
Tempat suci Altair...
Aku cukup terkejut tempat itu memiliki banyak pengunjung seperti halnya makam leluhur, banyak dari mereka yang melakukan ibadah namun tetap menutup diri mereka, bahkan aku jarang melihat mereka saling berbicara.
Ini berbeda dengan kota-kota sebelumnya, memang ini masih di tengah gurun dengan mereka yang bermodal menginjakan kaki di lantai untuk melakukan ibadah atau berdoa tanpa adanya langit-langit yang menutupidiri mereka dari sinar matahari.
Tapi...
Justru hal itulah yang membuat mereka terlihat lebih mengekspresikan diri mereka saat berdoa.
Sesaat mataku tertuju pada isi makam tersebut yang ternyata memang benar, ada sebuah senjata tombak menancap ke makam tersebut, dan itu menjadikan alasan sebagai penghubung doa mereka ke tuhan.
"Oi Retnan.. kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan, karena... sebentar lagi... sangtuhan akan turun menerima doa mereka, yang kumaksud itu adalah Pure Evil, aku memiliki firasat buruk jika kita tetap berada di dari wilayah doa ini."(Afreon)
Aku sedikit terkejut melihat reaksi Afreon yang tiba-tiba memasang ekspresi serius dan ragu.
"O-Ohh.. baiklah kita-"
Sesaat mataku tertuju pada makam sekali lagi, saat aku melihat bulu-bulu surgawi jatuh tepat di atas tombak tersebut.
Hingga aku melihat sesosok malaikat dengan sayap putih pakaian yang serba putih lalu dia terlihat menutup matanya.
Perlahan sosok itu mulai turun menghampiri tombak tersebut, sedangkan mereka yang menyembah mulai berdoa ketika sosok itu muncul.
Ini terasa seperti aku sedang melihat sosok yang agung, tapi tidak dengan Afreon yang memasang wajah kesal dan terlihat marah akan situasi ini.
Kemudian Afreon menyuruhku untuk sedikit menjauh dari lokasi saat ini dengan wajah yang benar-benar ragu.
"Sudah sekian lama... saya tidak mengunjungi rumah saya sendiri"
Aku melihat sosok itu mulai berbicara di hadapan mereka semua yang sedang menyembah.
Dan aku terus berjalan mundur bersama Afreon untuk menghindari situasi ini.
"Ada alasan khusus saya datang kemari selain melihat kalian semua sibuk berdoa, dan sebelum itu saya ingin kalian semua membuka diri"
"He?"
Sekali lagi aku dan Afreon tersentak mendengarnya.
Perlahan mereka-mereka yang berada di wilayah ini membuka diri mereka.
Lalu Afreon memberiku isyarat untuk membuka diri juga.
"Sekali lagi... untuk generasi sekarang.. yang baru terlahir di dunia ini yang masih belum mengetahui saya, ingatlah moment ini baik-baik, tuhan kalian hanyalah saya sendiri, teruslah sembahlah aku dalam situasi apapun, maka.. dunia ini akan terus berada dalam kedamaian tanpa adanya rasa takut akan kematian, dan... aku memperkenalkan nama sekali lagi... namaku... Jajara Corneus."
Semua orang langsung serontak saat orang itu menyebutkan namanya.
Dan aku sudah menduga bahwa orang itu memang garis keturunan cahaya bulan, tidak salah jika Afreon harus benar-benar memikirkan cara yang matang untuk menyelesaikan tujuanya.
"Saya datang kemari... untuk menyelesaikan masalah yang harus menggunakan senjatasuci, untuk menghapus seseorang yang telah membunun rekan saya."(Jajara)
Perlahan aku melihat orang itu menggapai tombak yang menancap di hadapannya dan langsung mencabutnya.
Awalnya tidak ada reaksi apapun, karena kupikir jika senjata yang sangat di hormati tersebut di ambil oleh seseorang yang terhormat, akan ada hal yang tak terduga.
Hingga...
Aku melihat beberapa orang mengeluarkan darah dari mulut mereka dan perlahan mereka seakan merasa kesakitan.
Dan.. hal yang tak kuinginkan terjadi...
"Tidak... mungkin..."
Aku melihat mulut Verly yang menempel berada di telapak tangan kiriku juga ikut mengeluarkan darah secara terus menerus.
Saat ini aku berpikir... bahwa inilah efek dari tombak itu.
Namun aku benar-benar tidak menyangka efeknya bahkan sampai menembus dimensi milik Verly.
"Bagi kalian yang merasa kesakitan, itu berarti kalian masih memiliki dosa yang tak bisa di maafkan, inilah kekuatan dari senjata suci yang akan menjadi hukum dosa besar, tidak peduli pelindung apa yang kalian gunakan, selama kalian berada di wilayah suci ini... kalian akan terus menjadi samsak abadi, jika kalian semua mencoba melarikan diri, itu sama saja kalian menolak hukum tuhan, dan layak untuk di bunuh."(Jajara)
"Verly... woi, sial..."
Aku bergumam dengan wajah kesal mencoba memanggil Verly.
"Dengan begini... saya akan membunuh seseorang yang telah membunuh rekan sejati saya, yang tidak lain seseorang yang telah membunuhnya adalah... Verly si naga sekaligus menjadi ancaman alam semesta."(Jajara)
"Ve...Verly katanya!?"
Tidak.
Itulah yang terus aku pikirkan.. tidak mungkin jika kedatanganku kemari ada kaitanya dengan Verly.
Dan jika memang ini sudah di rencanakan oleh Verly seharusnya dia memberitahuku untuk mengunjungi Altair, namun aku datang kemari atas keinginan Afreon.
Ini sesuatu yang sangat kebetulan terjadi.
"Di sana kau rupanya..."
*FRING..!!*
"He?.."
Tanpa aku sadari...
seseorang yang bernama Jajara keberadaan nya langsung berada di hadapanku...
Tidak ada tanda-tanda alam yang breaksi kepadanya saat dia belari menghampiriku.. itu terasa seperti dia berlari melampaui waktu.
Aku yang seharusnya bisa menangkap reaksi yang melebihi cahaya justru di bantah olehnya.
"Dan sekarang..."(Jajara)
Aku merasa terhenti oleh waktu karena dia melebihi kecepatan reaksi yang aku miliki.
Hingga perkataanya membuatku bingung saat dia perlahan membentuk jarinya seperti jentikan dan secara perlahanmengarahkan jentikannya
ke arah dahiku.
Dan...
"Bye... Bye... "(Jajara)
*TIK*
Hempasan angin yang begitukuat dalam satu jentikan membuat diriku terlempar menembus setiap bangunan mengabaikan hukum kuantum tidak peduli seberapa banyak aku menabrak setiap bangunan deru angin ini terasa tidak bisa berhenti.
Hingga aku berakhir...
menabrak di salah satu piramida.
Perlahan aku mulai bangkit kembali.
"Sial... aku memang tidak merasa sakit karena memakai Another Body, namun... Verly, oi Verly.. jawablah panggilanku."
Sekali lagi aku mencoba memanggil Verly, yang dari tadi terus mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Ya, saya berada di sini"(Verly)
Dan akhirnya aku bisa mendengar balasan Verly.
"Kau.. tidak apa-apa?"
Aku mencoba menanyakan keadaannya, dengan wajah sedikit cemas.
"Tentu, selama suami saya merasa baik-baik saja, itu sudah cukup, lagi pula... saya sangat tidak menyukai pertemuan anda denganya." (Verly)
Mendengar perkataanya aku merasa percaya bahwa Verly tidak mungkin melakukan semua ini.
"Verly... berikan raga dan jiwamu sebagai sarung pedang... VERENTEUZ...!!"
Namun...
Sebelum aku mengeluarkan pedang Verly secara penuh...
Jajara sudah berada di hadapanku.
Aku yang menyadarinya langsung membatalkan pemanggilan senjata.
"VERENTEUZ kah?... tak kusangka kau langsung mengeluarkan senjata andalanmu milik... ibuku." (Jajara)
"He?... I..ibumu katamu?"
Aku memasang wajah terkejut mendengar pernyataanya yang benar-benar membuatku tidak bisa berkata apa-apa.
Lagi-Lagi... sesuatu yang tak terduga terjadi.
"Ya.. si pelacur Verly itu adalah ibuku, dan tak aku sangka dia menjalin hubungan erat denganmu."(Jajara)
Aku merasa apa yang dia katakan sejujurnya hanyalah omongan belaka, aku yakin Verly sejak dulu memilih untuk tidak terbuka secara publik atau menjalani hubungan dengan orang lain.
"Tuan.. izinkan saya mengambil kesadaran anda, saya ingin menjelaskan sesuatu kepadanya."(Verly)
Perlahan kesadaran dan jiwaku tergantikan oleh Verly.
"Sayang sekali... aku tidak bisa lagi melihat wajah cantikmu ibu, dan.. akhirnya kita bertemu kembali setelah kejadian yang membuatmu menjadi ancaman semesta."(Jajara)
"Hee.. kau masih memanggilku dengan sebutan "Ibu" kah... padahal faktanya aku tidak pernah melahirkan dirimu dalam rahimku atau apapun itu yang berhubungan denganku, tapi jujur saja... mendengar kata "Ibu" membuatku menggeli, tapi satu hal yang harus kau tahu, jika kau menggores sedikit saja badan suamiku, kau akan benar-benar ku kirim ke akhirat mutlak."(Verly)
Verly sedang memakai tubuhku, dan aku bisa mendengar percakapan mereka.
Tapi aku melihat Verly yang sejak awal terlihat menikmati suasana ini di lihat dari ekspresi yang dia tunjukan.
"Ibu tetaplah ibu, aku ingin menerima cinta seorang ibu, tapi jika ibu sudah mejalin hubungan cinta, kurasa aku juga harus memanggilnya ayah bukan? tapi itu sebelum... kau merebut apa yang aku punya, kedua bola mataku kau ambil begitu saja dari anakmu, hingga... membunuh rekanku, memang kita tidak ada hubungan darah, tapi kau yang dulu selalu merawatku adalah bukti bahwa kau menerima diriku sebagai anakmu." (Jajara)
"Aku benar-benar ingin tertawa mendengar ocehanmu, jadi singkatnya... aku memperalatmu kah? aku baru ingat.. kau adalah cucu si kakek itu, yang tiba-tiba datang meminta kepadaku untuk merawat seorang bayi, jujur saja itu hari-hari yang paling membosankan yang pernah aku jalani, tapi pada akhirnya aku mendapatkan apa yang ku inginkan."(Verly)
.
.
.
***
Jutaan tahun yang lalu...
Di suatu desa terpencil...
"Ibu... Ibu... lihatlah.. aku cantik seperti ibu bukan? dengan memakai kimono juga."(Jajara)
" Tidak boleh, kau anak laki bukan, seharusnya terlihat lebih tampan, sini.. biar ibu yang memakaikanmu pakaian agar terlihat lebih tampan."
Verly sambil mengulurkan tanganya kepada anak kecil yang bernama Jajara itu.
"Tidak mau..!! aku ingin menjadi seperti ibu, aku ingin mempunyai dada yang besar seperti ibu agar aku selalu bisa bermimpi indah di setiap saat."(Jajara)
"Hee.. kau tidak boleh mengatakan sesuatu yang tabu di umurmu yang baru menginjak lima tahun, tapi... ibu lebih suka seseorang yang tampan dan berani, mungkin ibu akan jatuh cinta dengan orang seperti itu."
Verly sambil merendahkan dirinya lalu tersenyum kepada Jajara yang kecil.
"Wah.. apa itu juga termasuk Jajara bu?"(Jajara)
" Tentu... ibu sangat menyukai rasa cinta, sebentar lagi... makan malam tiba, yuk ke ruang makan."
Verly langsung menggendong Jajara lalu membawanya ke ruang makan.
"Wah.. ini terlihat enak ibu, kalau soal begini ibu memang yang paling pandai." (Jajara)
"Syukurlah... sebentar lagi tengah malam, sebaiknya segera tidur ya."
Verly dengan wajah bahagia mengelus rambut Jajara yang sedang sibuk makan.
"Tapi.. untuk kali ini saja ibu, bolehkah... ibu melepaskan kain yang menutup mata ibu? dan... aku ingin meminum ASI ibu untuk malam ini saja."(Jajara)
Verly melihat wajah Jajara yang sangat menginginkan kedua hal itu.
" Kalau soal ASI ibu bisa melakukanya, tapi soal membuka kain penutup mata ini, ibu tidak bisa."
"He?kenapa.. aku ingin melihat wajah cantik ibu." (Jajara)
"Pokoknya tidak boleh, bahkan tuhan sendiri berhendak untuk tidak melakukanya, baiklah setelah makan ini ya"
Beberapa menit kemudian... Verly membawa kembali Jajara ke kamarnya lalu memberikan ASI kepada jajara yang berada di pangkuanya.
"Ahhh... kau masih saja menyukai ASI ibu di umurmu yang sudah lima tahun, tapi... selama itu masih dalam tujuanku, kurasa itu tidak apa-apa."
Verly dengan wajah bahagia memberikan ASI kepada Jajara yang berada di pangkuanya.
Hingga... setelah Jajara mulai tertidur, Verly perlahan melangkah pergi berjalan menghampiri kamar mandi meninggalkan Jajara.
"Akhirnya... aku bisa menikmati pemandianku."
Perlahan Verly melepaskan setiap pakaianya sendiri lalu memasuki pemandian.
"Sudah lima tahun kah... masih kurang lima tahun lagi agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, ini sangat membosankan."
Verly yang sedang berendam di pemandian, tiba-tiba suatu kehadiran datang di hadapanya.
Itu terlihat seperti sesosok pria berotot menghampiri Verly yang sedang berendam.
"Hee.. kau kah Corneus, tidak biasanya kau datang mengunjungi rumah pondok ini, atau mungkin.. kau datang kemari untuk meminta pelayananku?"
Verly mengatakan hal itu dengan wajah bahagia.
"Ya, izinkan aku ikut berendam bersamamu."(Corneus)
" Tentu... masuklah meski sedikit terasa sempit."
Perlahan Pria itu melepaskan setiap pakaiannya sendiri lalu berjalan memasuki pemandian bersama Verly.
Mereka berdua dalam satu pemandian.
"Oh ya bagaimana kabar anak itu Verly?"(Corneus)
Pria itu sambil mengelus-elus kaki Verly.
" Ya seperti biasanya, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun soal anak itu, lalu... apa benar kau akan memberikan kepadaku sesuatu yang seharusnya kau tidak boleh berikan ke sembarang orang dengan begitu saja."
Verly seakan menikmati suasana ini.
"Ya, karena ini permintaan Argeus saat sebelum beliau meninggal, dua ras itu akan terus selamanya di pertemukan dan akan terus merubah sejarah, aku ingin kau mengambil apa yang berharga pada diri anak itu, untuk merubah sedikit sejarah yang akan datang, termasuk cara pandangannya." (Corneus)
Perlahan... tangan Corneus mulai merabah ke paha Verly.
"Ya, aku menerima tawaranmu karena aku membutuhkanya untuk membuka kekuatan diriku yang sebenarnya, dan diri anak itu yang aku butuhkan."
Verly merasa Corneus semakin menunjukkan wajah mesum dan perlahan merabah seluruh tubuh Verly.
"Yah karena ras cahaya bulan memiliki sesuatu yang sangat berbahaya di mata... mereka." (Corneus)
"Ehmmpp... tunggu, kau.. membuat tubuhku menjadi terbawa suasana."
Verly merasa benar-benar sudah terlarut oleh suasana ini.
"Bibirmu begitu menawan... bolehkan aku sedikit mencicipi rasa di mulut mu itu?.." (Corneus)
"Ehmmpp.. Tentu, aku akan melayanimu untuk malam ini lagi pula... aku juga dalam mood bagus."