
Dalam situasi yang sama, dimana
aku masih berada di hadapan
Almus yang terlihat tersiksa
denga kekosongan yang telah
aku buat untuk dirinya.
Ia terus bangkit dan mati kembali.
"HA.. HA.. HAHAHAHA..!! Itu tadi
menarik, seandainya aku tidak
terbawa suasana.. Mungkin aku
masih bisa menciptakan keajaiban,
namun... Melihat kekuatan yang
sehebat ini benar-benar membuat
diriku gila. Tapi.. Ini masih belum
berakhir, aku tidak ingin mengaku
kalah sebelum kau melawan
kontrak ku."(Almus)
Tiba-tiba suatu sosok mulai keluar
dari raga Almus.
Yang tidak lain adalah sosok
wanita yang sebelumnya masih
membuatku penasaran.
Tapi.. Ada yang aneh, wanita itu
tidak terlihat mengalami hal yang
sama seperti Almus.
Seharusnya seseorang yang telah
melakukan kontrak tingkat konsep
yang saling terikat inti keberadaan
satu sama lain, akan mengalami
hal yang sama karena mereka
bisa di bilang telah terikat, yang
di maksud dengan terikat adalah
konsep yang saling terhubung dan
mereka dapat menerima segalanya
entah itu kekuatan atau hal lainnya,
dalam suatu konsep yang tercipta
dari satu sama lain.
Jika salah satu dari mereka telah
mengalami hal buruk dengan inti
keberadaan.. Maka orang yang
terikat juga akan terpengaruh.
Satu hal yang bisa aku yakini bahwa
mereka tidak melakukan kontrak
konsep, mungkin sekedar kontrak
keterhubungan.
Mungkin karena itulah Kenma yang
dapat melakukan nya, bisa membuat
Almus begitu serius membunuhnya.
"Wanita itu... Kurasa ini waktu yang
tepat untuk mengetahui kenapa aku
merasa dia sama sepertiku.
Bisakah aku bertanya satu hal?...
Kenapa kau mencariku?"
Aku mencoba bertanya kepadanya
yang hanya terdiam memandangiku
berada di hadapanku.
Hingga beberapa waktu tidak ada
suatu respon yang ia katakan untuk
menjawab pertanyaanku.
Aku mulai merasa wanita ini
memang tidak ada maksud lain
dengan keinginan nya bertemu
denganku.
Hingga... Aku melihat wanita itu
mulai bertindak, dimana ia sedang melakukan hal yang sama ketika
aku ingin mengeluarkan bagian
dari inti keberadaanku.
Hingga sebuah senjata mulai
keluar dari bawah tangganya,
terlihat cahaya berwarna putih
mulai membentuk sebuah tombak.
Melihatnya.. Yang memiliki sesuatu
yang sama sepertiku, membuatku
merasa ingin melakukan hal yang
buruk kepadanya, dengan tujuan
untuk mengetahui siapa dia
sebenarnya.
"Begitu kah jawabanmu, aku tidak
segan-segan melakukan hal buruk
kepada wanita jika itu membuatku
kesal. Jujur saja.. Wanita itu
benar-benar menjengkelkan."
Aku langsung menghilangkan
pedang Verly dan tergantikan oleh
sebuah kapak bernama Nirvana
dalam genggamanku.
Sekarang.. Aku ingin tahu reaksi
apa yang akan ia tunjukan ketika
kami saling memegang sebuah
senjata.
"Ha... Jar.. Dia.. Raphnell..!!"(Almus)
berteriak dalam kondisi siksaan
yang ia alami saat ini.
Hingga ia mulai mengangkat
tombak tersebut dan mengarahkan
nya kepadaku saat setelah
mendengar teriakan tersebut.
"Kupikir aku bisa sedikit berpura-
pura untuk tidak bisa menggunakan
sihirku di dimensi ini, Tapi... Setelah
mengetahui tombak itu tercipta
seperti dari inti keberadaanku,
bermodal senjata itu tidak cukup."
Secara langsung aku menyalurkan
aura sihirku ke dalam kapak
tersebut, aku tidak akan langsung
menyerangnya, aku ingin menunggu
kapan dia akan mulai mengayunkan
tombak tersebut.
Karena bagiku sendiri, aku juga
cukup penasaran dengan semua
tentang dirinya, mengajak berbicara
untuk mengetahui dirinya memang
sulit, namun dengan cara berbeda
seperti membiarkan nya bertindak
lebih dahulu.. Itu adalah pilihan
yang tepat sekaligus cara yang
santai dan tidak merepotkan.
Aku terus memperhatikan setiap
detiknya dengan sorot mataku yang hanya tertuju kepada wanita itu.
"A- "
*Wushh..!!*
Aku benar-benar di kejutkan dengan
tombak tersebut yang melintas
ke arahku begitu sangat cepat.
Aku merasa itu terjadi ketika aku
mulai mengeluarkan sebuah kata
dari mulutku, yang bahkan itu
hanya sekedar hembusan nafas.
Meski itu terjadi hanya dalam
kilasan belaka, tanpa kusadari..
Tubuh manusiaku menerima luka
tepat di wajah walau hanya sekedar
goresan.
Dan itu telah membuktikan, dia
memang memilih menutup
informasi dirinya, tapi jika di
pikirkan kembali tentang ketidak
tahuan Almus saat wanita itu
berkeinginan bertemu denganku,
kupikir Almus juga tidak mengetahui
siapa wanita ini sebenarnya selain
otoritas yang ia miliki.
Di samping itu... Aku menoleh ke
arah kelereng-kelereng multiverse
itu berada, dan ternyata... Dampak
dari tombak tersebut.. Berakhir
dengan hancurnya seluruh
menampung sejumlah dunia tak
terbatas di setiapnya.
Hancurnya semua dunia itu tidak
menyisakan apapun selain jejak
kekacauan di ruang semesta ini.
"Wanita ini... Otoritasnya bukan
hanya sekedar julukan belaka,
kurasa itu hal yang mengejutkan
untuk kekacauan yang dia buat."
Aku langsung mengarahkan kapak
yang masih berada di genggamanku
ke arah kekacauan itu berasal.
Aura sihir menyelimuti kapak
tersebut hingga suatu reaksi muncul
pada kehancuran yang berasal dari
kumpulan kelereng tersebut.
Suatu hisapan mulai terlihat di
ujung kapak yang perlahan
menyerap semua kekacauan dan
kehancuran yang telah terjadi.
"Ya ampun kumohon jangan
merepotkan aku, berada di dunia
ini aja sudah merepotkan."
Aku dengan santai mengatakanya
sembari menahan kapak tersebut
yang terus melakukan tugasnya.
Lalu aku mulai menggerakan
tanganku untuk mengayunkan
kapak tersebut ke arah bawahku.
Hingga secara langsung merubah
seluruh kehancuran tersebut
menjadi ketiadaan.
Sekilas, itu terkesan seperti
penghapusan total dalam satu
gerakan.
Dan dengan begini, aku memiliki
kesempatan untuk memulai
serangan mutlak.
Dimana kapak tersebutlah yang
akan melakukan nya, semua
kekacauan yang teserap akan
menjadikan awal seranganku.
"Hm?.. Aku tidak mengira kapak
ini jauh lebih superior untuk
menciptakan kekacauan dan
kehancuran. Untuk kali ini...
aku akan benar-benar serius
dalam menggunakan kekuatanku,
aku sudah tidak peduli lagi
siapa dirimu. Aku hanya ingin
segera mengakhiri semua ini
dan bertemu dengan mereka
kembali, kau tahu?.. Ini sudah
saatnya liburan mereka telah
berakhir."
Suatu gejolak terjadi di ruang
semesta ini, terasa begitu
mengguncang seluruh bintang-
bintang ketika aku mulai
menyatukan kapak tersebut dengan
kekuatan dari inti keberadaanku.
Hingga ruang perlahan mulai runtuh
seolah-olah itu tidak bisa menerima
keberadaan kapak tersebut.
Suatu kepercayaan diri hadir
mewakili diriku yang ingin memulai
serangan ini, itu terasa begitu
mendebarkan seperti pertarunganku
yang sebelumnya dengan Almus.
"Baiklah... Hentikan."(Almus)
"Huh?"
Aku merasa tersentak ketika
mendengar perkataan Almus
yang mencoba menghentikan
diriku dalam tengah pertarungan.
Ia mengatakan hal tersebut
dengan siksaan yang masih ia
rasakan.
"Baiklah-Baiklah... Aku mengaku
kalah, aku juga merasa bosan
dengan siksaan ini, lagi pula...
Kau masih memiliki beberapa
pertanyaan untuk di lontarkan
padaku bukan?.. Baiklah Raphnell
kembalilah."(Almus)
Secara langsung wanita tersebut
menghilang kembali kepada Almus
saat setelah mendengar perintahnya.
Mendengar pernyataan tersebut..
Aku langsung menurunkan
senjataku dan menghentikan
semua tindakanku.
"Jadi.. Itukah jawabanmu, ya aku
senang mendengarnya."(Retnan)
"Kalau begitu, cepat lepaskan aku
dari siksaan konyolmu ini, dan
juga.. Bukankah aku yang akan
menunjukan dimana Tuhan di
tangga ini berasal."(Almus)
"Um.. Jujur saja, jika aku sangat berkeinginan keras untuk bertemu
dengan tuhan di tangga ini..
aku bisa saja berinteraksi dengan
Tuhan di tangga ini sejak awal.
Tapi.. Sejak aku hadir di tangga
yang menjengkelkan ini, aku mulai
sedikit tertarik ya... Aku hampir
melakukan tindakan untuk
menghancurkan dimensi ini, itu
saat aku melihat seseorang yang
seharusnya tidak berada di sini
hadir untuk mengingatkan orang
yang seharusnya aku jaga. Yah
lupakan, soal kebebasanmu...
Itu memang bisa di lakukan, tapi
aku ingatkan sekali lagi intimu
telah menjadi satu dengan
kekosongan itu, entah tindakan
apa yang kau lakukan.. Kau akan
terus terikat olehnya, dan tentu
apapun jawabanmu... Aku masih
dapat mempengaruhimu."(Retnan)
"Tunggu-Tunggu... Berarti.. Selama
ini kau hanya melakukan drama di
depanku? padahal kau mampu
mencapainya sendiri."(Almus)
"...... Ya dalam artian yang berbeda,
kau mungkin berpikir aku telah
mengetahuinya dari pengetahuanku,
jawaban nya tidak. Yang artinya..
tanpa harus mengetahui, aku
hanya perlu memaksa kekuatanku
untuk melakukan nya. Yah meski
itu tidak akan terjadi karena itu
merepotkan."(Retnan)
"Sial aku gagal ya, bahkan untuk
berinteraksi dengan istrimu
benar-benar di luar perkiraanku,
lagi pula ini kesalahanku karena
tidak fokus pada tujuanku. Mungkin
terikatnya aku dengan kekosongan
ini adalah hukuman karena gagal
melaksanakan tugasku. Yah aku
tidak peduli... Selama aku menikmati
itu jauh lebih berarti."(Almus)
"Baiklah.. Aku mulai."(Retnan)