A The Creators

A The Creators
Pertarungan Yang Melibatkan Perasaan



Situasi saat ini...


Dalam kekacauan sebuah cahaya emas mengalir membentang ke atas langit membuat pusaran dalam tengah kekacauan.


Tidak orang lain selain kami yang melakukan kekacauan luar biasa dalam semesta tunggal untuk saat ini.


Pedang yang di bawa Afreon seakan memiliki sesuatu yang mampu membuat situasi ini menjadi keterbalikan dari sebelumnya.


Perlahan Afreon berjalan sambil membawa pedangnya, dengan pandangan tertuju kepadaLambaelda yang hanya tersenyum menyaksikan semua ini.


Sebelum Afreon benar-benar melancarkan serangan kilauan emas itu...


Lambaelda terlihat sudah lebih siap untuk melancarkan serangan matahari buatanya yang masih tertahan di selah jari kelingking.


Perlahan matahari yang amat besar itu secara mandiri membagi diri mereka menjadi beberapa potongan yang aku pikir... dia hanya ingin tahu seberapa hebat pedang itu bisa mengiris beberapa matahari buatanya, dia seakan benar-benar meremehkan kita.


Aku tahu Afreon juga merasakannya namun tidak ada tanda-tanda Afreon mengungkit perlakuan yang Lambaelda tunjukan, ia hanya tersenyum walau telah di remehkan.


Perlahan... Afreon mengarahkan pedangnya ke arah matahari tersebut yang telah membagi diri menjadi beberapa jumlah.


Secara langsung dan cepat... matahari itu tanpa di sadari sudah berada di depan mata Afreon.


Namun dengan rasa percaya diri Afreon yang masih mengarahkan pedangnya ke arah beberapa matahari tersebut, langsung mengiris mereka dengan perlahan seakan dia sedang mengiris buah.


*SRING*


*Bum..Bum*


Tidak... awalnya aku pikir jumlah mereka hanya beberapa yang masih di katagorikan tidak sampai ribuan, namun...


Ternyata di balik itu semua sejumlah matahari sekali lagi menerjang Afreon dengan jumlah ribuan dalam satu waktu.


Lalu Aku melihat Afreon merubah cara bertarungnya, yang mana kali ini Afreon seakan membuat kuda-kuda dengan pedangnya mengarah ke belakang dari arah depan, itu seakan dia memasang kuda-kuda dalam gerakan menggunakan katana.


Dia sambil tersenyum...


"HEAAAA....!!" (Afreon)


Dan dengan secepat mungkin ia langsung memotong ribuan matahari tersebut yang ukurannya setara dengan sebuah gunung bahkan...


Tanpa aku sadari... dia sudah berada di hadapan Lambaelda yang bagiku... kecepatanya melebihi perkiraanku seakan ribuan matahari itu terpotong secara totalitas hanya dengan membutuhkan satu kedipan mata.


Hancurnya matahari itu membuat seluruh semesta di zona ini terpapar cahaya yang begitu menyilaukan jagat raya semesta.


Hingga di saat itulah aku memiliki firasat buruk tentang Afreon yang menyerang Lambaelda secara membabi buta di atas langit.


Aku tidak tahu... tapi... aku harus menghancurkan keseluruhan matahari besar itu yang masih tertahan di jari kelingking Lambaelda.


Aku merasakan Lambaelda sedang merencanakan sesuatu.


Dengan cepat aku langsung memanggil senjata dari inti Verly karena pedangku yang sebelumnya tidak akan sempat untuk melampaui kecepatan Afreon.


Namun dengan inti keberadaan Verly... senjatanya mampu melebihi titik nol waktu.


Tapi.. aku berpikir sekali lagi... aku tidak tahu.. seberapa cepat reaksi Lambaelda menyadari seranganku?


"Sial, Verly... apakah senjata dari inti keberadaan bisa di satukan dengan inti lain?"


Aku sambil memegang pedang dari inti keberadaan Verly.


"Tidak tuan, kekuatan inti bersifat individual tanpa campur tangan orang lain, karena inti bisa di bilang adalah kehidupan orang tersebut."(Verly)


"Begitu ya, kurasa aku harus sedikit memaksakan intimu Verly..!!"(Retnan)


" Tentu tuanku maksudku suamiku."(Verly)


Tanpa pikir panjang... Aku dengan segera mengarahkan pedang Verly ke arah matahari tersebut dan berpikir... Bahwa aku harus bisa melampaui linear waktu agar bisa melampaui kecepatan reaksi Lambaelda dan Afreon.


Yang berarti... aku harus benar-benar berada di dalam satu titik yang di mana... aku harus menyatu dengan waktu dan ruang sebagai keberadaanku.


Kalau soal pedang Verly aku yakin itu dapat di lakukan dengan mudah, tinggal aku saja yang harus melampaui waktu dan ruang di zona semesta ini agar setara dengan pedang Verly.


Yah, meski kata " Waktu " tidak berlaku di sini, aku menggunakan kata itu sebagai pengungkapanku untuk melakukannya.


Aku tersenyum...


"Horaaa...!!"


Langkahan tanganku langsung membimbing pedang ini menuju Lambaelda.


Aku harus fokus pada ruang-waktu dan setelah aku mendapatkannya dengan cepat aku langsung mengayunkan pedang ini menuju kepada Lambaelda yang berada di atas langit.


"Hiaa...!! VEREN...TEUZZZ!!"


Aku menghunuskan serangan dari pedang katana hitam ini hingga...


Terbentuk Sayatan yang di timbulkan oleh pedang itu mulai terlihat, yang berarti aku telah menyatu dengan ruang-waktu karena bisa melihat kecepatan sayatan tersebut.


Belahan setiap serangan pedang itu seolah secara terus-menerus menembus ruang semesta menuju kepada Lambaelda dengan kecepatan yang telah ku ubah menjadi luar waktu yang memungkinkan melebihi reaksi Lambaelda.


Dan langsung....


Sayatan itu merubah matahari yang menutupi sebagaian semesta ini menjadi kekosongan mutlak yang mana... itu dapat menghapus segala kemungkinan, menjadi akhir dari waktu, hingga merubah segala hal menjadi tiada.


Dan di sinilah... aku secara instant sudah berada di hadapan Lambaelda yang berada di atas langit dan langsung menyerap kembali kekosongan yang di hasilkan oleh pedang hitam ini.


Pedang itu secara perlahan menyerap kembali hasil dari dampaknya.


Dan...


Aku berhasil menghentikan Afreon dengan tepat saat hampir menuju Lambaelda, aku memegangi pedangnya seakan aku menghentikan dirinya dari atas langit.


"He?.. Retnan?.. apa yang kau..."(Afreon)


"Jangan terlalu menganggapnya mudah melawan dia, dia bukanlah dewa tertinggi biasa, namun kekuatanya melebihi itu, yah sejak awal dia terus mempermainkan kita."


Aku masih memegangi senjata Afreon dari ketinggian langit, dengan pedang Verly yang terus menyerapi kekosongan itu.


"Apa apaan ini!?... kau tidak berhak mengganggu tekad seseorang yang sudah ia ambil, dan aku sudah mengerti konsekuensinya maka dari itu... aku akan menerima hasilnya tidak peduli apapun jawabannya." (Afreon)


Dia menunjukan wajah kesal terhadapku, yang bagiku dia hanya menuruti ego nya saja.


"... Yah ini mungkin salahku juga, tapi... sebelum kau benar-benar serius menggunakan kekuatanmu.. kau harus berpikir jernih untuk kedepanya juga, kau hanya menyerang secara membabi buta, yang aku pikir itu akan berhasil, tapi ingatlah lawanmu... berpikirlah sekali lagi, jika kau bertindak ceroboh itu sama saja kau mencari kemantianmu sendiri."


"...... Umm....... aku di lupain ya... tapi yang di katakan suami Verly yang tampan ini memang benar, kau hanya menyerang tanpa berpikir panjang, maka dari itu aku bisa sesantai ini melawanmu, tapi tidak seperti serangan yang di timbulkan oleh pedang Verly, yang mana itu sedikit membuatku terkejut di tambah suami Verly bisa setara dengan pedang itu, tapi... aku sangat tidak menyangka kau mengetahui bahwa aku telah menyatu dengan ruang di alam semesta, yang mana... sebenarnya diriku yang kau lihat dari atas langit ini adalah diriku yang berada di dimensi yang lebih tinggi, yah ini seperti avatar(wadah) namun... sedikit berbeda, meski aku memakai wujud avatarku lapisan ini masih belum bisa menahan keberadaanku, yang berarti... aku membuat ruang yang mana sebenarnya aku sangat jauh dari kalian, bisa di bilang... aku telah memanipulasi ruang semesta maka dari itu serangan apapun tidak akan bisa menggores kulit mulusku jika jangkauan serangan tidak bisa menyentuh jarak diriku yang sebenarnya, namun... ketika suami Verly tadi bisa menghancurkan matahari buatanku yang begitu besar berada di jariku dengan mudahnya, yang berarti... dia berhasil menggapai jarak yang aku buat, tapi itu hanya sebatas seranganya bukan dirinya yang menyentuh jarak asliku."(Lambaelda)


Dia tersenyum lebar...


"He... begitu kah?"(Retnan)


*SRING*


"He?


Aku langsung menusuk dada Lambaelda dengan pedang ini... hingga.. membuat raut wajahnya berubah derastis menjadi terkejut.


Itu tampak ketika ia memuntahkan darah yang begitu banyak di mulutnya.


"He?.. apa ini?.. aku tahu pedang Verly bisa menjangkau diriku dari ruang yang sudah aku manipulasi, tapi... kenapa... dia juga dapat mengenai inti keberadaanku yang seharusnya itu berada dalam dimensi yang jauh melampaui semua lapisan... dia... ternyata menggabungkan sifat sihir kedalam pedang Verly, tapi... bukan berarti aku akan mati dengan luka tusukan dari pedang si mesum itu."(Lambaelda)


Dan saat itu...


Sekali lagi aku melihat dirinya tertawa terbahak-bahak tanpa sebuah alasan.


"Kau luar biasa, seandainya kau tadi dengan serius membunuhku dengan pedang itu, mungkin... inti keberadaanku akan


benar-benar terhapus, tapi bukan berarti aku akan tewas, Verly... kau mendapatkan suami yang begitu luar biasa, mungkin... aku sedikit jatuh cinta kepadanya, yah aku hanya bercanda, tapi ini masih belum berakhir... akan kutunjukan akhir kekosongan yang di ciptakan oleh maha kuasa."(Lambaelda)


*TIK*


Suara jentikan jari terdengar...


Namun... kali ini aku berpisah dengan Afreon...


Aku merasa diriku seakan secara instant di pindahkan ke suatu tempat yang benar-benar tidak bisa di katagorikan lagi dengan dunia.


Aku berada di suatu tempat yang mana ada sebuah titik seakan menyerap segalanya, itu terus berputar seperti sebuah pusaran.


Tapi... tempat ini tidak ada dunia sama sekali yang ada hanyalah pusaran titik yang terlihat mampu menghapus segalanya jika berinteraksi.


Itu begitu besar... ini seperti berada di ruang kehampaan dengan titik pusaran itu yang memenuhi ruang ini.


Aku tidak berpikir untuk keluar karena ruang ini di penuhi oleh satu entitas yaitu hanyalah pusaran ini.


"Jangan pikir kau bisa kabur... tempat ini adalah akhir yang menghapus ruang-waktu bahkan konsep sekaligus, itu bukanlah berasal dari kekuatanku, aku hanya memindahkan dirimu ke tempat akhir yang di ciptakan oleh Tuhan itu sendiri, ya.. sebenarnya ini sama dengan serangan dari pedang Verly, namun... akhir ini secara totalitas akan langsung menghancurkanmu, untuk sekarang akhir ini berada dalam kekuatan yang tersegel, jika segel itu terbuka... bukan hanya sekedar yang aku jelaskan tadi namun... menghancurkan seluruh dimensi di alam semesta, bukanlah sesuatu yang mustahil lagi, bukankah itu luar biasa?"(Lambaelda)


"Jadi maksudmu... kau ingin melemparku kedalam pusaran itu?"(Retnan)


"Tentu bodoh, itu hanya terasa kau mengenai pedang inti Verly, aku melihat raut wajahmu yang menujukan ini hal yang biasa, tapi sesungguhnya itulah yang membuatku tertarik padamu, tapi aku tidak yakin kau bisa bertahan... sekarang... kita mulai."(Lambaelda)


*TIK*


Dari kejauhan Lambaelda menjentikan jarinya ke arahku dan sedikit tekanan...


Membuatku langsung terjatuh terserap oleh akhir pusaran itu.


Tapi lagi-lagi aku merasa... Sedang di permainankan olehnya sekali lagi.


Tak membutuhkan waktu yang lama tubuhku sudah hancur lebur ketika mencapai titik akhir pusaran itu, tapi aku tidak merasakan apa-apa... seakan aku berada di pusaran air laut yang begitu cepat menyerap segalanya.


Lalu saat itu...


Aku melihat Verly keluar dari perubahan mulutnya menjadi sosok manusianya kembali.


Perlahan tangan manisnya menggapai wajahku.


"Sayang... anda sekarang terserap oleh laut akhir, dan anda tidak bisa merasakan apa-apa yang berarti... serangan ini tidak akan berefek terhadap anda, dan sekali lagi... anda telah menjadi mainannya yang terus membuat anda di permainkan, Lambaelda melebihi perkiraan anda, ini bukan saatnya untuk bertarung dengan serius, tapi izinkan saya untuk sedikit menghukumnya, boleh ya.. suamiku?" (Verly)


Verly menunjukan wajah bahagia dan tulus kepadaku.


Aku merasa Verly juga memiliki sedikit dendam terhadap Lambaelda, ya itu terasa di hati kita.


"Lakukanlah setelag aku menghajarnya."


Aku tersenyum lebar setelah mengetahui Lambaelda hanya mempermainkanku sejak awal, itu seolah membawaku ke suasana yang membuatku berdebar.


Karena aku pikir ini akan sedikit menarik.


Segeranya aku langsung memerintah Verly menuju kehadapan Lambaelda, dengan dirinya yang sejak awal memendam perasaan ingin saling bertarung.


Dia terus menembus pusaran akhir ini hingga menuju... di kehadapan Lambaelda.


"LAMBAELDAAA..!!" (Verly)


"Verly!?.. kenapa dia yang muncul?"(Lambaelda)


Verly langsung mengeluarkan pedang katana dari inti keberadaan dirinya dan langsung menerjang Lambaelda yang berada tepat di hadapanya.


Tanpa mengayunkan senjatanya sendiri....


Verly sudah memotong kedua lengan Lambaelda.


Dan secara langsung ujung pedang itu telah berada di depan wajah Lambaelda.


Verly menodongkan pedangnya ke arah dekat wajah Lambaelda dan menunjukan wajah kegilaannya.


"Verly kah?.. apa suamimu sudah tamat?.. tapi kurasa tidak, jangan dekatkan pedang mesumu itu ke wajah dekatku." (Lambaelda)


*Fiuhh*


*Duarrrr*


Hanya membutuhkan sedikit hembusan nafas, Verly langsung terpental jauh dari pandangan Lambaelda.


"Jangan dekat-dekat denganku dewa mesum, keberadaanmu hanyalah bagaikan kotoran semesta, kau membuat tanganku tidak bisa beregenerasi lagi, tapi.. apakah kau sebegitunya menganggap perkataan diriku yang mencintai suamimu begitu serius ha?"(Lambaelda) dia tersenyum lebar.


"Hee... tentu saja, kau boleh menghinaku, menodaiku, membunuh diriku, tapi... jika kau mencoba merusak hubungan suami-istri yang sudah terjalin, tentu saja aku tidak bisa diam kan ha!?.. bodoh... apa lagi kau sudah sedikit jauh mempermainkan suamiku." (Verly) tersenyum lebar.


"Kau yang sekarang... tidak bisa membuat siapa saja takut, dirimu yang dulu telah hilang, namun... jika kau menginginkan sebuah pertarungan... aku akan meladeni keinginanmu, mumpung kita berada di dalam kehampaan... kita bisa bertarung secara leluasa."(Lambaelda) merasa tersanjung.


"Tidak, tapi setidaknya... aku harus menghukum dirimu, karena sejujurnya kau begitu sulit untuk di jatuhkan, aku akan membawamu kedalam... akhirat mutlak dengan tingkatan rendah." (Verly)


Verly mengulurkan tanganya kepada Lambaelda yang berada sangat jauh darinya.