A The Creators

A The Creators
Awal Keseruan



"Tuhan menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan, Tuhan menciptakan konsep dari informasi lalu menjadi suatu dasar fundamental, keberadaan tuhan melampaui keterbatasan, kausalitas, dan di luar batas, tidak ada yang mampu mencapai ranah sang kuasa, dan semua itu hanyalah karangan belaka, dan saya adalah makhluk yang melampaui keterbatasan itu, saya adalah pengamat di seluruh semesta, sekaligus hukum dewa, saya kemari atas dasar menghukum dewa yang melanggar aturan mereka, tapi... Verly adalah pengecualian dari semua itu, bersama tuan nya di waktu yang telah hilang."(Lambaelda)


"Tuannya?.. apa yang kau bicarakan?"(Retnan)


"Dulu... saat segalanya masih belum tercipta, Verly dan tuan nya adalah pengecualian oleh tuhan, saat itu waktu belum ada... dan hanya ketiadaan yang ada, mereka berdua menghancurkan segala yang belum ada bahkan jutaan dewa kesulitan menangani mereka, sampai gerbang kekosongan mutlak mulai terbuka dan melahap jutaan dewa sekaligus, itu menjadi ketakutan bagi semua para dewa, tidak ada yang bisa merekam kejadian itu pada masa itu, namun... saya adalah pengamat, saya mengetahui semua itu sampai asal muasal segalanya."(Lambaelda)


Lalu aku berpikir mungkin... yang di katakanya ada kaitanya dengan informasi diriku yang sebenarnya?


Tapi aku tidak yakin jika dulu Verly sudah bersamaku, aku tidak merasa Verly ada kaitanya dengan informasi diriku.


"Lalu... sekarang kau bertemu kembali dengan Verly, apa yang akan kau lakukan?"


Aku dengan ekspresi datar bertanya kepada Lambaelda yang sedang terbang di atas langit.


Yang aku kira dia sama seperti Verly yang selalu menikmati suasana entah terlihat mengerikan atau tidak.


"Umm...bagaimana ya, memang sedikit sulit melawan nya, tapi untuk sekarang aku tidak memiliki alasan untuk bertarung dengan dia, dan juga tubuh ini hanyalah wadah/avatar, aku memutuskan untuk melawan Verly saat dia mencapai ranah yang jauh lebih tinggi dari semua lapisan, aku tahu kau masih memiliki rasa benci terhadapku... suami Verly, sebelum kita memulai inti pertemuaan ini, aku ingin kau tahu tentang zona lapisan tengah, sejujurnya aku tidak ingin terutama kau suami Verly mati dengan sia-sia, aku merasakan dirimu berbeda dengan makhluk yang pernah aku temui, tapi bukan berarti aku tidak mengetahui dirimu." (Lambaelda)


"Yah.. aku akan mencari informasi diriku sendiri tanpa bertanya kepadamu, lalu... kenapa kau terlihat mengkasianiku?" (Retnan)


"Ha? mengkasianimu?, siapa yang bilang bodoh, aku hanya ingin membantu Verly dengan menjaga suami nya, karena... zona di lapisan tengah berbeda dengan bawah dan sangat berbahaya, jika kalian tidak setingkat dewa kalian akan mati dengan sia-sia karena ranah ini khusus di ciptakan untuk melakukan deklarasi perang, maka dari itu... para dewa berusaha untuk menyembunyikan keberadaan lapisan ini, makanya banyak orang luar yang tidak mengetahui lapisan tengah ini, yang kau harus ketahui jumlah semesta yang berada di dalam zona semesta sama halnya seperti zona lapisan bawah yang jumlahnya tak terbatas, namun di lapisan tengah... waktu itu tidak ada, di sini konsep waktu tidak berlaku karena ranah ini sesungguhnya adalah kehampaan, dan setiap semesta di zona ini menampung sejumlah dunia tak terbatas lagi, dan lagi, dan lagi, hingga di amati dari luar zona itu hanya bagaikan sebuah debu, jadi.. jika kau terlempar seperti diriku tadi, kau sudah tenggelam ke semesta yang jauh dari tempatmu yang sebelumnya, dan mungkin akan tercipta paradox tanpa akhir, namun Verly telah mengirimu ke suatu tempat yang sedikit di sengaja agar bisa berjumpa denganku."(Lambaelda)


"Aku masih tidak mengerti apa maksudmu memberitahu semua itu, tapi kupikir itu adalah kalimat untuk mengakhiri percakapan ini."


Aku dengan rasa percaya diri langsung mengeluarkan aura sihirku yang membara ke sekelilingku.


"Ya, aku merasa sejak awal kau memang sudah benci denganku, apa mungkin karena temanmu telah aku hapuskan dari dunia ini? kau orang tua yang menarik."(Lambaelda)


"Kau tidak pantas menyebut seseorang yang belum mempunyai keturunan dengan sebutan orang tua, tapi kurasa ini akan menjadi menarik, aku belum pernah melihat seseorang dengan martabat yang tinggi sepertimu."


Perlahan aku mengalirkan sihirku kepada kedua tanganku...


Namun kali ini berbeda, aku menggabungkan sihirku dengan inti keberadaanku menjadi satu, yang aku pikir ini akan melampaui semua tingkatan sihir.


Karena kekuatan inti keberadaan bukanlah sihir melainkan kekuatan murni yang hadir sebagai perwujudan kehidupan mereka wujud mereka yang sebenarnya.


Contoh inti, seorang manusia biasa lahir yang mana kehidupan mereka pasti di tentukan oleh waktu, mereka masih terikat oleh waktu, jika informasi dirinya pada setiap garis waktu di hapus... maka orang itu benar-benar akan terhapus.


Lalu aku tidak tahu seperti apa kekuatan inti keberadaanku, namun satu hal yang aku tahu dari setiap kekuatan inti keberadaan, kekuatan itu berasal dari setiap wujud mereka yang sebenarnya saat di lahirkan di dunia ini, seperti... perwujudan, asal muasal, dll, inti dari para dewa kebanyakan dari mereka adalah dari perwujudan, entah itu sebuh konsep, berbagai aspek lainnya atau inti mereka terikat oleh konsep maupun secara independen.


Dari semua itu inti keberadaan bisa di temukan di berbagai ruang semesta dan dimensi yang lebih tinggi, entah itu berbentuk sebuah bola atau lainnya sebagai bentuk inti mereka, semakin tinggi inti mereka di suatu dimensi ruang semesta... maka akan semakin kuat mereka memiliki kekuatan inti.


Seperti dewa tertinggi menganggap lapisan bawah hanyalah sebuah tempat sampah, mungkin ada otoritas yang lebih tinggi menganggap lapisan atas adalah hal sepele, tapi aku merasa... dia adalah salah satunya.


"Menarik... kita lihat seberapa bisa kau menahan ciptaanku... suami Verly..!!"(Lambaelda)


Suara Lambaelda menggelegar ke seluruh jagat raya.


Ia tersenyum seakan menerima pertarungan ini.


Hingga sekali lagi dia membuka buku tersebut dan tanpa aku sadari...


Langit-langit telah terpenuhi miliaran berbagai senjata mengarah padaku.


Bukan hanya itu...


Dia menciptakan ribuan matahari dari setiap api vulkanik di setiap semesta tanpa bergerak sedikit pun membuat kegelapan menjadi terang benerang.


Aku tidak merasakan apapun selain rasa tersanjung untuk melawannya, perasaan yang aku rasakan sekarang benar-benar menyatu dengan perasaan Verly, sehingga rasa ini tercipta dari setiap keinginan kita.


"Yahh... sekali-kali aku ingin mencoba hal baru selain mengandalkan pedang inti dari Verly."


Sesuatu tercipta dari kedua tanganku itu seperti dua buah pedang samurai berwarna hitam seakan berisikan kekosongan tanpa adanya apapun selain melambangkan kehampaan.


"Tuan... kenapa anda tidak lagi menggunakan inti senjata saya? padahal saya sangat senang bila terus anda gunakan, tapi.. itu... apa itu penggabungan dari inti anda suamiku?"(Verly)


Aku mendengar nada suara Verly sedikit terkejut setelah aku memanggil senjata ini.


"Sejujurnya ini adalah pemberian dari Rethos sebelum dia benar-benar terhapus, waktu itu setelah aku mendapatkan sedikit informasi diriku secara pasif segala yang dia miliki menjadi miliku, yang aku rasa itu memang di pengaruhi olehnya."


Aku dengan rasa percaya diri yang tinggi.


"Awalnya aku pikir kau orang yang takut dengan keberadaanku, ternyata itu hanyalah bualan setelah aku mengetahui keberadaan Verly kau langsung berkeinginan kuat melawanku... menarik."(Lambaelda)


"Tidak juga, sejujurnya semua perasaan yang aku rasakan sekarang di pengaruhi oleh Verly, akan kuberitahu sebelum aku benar-benar mengayunkan pedang ini, nama pedang ini adalah [0/??] yang artinya di luar aspek keterbatasan dan ketidaktahuan, aku membuatnya dari asal muasal kehancuran, inti dari kekacauan, konsepnya seperti pedang inti milik Verly, namun jarak dari pedang ini melebihi apa yang kau bayangkan, di sini waktu tidak berlaku bukan, berarti kecepatan di tentukan dengan cara relativitas berbeda... meski tidak secepat [VERENTEUZ]."


"Jadi... MARI MAJULAHHH..!! jangan menahan diri, kita sekarang berada di luar kehidupan..!!"(Lambaelda)


"Yaa..!!"


Aku langsung mengayunkan salah satu senjata dari kedua genggaman tanganku tersebut, tanpa menggerakan tubuhku aku secara langsung mengiris miliaran senjata yang menutupi langit-langit tersebut membuatnya seolah terhapus sekejap mata.


Pedang itu saat melakukanya bukan semacam sihir yang di lancarkan hingga terbentuk belahan lalu mengirisnya, namun senjata ini memanjang menuju target lalu mengirisnya.


"Kau bisa menghapuskanya dalam sekejap ya, lumayan juga untuk suami Verly, tapi... itu masih belum pembukaan, kali ini... akan ku ubah ribuan matahari ini menjadi satu hingga tercipta api neraka."(Lambaelda)


Ada suatu gravitasi yang menarik semua matahari itu menuju pada satu titik.


Yang tidak lain... menuju jari kelingkingnya seakan dia menahan semua itu pada jari kecilnya.


Tak lama...


Dia dalam sebuah ketinggian... aku melihat dia membuat sebuah kursi mewah lalu dia tempati dalam ketinggian, seakan dia benar-benar meremahkan diriku.


Itu tidak membuatku kesal hanya saja, itu membuatku mengatakan sebaliknya, aku mengakui kekuatannya maka dari itu aku harus bisa melampauinya.


Kemudian...


Sekilas aku melihat lintasan cahaya yang sangat cepat mengarah pada Lambaelda yang aku pikir itu sebuah lancaran serangan.


Lambaelda yang terlihat santai di kursi terbangnya...


Dengan santainya mengarahkan kakinya ke lintasan cahaya tersebut hingga... dia benar-benar menahan serangan itu hanya dengan menggunakan kakinya.


Lalu aku menyadari...


Serangan itu tadi ternyata berasal dari senjata Afreon, namun dirinya masih tak kunjung kembali, aku tidak tahu darimana asal pedang itu menerjang Lambaelda, tapi yang jelas... Afreon tidak semudah itu mati.


"Umm.. pedang ini, Authority yang berhendak atas dirinya sendiri ya, kurasa... ini ciptaan si mesum Verly tapi... siapa penggunanya, yahh... siapa yang peduli."(Lambaelda)


Lambaelda yang masih menahan senjata itu di antara kakinya langsung dengan cepat menghempaskanya mengarah padaku.


Namun sesaat... Sebelum hal itu terjadi...


Aku melihat sosok Afreon sudah berada di samping Lambaelda, terlihat mengepalkan tangannya seakan dia ingin melancarkan sebuah pukulan.


Dan dengan ini.. aku yakin dia bisa sedikit menghajar si dewa arogan itu.


"HAAAAAAA...!!"(Afreon)


Afreon yang berada dekat dengan Lambaelda langsung melancarkan pukulanya dari samping.


"Membosankan..."(Lambaelda)


*TIK*


"Selamat tinggal.."(Lambaelda)


*Duar!!


*Blarrr...Blarr...Blarr...*


Pada akhirnya...


Hal yang sama terjadi...


Sesaat sebelum Afreon melancarkan pukulan tersebut... sejak awal Lambaelda telah menyadari keberadaan Afreon, dan semua itu seakan ia terlihat hanya bermain-main saja lalu dengan mudahnya melemparkan Afreon menggunakan sebatas jentikan seolah itu bagaikan kutu baginya.


Meski begitu hantamanya jauh lebih kuat melebihi Jajara yang pernah melemparkanku dengan sebatas jentikan.


Afreon terus terhempas terhantam menembus berbagai ekosistem hingga... membuat sebuah jalan tandus karena tekanan dorongan yang begitu sangat kuat.


Tapi... Afreon langsung memanggil senjatanya kembali ke tanganya, setelah senjata itu kembali ke tanganya...


Tanpa pikir panjang dengan cepat menancapkan pedangnya ke tanah walau tekanan itu terus berderu setidaknya dengan cara ini, pergerakan hempasan itu semakin melambat.


"Huaaa...."


Afreon terus berusaha menghentikan tekanan yang terus mendorongnya.


Lalu setelah sesaat berhenti, Afreon malah melanjutkan langkah serangan berikutnya.


Aura sihir mulai meluap pada dirinya.


Namun anehnya... wajahnya tampak tidak menunjukan rasa emosi, itu terlihat dia seakan merasa tersanjung oleh serangan yang sebelumnya menghantam dirinya, dan mungkin itu membuat dia semakin bersemangat.


Pedang yang berlapis cahaya emas itu perlahan semakin bercahaya karena dampak dari sihir tak terbatas milik Afreon yang secara terus-menerus mengalirkanya pada satu titik tepat berada di pedangnya.



(Note*hanya contoh bukan buatan


saya)


Sc:Google


"Lambaelda... aku mengerti kau tidak tertarik untuk melawanku, tapi bagiku... melawan seseorang yang kuat... justru membuatku menjadi bersemangat, entah pada akhirnya aku mati atau tidak, selama aku bisa menggores kulitmu kurasa itu tidak masalah jika pada akhirnya aku mati." (Afreon)


"Umm... aku memiliki firasat kau memiliki wujud inti keberadaan yang kuat, tapi sungguh... aku benar-benar tidak tertarik denganmu, aku hanya tertarik dengan suami tercinta Verly, tapi... jika kau merasa begitu maka... akan aku layani."(Lambaelda)


Mereka berdua menunjukan ekspresi tersenyum yang seakan keinginan mereka sejalur dengan pemikiran mereka.


(Note*Yang belum faham monggo


koment)