A The Creators

A The Creators
Senjata Baru!



Aku... berada di luar semua lapisan


tepat di ruang semesta yang lebih


tinggi.


Dan tentu... ini berada di ruang


kekosongan karena terletak


di luar semua lapisan.


Tidak ada yang bisa ku pandang


selain sebuah bola besar berwarna


merah menyala dalam tengah


kegelapan ini.


Dan itulah...


Tempat inti keberadaan Demonstia


berada dalam bentuk bola yang


menyala tersebut.


Perlahan aku mengarahkan pedang


Verly yang dapat memengaruhi


inti keberadaan ke arah inti milik


Demonstia.


Sesuatu muncul setelah aku


mengarahkanya, itu telihat seperti


asap hitam mulai keluar dari pedang


tersebut yang secara perlahan


membentuk sebuah akar dan


langsung menyentuh inti keberadaan Demonstia yang berada tak jauh dari pandangan mataku.


Perlahan... akar yang tercipta dari


pedang Verly tersebut mulai


melahap inti keberadaan Demonstia.


Aku mulai berpikir... akar itu mirip


seperti sebuah tangan yang dapat


bertindak mempengaruhi inti


keberadaan, seperti aku sedang


menggenggam inti tersebut.


Di waktu yang sama aku mengalirkan


sihirku yang secara pasif dapat


menciptakan kemungkinan karena


adanya sifat sihirku.


Lalu...


Ketika aku membuat kemungkinan


tersebut, secara individual inti


keberadaan itu mulai menyerang


diriku dimana cahaya dari bola itu


menembus akar yang melahap


keseluruhan inti tersebut.


Ini hal yang wajar dan aku sudah


mengetahui hal ini akan terjadi,


karena secara pasif adanya


sebab-akibat membuat siapa saja


pasti juga melakukan hal yang sama


seakan inti keberadaan memiliki


kehendaknya sendiri.


Aku mulai sedikit serius dalam


menggunakan pedang milik Verly


yang mana aku semakin


memperbanyak akar yang tercipta


dari pedang tersebut agar dapat


membuat inti keberadaan itu


masih berada di genggamanku.


Lalu tanpa pikir panjang aku yang


sudah bosan berada di sini


langsung menggapai bola tersebut


yang menjadi inti keberadaan


Demonstia dan ketika aku ingin


menyentuhnya aku menggunakan


sihirku agar bisa mempengaruhi


inti keberadaan tersebut.


Dan seketika...


aku sudah berada di dalam sebuah


dunia yang telah menjadi bagian


dari inti keberadaan Demonstia


yang tidak lain adalah gerbang iblis.


***


Di dalam gerbang iblis...


Lagi-lagi... sebuah pandangan yang


tak ingin aku lihat, dimana semua


yang berada di sini hanyalah


para iblis.


Dunia yang berada di dalamnya


sangat begitu luas hingga aku


melihat sebuah cahaya yang


membentang di atas langit dan itu


begitu banyak menampung sejumlah


dunia.


Gerbang iblis terhubung dengan


neraka dan tentu keseluruhan


dunia ini identik dengan neraka.


Aku langsung menggunakan sihirku


untuk menciptakan senjata [0/??]


agar dapat merombak sedikit


dunia ini. itu tidak akan berefek


pada Demonstia jika semua dunia


yang berada di dalam gerbang ini


hancur. namun bila menghancurkan


gerbangnya yang berada di luar


secara keseluruhan itu akan


benar-benar mengacaukan


inti keberadaan nya.


Tapi...


Sesaat aku yang ingin segera


melancarkan seranganku, tiba-tiba


ada beberapa iblis yang menarik


jubahku.


Dia terlihat ingin berkata sesuatu


kepadaku.


"Kau... apa pernah bertemu dengan


ibu?"


Iblis manusia dengan sepasang


tanduk itu bermaksud mengatakan


tentang Demonstia.


Lalu... tak lama iblis lainnya mulai


muncul menghampiriku, berbagai


bentuk iblis yang juga menanyai


hal yang sama.


"Eee.... dia dalam kondisi baik-baik


saja, tidak perlu khawatir, aku bukan


orang jahat yang akan melukai


ibu kalian, meski kalian sendiri itu


iblis"


Aku mengatakan apa yang aku


pikirkan.


"Kalau begitu... anda adalah ayah


kami?.. karena sebelumnya ibu kami mencari seseorang untuk di jadikan


suaminya"ucap salah satu dari


mereka.


"Pantas saja dia terikat oleh Afreon


kurasa itulah alasanya.


yang lebih penting... apa kalian tahu


dimana mata ibu kalian berada?


aku ingin membantu ibu kalian"


Aku dengan santai bertanya


sambil membuka sebungkus permen.


"Itu mustahil anda dapatkan,


itu tersegel menyatu dengan gerbang


iblis, dimana... ada entitas yang


menduduki segel tersebut"


Ketika salah satu dari mereka


mengatakan hal itu, seketika mereka


semua menunjukan wajah sedih.


"Ada entitas lain... yang hidup di


bagian inti keberadaan?, apa itu...


perbuatan orang lain yang mengirim


entitas itu?" (Retnan)


"Bagaimana?... ayah tahu?..


benar. organisasi mereka yang telah


menanamkan entitas yang sangat


kuat. bahkan iblis bertingkat raja


saja masih belum sebanding dengan


dia"ucap salah satu dari mereka


"Yang berarti di jaga kah, setidaknya


mata itu masih ada, itu sudah cukup.


aku tidak perlu mengalahkan entitas


itu aku hanya perlu mengambilnya,


tapi... jika situasi berbeda... mungkin


aku akan bertindak, lalu dimana


lokasi mata iti berada?"


Aku mencoba bertanya kepada


salah satu dari mereka.


"Itu berada di dalam kastil ibu kami,


saya akan mengatakan satu hal lagi


entitas itu adalah... sosok ibu kami


yang berbeda, dia tercipta dari


suatu konsep yang memang sudah


terikat oleh inti keberadaan ibu,


dan secara perlahan... dia akan


merebut apa yang ibu punya"


"Kurasa itu cukup sulit, tapi... itu


sudah cukup, berarti... apapun


tindakanku melawan dia, itu juga


akan mempengaruhi keadaan


Demonstia sekarang. karena dia


telah menjadi konsep intinya,


dan jelas dia dapat menggunakan


inti keberadaan Demonstia secara


totalitas. baiklah... aku sudah


memutuskanya bahwa... aku


memilih untuk tidak berhadapan denganya tapi aku hanya perlu


mengambil apa yang aku butuhkan"


Tak lama....


Aku langsung pergi meninggalkan


mereka para iblis dan langsung


berjalan menghampiri kastil


Demonstia yang berada tak jauh


dari pandanganku.


Istana itu sangat begitu identik


dengan neraka, meski para iblis juga.


Setelah aku memasuki kastil


tersebut... aku langsung di sambut


oleh kehadiran sosok yang sama


seperti Demonstia.


Ya. itulah... yang di maksud oleh


mereka para iblis. aku tidak berpikir


akan secepat ini bertemu denganya


walau dalam suasana yang berbeda.


Dia yang berada di hadapanku


menatap wajahku dengan tatapan


yang seakan merendahkan diriku.


"Hey ayolah.. jangan tatapan aku


seakan aku hanya sekedar hewan


di matamu"


dan langsung mengeluarkan pedang


[0/??Endless] sekali lagi.


Ya kali ini berbeda, aku membuat


pedang ini menjadi agresif dimana


pedang ini mewakili diriku sendiri.


Jika seseorang mencoba


menyerangku maka secara pasif


pedang ini akan mengurusnya.


Dan ini cocok untuk orang


seperti dia yang tidak bisa


membuka mulut yang hanya


menatapku sejak awal.


"Percuma... kau tidak akan bisa


mengalahkanku bahkan menyentuh


diriku, apa kau lupa kau sedang


berada di mana?"


"Aku tahu, kemenangan berpihak


padamu karena seutuhnya inti ini


meniadi milikmu, kau bisa


membuangku kapanpun, tapi...


aku ingin kita selesaikan dengan


cara yang santai, seperti mengobrol"


Aku dengan santai mengatakanya


dan sekali lagi aku mulai membuka


sebungkus permen.


"Tidak dan sekarang... pergi...!!"


"Eh?"


Hanya dengan kata-katanya dan


kehendaknya...


Aku sudah berada di luar gerbang


yang seakan itu tadi hanya sebatas


pertemuan yang singkat, dan


benar-benar tidak sopan.


"Begitu ya... kehadiranku di tolak


dan semudah itu dia mengusirku,


jujur... aku lebih benci ketika aku


yang berada dalam kondisi santai


namun orang lain tidak sepihak


dengan keinginanku"


Aku bergumam sendiri dalam


ruang kekosongan...


Aku sedikit benci dengan apa yang


wanita itu lakukan padaku.


"Sungguh... wanita yang tidak asik,


mungkin... aku akan sedikit


merubah hukum gerbang iblis"


Aku langsung menelan permenku


dan hanya menyisakan batangnya


saja.


Perlahan... aku menaruh batang


permen itu di sela jariku seakan


ini sebuah rokok.


"Aku sudah mengerti tentang


gerbang ini, dan aku ucapkan..."


Aku mengarahkan batang permen


tersebut yang berada di sela jariku


seakan seperti menikmati sebuah


rokok ke arah gerbang yang masih


bisa aku jangkau meski jauh dariku.


Dan...


"Sayonara~~"


*BUSHHHHH*


*WUSHHHH*


Suara sesuatu yang menerjang


terdengar...


Saat aku mengayunkan batang


permen tersebut ke arah gerbang


iblis dan secara langsung batang


itu melesat menejang kembali


gerbang tersebut.


Seakan batang permen tersebut


adalah sebuah pedang yang aku


lancarkan dalam tengah kekosongan.


Kemudian sesaat setelah


tersentuh dengan gerbang iblis...


Langsung merubah struktur seluruh


dunia yang berada di gerbang iblis


menjadi... bongkahan es.


Dimana gerbang iblis yang identik


dengan neraka kini telah aku ubah


hukum tersebut menjadi antartika.


Tidak akan ada api lagi yang


membuat seseorang takut berada di sana, yang menjadi pandangan


menarik mereka adalah... api yang terubah menjadi es dan tidak akan


ada lagi api neraka, karena es akan menjadi sesuatu yang hidup di sana.


"Inilah sihir penciptaanku...


dan aku rasa... itu sudah cukup


untuk melenyapkanya"


Aku tersenyum melihat


pemandangan ini, dan secara instant


aku sudah mendapatkan apa yang


aku butuhkan, di genggaman tangan.


***


Situasi saat ini...


Di tengah arena colosseum...


"A..Apa!?.. kau melenyapkanya,


dengan merubah hukum gerbang


tersebut!?" (Demonstia) dengan


wajah terkejut.


"Ya, karena dia hanya sebatas


lumut yang menempel di intimu,


dia menjadi suatu konsep yang


dapat mengatur bagian inti keberadaanmu namun... dia juga


masih terikat olehmu, dia dapat


mempengaruhi inti keberadaanmu,


yang juga mengikuti keseluruhanya, singkatnya dia hanya menjadi


konsep dari latar belakang inti


keberadaanmu, yang mana dia hanya dapat mempengaruhi sesuatu yang


tercipta dari inti keberadaanmu


seperti gerbang iblis, untuk


menghancurkan konsep tersebut


adalah... menghapus seluruh latar


belakang dari inti keberadaanmu,


seperti gerbang iblis yang identik


dengan neraka yang sekarang telah


aku ubah segalanya menjadi es,


dan antartika sebagai dunia di sana,


itu sudah dapat menghapus konsep


tersebut, dari semua itu... dia


masih dalam tahap awal untuk


menyatu dengan keseluruhan


inti keberadaanmu"(Retnan)


"Singkatnya kau telah merubah


latar belakang intiku yang


seharusnya di penuhi bencana


dari neraka, api abadi, menjadi


lautan es, ya... itu bukanlah masalah, sekarang mata ini telah kembali dan


aku bisa memulai ulang semuanya"


(Demonstia)


"Ya... lagi pula dia bukan menjadi


konsep semesta yang berisikan


aspek fundamental, dia hanya


menjadi konsep personal di intimu,


sekarang... bisakah kita mulai...


janji sebelumnya?"


Aku sambil tersenyum dan


mengulurkan tanganku kepada


Demonstia.


"Tentu... tapi... kalau bisa, buatlah


saya lebih dekat dengan tuan


Afreon"(Demonstia) sambil


menerima uluran tanganku


dengan wajah bahagia.


"Oi apa sih yang sebenarnya sudah


terjadi!?.. aku merasa juga ikut


terlibat" (Afreon)


"Tunggi tuan Retnan, tapi maaf...


saya tidak bisa mengirim kalian


ke tangga berikutnya, karena...


sebenarnya, saya sudah bukan lagi


pemimpin tangga pertama setelah


menerima kembali kekuatanku,


untuk bisa meraih tangga berikutnya.


kalian harus berusaha menemukan


informasi yang sudah saya atur


sebelumnya, ingat satu hal,


meraih tangga bukan hanya


sekedar bertarung, karena pada


dasarnya kalian harus menemukan


informasi yang sudah di atur


oleh pemimpin tangga tersebut"


(Demonstia)


"Jadi kita perlu memecahkan


teka-teki ya, dan pemimpin tersebut


mengaturnya untuk organisasi yang


ingin meraih tangga berikutnya"


(Afreon)


"Santai saja aku sudah mendapatkan


informasi tersebut, aku mengetahui


karena telah membuka informasi


dari orang yang di lawan Afreon


sebelumnya, dengan sihirku, oh ya


dan... apa yang akan terjadi padamu


saat kau tidak lagi menjadi


pemimpin tangga pertama?"


Aku mencoba bertanya kepada


Demonstia yang perlahan tubuhnya


bercahaya.


"Sebentar lagi saya akan menjadi


Authority anda, dan jelas itu


meninggalkan segalanya, yang


artinya... tangga pertama sudah


tidak ada lagi dan total dari semua


tangga menjadi 99 tangga, karena


yang di maksud pemimpin itu


bukanlah kata belaka, mereka itu


seperti tuhan sendiri pada tangga


mereka, mereka tidak akan semudah


itu mati kecuali jika mereka


berhendak tewas... maka kematian


akan terjadi dan semua yang tuhan


itu miliki akan hancur, tapi setelah


ini saya hanya akan menjadi dewa


biasa karena otoritas saya bukanlah


dewa tertinggi"(Demonstia)


Tak lama... Demonstia telah berubah


menjadi.... Authority.