
Aku... berada di luar semua lapisan
tepat di ruang semesta yang lebih
tinggi.
Dan tentu... ini berada di ruang
kekosongan karena terletak
di luar semua lapisan.
Tidak ada yang bisa ku pandang
selain sebuah bola besar berwarna
merah menyala dalam tengah
kegelapan ini.
Dan itulah...
Tempat inti keberadaan Demonstia
berada dalam bentuk bola yang
menyala tersebut.
Perlahan aku mengarahkan pedang
Verly yang dapat memengaruhi
inti keberadaan ke arah inti milik
Demonstia.
Sesuatu muncul setelah aku
mengarahkanya, itu telihat seperti
asap hitam mulai keluar dari pedang
tersebut yang secara perlahan
membentuk sebuah akar dan
langsung menyentuh inti keberadaan Demonstia yang berada tak jauh dari pandangan mataku.
Perlahan... akar yang tercipta dari
pedang Verly tersebut mulai
melahap inti keberadaan Demonstia.
Aku mulai berpikir... akar itu mirip
seperti sebuah tangan yang dapat
bertindak mempengaruhi inti
keberadaan, seperti aku sedang
menggenggam inti tersebut.
Di waktu yang sama aku mengalirkan
sihirku yang secara pasif dapat
menciptakan kemungkinan karena
adanya sifat sihirku.
Lalu...
Ketika aku membuat kemungkinan
tersebut, secara individual inti
keberadaan itu mulai menyerang
diriku dimana cahaya dari bola itu
menembus akar yang melahap
keseluruhan inti tersebut.
Ini hal yang wajar dan aku sudah
mengetahui hal ini akan terjadi,
karena secara pasif adanya
sebab-akibat membuat siapa saja
pasti juga melakukan hal yang sama
seakan inti keberadaan memiliki
kehendaknya sendiri.
Aku mulai sedikit serius dalam
menggunakan pedang milik Verly
yang mana aku semakin
memperbanyak akar yang tercipta
dari pedang tersebut agar dapat
membuat inti keberadaan itu
masih berada di genggamanku.
Lalu tanpa pikir panjang aku yang
sudah bosan berada di sini
langsung menggapai bola tersebut
yang menjadi inti keberadaan
Demonstia dan ketika aku ingin
menyentuhnya aku menggunakan
sihirku agar bisa mempengaruhi
inti keberadaan tersebut.
Dan seketika...
aku sudah berada di dalam sebuah
dunia yang telah menjadi bagian
dari inti keberadaan Demonstia
yang tidak lain adalah gerbang iblis.
***
Di dalam gerbang iblis...
Lagi-lagi... sebuah pandangan yang
tak ingin aku lihat, dimana semua
yang berada di sini hanyalah
para iblis.
Dunia yang berada di dalamnya
sangat begitu luas hingga aku
melihat sebuah cahaya yang
membentang di atas langit dan itu
begitu banyak menampung sejumlah
dunia.
Gerbang iblis terhubung dengan
neraka dan tentu keseluruhan
dunia ini identik dengan neraka.
Aku langsung menggunakan sihirku
untuk menciptakan senjata [0/??]
agar dapat merombak sedikit
dunia ini. itu tidak akan berefek
pada Demonstia jika semua dunia
yang berada di dalam gerbang ini
hancur. namun bila menghancurkan
gerbangnya yang berada di luar
secara keseluruhan itu akan
benar-benar mengacaukan
inti keberadaan nya.
Tapi...
Sesaat aku yang ingin segera
melancarkan seranganku, tiba-tiba
ada beberapa iblis yang menarik
jubahku.
Dia terlihat ingin berkata sesuatu
kepadaku.
"Kau... apa pernah bertemu dengan
ibu?"
Iblis manusia dengan sepasang
tanduk itu bermaksud mengatakan
tentang Demonstia.
Lalu... tak lama iblis lainnya mulai
muncul menghampiriku, berbagai
bentuk iblis yang juga menanyai
hal yang sama.
"Eee.... dia dalam kondisi baik-baik
saja, tidak perlu khawatir, aku bukan
orang jahat yang akan melukai
ibu kalian, meski kalian sendiri itu
iblis"
Aku mengatakan apa yang aku
pikirkan.
"Kalau begitu... anda adalah ayah
kami?.. karena sebelumnya ibu kami mencari seseorang untuk di jadikan
suaminya"ucap salah satu dari
mereka.
"Pantas saja dia terikat oleh Afreon
kurasa itulah alasanya.
yang lebih penting... apa kalian tahu
dimana mata ibu kalian berada?
aku ingin membantu ibu kalian"
Aku dengan santai bertanya
sambil membuka sebungkus permen.
"Itu mustahil anda dapatkan,
itu tersegel menyatu dengan gerbang
iblis, dimana... ada entitas yang
menduduki segel tersebut"
Ketika salah satu dari mereka
mengatakan hal itu, seketika mereka
semua menunjukan wajah sedih.
"Ada entitas lain... yang hidup di
bagian inti keberadaan?, apa itu...
perbuatan orang lain yang mengirim
entitas itu?" (Retnan)
"Bagaimana?... ayah tahu?..
benar. organisasi mereka yang telah
menanamkan entitas yang sangat
kuat. bahkan iblis bertingkat raja
saja masih belum sebanding dengan
dia"ucap salah satu dari mereka
"Yang berarti di jaga kah, setidaknya
mata itu masih ada, itu sudah cukup.
aku tidak perlu mengalahkan entitas
itu aku hanya perlu mengambilnya,
tapi... jika situasi berbeda... mungkin
aku akan bertindak, lalu dimana
lokasi mata iti berada?"
Aku mencoba bertanya kepada
salah satu dari mereka.
"Itu berada di dalam kastil ibu kami,
saya akan mengatakan satu hal lagi
entitas itu adalah... sosok ibu kami
yang berbeda, dia tercipta dari
suatu konsep yang memang sudah
terikat oleh inti keberadaan ibu,
dan secara perlahan... dia akan
merebut apa yang ibu punya"
"Kurasa itu cukup sulit, tapi... itu
sudah cukup, berarti... apapun
tindakanku melawan dia, itu juga
akan mempengaruhi keadaan
Demonstia sekarang. karena dia
telah menjadi konsep intinya,
dan jelas dia dapat menggunakan
inti keberadaan Demonstia secara
totalitas. baiklah... aku sudah
memutuskanya bahwa... aku
memilih untuk tidak berhadapan denganya tapi aku hanya perlu
mengambil apa yang aku butuhkan"
Tak lama....
Aku langsung pergi meninggalkan
mereka para iblis dan langsung
berjalan menghampiri kastil
Demonstia yang berada tak jauh
dari pandanganku.
Istana itu sangat begitu identik
dengan neraka, meski para iblis juga.
Setelah aku memasuki kastil
tersebut... aku langsung di sambut
oleh kehadiran sosok yang sama
seperti Demonstia.
Ya. itulah... yang di maksud oleh
mereka para iblis. aku tidak berpikir
akan secepat ini bertemu denganya
walau dalam suasana yang berbeda.
Dia yang berada di hadapanku
menatap wajahku dengan tatapan
yang seakan merendahkan diriku.
"Hey ayolah.. jangan tatapan aku
seakan aku hanya sekedar hewan
di matamu"
dan langsung mengeluarkan pedang
[0/??Endless] sekali lagi.
Ya kali ini berbeda, aku membuat
pedang ini menjadi agresif dimana
pedang ini mewakili diriku sendiri.
Jika seseorang mencoba
menyerangku maka secara pasif
pedang ini akan mengurusnya.
Dan ini cocok untuk orang
seperti dia yang tidak bisa
membuka mulut yang hanya
menatapku sejak awal.
"Percuma... kau tidak akan bisa
mengalahkanku bahkan menyentuh
diriku, apa kau lupa kau sedang
berada di mana?"
"Aku tahu, kemenangan berpihak
padamu karena seutuhnya inti ini
meniadi milikmu, kau bisa
membuangku kapanpun, tapi...
aku ingin kita selesaikan dengan
cara yang santai, seperti mengobrol"
Aku dengan santai mengatakanya
dan sekali lagi aku mulai membuka
sebungkus permen.
"Tidak dan sekarang... pergi...!!"
"Eh?"
Hanya dengan kata-katanya dan
kehendaknya...
Aku sudah berada di luar gerbang
yang seakan itu tadi hanya sebatas
pertemuan yang singkat, dan
benar-benar tidak sopan.
"Begitu ya... kehadiranku di tolak
dan semudah itu dia mengusirku,
jujur... aku lebih benci ketika aku
yang berada dalam kondisi santai
namun orang lain tidak sepihak
dengan keinginanku"
Aku bergumam sendiri dalam
ruang kekosongan...
Aku sedikit benci dengan apa yang
wanita itu lakukan padaku.
"Sungguh... wanita yang tidak asik,
mungkin... aku akan sedikit
merubah hukum gerbang iblis"
Aku langsung menelan permenku
dan hanya menyisakan batangnya
saja.
Perlahan... aku menaruh batang
permen itu di sela jariku seakan
ini sebuah rokok.
"Aku sudah mengerti tentang
gerbang ini, dan aku ucapkan..."
Aku mengarahkan batang permen
tersebut yang berada di sela jariku
seakan seperti menikmati sebuah
rokok ke arah gerbang yang masih
bisa aku jangkau meski jauh dariku.
Dan...
"Sayonara~~"
*BUSHHHHH*
*WUSHHHH*
Suara sesuatu yang menerjang
terdengar...
Saat aku mengayunkan batang
permen tersebut ke arah gerbang
iblis dan secara langsung batang
itu melesat menejang kembali
gerbang tersebut.
Seakan batang permen tersebut
adalah sebuah pedang yang aku
lancarkan dalam tengah kekosongan.
Kemudian sesaat setelah
tersentuh dengan gerbang iblis...
Langsung merubah struktur seluruh
dunia yang berada di gerbang iblis
menjadi... bongkahan es.
Dimana gerbang iblis yang identik
dengan neraka kini telah aku ubah
hukum tersebut menjadi antartika.
Tidak akan ada api lagi yang
membuat seseorang takut berada di sana, yang menjadi pandangan
menarik mereka adalah... api yang terubah menjadi es dan tidak akan
ada lagi api neraka, karena es akan menjadi sesuatu yang hidup di sana.
"Inilah sihir penciptaanku...
dan aku rasa... itu sudah cukup
untuk melenyapkanya"
Aku tersenyum melihat
pemandangan ini, dan secara instant
aku sudah mendapatkan apa yang
aku butuhkan, di genggaman tangan.
***
Situasi saat ini...
Di tengah arena colosseum...
"A..Apa!?.. kau melenyapkanya,
dengan merubah hukum gerbang
tersebut!?" (Demonstia) dengan
wajah terkejut.
"Ya, karena dia hanya sebatas
lumut yang menempel di intimu,
dia menjadi suatu konsep yang
dapat mengatur bagian inti keberadaanmu namun... dia juga
masih terikat olehmu, dia dapat
mempengaruhi inti keberadaanmu,
yang juga mengikuti keseluruhanya, singkatnya dia hanya menjadi
konsep dari latar belakang inti
keberadaanmu, yang mana dia hanya dapat mempengaruhi sesuatu yang
tercipta dari inti keberadaanmu
seperti gerbang iblis, untuk
menghancurkan konsep tersebut
adalah... menghapus seluruh latar
belakang dari inti keberadaanmu,
seperti gerbang iblis yang identik
dengan neraka yang sekarang telah
aku ubah segalanya menjadi es,
dan antartika sebagai dunia di sana,
itu sudah dapat menghapus konsep
tersebut, dari semua itu... dia
masih dalam tahap awal untuk
menyatu dengan keseluruhan
inti keberadaanmu"(Retnan)
"Singkatnya kau telah merubah
latar belakang intiku yang
seharusnya di penuhi bencana
dari neraka, api abadi, menjadi
lautan es, ya... itu bukanlah masalah, sekarang mata ini telah kembali dan
aku bisa memulai ulang semuanya"
(Demonstia)
"Ya... lagi pula dia bukan menjadi
konsep semesta yang berisikan
aspek fundamental, dia hanya
menjadi konsep personal di intimu,
sekarang... bisakah kita mulai...
janji sebelumnya?"
Aku sambil tersenyum dan
mengulurkan tanganku kepada
Demonstia.
"Tentu... tapi... kalau bisa, buatlah
saya lebih dekat dengan tuan
Afreon"(Demonstia) sambil
menerima uluran tanganku
dengan wajah bahagia.
"Oi apa sih yang sebenarnya sudah
terjadi!?.. aku merasa juga ikut
terlibat" (Afreon)
"Tunggi tuan Retnan, tapi maaf...
saya tidak bisa mengirim kalian
ke tangga berikutnya, karena...
sebenarnya, saya sudah bukan lagi
pemimpin tangga pertama setelah
menerima kembali kekuatanku,
untuk bisa meraih tangga berikutnya.
kalian harus berusaha menemukan
informasi yang sudah saya atur
sebelumnya, ingat satu hal,
meraih tangga bukan hanya
sekedar bertarung, karena pada
dasarnya kalian harus menemukan
informasi yang sudah di atur
oleh pemimpin tangga tersebut"
(Demonstia)
"Jadi kita perlu memecahkan
teka-teki ya, dan pemimpin tersebut
mengaturnya untuk organisasi yang
ingin meraih tangga berikutnya"
(Afreon)
"Santai saja aku sudah mendapatkan
informasi tersebut, aku mengetahui
karena telah membuka informasi
dari orang yang di lawan Afreon
sebelumnya, dengan sihirku, oh ya
dan... apa yang akan terjadi padamu
saat kau tidak lagi menjadi
pemimpin tangga pertama?"
Aku mencoba bertanya kepada
Demonstia yang perlahan tubuhnya
bercahaya.
"Sebentar lagi saya akan menjadi
Authority anda, dan jelas itu
meninggalkan segalanya, yang
artinya... tangga pertama sudah
tidak ada lagi dan total dari semua
tangga menjadi 99 tangga, karena
yang di maksud pemimpin itu
bukanlah kata belaka, mereka itu
seperti tuhan sendiri pada tangga
mereka, mereka tidak akan semudah
itu mati kecuali jika mereka
berhendak tewas... maka kematian
akan terjadi dan semua yang tuhan
itu miliki akan hancur, tapi setelah
ini saya hanya akan menjadi dewa
biasa karena otoritas saya bukanlah
dewa tertinggi"(Demonstia)
Tak lama... Demonstia telah berubah
menjadi.... Authority.