
"Verly?.. "
Aku tidak mengira dia akan
menunjukan reaksi terkejut yang
terlihat begitu serius.
Ini membuatku semakin ragu untuk
berkata-kata.
Perlahan.. Ia melangkah berjalan
menghampiri ku hingga semakin
cepat ia melangkahkan kakinya.
Dan pada akhirnya...
Ketika dia berada di hadapanku,
untuk sekali lagi ia memeluk ku.
"Jangan tunjukan sesuatu seperti
itu di hadapan ku. Aku takut itu
melukai dirimu sendiri. Jika
memang ada orang yang ingin
menentangmu, hadapilah dulu
istrimu ini. Kekuatan seperti itu
tidak akan menghasilkan apa-apa.
pada akhirnya hanya akan merubah
cara pandangan mereka."
Rasanya... Dia merasa ketakutan,
meski aku merasa dia bukanlah
Verly yang sesungguhnya.
Tapi... Entah kenapa rasa sayang
yang ia tunjukan, seakan itu
menggambarkan perasaan Verly
yang sebenarnya.
".... Yah maaf, kau begitu tertekan
melihatnya, baiklah... selanjutanya,
biar aku saja yang menyiapkan kopi,
kau lebih baik beristirahat."
"Ta-Tapi..."
Aku langsung pergi menuju ke
dapur, walau sebenarnya aku
bingung menghadapi Verly yang
sifatnya berbeda jauh dengan
yang aku kenal.
Ini membuatku ingin segera
mengakhiri cerita di tangga ini.
Hingga malam tiba...
***
Kini aku berada di dalam kamar
bersama dengan Verly.
Tepat duduk di atas kasur.
Dan ya, ini malam pertama kita
setelah menjadi pengantin baru.
Sejujurnya... situasi inilah yang
benar-benar memicu hasratku
sebagai seorang pria.
"Say-Sayang... apakah.. ini terkesan
terburu-buru?.. kenapa kau malah
memalingkan wajahmu dariku?"
"Entahlah, dari semua wanita yang
dekat denganku, hanya seseorang
yang bernama Verly apa lagi sosok
seperti ini, benar-benar sulit untuk
diriku."(Retnan)
"Begitu ya, kau memang pemalu,
padahal kita sudah menikah.
aku juga ingin..."
"Baiklah..."
Aku sambil berdiri dari atas kasur.
"Dari pada melakukan hal dewasa
seperti itu, kenapa kita tidak pergi
mengunjungi suatu tempat. Yang
setidaknya bisa membuat kesan
indah di malam ini. Dan.. di akhiri
dengan mengunjungi hotel. Meski
aku tidak yakin bisa membuatmu
bahagia."
Aku sambil mengulurkan tanganku
kepada Verly yang masih duduk
berada di atas kasur tanpa memakai
pakaian sama sekali.
".... Kupikir itu ide yang bagus.
apa lagi itu di akhiri dengan Hotel."
Verly perlahan menerima uluran
tanganku tersebut.
Dan sekali lagi... Aku membuatnya
senang.
Dan...
Apapun yang terjadi, malam ini..
aku harus segera mengungkap
konsep tangga ini, dan pergi
bersama dengan mereka lagi.
Jika hal itu sulit untuk di lakukan,
maka tidak ada pilihan lain,
selain menghancurkan semuanya.
Tangga ini benar-benar membuatku
muak.
"Yosh.. ayo kita pergi."
Pada akhirnya... kami setuju dengan
keputusan yang kami buat bersama.
Kami langsung dengan segera
bersiap-siap untuk pergi.
***
Beberapa jam kemudian, akhirnya
kami telah sampai di tengah kota
yang padat penuh aktivitas para
penduduk.
Di sini.. kami mulai berjalan di
pinggir kota mencari berbagai
tempat, yang cocok untuk kita
berdua.
Seperti toko swalayan yang berada
di pinggiran kota, atau bahkan
sesuatu yang lebih sekedar toko,
seperti mall.
Namun...
"Verly, kenapa kau tampak tidak
terlalu bersemangat? kita sekarang
berada di tempat yang jauh lebih
menyenangkan."
Aku bingung, apa yang sebenarnya
Verly pikirkan. Aku hanya melihat
dia hanya sekedar tersenyum sambil
menggandeng tanganku dengan
erat.
Padahal ini berada di situasi yang
seharusnya lebih dari sekedar
menunjukan senyuman.
"Bersama denganmu... sambil
bergandengan tangan seperti ini,
sudah membuatku cukup bahagia.
Tapi kalau boleh jujur... aku ingin
kita segera pergi ke hotel."
Entah kenapa, semakin lama,
diriku semakin di buat kesal
oleh tangga ini.
Aku yang seharusnya tidak ingin
pertemukan oleh sesuatu yang
membuat diriku terus memikirkanya.
Ini seakan tangga ini memaksaku
untuk memanggil Verly.
"Baiklah, aku benar-benar muak,
ayo kita segera selesaikan
permainan ini."
Aku dengan wajah sedikit kesal.
"Sa-Sayang."
Aku langsung menarik tangan Verly
dan sedikit memaksanya untuk
terus berjalan.
"Ke-Kenapa kau terlihat begitu kesal
apa aku telah melakukan hal yang
buruk tanpa aku sadari?"
"Hem? tidak, rasa kesal ini bukan
di tunjukan untuk dirimu, tapi
diriku sendiri yang tidak bisa sedikit
lebih santai, andai saja aku bisa
merokok kembali, mengatasi hal
seperti ini pasti bisa lebih santai."
Aku terus memegangi tangan Verly
dan pergi keluar dari tempat
keramaian tersebut.
Ketika kami berada di pinggir kota
sekali lagi.
Hal yang tidak terduga terjadi...
Dimana seseorang tiba-tiba hadir
kepada kami dan secara langsung
membawa Verly dengan cepat.
"Sa-Sayang...!!"
Dia berlari begitu cepat, hingga aku
tidak bisa mengamatinya lebih lama.
Tapi...
"Astaga... tidak Verly, tidak dunia ini,
tidak adanya rokok, semua itu
benar-benar membuatku kesal."
*Swoosh*
Tak membutuhkan waktu yang
lama, dalam satu detik aku sudah
berada di hadapanya.
Melihat Verly yang terlihat tersiksa
di tangan seseorang yang menutupi
diri memakai jubah tersebut...
Untuk sekali lagi, membuatku muak.
"Bye.."
*TIK*
Suara jentikan jariku terdengar...
Hingga secara langsung
memghampaskan seseorang
tersebut yang sebelumnya mecoba menculik Verly.
Melihat Verly yang jatuh dari
genggaman orang tersebut, aku
langsung segera menerima dirinya
di tangan ku.
"Kau.. tidak apa-apa?"
Aku mencoba menanyai keadaanya.
"Iya, terima kasih."
Melihat Verly baik-baik saja, kupikir
ini waktu yang tepat untuk bertanya
apa tujuan orang itu sebenarnya.
Perlahan... aku menurunkan Verly
dari gendongan tanganku.
"Baiklah, Verly dengarkan aku."
Aku memegang kedua bahunya
dan menatapnya dengan serius.
"I-Iya?"
"..... Maaf, tapi lebih baik kau segera
pulang, aku masih ada beberapa
urusan yang harus aku selesaikan.
Dan mungkin... Aku tidak akan
kembali."
*Plak*
Suara tamparan dari tangan Verly
terdengar keras...
Aku terkejut, Verly secara tiba-tiba
menamparku dengan wajah yang
terlihat sedih.
Meski aku tidak bisa melihat
matanya, namun aku yakin,
untuk sekali lagi aku membuatnya bersedih.
"Apa kau benar-benar serius
mengakhiri cinta kita yang baru
bersemi? aku tidak bisa hidup
tanpa kehadiranmu, kau tahu.. kau
itu segalanya bagiku. Tolonglah..
jangan berkata sesuatu yang
membuat hatiku bersedih."
Untuk sekali lagi, aku tidak tahu
bagaimana cara menanggapinya.
Rasa sedih yang ia tunjukan seakan
mengalir dalam diriku.
Ini pertama kalinya, seseorang
memberikan cinta yang begitu
tulus kepadaku.
Hingga aku berpikir, untuk sulit
meninggalkanya.
"Maaf... keputusanku, adalah mutlak
aku hanya ingin..."
Aku langsung meraih wajahnya
dan segera memberikan ciuman
dari bibir ke bibir, sebagai tanda
rasa sayang yang aku berikan.
"Hmmpp.."
Ini pertama kalinya bagiku...
merasa jatuh cinta.
Aku tidak pandai dalam mengenali
cinta, bahkan mengungkapkanya,
aku hanya belajar sedikit, dari
apa yang Verly tunjukan untuk
mengenali rasa cinta.
Perlahan... kami mulai melepaskan
ciuman tersebut secara bersamaan.
"Aku berjanji, jika kita bertemu
kembali, aku akan melakukan hal
yang kau inginkan itu. Dan selama
itu... tolong jangan bersedih."
Aku sambil mengelus rambutnya
dengan rasa senangku.
Tapi... sejujurnya ini akan menjadi
perpisahan kita.
Walau aku tidak bisa mengatakan
hal tersebut.
"Baiklah aku pergi, jagalah dirimu,
selamat tinggal."
*Swoosh*
Dalam sekejap... aku menghilang
dari pandangan Verly.
Yang tidak mengucapkan satu kata
pun.