
[EPISODE INI DAN SETERUSNYA
AKAN BERPUSAT PADA
FLASHBACK SAAT Verly MEMULAI KEHANCURAN DI LAPISAN ATAS]
***
Di suatu tempat...
Di dunia gurun tanpa akhir yang di ciptakan oleh Verly.
Semuanya hanya terlihat lautan
pasir tanpa ada tanda-tanda
kehidupan.
Dan kini Verly sedang berada
di dalam goa bersama seseorang.
"Apa kau akan benar-benar akan
pergi ke sana... Verly?"
"Iya, itulah perintah terakhir dari
tuanku. dia ingin aku menghancurkan
lapisan atas agar sekali lagi aku
akan menjadi ancaman"(Verly)
sambil terbaring dia atas kasur
yang berada di dalam goa.
"Aku tidak mengerti apa yang
sedang di pikirkan oleh tuanmu,
tapi... bagaimana jika kau gagal?,
kau pernah menghancurkan lapisan
tersebut bersama tuanmu tapi...
pada akhirnya kalian gagal karena
membuat ketuju Pillar Surgawi
sampai turun tangan. dan pada
akhirnya... lagi-lagi kau membuang
harga dirimu sebagai dewa
tertinggi"
"Dewa tertinggi hanyalah istilah
seseorang yang di beri tugas,
selama mereka lahir dari suatu
perwujudan, mereka tetaplah sosok
dewa tertinggi. dan jika aku memang
gagal... setidaknya aku telah sedikit
merombak lapisan atas, kau tidak
perlu khawatir soal diriku...
Lambaelda"(Verly)
"Tapi... aku ingin selalu bersamamu,
aku tahu kau pasti sudah lama lelah
sendirian setelah tuanmu tidak ada,
jadi izinkan. untuk aku menemani
selalu di sisimu, kita teman bukan?"
(Lambaelda) sambil memegang
tangan Verly.
"Oh ya, kau si dewa yang tahu
segalanya. maka tidak heran kau
mengetahui segalanya tentang
kejadian itu. padahal itu benar-benar
sangatlah lama, lagi pula... itu
keputusan tuanku, jadi aku tidak bisa
menentangnya, saat kau mengatakan
semua itu, aku benar-benar senang
tapi juga... merasa tidak bisa
melakukan apa-apa" (Verly)
"Jadi... keputusan itu mutlak ya,
kalau begitu... yang bisa aku
lakukan, hanyalah mendoakanmu
pulang dengan selamat"(Lambaelda)
semakin erat memegang tangan
Verly.
"Kau benar-benar teman yang bisa
aku andalkan, kemarilah..."(Verly)
Lambaelda yang mendengar hal
tersebut, secara perlahan
mendekatkan wajahnya ke arah
Verly yang masih terbaring di atas
kasur.
Verly yang merasa wajah Lambaelda
dekat dengan dirinya... ia langsung menarik wajahnya hingga semakin
dekat dengan bibir satu sama lain.
"Verly..." (Lambaelda)
Perlahan... sebuah ciuman dari
bibir ke bibir mulai terlihat.
Mereka berdua benar-benar
menunjukan wajah bahagia mereka.
***
Satu minggu kemudian...
Di suatu tempat dari lautan pasir
tepat di atas sebuah tebing.
Vely berada di puncak tebing
sedangkan Lambaelda berada
di belakangnya.
Mereka berdua terlihat sedang membicarakan sesuatu.
"Apa... kau akan benar-benar pergi
hari ini?" (Lambaelda)
"Ya, keputusanku sudah bulat,
aku harus meyelesaikan tugasku
dengan segera. ini akan menjadi perjalanan yang menarik, bukankah
kau juga sibuk sebagai hukum dewa?"
(Verly) tanpa menoleh ke Lambaelda
yang berada di belakangnya.
"Kalau begitu... bolehkah aku
bertanya satu hal lagi?" (Lambaelda)
Perlahan Verly bergerak mengarah
ke belakang tepat Lambaelda berada
"Ya, apapun itu untuk dirimu"
(Verly) sambil tersenyum kepada
Lambaelda yang berada di depanya.
"..... Kenapa... kau tidak langsung
saja pergi ke lapisan atas tanpa memasuki gerbang tangga?.
bukankah... kau memandang semua lapisan itu hanya sebagai pandangan belaka yang bisa kau lewati kapan
saja?"(Lambaelda) bebicara tegas
kepada Verly yang berada tepat di
pandanganya.
"Ya ampun... kau memang dewa
yang tahu segalanya. aku mulai
berpikir... jika kita bertarung,
mungkin aku yang akan mati duluan,
soal pertanyaan itu... aku ingin
membuat aliansi dengan seseorang"
(Verly)
"Alisansi?.. mungkinkah tujuanmu..."
(Lambaelda) dengan wajah terkejut.
"Ya, seperti yang kau pikirkan,
baiklah... aku harus segera pergi"
(Verly)
Perlahan... sepasang tanduk yang di
miliki oleh Verly mulai menghilang
dan tergantikan oleh sebuah topi
terbuat dari jerami.
Verly bermaksud menutupi wajahnya dengan memakai topi tersebut dan pakaian lainnya.. tetaplah sama.
"Aku mungkin, tidak akan kembali
lagi di sisimu setelah ini. jadi...
berhati-hatilah... temanku Verly"
(Lambaelda) sambil tersenyum
kepada Verly.
"Kalau begitu... sampai jumpa lagi...
rekanku"(Verly)
*TICK*
Sebuah suara jentikan terdengar...
dan perlahan... tubuh Verly mulai
lenyap.
"Bye.." (Lambaelda) tersenyum lebar
melihat Verly yang perlahan mulai
menghilang.
Tak butuh waktu lama...
Verly sudah berada di dalam
gerbang tepat di salah satu tangga
tanpa melewati gerbang awal untuk
memasuki tangga.
***
Di dalam salah satu dunia
tangga....
Perlahan... Verly mulai berjalan menelusuri dunia tangga tersebut
meski ia tidak tahu di tangga mana
dia sekarang.
Verly mengambil langkah untuk
tetap menutupi identitasnya
meski hanya sebatas sebuah topi
menutupi wajahnya, tapi baginya...
itu sudah lebih dari cukup.
".... Ini... gurun?, yang berarti... aku
sekarang berada di tangga ke dua.
mungkin... tuhan yang memimpin
tangga ini memiliki selera yang sama
denganku. sampai sekarang konsep
dunia di semua tangga tetaplah tidak
berubah" (Verly) bergumam dan
terus berjalan menelusuri jalan ini
sambil memegangi topi jeraminya.
Ia terus berjalan menelusuri jalan
sambil tersenyum dan mengabaikan
orang-orang yang dia lewati, bahkan
mereka-mereka yang tergoda oleh
pesona Verly hanya bisa
menawarkan tubuh mereka.
Verly tersenyum dan terus berjalan
mengabaikan semua hal yang
terjadi di sekitarnya.
Hingga...
"Oi... kau wanita yang matanya
tertutup"
Langkah Vely terhenti saat..
ia melewati kehadiran seseorang
yang berada di pinggir jalan
terdengar mencoba menyebut
namanya.
Perlahan... Verly melirik orang
tersebut yang ternyata adalah
seorang pria, yang sedang duduk
di sebuah singgasana dengan
para wanita di sekitarnya.
Verly yang melihatnya hanya
berpikir dia hanyalah pria bodoh
yang seakan kedudukanya seperti seorang raja.
Karena dia tidak memakai sebuah
pakaian hanya membaur dengan
tubuh berototnya
"Berani-beraninya... kau melewati
sang raja ini dengan begitu
mudahnya, dasar pelacur"
Verly yang mendengar hal tersebut
mulai membuka mulut.
"Apa... kehadiran diriku mencoba menghalangi cahaya mataharimu?"
(Verly) sambil tersenyum.
"Ha?.. kau terlihat berbeda dengan
wanita di seluruh dunia ini, apa lagi
kain yang menutupi pandanganmu
itu, seakan itu berkesan seperti
kau seorang pelacur. aku sedikit
tertarik denganmu, jadi bagaimana
kalau... kita menikah?"
Verly yang mendengar perkataan
tersebut benar-benar membuatnya
tertawa, bahkan tawa tersebut di
tersebut.
"Apa yang kau tertawakan ha!?..
aku bisa memberikanmu segalanya
yang perlu kau lakukan hanyalah
menuruti semua perintahku, aku
adalah raja dari para raja, tidak
ada yang tidak bisa aku dapatkan
di dunia ini"
"Hahh... ya ampun. lalu... apa
maksudmu kau membuat sebuah
singgasana di pinggir jalan ini ha!?"
(Verly) sambil tersenyum dan
menyindir pria tersebut.
"Soal itu... aku juga seorang
organisasi, dan aku membutuhkan
rekan lagi, karena mereka begitu
lemah jadi.. aku tinggalkan saja
mereka"
"Hee... jadi maksudmu, tempat itu
sebagai tempat untukmu bersantai?
kau benar-benar pria bo..dooohh..."
(Verly) sambil tersenyum lebar
kepada pria tersebut yang masih
duduk di singgasana.
"Sialan, mengatakan diriku dengan
kata " Bodoh " sebaiknya kau
siapkan dirimu untuk menerima
hukuman!! dasar manusia rendahan"
Tiba-tiba sebuah tombak muncul
dari arah samping pria tersebut.
Tombak itu begitu sangat
bercahaya, seakan tombak itu
tercipta dari sebuah cahaya.
Verly yang melihatnya merasa
tersanjung atas tindakan dari
pria tersebut.
Tanpa pikir panjang...
Tombak itu tanpa di pegang
oleh sang pemilik langsung
dengan cepat melesat ke arah
Verly yang berada di hadapanya.
Tombak itu seakan menjadi
sebuah partikel karena begitu
sangat cepat saat dalam terjangan.
Hingga...
Saat tombak tersebut sampai di
hadapan Verly...
Seketika tombak tersebut langsung
terhapus.... seakan seperti hilang
dari keberadaan.
Tidak ada tanda-tanda alam yang
bereaksi itu seperti terjadi dengan
begitu saja.
Pria tersebut yang melihatnya
benar-benar terkagetkan dengan
apa yang Verly lakukan.
"Apa... yang terjadi?, tombak itu...
lenyap dengan begitu saja?"
"Oh ya Raja, bagaimana... kalau
anda memberikan saya serangan
yang jauh lebih kuat, dan jika anda
bisa sedikit membuat topi saya ini
terbang lalu jatuh... maka... saya
siap menjadi pelayan anda, dan
mematuhi anda selamanya"(Verly)
sambil tersenyum lebar.
Pria tersebut yang mendengar
perkataan Verly benar-benar
membuatnya tertekan. rasa ragu
muncul di wajah pria itu.
"Bagaimana bisa... tombak itu
adalah Authority dari dewa tertinggi
namun... kenapa kau tidak tergores
sama sekali ha!?"
"Authority?.. " barang " yang
ada di bawah tubuh tuanku justru
lebih kuat, apa itu saja yang bisa
kau tunjukan?"(Verly) dengan santai
mengatakanya.
"Baiklah... aku akan serius"
Pria tersebut langsung turun tangan
mulai berdiri dari singgasana nya.
Dia langsung mengangkat kedua
tanganya ke atas dan secara
langsung sebuah cahaya emas
mulai muncul di tanggan pria
tersebut.
Hingga... tercipta sebuah bola
bercahaya yang cukup menyinari
semua kegelapan. itu begitu
besar bahkan terbilang mampu
menutupi dunia ini.
"Begitu kah... kau menggunakan
konsep cahaya untuk menarik
semua cahaya dari segala
yang memiliki cahaya, kau cukup
tangguh, dan mungkin potensimu
bukan hanya sampai di situ saja,
karena... itu terbilang cukup lemah"
(Verly)
*TIK*
Ketika suara jentikan terdengar....
Cahaya yang terkumpul berada
di tanggan pria tersebut langsung
dalam sekejap menghilang.
Bukan hanya sekedar berefek
pada pria tersebut, tapi...
Semua yang bercahaya yang
menyinari kegelapan langsung
menghilang, sesuatu yang bercahaya
langsung terhapus, segala bentuk
cahaya seketika terhapus, cahaya
matahari yang seharusnya
menyinari seluruh dunia langsung
menjadi tidak berguna dan hanya
menjadikan segala hal menjadi
kegelapan.
Seakan konsep dari cahaya dengan
mudahnya terhapus.
Verly hanya bisa tertawa terbahak
bahak saat melihat reaksi pria
tersebut untuk sekali lagi
menunjukan wajah terkejut.
"Sudah kubilang bukan... BODOH..
kau hanya berpikir bagaimana
menyerang secara membabi buta
tanpa berpikir untuk membuat
lawanmu menyerang terlebih
dahulu, kau.. bodohhh~"(Verly)
Perkataan Verly yang benar-benar
merendahkan harga diri pria
tersebut membuat pria itu semakin
tidak bisa menahan rasa emosi
setelah mendengar kata-kata yang membuat harga dirinya terinjaki.
"Sialan... siapa kau sebenarnya?
sejak awal aku merasa kau bukan
orang biasa, berani-beraninya kau...
aku masih belum selesai dengan-"
Tanpa di sadari...
Saat pria itu dalam kondisi marah
kepada Verly...
Justru Verly malah mengulurkan
tanganya kepada pria tersebut.
Dia tersenyum dengan wajah
bahagia mengulurkan tanganya
kepada pria itu.
Senyuman itu begitu tulus..
hingga membuat pria itu
langsung berhenti berbicara.
"Kau itu memiliki potensi untuk
setara dengan dewa tertinggi,
aku akan mengajarimu bagaimana
hal itu bisa terjadi. jadi... bagaimana
kalau kau membuat organisasi lagi,
namaku... Verly Void, panggil saja
dengan sebutan nama depanku.
kali ini... kau tidak akan lagi
berorganisasi dengan orang lemah"
(Verly) dengan senyuman bahagia
masih mengulurkan tanganya ke
arah pria tersebut.
"Tidak, aku lebih baik mati dari
pada aku harus mengikutimu,
lagi pula jika aku serius, aku bisa
dengan mudah mengalahkanmu.
aku adalah ras spirit murni,
sekaligus aku raja pahlawan.
tidak ada yang tidak bisa aku
pegang dalam hidup ini"
"Hee~ begitukah?.. lalu..
apa kau mengerti apa makna
dari raja itu sendiri?"(Verly) masih
mengulurkan tanganya kepada pria
tersebut dan tetap tersenyum.
"Ma.. Makna?"
Pria itu terlihat seperti bingung
dengan apa yang Verly baru saja
ucapkan.
"Ya, raja tanpa makna itu seperti
sebuah omong kosong, yang
hanya menjunjung harta kekayaan.
dan yang aku maksud makna itu
adalah... bagaimana caramu
membuat mereka yang memiliki
otoritas lebih tinggi menari dalam
tengah telapak tanganmu, membuat
mereka seakan memandangmu
dengan derajat yang lebih tinggi
bukankah... itu adalah makna dari
raja yang sesungguhnya" (Verly)
"Membuat mereka... menari..
dalam... telapak tanganku?..
dalam pandangan yang berbeda?..
apa itu bisa terjadi?. tidak, itu
bisa terjadi bila aku mau, tapi..."
"Sudahlah... suatu saat itu pasti
akan terjadi, dan juga... aku ingin
melihat kekuatanmu yang sangat
sesungguhnya. maka dari itu...
mari kita buat organisasi... raja...
Dystoria Argeus" (Verly) sambil
memegang kedua tangan Dystoria
dengan senyuman bahagia.
"Ba... Baiklah, Verly"(Dystoria)
...Ending Cerita Pertemuan Awal...
...mereka berdua....