
Di suatu tempat....
Tepat di tangga <80> dan sudah
lebih dari tiga bulan berlalu...
Mereka berhasil melewati setiap
ujian dalam setiap tangga yang
mereka lewati.
Hingga kini anggota mereka masih
terdiri dari tiga orang namun begitu
meyankinkan untuk terus meraih
tangga.
Tidak ada suatu konflik yang terjadi
kepada mereka, itu begitu damai
dalam satu regu yang terus bekerja
sama.
Hingga...
Di suatu tempat seperti halnya
mereka berada di dalam surga
yang menampung sejumlah dunia
tak terbatas namun begitu damai
di setiap kehidupanya.
Dystoria tiba-tiba menghadang
jalan Verly dan sekaligus Verlena
yang berada dekat di samping Verly.
Ia menunjukan tatapan serius
seakan Dystoria menginginkan
sebuah pertarungan kepada mereka.
"Hee... kelihatanya kau sudah
merasa bosan sampai sejauh ini,
Verlena. lebih baik kau tetap berada
di belakangku saja"(Verly) sambil
tersenyum di sambung dengan
Verlena yang telah mendengar
perintah Verly langsung melakukan
apa yang ia katakan.
"Hahh... santai saja, mana mungkin
aku akan mekakukan tindakan
egoku lagi. aku hanya ingin...."
(Dystoria) sambil merendahkan
dirinya di hadapan Verly.
Tanpa di sadari hal yang tak terduga
terjadi...
Secara tiba-tiba Dystoria meraih
tangan kiri Verly dan memegangnya
serta mengelusnya.
Sesaat membuat Verly merasa
terkejut.
"Apa... maksudmu?" (Verly)
"Aku yakin... kau juga pernah
melakukan hal ini kepada tuanmu
bukan?. meski aku tidak tahu soal
siapa dia, tapi... setidaknya
perasaanku ini tulus, aku tidak
berpikir ini bukan waktu yang tepat.
tapi aku merasa tempat ini cocok
untuk mengungkapkan rasa cinta
dari sang raja untuk permaisuri
yang sekarang berada di
pandanganku, jadi...." (Dystoria)
Perlahan Dystoria mengeluarkan
sebuah kotak kecil berlapis emas
yang setelah terbukanya kotak kecil
tersebut...
Terdapat sebuah cincin berlapis
emas berlian yang begitu banyak
menghiasi di setiap keindahanya
membuat siapa saja akan terikat
oleh cincin tersebut.
Secara perlahan ... Dystoria mulai memasangkan cincin tersebut ke
salah satu jari Verly yang ia pegang dengan perasaan tulus.
Dystoria sambil melirik ke arah
Verly, dia ingin melihat reaksi apa
yang akan ditunjukan olehnya setelah menerima cincin tersebut.
".... Ya ampun... ini begitu romantis,
sekaligus... ini pertama kalinya
seseorang melamarku, meski kau
bukanlah tuanku" (Verly) sambil
tersenyum kepada Dystoria yang
terus memperhatikan.
"Jadi... apa jawabanmu?.." (Dystoria)
menanyakan dengan serius kepada
Verly.
"Entahlah... tapi setidaknya aku
harus mengetahui alasan yang
jelas kau melakukan ini" (Verly)
".... Kau begitu memikat hatiku
dengan paras cantikmu meski
mata itu tertutup. Ka.. Kau tetap
selalu berada di hatiku" (Dystoria)
dengan wajah ragu mengatakanya.
Di saat yang sama...
Verly malah respon dengan wajah
yang terlihat menahan tawa, seakan
apa yang telah Dystoria sampaikan
tidak lebih dari sekedar lawakan.
"Ya ampun... ini moment yang
benar-benar bahagia. tapi...
aku tidak bisa langsung menjawab"
(Verly)
"Ya, aku akan tetap selalu menunggu
jawabanmu, lagi pula... kita sekarang
berada di suasana yang berbeda"
(Dystoria)
Di samping itu...
Verlena mulai bergerak dengan
mengedepankan senjatanya
seakan ia merasakan kehadiran
seseorang.
Suara setiap langkahanya terdengar
sedang berjalan menghampiri
mereka.
Hingga pada akhirnya entitas
tersebut hadir tepat di pandangan
mereka.
Namun...
Sosok dari entitas tersebut tidak
memiliki wujud fisik melainkan
sesuatu yang abstrak tidak ada
tubuh yang memperlihatkan ia
memiliki fisik, yang ada hanyalah
entitas tersebut berupa sebuah
cahaya yang hidup memakai
wujud manusia.
Mereka yang memperhatikanya
mulai meragukan kehadiran sosok
tersebut.
"Cukup sampai di sini perjalanan
kalian. akulah yang akan mengakhiri
cerita perjalanan kalian. sebagai
dewa tertinggi perwujudan
keberadaan. aku akan mengakhiri
semua ini"
Perlahan... sosok tersebut
mengarahkan tanganya ke arah
mereka yang berada di hadapanya.
Namun sesaat...
Tindakan dari entitas tersebut
terhentikan oleh Verly yang mulai
membuka mulut untuk berbicara.
"Kau. kau bukan organisasi maupun
tuhan di tangga ini ya, mungkin
lebih tepatnya kau orang luar.
biar aku tebak.... kau kemari atas perintah para Pillar bukan?" (Verly)
sambil tersenyum merasa tersanjung.
"Tentu, mereka ingin aku mengusir
kalian dari tangga, terutama kau...
dewa Verly. kau seharusnya tidak
yang kau janjikan, dan jika kau terus
keras kepala... kuharap kau bersedia
menjadi dewa dengan otoritas lemah
yang akan tinggal di lapisan Hollow"
Di saat yang sama...
Suatu tawa terdengar dari mulut
Verly saat setelah mendengar
perkataan dari entitas tersebut, ia
tertawa dan terus tertawa seakan
ia merasa gila akan suasana ini.
"Ya ampunnn... suasana ini
benar-benar membuatku bergairah.
jadi.... lakukan" (Verly) berkata
kepada entitas tersebut.
"He?... apa yang kau... katakan?..
kau bermaksud mengakhiri semua
ini di sini?.. kita bahkan belum
mencapai lapisan atas, jika ingin
menentangnya kita bisa-"(Dystoria)
"Bodoh, siapa juga yang ingin
kabur dari semua yang telah terjadi.
hanya saja... mulai sekarang...
aku tidak lagi membutuhkanmu...
sang raja" (Verly)
"He?"
Rasa terkejut serta ragu mulai
muncul di wajah Dystoria setelah
mendengar perkataan Verly yang
awalnya ia anggap hanya sebatas
sebuah candaan belaka.
"A.. Apa yang telah kau katakan!?,
kau pasti bercanda bukan?"
(Dystoria) merasa terkejut.
"Tidak, aku serius, kau sudah tidak
layak di butuhkan" (Verly) sambil
tersenyum lebar kepada Dystoria.
Pernyataan Verly benar-benar
membuat Dystoria tidak bisa
berkata apa-apa lagi, seolah-olah
rasa terkejutnya membuatnya
membeku dengan keadaan
mata yang terbuka lebar.
Bukan hanya sekedar menyakiti
perasaanya, perkataan Verly
benar-benar membuat Dystoria
kehilangan harapan yang sudah
ia percayai.
Tidak ada yang bisa Dystoria
pikirkan selain rasa amarah yang
memuncak dalam perasaan yang
becampur aduk.
"Karena mereka sudah mengetahui
keberadaanku, maka tidak ada
pilihan lain selain membuangmu.
oh ya soal lamaran itu. aku akan
menerimanya dalam sebuah janji,
yaitu... berjanjilah bahwa kau akan
terus menyandang nama " Argeus "
sebagai takdirmu. selama hal itu
tidak berubah... aku akan selalu
berada di pihakmu"(Verly)
Perlahan... Verly menggapai wajah
Dystoria yang hanya terdiam
mendengar perkataan Verly.
Lalu... dengan wajah tersenyum
Verly tanpa memikirkan perasaan
Dystoria ia langsung mencabut
cincin yang sebelumnya terpasang
di jarinya.
Dan mengembalikanya kembali
ke tangan Dystoria yang hanya
terdiam saja.
"Dan Verlena, lebih baik kau tidak
perlu berada di sisiku, aku berjanji
tidak akan bertingkah ceroboh.
dan izinkan aku untuk....
mengakhiri semua ini" (Verly)
berbicara kepada entitas tersebut.
"Ya terserah, asal kau bisa
mengembalikan semuanya"
Sebuah aura sihir begitu besar
mulai keluar dari tangan Verly.
Secara perlahan aura hitam
tersebut menyelimuti keseluruhan
tangan Verly.
"Ini cukup mudah, walah...
kenapa kau terus terdiam dan
tidak mencoba menentangku
yang sudah menghancurkan
harapamu Dystoria. yah mungkin
kau sengaja tidak menentang
keputusanku" (Verly) berbicara
kepada Dystoria hanya hanya
terdiam saja.
"Aku... Aku begitu kesal hingga
aku ingin sekali membunuhmu
Verly. jika kau ingin melihat
kemarahan dari sang raja
akan aku perlihatkan..!!"(Dystoria)
dengan wajah kesal.
Sebuah gerbang cahaya mulai
muncul begitu sangat besar
hingga terbilang mampu menutupi
semua dunia yang berada di tangga
ini.
Pancaran cahaya yang keluar dari
gerbang tersebut semakin
menerangi setiap dunia yang
tertampung di tangga tersebut.
"Hee... akhirnya kau merespon
dengan wajah kesal, tapi sayang
sekali... semua itu akan menjadi
sia-sia. ketika aku sudah sedikit
mengeluarkan sihirku di situlah
semuanya akan berakhir" (Verly)
Verly langsung mengarahkan
tangan kananya yang penuh dengan
energi sihir ke arah gerbang
milik Dystoria tersebut, hingga...
『Endless Nothingness 』
"Hancurlah..."
Dalam sekejap...
Segala hal yang berada di tangga
tersebut langsung lenyap dalam
hitungan lima detik.
Tidak.
Efeknya bahkan menghancurkan
semua tangga yang berada di
bawah tangga ini hingga hancur tak
bersisa berserta dengan kehidupan
yang ada di setiap tangga,
itu benar-benar terhapus tanpa ada
suatu reaksi pada sihir tersebut
yang memperlihatkan kehancuranya.
Gerbang milik Dystoria yang
seharusnya membentang ke ujung
langit ikut terhapus setelah
menerima efek dari sihir Verly yang
pada akhirnya menjadi ketiadaan.
"Selamat tinggal... raja Dystoria,
sisanya... biar aku selesaikan"
Verly tersenyum kepada Dystoria
yang dalam kondisi terhempas
keluar dari dalam zona tangga ini.
"Si-Keparat kau... Verly..!!"