A The Creators

A The Creators
Teman Pengelana



"Sial... kita sekarang berada dimana Retnan." (Afreon)


"Entahlah... tapi kupikir... kita sekarang berada di lapisan yang berbeda.."


Beberapa menit yang lalu...


sebelum mereka di kirim ke dunia yang asing...


***


"Apa itu juga.. termasuk Verly?"(Retnan)


"Ya, saat kau mencapai lapisan atas, aku akan benar-benar membunuh kalian." (Jajara)


Dia menatap ku dengan wajah yang kesal dan dingin.


"Begitu ya."


Aku memutuskan mengakhiri pertarungan ini


sebagai contoh saat aku menurunkan senjataku.


Perlahan katana tersebut yang masih berada di genggamanku menjadi debu dan secara langsung menghilang.


"Kalau begitu.. aku pergi."(Jajara)


"Sebentar.."


Melihat Jajara yang ingin segera pergi aku langsung memanggilnya kembali.


"Apa kau masih menginginkan, kedua bola matamu kembali? aku bisa mengembalikanya, aku tahu itu memang mustahil tapi.. Itu tak berarti dalam diriku, aku hanya ingin menembus dosa yang Verly perbuat padamu."


Aku sambil menunjukan wajah serius ku.


"... Jangan sok pamer cinta kalian, aku tidak butuh, mata itu berbahaya jika sudah di gunakan, entah kau kembali ke masa lalu untuk mengambilnya atau masa depan, mata itu sekali pakai dan tidak akan bisa di kembalikan efeknya."


(Jajara)


"Suamiku... yang di katakan nya memang benar, mata itu adalah [MoonLight Aurora], saya telah mengkonsumsi mata itu agar terlepas oleh keterikatan yang pernah menyegel kekuatan saya, mata itu bisa menghapus ikatan yang bersifat konseptual." (Verly)


Dan saat itu rokokku sudah habis..


Setelah mendengar perkataan Verly, aku jadi terpikirkan oleh sebuah pertanyaan.


"... Lalu apa jadinya jika dia masih memiliki mata itu?"


Aku sambil menyalakan rokoku lagi.


"Itu.. benar-benar sangat gawat, tapi.. jika suami tercinta saya menginginkan jawaban maka... dia dapat dengan mudah menghapus keterikatan pada dirinya sendiri, dari semua generasi Cahaya Bulan, hanya dialah seorang yang memiliki mata ilahi." (Verly)


"Kau ada benarnya juga, oh ya Jajara... aku ingin kau menerima sesuatu dariku."


Aku mengulurkan tanganku dan sebuah mutiara sudah ada di dalam genggamanku.


"Suamiku... mutiara itu..?"(Verly)


Aku melihat reaksi mulut Verly sedikit terkejut.


"Ya, aku yakin.. ini milik rekanmu, sebenarnya... Verly benar-benar tidak sepenuhnya membunuhnya, dia hanya memanfaatkanya untuk menahan sosok asliku, tapi setengah jiwanya adalah mutiara ini, tetapi... inti keberadaan dia sudah berubah menjadi bagian dari tubuhku."


Aku sambil mengulurkan tanganku ke Jajara dan bermaksud memberikan mutiara itu.


"Tidak, aku hanya membual, dia bukan rekanku, aku hanya ingin memanfaatkan sosok abstrak nya, tapi jika kau memang ingin memberikanku sesuatu, berikan aku tempat... untuk berkontrak dengan kalian, aku akan bersedia menjadi anak kalian."(Jajara)


Lagi-lagi sebuah perkataan yang membuatku sulit mencari jawaban.


"Ya.. melakukan kontrak lebih dari dua itu memang bisa, Verly mengajarkanku berbagai hal saat di kastilnya, tapi.. itu ada alasan yaitu konsekuensinya, jika aku menambahkan kontrak, maka... inti keberadaan kita akan saling tarik-menarik, dan akhirnya... akan tercipta paradox, aku yakin kau tahu akan hal itu, lagi pula.. Verly akan menolak keras soal itu."


Dan saat itu aku melihat mulut Verly mengeluarkan air liur yang banyak di tanganku.


Kupikir itu sebuah tanda... bahwa dia benar-benar menolaknya.


"Kupikir juga begitu, mana mungkin dia menerima keberadaanku, aku merasa semakin di libatkan oleh hubungan suami-istri, aku adalah tuhan, yang seharusnya aku tidak boleh membuka diri."(Jajara)


Dia melangkah...


pergi meninggalkan tempat ini.


"Dia pergi kah, kukira dia akan mengungkapkan perasaanya kepadamu Verly, yah sudahlah yang terpenting-"


Waktu itu...


Langkahan kaki Jajara terhenti, saat... aku melihat Afreon tiba-tiba datang dan langsung menusuk dada Jajara tanpa andanya sesuatu yang menandai kehadiran nya.


Lalu aku teringat, kedua ras itu tidak akan bisa menyatu dan akan terus dipertemukan untuk saling membunuh demi ambisi nenek moyang mereka.


"Gawat... aku sedikit benci dengan situasi ini, apa lagi... Afreon sudah menjadi temanku."


Aku dengan wajah sedikit ragu melihat situasi ini.


"Akhirnya... aku bisa menyentuhmu, serahkan tombak nenek moyangku kepadaku, atau.. kau akan merasakan kemarahan dari ras Divine Spirit."(Afreon)


Afreon benar-benar menunjukan wajah penuh amarah, di balik ekspresinya dia seakan memiliki dendam yang tidak bisa di maafkan.


Genggaman tangannya yang memegang sebuah pedang menusuk dada Jajara perlahan dia semakin menusuknya hingga menembus luar organ.


Aku tidak tahu harus bertindak apa di situasi yang begitu tiba-tiba.


"Apa maksudmu.. kau menusuku dengan senjata biasa ini, kau pikir aku selemah apa?, aku adalah tuhan... sekaligus dewa tertinggi."(Jajara)


Dia seakan tidak merasakan apa-apa.


"Ya, tapi... sebaiknya kau jangan remehkan lawanmu meski sekecil apapun musuhmu, kadang itu akan menjadi kelemahanmu."(Afreon)


"Ha?.. aku tidak... eh?"(Jajara)


Aku melihat tubuh Jajara mulai bersinar terang dan perlahan sosoknya mulai menghilang.


"Oi.. apa yang kau lakukan padaku, kau.. mencoba menghapus avatarku? bagaimana mungkin?"(Jajara)


Aku melihat respon wajah Jajara yang sangat terkejut, bukan hanya dia saja... namun sebaliknya aku juga terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Afreon.


Yang membuatku terkejut, aku yakin pedang itu hanyalah pedang plat biasa, namun kenapa dia bisa menusuk fisik Jajara dengan begitu mudahnya.


Seakan pedang itu bukanlah pedang biasa, sihir? memang aku merasakanya walau hanya sebatas


angin lewat, tapi seharusnya Jajara mengerti akan ada lancaran serangan yang mengarah padanya.


Ini seperti halnya Jajara sengaja menerima luka dari Afreon.


Lalu...


Tubuh Jajara perlahan menghilang setelah mengenai pedang Afreon.


"Ini... tidak mungkin, kau.. mencoba menghapus keterikantanku dengan tubuh asliku!? bagaimana bisa."(Jajara)


Dia masih menunjukan wajah sangat terkejut.


"Inilah ras Spirit, dimana sihir hanyalah proses daur ulang, pedang yang aku hunuskan itu memang pedang biasa, namun itu tercipta dari sihirku, dan sihirku memiliki jumlah tidak terbatas, sebanyak apapun aku mengeluarkan sihirku itu sama saja aku menerima kembali sihir yang lebih, ini seperti proses daur ulang."(Afreon)


"Sialan... bagaimana kau membuat avatarku mulai lenyap?" (Jajara)


"Karena... sifat sihirku, aku bisa memanipulasi keterhubungan namun untuk saat ini aku belum sampai ke tingkat konseptual, ya.. untuk sekarang aku hanya ingin kau pergi, mungkin saat kita bertemu kembali aku dengan serius akan melawanmu." (Afreon)


Lalu... tubuh Jajara semakin terlihat lenyap.


"Berani-beraninnya kau..!!"


Saat-saat hilangnya keberadaan Jajara ia langsung menggunakan sihirnya untuk melempar aku dan Afreon ke suatu tempat yang sangat jauh.


***


Situasi saat ini...


Aku dan Afreon berada di sebuah dunia yang terlihat sangat hancur yang hanya berisikan kekacauan.


Di lihat dari manapun semua sangat kacau, pegunungan yang seharusnya terlihat hijau menjadi hitam terkena lahar panas, tanah menjadi tandus tanpa adanya suatu tumbuhan yang tersisa, bahkan aku tidak merasakan tanda-tanda kehidupan.


"Kurasa... ini akan sedikit sulit untuk mendapatkan informasi."(Retnan)


"Ehh.!! di.. di telapak tangan kirimu ada mulut!?.." (Afreon)


Aku cukup terkejut dia berteriak dengan begitu saja, dan aku pikir dia sudah mengetahui nya.


"Kau belum mengetahuinya kah, ya ini adalah pasangan hidup ku, Verly.."


Aku mengatakan itu karena jika mungkin aku mengatakan kontrak, aku yakin Verly akan sedikit memberontak soal itu.


"He?.. apa maksudmu pasangan? ja..jadi.. kalian sudah menjalin lebih dari sekedar kontrak dengan mulut haa..!! apa yang kau pikirkan, ja..jangan bilang kau pernah melakukan hal yang mesum dengan mulut yang menempel itu!?"(Afreon)


Dia sangat terkejut dan sedikit menampilkan wajah malunya.


Aku pikir dia terlalu menanggapinya dengan sangat berlebihan.


"Tidak juga, Verly... antar kami ke kastilmu."


Aku memerintah mulut Verly untuk mengirim kami ke kastilnya.


"Baik.. tuan"(Verly)


Suatu portal kekosongan mulai terbuka di hadapanku.


" Aku ingin kau bertemu dengannya, lagi pula... tidak ada gunanya jika masih di dunia kacau ini, untuk mendapatkan informasi setidaknya kita kembali besok, aku juga ingin membahas yang sebelumnya."


Aku menyuruh Afreon untuk tinggal sementara di kastil Verly.


"Ya.. Terserah" (Afreon)


Pada akhirnya kami masuk ke portal tersebut dan beberapa saat... kami sudah berada di dalam kastil Verly.


***


Tak lama... Verly sudah menyambut kita di depan...


"Tuan... maksud saya.. suamiku..!! akhirnya anda mengunjungi saya, apa tuan ingin makan? atau mandi atau... ingin membuat anak dengan istri anda ini?"(Verly)


Verly menunjukan wajah bahagianya ke padaku, dan... sedikit merabah tubuhnya sendiri.


Di samping itu aku melihat reaksi Afreon yang hanya membeku saat melihat sosok Verly.


"Ja..Jadi.. wanita ini, si dewa itu?.. Buset.. dia sangat menawan, di tambah pakaian kimono itu terlihat tipis, aku hampir bisa melihat tubuh telanjangnya."(Afreon)


Aku melihat Afreon sedang memikirkan sesuatu dan terlihat bergumam sendiri.


" Ya.. aku tahu kau pasti terkejut melihatnya, apa lagi melihat sosok naganya, yang lebih penting... Verly, aku ingin kau menyiapkan sebuah pemandian untuk kita berdua"


Aku memerintah Verly dengan dirinya yang dari tadi tersenyum bahagia.


"Berdua saja dengan saya suamiku? ini benar-benar momen-" (Verly)


"Maksudku.. aku dengan Afreon saja, dan.. untuk kali ini, kau tidak boleh ikut."


Saat itu.. aku melihat wajah Verly sedikit kecewa setelah mendengar pernyataanku.


Hingga...


Setengah jam kemudian... Aku dan Afreon sudah berada di dalam pemandian air hangat yang sudah di sediakan oleh Verly.


"Yahh.. ini nyaman sekali, aku benar-benar iri kau mempunyai istri seperti dia, apa lagi... dia sudah menjadi ancaman bagi semua dewa, lalu tiba-tiba tunduk kepadamu."(Afreon)


Dia terlihat menikmati pemandian ini di sampingku.


Hingga.. aku bingung untuk memulai membuka percakapan, karena sejujurnya tanpa dia sadari... tujuanya sudah gagal total.


"Eee.. Afreon, apa kau sudah melupakannya?"


Aku mencoba bertanya tanpa langsung kedalam intinya.


"Ha?.. oh tidak, memang... aku gagal, tapi bukankah itu semua karena aku sendiri yang membuat semua itu gagal? sejujurnya aku tidak terlalu memikirkanya, dan pasti ada saatnya aku bertemu kembali dengan dia, justru... aku masih menunggu jawabanmu untuk menerimaku sebagai teman pengelanamu, aku ingin berkelana bersamamu." (Afreon)


Dia sedikit bersemangat tentang hal ini.


"Ya, tentu, tapi.. apa kau yakin ikut bersamaku walau terkadang itu terdengar membosankan?"


Aku ingin mendengar jawaban yang jujur kepadanya sebelum aku benar-benar menerimanya.


"Tidak, awalnya... aku kira kau pengelana yang membosankan, tapi... setelah aku mendengar jawaban alasan kau tidak menggunakan sihirmu saat pergi berkelana, aku merasa kau orang yang menarik,terlebih lagi kau membawa seorang dewa, aku sangat suka sesuatu yang menarik."(Afreon)


"Begitu kah.. kau berpendapat tentang diriku dari cara setiap aku melakukan sesuatu, lalu.. apa yang kau lakukan ketika sudah tahu kau gagal mendapatkan tombak nenek moyangmu?"


Aku bertanya dengan santai sambil menikmati pemandian ini dengan secangkir anggur yang biasa di buatkan oleh Verly.


"Memang... itu membuatku masih memikirkan nya, karena apapun yang terjadi, aku harus mendapatkannya, tapi tenang saja, aku tanpa tombak itu masih tetap sama kuatnya denganmu, buktinya aku menyamai reaksi Jajara dan berhasil menusuknya, dan... yang membuatku bingung sampai sekarang... kenapa kau waktu itu tidak menerima luka tusukan, bahkan tidak ada jejak darah sama sekali."(Afreon)


"Ya... karena aku memakai wadah, untuk menahan sosok abstraku."


Aku menjawabnya dengan santai.


"Apa itu... karena dari inti keberadaanmu?sudah kuduga kau orang yang kuat, aku merasa ingin saja melawanmu, yahh.. lupakan apa yang telah aku katakan, oh ya.. dan aku pikir.. aku sedikit tahu tentang dunia yang sebelumnya kita capai."(Afreon)


Dan saat itu.. suasana menjadi serius.


"Kalau tidak salah... kita sudah terlempar jauh melebihi lapisan bawah, yang di katakan sebagai lapisan tengah, yang dimana... semesta di sana jauh lebih luas dari pada lapisan bawah, tapi... lapisan ini juga di katakan sebagai, tempat akhir dari kematian, karena lapisan tengah adalah reruntuhan pertempuran antar dewa yang mana setiap para dewa bertempur mereka selalu melakukanya di sana."(Afreon)


"Kukira hanya ada dua lapisan, berarti... lapisan ini terbentuk karena setiap pertempuran mereka?"


Aku mulai mengerti tentang semua lapisan-lapisan itu.


Tapi satu hal yang membuatku bingung, jika para dewa melakukan pertempuran di sana, yang berarti ada hal tabu di lapisan atas sehingga penghuni dewa harus melalukanya di luar lapisan atas.


Sebentar....


Penduduk lapisan atas adalah semua para dewa, namun mereka seakan juga tidak bisa berhendak sendiri di dunia mereka karena ada hal tabu itu, yang artinya... masih ada otoritas lain yang lebih tinggi dari semua para dewa.


"Ya, lapisan tengah tercipta karena bentrokan setiap petempuran, hingga lahirmya semesta yang juga di katagorikan tak tebatas di dalam zona, kekuatan mereka bahkan di luar aspek kehidupan, aku yakin di semesta sana pertempuran masih berlanjut, jika kita terus menyusuri lapisan itu, aku yakin kita akan terlibat dengan pertempuran mereka, tapi... bagiku itu bukanlah sesuatu yang harus di takuti." (Afreon)


Setelah mendengar penjelasanya.. aku berpikir hal yang sama, bahwa... ini akan menjadi perjalanan yang sangat menarik.


"Ya.. tentu, kita akan terus melangkah melanjutkan perjalanan kita."