ku.


Aku yang menyadarinya langsung


menoleh ke arah teriakan tersebut


berasal.


Namun...


"He?.. Mustahil..."


Aku benar-benar di kejutkan dengan


kehadiran seseorang tersebut.


Ketika aku memperhatikan seluruh


postur tubuhnya yang terbilang


seorang wanita, terlebih lagi saat


aku melihat mata yang tertutupi


kain tersebut.


Benar-benar mengingatkanku


kepada Verly.


"Akhirnya... anda kembali.."


Dia langsung berlari menghampiriku


dan memeluk tubuhku dengan rasa


bahagia.


Tapi..


Aku tetap tidak berpikir bahwa dia


adalah Verly. Penampilanya juga


terbilang sangat sederhana, seperti


pakaian ibu rumah tangga.


Hanya saja... Kain yang menutupi


matanya membuatku ragu.


Meski ia tidak memiliki sepasang


tanduk.


"Maaf... Tapi, kurasa anda salah


orang. Aku hanya organisasi yang


baru hadir di tangga ini. Dan...


aku bukan kekasihmu."


Aku tidak tahu harus berkata apa


kepada wanita yang bahagia di


pelakukan ku tersebut.


Yang bisa aku tunjukan hanyalah


memalingkan wajahku darinya.


"A... Apa yang baru saja kau


katakan?.. kita bahkan baru saja


telah menjadi pengantin baru.


Lihatlah apa yang ada di jarimu."


"Sudahku bilang aku tidak.....


Eh?"


Aku terkejut, tiba-tiba aku menerima


sebuah cincin di jariku.


Yang mungkin... ini menggantikan


cincin yang dulu Verly berikan.


Semakin lama aku semakin


di bingungkan dengan dunia ini.


"Apa kau benar-benar akan.. akan...


mencampakan diriku? aku rela


melakukan apapun tapi, kumohon


jangan mengatakan hal seperti tadi."


Aku merasa ingin pergi dari situasi


sekarang, tapi... melihat seseorang


yang mirip dengan Verly.


Aku merasa... Tidak bisa.


"Kalau boleh tahu... Siapa namaku


dan... dirimu."


Aku sambil memalingkan wajahku


darinya.


".... Apa kau benar-benar kehilangan


ingatan? tapi jika kau bertanya


tentang hal itu... namamu adalah


Retnan Noir, dan diriku adalah


Verly Noir."


"Ini benar-benar membingungkan."


Aku terus berpikir, sebenarnya


apa konsep dari dunia ini, dan


apa maksudnya dengan pengguna


sihir tidak berlaku di sini.


Ini seakan bagiku seperti penjara


di kehidupanku yang dulu.


Tapi... ini mungkin juga bisa menjadi


langkah awal untuk mengungkap


dan mengakhiri perjalanan di tangga


tanpa arti ini.


"Apa yang kau bingung kan, yang


lebih penting ayo kita kembali


ke apartement."


"Apartement?"


Dengan rasa bahagianya Verly


langsung memegangi tanganku


dan berlari bersama, menuju ke


tempat yang ia inginkan.


***


Tak lama... Akhirnya kami telah


sampai di depan apartement yang


Verly maksud.


Namun... lagi-lagi beberapa hal


membuatku heran.


Dimana apartement yang Verly


maksud adalah... Apartementku


waktu tinggal di dunia lamaku.


Aku tidak menyangka akan melihat


sekali lagi sejarah rumah ini.


"Baiklah... mari masuk sayang."


"O-Ohh..."


Kami akhirnya masuk ke dalam


apartement tersebut, dan ya,


semua tampak begitu rapi meski


aku tidak lagi ingin mengingat


kehidupan lamaku, namun suasana


ini cukup nostalgia.


"Baiklah, aku akan membuatkan


kopi, kau bisa menunggu di ruang


makan. Dan juga... aku ingin


membahas sesuatu denganmu.


Baiklah aku pergi dulu."


Aku tidak tahu harus berkata apa,


dunia tanpa sihir ini, benar-benar


berbeda.


"Tapi..."


Aku sambil mengulurkan tanganku


ke depan, hingga...


Sebuah pedang katana pekat hitam


mulai hadir secara perlahan.


"Sudahku duga. Tangga ini hanya


menahan sihir, tapi tidak bisa


menghilang keberadaan kekuatan


inti. Meski begitu... Kenapa tidak


ada seorang pun yang berpikir


membuat kekacauan di tangga ini,


mereka bisa bukan menggunakan


kekuatan inti. Dan juga..."


*Pringgg*


Terdengar suara gelas jatuh hingga


pecah.


Dan saat itu... aku menyadari.. ini


waktu yang kurang tepat bagiku


untuk mengeluarkan kekuatan


di hadapan Verly yang tak mengenal


sihir atau semacamnya.


"Gawat..."


Aku melihat Verly menunjukan


wajah yang begitu terkejut seakan ia


membeku sambil memperhatikanku.