A The Creators

A The Creators
Pioritas



"Baiklah... Aku akan menjelaskan


permainan nya. Bisa di bilang acara


ini adalah Game. Dimana... Kalian


semua ikut berpatisipasi untuk


saling membunuh, tanpa adanya


peraturan.. Tanpa adanya perbatasan


tempat.. Kalian semua bebas bisa


melakukan segala cara apapun


untuk bisa menang, dan satu orang


yang tersisa... Akan berhadapan


denganku."(Almus) dengan rasa


percaya diri.


Mereka semua langsung bersorak


dengan haus membunuh mereka


ketika mendengar perkataan Almus.


Tapi bagiku.. Perkataanya tidak lebih


dari sekedar hasrat kesenanganya,


kemenangan?.. Mereka semua tidak


tahu bagaimana orang itu


memandang kita, yang hanya


sebagai bidaknya.


"Baiklah... Mari kita mulai...!!"(Almus)


Teriakan yang begitu menggelegar


membuat mereka-mereka semua


mulai mengeluarkan taring mereka.


Hanya dalam satu teriakan mereka


semua langsung memulai keributan


di tengah malam ini.


Tidak peduli sekacau apa kota ini


nanti, bagiku.. Hanya sekedar


menyaksikan mereka yang gila


akan hasrat membunuh untuk


sesuatu yang tidak pasti, itu lebih


dari cukup untuk menghilangkan


rasa bosanku tanpa terlibat dengan


mereka.


Mata di balas dengan mata, rasa


sakit di balas dengan rasa sakit,


semua itu melekat dalam diri


mereka hingga terciptanya rasa


kebahagiaan tersendiri yang


terlihat di wajah mereka ketika


menewaskan setiap jiwa.


Tapi jika di perhatikan kembali


mereka-mereka yang mengikuti


acara ini, terbilang memiliki potensi


yang cukup kuat untuk menciptakan


kekacauan di dunia.


"Terima ini..!!"


Beberapa orang mulai menyerangku


dari berbagai arah, namun.. Aku


yang sejak awal hanya menyaksikan


mereka dalam pertarungan ini dan


menikmati suasana ini tanpa terlibat


dengan mereka, membuatku


semakin mengerti dengan situasiku.


Beberapa orang itu menganyunkan


senjata mereka ke arahku dan


langsung menerjangku secara


bersamaan, tapi aku dengan


santainya menghidari itu semua


dengan mulut yang menguap.


Aku sudah bosan menghadapi orang lemah seperti mereka, dengan cepat hanya dalam kurung waktu 0.2


detik saja, secara tidak sengaja


mereka terbunuh dengan mudahnya.


Dan itu masih belum berakhir,


dimana ratusan orang mulai


memperlihatkan taring mereka


kepadaku, berbagai kekuatan dari


inti keberadaan mereka bisa aku


rasakan.


"Ya ampun... Kukira aku bisa sedikit


lebih lama menyaksikan mereka.


Sekarang... Mungkin aku bisa sedikit


mengandalkan aura sihir milik Verly,


aku yakin... Dimensi yang menahan


sihir ini... Tidak akan mampu


menahan energi sihir miliknya."


Aku dengan rasa percaya diri


mengangkat tangan kananku ke


atas langit, dengan ratusan orang


yang memperhatikanku merasa


terheran-heran dengan tindakan


yang kulakukan.


Awalnya tidak ada suatu reaksi


yang timbul, hingga beberapa saat


kemudian...


Secara perlahan sebuah aura hitam


bercampur ungu mulai keluar dari


tanganku yang terangkat tesebut,


dan itu muncul sebagai bola api


dalam satu genggaman.


Mereka langsung merasa terkejut


ketika bola api itu semakin


membesar hingga membentuk


putaran angin seperti spiral


yang menyembar di segala tempat.


"Sekarang... Terhapuslah dari dunia


ini sampai ke akar inti kalian.."


*BAM!!*


Aku menggepalkan tanganku tepat


dimana bola api itu berada, hingga


secara langsung membuat siapa


saja yang terlintas oleh api


yang membentuk angin spiral itu


akan terhapus dari dunia ini tanpa menyisakan apapun seolah-olah


keberadaan mereka hilang dengan


begitu saja.


Hanya dalam beberapa jam mereka


telah menyisakan nyawa lebih


sedikit dari sejak mereka memulai pertarungan ini.


Berbagai kekacauan terjadi dalam


satu malam, terlihat dari hal kecil


seperti hancurnya properti di


berbagai kota, bangunan-bangunan


yang menjulang tinggi runtuh hanya


dengan sedikit kekacauan, hingga


hancurnya kota di luar lingkup


acara ini.


Mereka semua seakan menikmati


permainan ini dan melupakan


bahwa masih ada kehidupan yang


ingin hidup untuk suatu kebahagiaan.


"Aku mulai muak dengan kegilaan


mereka, dari pada menunggu lebih


baik aku segera menghampirinya."


Aku dengan santai mengeluarkan


sebatang permen dan menikmati


sambil berjalan di tengah keributan


ini, untuk menghampiri.. Orang


yang memulai semua ini.


*Swooshh...*


Dari pada memilih berjalan, aku


memutuskan untuk berlari di


sambung dengan terjangan yang


tidak lain mengarah kepada Almus


yang berada di atas ketinggian dari


sebuah gedung pencakar langit.


Aku dengan cepat mengarah


padanya dan dalam waktu kurang


dari tiga detik tanpa ia sadari...


Aku telah menodongkan pedang


ke arah leher pria itu(Almus)


seolah-olah aku sedang


mengancamnya.


Meski dirinya berada di dalam


genggamanku, dimana jika ia


mencoba meberontak.. Hal buruk


akan terjadi padanya, namun reaksi


pria itu malah menunjukkan rasa


percaya diri yang tinggi.


Dia tersenyum lebar meski aku


telah menodongkan senjata ke


arahnya.


"Ini masih belum berakhir lohh...


dan kau langsung menyerang lawan


terakhirnya?.. Yah itu tidak ada di


peraturan sih. Ngomong-Ngomong


pedang yang kau todongkan ini..."


(Almus)


"Huh?"


membuatku khawatir, aku dengan


segera memutuskan untuk


menjauhkan pedang tersebut


darinya.


Aku memiliki firasat buruk, tentang


tindakan yang ku lakukan ini,


aku mencoba tidak berpikir bahwa


dia tahu ini adalah pedang milik


Verly.


"......... Hanya bercanda, aku tidak


tahu, dan jika aku mengetahuinya..


Itu tidak akan merubah apapun,


tapi... Jika itu menurut padangan


mereka para surgawi. Itu adalah


salah satu tujuanku, ya.. pedang itu


adalah milik wanita itu, dan itu salah


satu tujuanku datang kepadamu."


(Almus)


Mendengar bahwa ia mengincar


Verly, membuatku merasa kesal,


aku tidak menyangka seorang


organisasi seperti dia mengetahui


informasi tentang Verly.


Tapi jika di pikir kembali tentang


pertama kali kita berjumpa, dia


mengatakan sesuatu mengenai


hubunganku, yang berarti sejak


awal.. Dia memang mengincarku


untuk memastikan bahwa


keberadaan Verly ada padaku.


Singkatnya.. Sejak awal berjumpa


dia belum tahu dimana keberadaan


Verly berada, dan dia hanya yakin


dengan tugasnya yang tertuju


padaku.


Dia masih meragukan keberadaan


Verly tapi tidak dengan diriku,


dia memang mengetahui hubungan


yang aku jalani, tapi dia tidak bisa


merasakan keberadaan Verly ada


padaku.


Maka dari itu untuk memastikan


bahwa keberadaan Verly ada


padaku, dia mencoba membuat


game ini dan memaksaku untuk


membongkarnya sendiri.


"Sialan... Apa yang akan kau


lakukan setelah mengetahui pedang


ini? dan apa tujuanmu sebenarnya?"


Untuk sekali lagi aku menodongkan


pedang tersebut ke arah wajah


Almus, yang hanya tersenyum saja.


"Jangan marah, soal apa yang akan


aku lakukan, itu bukan urusanku


karena... Aku sendiri juga tidak tahu


apa sebenarnya para Surgawi


pikirkan. Namun... Aku telah di beri


tugas untuk membawanya ke


Nov Sanctuary lapisan atas.


Melihatmu memakai inti miliknya..


Membuatku semakin tertarik untuk


melawanmu. Tapi... Bukan berarti


aku tidak mengetahui.. Siapa itu


Verly, yang aku maksud adalah


kekasihmu. Ngomong-ngomong


apa yang kau ketahui tentang alasan


kenapa dirinya menutup matanya?"


(Almus)


Aku tidak mengira harus menjawab


pertanyaan nya setelah mengetahui


keberadaan Verly.


Aku juga tidak ingin mengobrol


lebih lama dengan nya, apa lagi


itu menyangkut Verly.


"Ya dia pernah bilang kepadaku


bahwa alasanya dia menahan


kekuatan sejatinya di balik mata


itu."


Dan saat itu... Aku di kejutkan oleh


Almus yang tiba-tiba tersenyum


lebar terlihat seakan menahan


tawa kecil di wajahnya.


Aku tidak merasa bahwa apa yang


telah aku katakan adalah lelucon.


"Hahh... Ya teruslah berpikir bahwa


dia menahan kekuatanya, karena


apa yang kau ketahui ada benarnya.


Tapi.. Aku sarankan jangan sampai


dia berindak ceroboh, apa lagi


sampai membuka apa yang ada di


balik kain itu. Jika sampai hal itu


terjadi, kata kiamat akan kembali


di ucapkan, itulah... Salah satu


tujuan para Surgawi memerintahku."


(Almus)


"Kiamat?"


Aku cukup di bingungkan dengan


perkataan Almus, namun apa yang


dia katakan tidak bisa kubantah,


karena sejujurnya aku sendiri...


Merasa bahwa Verly selama ini


hanyalah bermain-main dengan


kekuatan nya sendiri, aku tidak tahu


tentang dirinya yang sebenarnya.


Aku juga tidak pernah memerintah


dirinya untuk membuka kain yang


menutupi matanya itu, karena aku


pikir.. Itu hal tabu bagi Verly.


Namun.. Tetap, apapun yang ia


katakan tidak akan merubah


pioritasku untuk menyembunyikan


keberadaan Verly, meski aku tidak


tahu siapa dia sebenarnya, selama


dia ada bersamaku.. Itu sudah cukup.


"Aku tidak akan memberitahu lebih


detailnya, selama ketidaktahuanmu


itu berlanjut, gerbang surga akan


tebuka untukmu. Itu sama halnya


kau menerima berkah."(Almus)


"Jadi... Verly adalah sesuatu yang


Surgawi apalah itu incar bukan?"


kalau begitu.. Aku menolaknya."


Aku semakin menggenggam erat


pedang tersebut dan semakin


mendekatkan ujung pedang tersebut


ke arah leher Almus yang tersudutkan hingga sedikit mengupas kulitnya.


"Ya.. Aku telah menduga kau ingin


langsung ke inti pembicaraan ini,


sebelum itu..."(Almus)


Tiba-tiba Almus mengambil topi


pesulap itu dari wajahnya sendiri.


Aku cukup bingung ketika ia sibuk


mengambil sesuatu dari dalam topi


tersebut.


"Umm... Ah dapat. Lihatlah apa


yang kubawa ini."(Almus)


Almus melemparkan sesuatu


seperti bola ke arahku yang berada


dekat denganya.


Namun... Yang menjadi awal saat


aku melihat hal tersebut adalah...


"Huh?"


Sebuah potongan tubuh yang hanya menyisakan kepala manusia yang


aku pikir itu adalah Kenma tanpa


adanya tubuh lain yang tersisa.


Aku benar-benar di kejutkan dengan


mayat tersebut, aku tidak mengerti


bahwa Kenma telah bertindak lebih dahulu dari sejak awal game ini di


mulai.


Dan pada akhirnya.. Tewas secara


menggenaskan.


"Kenapa kau tidak menerimanya?


dia temanmu bukan?.. Tidak aku


sangka dia dapat membuatku


bertindak untuk menyelesaikanya,


sekarang... Bisakah kita mulai


pertarungan ini."(Almus) dengan


rasa percaya diri.