
"Jadi.. kita lihat, apa jawaban anda
tuan Afreon..."
Verly sambil menikmati pemandian
air panasnya di dalam kastil
miliknya.
***
Situasi saat ini...
Dalam tengah kekacauan tepat
di dataran pasir...
Sebuah aura hitam keluar dari
pedang Afreon, dan tanpa di sadari
secara tidak langsung aura itu membentuk sebuah badai
dalam genggaman pedang Afreon.
Badai itu terbentuk dari aura sihir
yang benar-benar terlihat hitam
pekat dan kuat.
Tak lama...
Badai itu menyeluruh dan langsung melebar dengan tiba-tiba, meniup segalanya yang berada di sekitar
Afreon.
Semua yang memperhatikan
tindakan Afreon begitu terkejut.
"Apa ini!?.. aura sihir ini... Verly kah,
tidak aku sangka dia tidak bisa
menahan diri untuk tetap berada
di dalam kastilnya. Yah.. apapun
itu aku akan tetap berada di atas
tebing ini mengawasi mereka.
tidak maksudku... mencari
kelemahan entitas itu."(Retnan)
Afreon terus berusaha menahan
pedang tersebut yang mencoba
mengambil ahlih tubuhnya.
Tidak. Lebih tepatnya aura dari
pedang itu yang mencoba merengut Afreon.
Wajah Afreon memperlihatkan
betapa keseriusanya terhadap
keinginannya untuk meraih
kekuatan dari apa yang ada pada
pedang tersebut, yang tidak lain
adalah Authority nya.
Lalu...
Setelah beberapa saat menahannya, Afreon akhirnya mampu sedikit
mengendalikan setengah dari
kekuatan pedang itu, hal ini dapat
dilihat dari tangannya yang secara
tiba-tiba menyerupai sebuah tangan
naga yang memiliki warna dari bintang semesta.
Lebih tepatnya... menyerupai
alam semesta itu sendiri.
"Ini...... Apa aku sudah berhasil?
dan apa aku telah melakukan
kontrak dengan entitas ini?"
(Afreon) berbicara pada dirinya
sendiri dengan rasa kebingungan
ketika ia melihat sesuatu yang
berbeda pada dirinya.
Namun di balik perubahanya itu...
Afreon tidak merasakan apa-apa,
Afreon juga tidak merasakan telah
berkontrak dengan entitas yang
ada pada pedang Authority nya
tersebut.
Jika memang Afreon telah
berkontrak, seharusnya ia mampu
berinteraksi dengan makhluk
tersebut.
Namun... di samping itu...
Ia merasa adanya kekuatan meluap
pada perubahan tanganya tersebut, termasuk pedang Authority nya yang dipenuhi aura negatif.
Tidak ada yang tahu apa yang
sebenarnya Afreon telah terima
sampai-sampai terlihat perubahan
yang begitu tak wajar pada fisiknya.
"Afreon..!!"
Suatu teriakan terdengar begitu
keras yang mengarah pada Afreon
yang hanya terdiam saja
memegangi pedangnya.
Afreon yang menyadari teriakan
tersebut langsung menoleh
tertuju pada Xanxus.
"Apa kau berniat menggunakan
kekuatan dengan aura yang
seperti iblis itu?"(Xanxus) dengan
wajah serius mengatakanya
kepada Afreon.
"Ya, begitulah."(Afreon) tanpa ragu
mengatakanya.
"Kalau begitu... urus saja dia sendiri"
(Xanxus)
"He?"
Afreon merasa tersentak saat
setelah mendengar pernyataan
tersebut dari Xanxus.
Ia tidak mengira bahwa Xanxus
akan mengatakan hal tersebut
secara blak-blakan kepada Afreon.
Secara perlahan... tongkat yang
Xanxus pegang mulai menghilang.
"Kau tidak boleh menggunakanya,
aura sihir negatif itu sama saja
dengan sihir negatif, yang tercipta
dari Dosa/kutukan/kematian,
bahkan itu hal yang di benci oleh
Tuhan. Ini tidak ada hubungannya
dengan permasalahaku atau egoku
aku hanya ingin memberitahumu
bahwa akan ada hal buruk terjadi,
bila kau tetap keras kepala untuk
menggunakannya."(Xanxus)
Afreon yang telah mendengar
hal tersebut mulai berpikir kembali
untuk tetap terus melanjutkan
apa yang telah hadir padanya.
Namun satu hal yang Afreon
yakini, Verly telah memberikan
apa yang Afreon butuhkan, dia
telah memberikan segenap
jiwa raganya agar membuat
keinginan Afreon terwujud.
Walau begitu ke khawatiran
teman nya tidak bisa di anggap
remeh, Xanxus sebenarnya
begitu khawatir kepadanya,
meski dalam ungkapan yang
berbeda, dia begitu serius tentang
apa yang baru saja ia ucapkan.
Kedua hal ini yang membuat
Afreon bingung dengan pilihan
jawabanya.
"Aku.... Aku.... akan.... melawanya.
dengan Authority ku, ya bila aku
mentraktirku membeli peralatan,
sebagai mana kau percaya kepada
rekan tim mu bahwa hal itu terjadi."
(Afreon) dengan rasa percaya diri.
"Bukan... maksudmu anak muda..
teman bukan? ya... terserah, aku
tidak bisa menolak semangat
dan keyakinan anak muda, untuk
kali ini saja... kau dapat sedikit
menggunakanya. Tapi aku tetap
tidak akan membantumu."(Xanxus)
sambil tersenyum dengan gigihnya.
"Ya, terima kasih paman."(Afreon)
Dengan begini tidak ada hal lain
yang Afreon permasalahkan,
termasuk bagaimana cara
mengatasi apa yang ia pegang
dalam genggamanya sekarang.
Afreon langsung berjalan secara
perlahan menghampiri entitas
Baron itu yang berdiri berada
di pandangan matanya.
Ujung mata pedang terlihat
siap untuk menebas apa yang
ada di hadapanya, dan di selimuti
oleh aura hitam pekat bercampur
ungu mengelilinginya.
"Bocah ini... gawat... ini sangat
gawat. aku tidak sekuat dulu,
dan kelemahan terbesar dari
dewa tertinggi ketika mencapai
batas adalah... sihir negatif yang
termasuk suatu dosa."(Baron)
perlahan melangkah mundur
ketika Afreon terus berjalan
melangkah maju ke arahnya.
Afreon yang menyadari bahwa
situasi ini berpihak kepadanya,
saat ia melihat rekasi Baron yang
terlihat ragu untuk mendekatinya
membuat Afreon menjadi percaya
diri serta menghilangkan rasa
keraguan nya.
Dan situasi ini berlanjut sampai
Afreon mulai menegakan pedang
Authority nya ke arah Baron yang
berada di depanya.
"... He-Hentikan..!!"
Afreon menghiraukan teriakan
penuh keraguan dari Baron.
Dan saat Afreon mengarahkan
pedang tersebut .. Secara sekilas
tanpa Baron sadari tangan yang
seperti monster berada di balik
punggung Baron, dalam sekejap
hancur begitu saja.
Secara perlahan dan terus perlahan
Afreon semakin mendekati Baron
justru semakin menghancurkan
fisik Baron hanya dengan
mengarahkan pedang tersebut.
"A-Apa ini!?.. apa yang terjadi!?..
aku tidak bisa lagi meregenerasi
tubuhku!? yang tanpa wujud fisik."
(Baron) dengan rasa terkejut
ketika ia memperhatikan dirinya
sendiri.
"Kau tidak perlu memiliki wujud
fisik. Sejak awal kau hanya
sekedar jiwa yang kosong,
aku mulai berpikir Demona lebih
kuat darimu. Sekarang... satu
ayunan dengan sifat sihirku
akan langsung melepaskan
keterikatanmu dengan avatar
yang terhubung denganmu.
kau akan-"(Afreon)
*Sring*
Suara benturan senjata terdengar..
itu begitu terdengar jelas hingga
terasa mengarah kepada Afreon
dan Baron yang dalam situasi
tengah pertarungan.
Mereka semua yang menyadari
asal suara tersebut yang ternyata
berasal dari atas langit, langsung
tertuju pada hal tersebut dan
membuat pertarungan mereka
terhentikan.
Itu terlihat seperti meteor yang
terus menerjang ke bawah dan
jika di amati kembali ternyata
benar itu menuju ke arah mereka
berdua Afreon dan Baron.
*Bammm...*
Mereka berdua yang menyadari
jatuhan meteor itu yang mengarah
kepada mereka, dengan cepat
mengambil tindakan dengan
melakukan langkahan mundur
secara bersamaan.
"Apa yang baru saja terjadi?"(Afreon)
Semua orang yang berada di sana
cukup terheran dengan apa yang
baru saja terlintas.
Untuk beberapa saat..
Mereka tidak bisa melihat apa
yang sebenarnya menerjang
mereka, karena itu tertutup oleh
pasir yang berhamburan karena
hantaman tersebut.
Hingga....
"Itu... "(Risty)
"Tidak mungkin itu... Minotaur!?..
kenapa... dia bisa kemari."(Xanxus)
Mereka semua benar-benar
terkejut ketika melihat kehadiran
sosok Minotaur yang pernah
organisasi [Another] temui.
Yang bahkan ini benar-benar
di luar pemikiran dan perkiraan
mereka.
Di sisi lain di atas tebing...
"Minotaur itu... sudah aku duga,
dia bukanlah makhluk biasa,
dengan begini... mungkin akan
menjadi sedikit menarik."(Retnan)
sambil tersenyum melihat mereka
dari atas ketinggian tebing, dan
rasa tersanjung.