A The Creators

A The Creators
Perbincangan Penuh Kebingungan



"Siapa dia... Verly?" (Dystoria)


Mereka berdua telah di hadang


oleh seseorang yang menghalangi


jalan mereka untuk meraih tangga


berikutnya.


Dalam tengah kondisi yang mana


mereka berdua hanya memiliki


satu jalur... maka tidak ada pilihan


lain selain berinteraksi kepada


seseorang tersebut, itulah yang


di pikirkan oleh Dystoria.


Namun tidak untuk Verly.


Sosok tersebut memakai sebuah


jubah hingga menutupi seluruh


tubuhnya namun...


tidak dengan sepasang sayapnya


yang melebar sangat besar.


Sosok itu begitu misterius di


tambah ia memiliki sepasang


sayap, seolah-olah dirinya terkesan


seperti sosok malaikat.


Awalnya tidak ada suatu respon


yang di tunjukan oleh sosok tersebut, hingga...


"Hee... kau kah... Verlena"(Verly)


"He?" (Dystoria)


Suatu respon di tunjukan saat Verly menyebut nama tersebut.


Sosok itu mulai berdiri dan langsung


membuka jubahnya yang


sebelumnya menutupi dirinya.


Secara langsung sosok tersebut


memperlihatkan seluruh penampilan


dirinya yang mana ia ternyata adalah


seorang wanita.


Ia memakai sebuah gaun kimono


dengan corak bermotif bunga sakura


berwarna pink bercampur merah,


rambut berwarna pink dan ada


sepasang sayap kecil menempel


tepat di atas kepalanya seakan itu


menggantikan sepasang tanduk.


Di samping itu terlihat enam buah


senjata samurai yang terpasang di


kedua sisi pinggangnya dengan membaginya menjadi dua.


Namun...


Di bagian mulut wanita itu tertutupi


oleh sebuah syal yang terlihat


bersifat privasi karena wanita itu


terus memeganginya.


"Verly... siapa dia?.. apa kau


mengenalinya?" (Dystoria) dengan


wajah ragu dan bingung saat melihat


sosok wanita tersebut.


"Soal ini lebih baik kau tidak perlu


mengetahuinya, tapi satu hal yang


bisa kuberitahu. dialah seseorang


yang di segani oleh tuanku, dia


memiliki satu serpihan Tuhan" (Verly)


"Serpihan Tuhan?"(Dystoria)


"Itu adalah hak istimewah dari sang


Tuhan sebagai... keberadaan yang


istimewah. Yang aku maksud


adalah.. entitas yang di utus untuk menduduki sesuatu dari kehendak Tuhan"(Verly)


"Lalu... kenapa itu ada nominalnya?"


(Dystoria)


"Ya itulah yang di maksud dengan


keberadaan yang istimewah, selain


mereka kuat di tambah dengan


serpihan Tuhan itu, mereka yang


di utus mampu menghancurkan


keterbatasan. jelasnya satu serpihan


mampu melenyapkan segala hal


keterbatasan, tidak, lebih tepatnya...


tidak terbatas"(Verly) sambil


tersenyum lebar mengatakanya.


".... Hanya membutuhkan satu sudah


bisa menghancurkan apapun yang


bersifat tak terbatas!?.. bukankah..


itu hebat" (Dystoria) dengan wajah


ragu.


"Ya, aku membayangkanya saja...


benar-benar membuatku basah,


dan... dia telah di utus menjadi...


penjaga akhir"(Verly) dengan wajah


bahagia memerah pipinya.


"Kau tampak bahagia melihatnya,


apa mereka... maksudku, para pillar


surgawi juga memilikinya?"


(Dystoria) mencoba bertanya kepada Verly yang berada di sampingnya.


"Hee.. jangan bertanya seolah-olah


kau mampu seranah dengan mereka


para pillar. aku hanya ingin kau


membantuku setidaknya hampir


mendekati lapisan atas" (Verly)


"Ha?.. kau pikir aku selemah apa?..


asal kau tahu... aku juga pernah


meraih lapisan atas, dan alasanku


mengikutimu yang tidak lain adalah


untuk mencapai tujuanku sendiri.


kita hanyalah sepihak bukan berarti


sepemikiran"(Dystoria) menunjukan


wajah kesal terhadap Verly.


manfaatkan, yang lebih penting...


akhirnya aku bisa bertemu denganya


lagi. kemarilah... Verlena"(Verly)


sambil tersenyum bahagia.


Sesaat setelah mendengar


perkataan Verly....


Tiba-tiba wanita tersebut berlari


menghampiri Verly yang berada


tak jauh dari pandanganya dan


secara langsung memeluk Verly...


tanpa memberikan sebuah alasan.


Ia terus memeluk Verly seerat


mungkin sambil tetap menjaga


mulutnya sendiri yang tertutupi


oleh syal.


Tindakan yang di tunjukan oleh


wanita tersebut benar-benar


membuat Dystoria mereasa terkejut


dan bingung.


Ini bahkan di luar perkiraan Dystoria


yang berpikir akan ada sebuah


pertarungan, yang malah menjadi


suatu kasih sayang.


"Tu.. Tunggu... kenapa ini semakin


membingungkan, aku pikir akan ada


sebuah pertarungan terjadi"


(Dystoria) dengan wajah bingung.


"Ya ampun... jadi itukah yang kau


harapkan. tidak perlu khawatir...


wanita ini ada di pihak kita"(Verly)


sambil tersenyum mengelus rambut


Verlena yang masih memeluk Verly.


"Pihak kita?... kau bermaksud untuk


menambahkan anggota lagi?.."


(Dystoria)


"Tentu... jika kau tidak keberatan"


(Verly)


"..... Terserah, lagi pula... organisasi


ini di bawah kendalimu. oh ya...


boleh aku bertanya beberapa hal?"


(Dystoria)


"Selama tidak ada hubunganya


dengan wanita ini... apapun boleh"


(Verly) sambil tersenyum.


"Sebenarnya hal ini yang aku terus


pikirkan tentangmu selain cinta.


yaitu... apa kau berencana untuk


menentang Pillar Surgawi?, aku


yakin sejak awal kau bahkan bisa


dengan mudah meraih lapisan atas


tanpa harus menaiki tangga,


karena memang sejak awal kau


sudah mengetahui semua informasi


dari setiap tangga, aku tidak akan bertanya apa alasanmu melakukan perjalanan tangga ini, aku hanya ingin mendengar... alasanmu


meraih lapisan atas" (Dystoria)


dengan wajah serius menatap Verly.


"Begitu ya, kurasa yang di katakan


Lambaelda benar. terkadang


melakukan sesuatu bersama


orang lain dengan pemikiran yang


berbeda itu sedikit merepotkan.


tapi aku tidak menyesali dengan


keputusanku, ya.. aku melakukanya


atas kesenangku, tanpa ada maksud


lain, apa itu cukup untuk membuat


dirimu merasa yakin?"(Verly) sambil


tersenyum mengatakanya dengan


santai.


".... Hahh.. aku percaya" (Dystoria)


menunjukan wajah datarnya.


"Apa hanya itu saja pertanyaanmu?..


kalau begitu aku akan bertanya balik,


apa alasanmu meraih lapisan atas?"


(Verly)


"Tentu untuk membalas dendam,


dari beberapa dewa tertinggi,


selama tujuanku belum tercapai...


keinginanku untuk menjadi sang


raja dari segala raja... tidak akan


tercapai" (Dystoria)


"Hee... alasan yang klasik, kalau


begitu... mari kita lanjutkan lagi


perjalanan ini" (Verly)


"Tunggu..., ada hal yang masih


membuatku heran. terutama soal


wanita itu yang kedatanganya


benar-benar di luar perkiraan,


di tambah... kau bilang dia seseorang


yang telah di utus, lalu kalian telihat


begitu dekat. seakan pertemuan ini


tidak ada pertanda sebuah konflik.


lalu soal utusan itu...


apa jangan-jangan di balik semua ini


yang di maksud dengan menjaga


" Akhir " itu adalah....." (Dystoria)


Di saat yang sama...


Verly yang mendengarnya langsung


tersenyum lebar dengan wajah


memerah, tanpa memberikan


suatu alasan.