
Satu hari berlalu...
[Satu Hari Lagi sebelum Berkumpul]
Di suatu tempat...
Tepat di tengah kota... Dengan
cahaya bulan di malam hari menjadi
sorotan mata.
Ribuan orang datang dalam satu
acara, tidak ada yang tahu pasti
bagaimana acara ini di mulai namun.
Mereka tahu bahwa ini adalah
kesempatan untuk mengakhiri
perjalanan di tangga ini, dengan
mengetahui informasi keberadaan
Tuhan yang memimpin tangga
tersebut.
Dan jelas.. Mereka semua yang
hadir berkumpul di acara ini telah
terlepas dari harapan mereka yang
di berkahi oleh tangga ini.
Satu hal lagi.. Mereka-mereka inilah
yang di sebut dengan orang yang
bebas, artinya orang-orang yang
mampu mempengaruhi tangga ini.
Yang berarti... Mereka orang-orang
kuat yang bisa di bilang setara
dengan Kenma.
"Ya ampun... Aku sedikit benci
dengan keramaian ini."
Sekarang aku sedang berjalan
menghampiri keramaian tersebut
di tengah kota ini, dengan satu
acara yang mereka semua nantikan.
Aku juga tidak sabar, melihat apa
yang Kenma akan tunjukan padaku
ketika permintaan bosanku ia
terima dengan begitu saja.
Walau aku tidak terlalu peduli sih.
"He?.. Kau..."
Suara yang begitu tak asing bagiku
terdengar begitu dekat dengan
keberadaanku, seolah-olah ia
mencoba memanggil namaku.
Aku yang yakin dengan panggilan
tersebut langsung membalikan
badan dan menoleh ke arah suara
tersebut berasal.
"He?"
Untuk sesaat... Aku merasa terkejut
sekaligus terheran-heran ketika
melihat Sakuya berada di tempat
ini bersamaan denganku.
Aku tidak mengira akan bertemu
dengan salah satu anggotaku
secepat ini, bahkan dengan tujuan
yang sama.
"Re-Retnan?.. Syukurlah.. Aku bisa
bertemu denganmu secepat ini,
aku pikir mustahil lagi berkumpul
bersama kalian."(Sakuya)
Dia langsung berlari menghampiriku
yang tak jauh darinya.
Dan tentu, aku masih heran dengan
kehadiranya.
"Bagaimana kau bisa sampai di sini?
dan apa kau tahu dimana yang
lainnya?"
Aku dengan serius mengatakanya,
karena tempat ini juga aku tidak
bisa dengan santai mengobrol.
"Eee.. Entahlah, tapi kurasa... Itu
tergantung harapan apa yang
membawa mereka, jika mereka
tidak menyadarinya.. Bisa-bisa
mereka berada di dunia yang
berbeda. Karena harapan ini dengan
cepat akan melupakan apa yang
menurut mereka berharga."(Sakuya)
Mendengar bahwa mereka masih
menikmati liburan ini dalam artian
yang berbeda, kurasa.. Mereka akan
menyadarinya sendiri, dan itu sudah
lebih dari cukup.
"Lalu... Bagaimana bisa kau tidak
seperti lainnya?"(Retnan)
"Ah.. Aku baru saja ingin bertanya
hal yang sama lebih dulu. Karena
aku memiliki dua sisi yang dimana
itu adalah sihir Alpha dan Omega
mereka tidak memiliki wujud sejati,
singkatnya... Mereka adalah
sekedar aspek realita, bukan hal
yang menjadi realita tersebut.
Kau bisa menyebutnya dengan
dasar. Maka dari itu mereka tidak
terikat oleh harapan atau semacam
itu, dan itu juga berefek padaku."
(Sakuya)
"Oh begitu rupanya, Aku baru
menyadarinya. Jika di pikir kembali,
kau dan Alpha memiliki kepribadian
yang sama, atau jangan-jangan..."
Saat itulah aku menyadari sesuatu
ketika aku mulai berpikir kembali
tentang Sakuya.
Di saat yang sama... Aku melihat
Sakuya memejamkan mata.
"Benar, Sakuya yang kau kenal
telah tiada, namun jiwanya bersama
dengan kami. Artinya... Dia tetap
ada hanya sebatas jiwa seorang
Vampire. Dan di tengah acara ini..
akulah Alpha yang mengambil
ahlih."(Sakuya)
"Begitu ya, Sakuya yang berada
di pemandian itu dapat memakai
sifat Alpha & Omega dengan kehendaknya sendiri, tapi... Mereka
juga dapat mengambil kehendak
Sakuya, mereka saling membagi
otoritas. Kurasa... Kau tidak perlu
ikut campur di acara ini."(Retnan)
"He?.. Ke-Kenapa."(Sakuya) dengan
rasa terkejut.
"Apa tujuanmu datang kemari?"
Dan sekali lagi.. Aku melihat Sakuya
memejamkan mata.
Yang aku pikir itulah bentuk mereka
saling membagi kesadaran.
"...... Tentu aku ingin mengetahui
Tuhan di tangga ini, dan akan
membawa kita segera pergi ke
tangga selanjutnya."(Sakuya)
"Tidak perlu, karena kita memiliki
tujuan yang sama, jadi kau bisa
mengandalkan masalah ini padaku.
Meski dalam arti aku tidak ingin
kau ikut campur."
Aku mengatakanya dengan santai,
meski begitu.. Firasat yang
membawa diriku ke tempat ini, mengatakan akan ada sesuatu yang
orang yang kukenal.
"Yah.. Jika itu perintah dari kapten,
yang aku maksud adalah dirimu,
kurasa tidak ada pilihan lain."
(Sakuya)
Aku sedikit tekejut, mendengar
jawabanya sesingkat itu, seolah-olah
itu terasa penuh dengan kepecayaan.
"Ya.. Kau tahu, untuk pertama
kalinya aku merasa jatuh cinta
dengan rasa tulus dari perasaanku.
Kau sama sepertinya."(Retnan)
"Eh?.. A-Apa yang kau maksud?"
(Sakuya) dengan rasa malu.
"Tidak ada, aku hanya merasa..
Rasa bosanku akan hilang untuk
hari ini."(Retnan)
Tak lama...
Tiba-tiba di tengah acara ini..
Sebuah bulu-bulu surgawi seperti malaikat berjatuhan di semua
tempat dari atas langit.
Semua orang yang telah berkumpul
berada di sekitar, langsung merasa
terheran-heran dengan penampakan
bulu-bulu tersebut.
Hingga.. Aku melihat suatu sosok
mulai turun dari atas langit
menghampiri kami semua secara
perlahan.
Itu tidak terlalu begitu jelas karena
tertutupi oleh bulu-bulu tersebut,
namun setelah aku melihat sedikit
penampakan topeng, kupikir itu
adalah dia.
***
"Wahh.. Wah... Ternyata banyak juga
aku mengundang orang-orang,
tapi ini akan menjadi semakin
menarik."
Beberapa saat kemudian.. Sosok
tersebut berhenti untuk turun
menghampiri kami, dan berakhir
di atas gedung pencakar langit
yang tidak terlalu menjulang tinggi
di tengah kota.
Dia berdiri dan memandangi kami
dari atas ketinggian, seolah-olah
kami seperti sekumpulan binatang
yang bisa ia pandang rendah.
Di saat itulah, aku bisa menebak
bahwa dia tidak akan ikut
berpatisipasi dengan permainanya
sendiri, yang jelas.. Hanya kamilah
para orang-orang yang telah di
undangnya yang akan menjadi
permainan nya.
"Baiklah.. Aku mulai darimana ya,
oh ya aku belum memperkenalkan
diri. Namaku... King Almus. Orang
yang mengetahui keberadaan Tuhan
di tangga ini. Tidak, sebenarnya...
Beberapa dari kalian mungkin telah
mengetahui keberadaan Tuhan di
tangga ini, namun.. itu terlihat
mustahil untuk mencapainya
dan anda lebih memilih jalan terbaik
yaitu.. Mengikuti acara ini. Dengan
kata lain... Aku bukan hanya sekedar
memberi informasi Tuhan tersebut,
namun... Mengirim siapa saja yang
menjadi juara ke tempat di mana
Tuhan di tangga ini berada..!!"
Teriakan itu menggelegar.. Hingga
membuat mereka-mereka merespon
dengan rasa terheran-heran namun
itu juga di iringi dengan rasa
semangat mereka.
Temasuk diriku.
Mendengar hal itu semakin mudah
untuk di raih, kurasa aku juga turut
bersemangat.
"Baiklah Retnan, kalau begitu.. Aku
akan mencoba mencari mereka,
aku menyerahkan masalah ini
padamu. Kalau begitu sampai jumpa
di hari kelima."
"O-Ohh..."
Sakuya langsung melangkah mundur
dari perkumpulan acara ini, dan
berjalan pergi meninggalkan diriku.
"Sekarang.. Aku akan memberitahu
bagaimana game ini berjalan, satu
hal yang kalian harus tahu. Tidak
ada peraturan untuk saling
membunuh, karena acara ini...
adalah saling membunuh."(Almus)
"Ehhh...!?"
Beberapa orang merasa terkejut
ketika mendengar pernyataan
tersebut, namun kebanyakan dari
mereka justru bersemangat
mendengarnya.
Dan apa yang aku pikirkan ternyata
benar, game ini tidaklah lebih dari
sekedar membunuh.
"Sebelum aku memulai, jika kalian
merasa takut, kalian bisa kabur
dari acara ini selagi masih belum
di mulai. Jadi... Lakukanlah..!!"
(Almus)
Dalam beberapa saat, sedikit dari
mereka memilih untuk keluar dari
acara ini.
Dan kebanyakan dari mereka
menunjukan rasa akan haus
membunuh.
Jujur saja, aku benci dengan
suasana ini, melihat mereka itu
terasa menjijikan, membuatku ingin
segera menyelesaikan masalah ini.
"Dan sekarang... Aku akan
menjelaskan.. Bagaimana permainan
ini berlangsung."(Almus)
Pandangan mereka semua langsung
tertuju kepada orang itu yang
perlahan mulai membuka topengnya.
Dan secara langsung menampilkan
sosok yang menurutku sendiri,
seperti seorang pesulap.
Dimana ia memiliki topi pesulap
yang tiba-tiba hadir, rambut hitam
dan wajah tersenyum lebar.
Dan satu hal lagi yang membuatku
yakin bahwa dia memiliki
penampilan yang identik dengan
pesulap, ketika ia melepaskan
jubahnya dan terlihat bahwa ia
memakai pakaian seperti tuxedo.