
"Jadi... anggota organisasimu telah
hilang jejak ya"
Aku sekarang sedang duduk
bersama Risty tepat di salah satu
dekat rumah warga dari negara ini.
Aku menyebutnya negara karena
semua wilayah di tangga kedua
benar-benar sangat luas.
Kami memulai pembicaraan
yang ingin Risty sampaikan.
"Kurasa tidak, tapi... hanya itulah
anggapan yang bisa aku terima
untuk sekarang" (Risty)
".... Aku merasa ketidak yakinan ada
di wajahmu, apa yang membuat
mereka kehilangan jejak?"
Aku mencoba bertanya sambil
membuka sebungkus permen.
Lalu mendengar ungkapan kata
yang akan di sampaikan oleh Risty
yang sedang duduk tak jauh dariku.
"Ini terjadi sekitar... beberapa hari
yang lalu tepat di malam hari
ketika kami sampai di tangga kedua
bersamaan dengan organisasi yang
lainnya. sesampai di sana kami
semua langsung di sambut oleh
kehadiran sosok yang misterius
memakai jubah hitam menutupi
dirinya sendiri, yang aku duga...
dialah orang yang berkaitan dengan
hilangnya anggota organisasiku,
karena... dia menawarkan kami
sebuah informasi untuk mencapai
jalan menuju tangga ke tiga, dia
memang memberitahu informasi
tersebut kepada kami, tapi saat
kami memutuskan untuk sejenak beristirahat dengan arah tujuan yang berbeda-beda. dan setelahnya...
aku sudah kehilangan jejak mereka,
lalu aku memutuskan untuk mencari
mereka entah apa saja yang aku
lakukan, pada akhirnya aku tidak
bisa mendapatkan informasi lebih
untuk mencari mereka" (Risty)
"Apa kau pernah melihat
keberadaanya sekali lagi?" (Retnan)
"Tidak, dia seakan telah lenyap
dari semua informasi dirinya
dalam garis waktu" (Risty)
"Ya ampun ini sama saja
mendapatkan jalan buntu, jika sihir
tidak bisa mengetahui dirinya berada
maka sudah jelas dia bukan orang
sembarang" (Retnan)
"Tapi... aku memiliki teori lain
soal kehadiran orang tersebut"
(Risty)
"Teori?.."
Aku cukup terbuka soal apa yang
telah dia katakan.
".... Beberapa waktu lalu aku melihat
beberapa otoritas dewa mengujungi
istana tersebut, yang aku pikir
mereka ingin bertemu dengan raja
yang menduduki tahta itu" (Risty)
"Dewa?... mana mungkin mereka
bisa saling bertemu yang mana itu
hanya merugikan salah satu pihak,
salah satu tuhan di tangga
mengunjungi tuhan di tangga lain,
itu membuat yang mengunjungi
tangga tersebut hanya memakai
otoritas asli mereka dan bukan lagi
seorang tuhan, aku tidak berpikir
mereka akan sedamai itu"(Retnan)
"Apa yang kau katakan, aku tidak
bilang mereka itu tuhan di tangga,
yang berarti ada dewa dari luar
gerbang mengunjungi raja itu.
satu hal yang menurutku benar,
bahwa raja itu ada hubunganya
dengan sosok jubah tersebut,
dan sangat aneh jika dewa-dewa
mengunjungi kehadiranya apa lagi
jika itu bukanlah organisasi" (Risty)
"Jadi... apa kita bepikir akan pergi
mengunjungi istana tersebut untuk
bertemu dengan raja itu?" (Retnan)"
"Aku tidak berpikir itu ide yang
bagus, si raja itu benar-benar
sangat arogan, percuma jika
berurusan dengan orang seperti dia
(Risty)
"Apa yang kau bicarakan? suatu
hal tidak dapat kau anggap benar
jika belum memastikanya, jika
dia memang seperti itu, kurasa
itu membuat sedikit perkiraanku
memang benar"
Aku sambil berdiri dari tempat
duduk.
"Jadi... itukah keputusanmu?
kalau begitu, aku juga akan
mengikutimu" (Risty)
"Yosh, aku pikir sekarang kau
mulai terbuka denganku, jadi ayo
kita pergi"
Aku yang masih berdiri mengulurkan
tanganku kepada Risty yang masih
duduk.
"A-Aku tidak butuh uluranmu,
jangan cari hati di saat seseorang
meminta bantuan kepadamu hemp"
(Risty)
***
Beberapa waktu kemudian....
Akhirnya kita sampai ke istana
yang di katakan oleh Risty.
Istana itu benar-benar sangat
megah dimana setiap pillarnya,
lantainya, interiornya, semuanya
terbuat dari emas.
Aku tidak berpikir raja yang telah
menduduki istana ini sangat arogan.
Bahkan jalan menuju ke tahta raja
terbuka lebar untuk para warga.
Tapi satu hal yang membuatku
berpikir kembali dengan apa yang
telah aku katakan
Saat aku melihat para warga tersebut
datang membawa sesuatu seperti
persembahan melewati jalan
menuju tahta sang raja.
Aku terus berjalan bersama Risty
tanpa memperdulikan hal lain.
Hingga...
Saat kami sudah melewati jalur
menuju tahta sang raja dan akhirnya...
kami telah berhadapan dengan
sang raja.
"Retnan, dialah... sang raja tersebut"
(Risty)
Saat Risty mengatakan hal itu
aku langsung menoleh ke arah
raja tersebut yang benar-benar
terlihat berwibawa.
Dia memakai sebuah armor
berlapis emas rambut berwarna
putih panjang, terlihat sangat muda,
dan wajah yang begitu tampan.
Di tambah... para warga yang
sedang menyembah di hadapanya
membuat seakan-akan sosoknya
sangat berwibawa.
Perlahan kami mulai berjalan
menghampiri raja tersebut.
"Jadi... andakah raja tersebut"
Tanpa pikir panjang aku langsung
memulai pembicaraan.
Seketika dia yang sedang menikmati
singgasananya setelah mendengar
perkataanku dia langsung menoleh
ke arahku.
"Apa ini? ada orang asing yang
datang tanpa membawa
persembahan, lebih baik kalian
mati saja"
"Kurasa itu hal yang mudah bagimu,
tapi sejujurnya aku hanya ingin
berbincang denganmu raja"
Aku sambil tersenyum kepada
sang raja yang masih duduk di
atas singgasana.
"Aku merasa ada sesuatu yang
aneh kepadamu, tapi baiklah...
aku juga sudah bosan merasakan
semua ini, jadi cengunguk... apa
yang ingin kau bicarakan?"
Dia terlihat arogan di tambah
dengan senyuman kepercayaan
dirinya itu.
"Ini terlihat sangat mudah, kukira
akan terjadi sebuah drama, tapi
sebelum itu raja... lebih baik saling
memperkenalkan nama, panggil
saya Retnan Noir" (Retnan)
"Ha?.. seharusnya kau wajib
mengetahui nama raja yang
menduduki tangga ini sebelum
menginjaki istana ini. aku tidak
perlu memberitahu namaku
kau hanya perlu tahu siapa raja
itu sebenarnya"
"Yah terserah, tetapi setidaknya...
kuharap anda memikirkanya
kembali untuk memberitahu nama
anda, ini malah terdengar
membuang buang waktu"
Untuk sesaat ... Aku merasa raja yang
sedang duduk di tahtanya
mulai berhenti berbicara dan terus
tersenyum ke arahku yang berada di hadapannya.
Aku tidak mengerti apa yang sedang
dia pikirkan, aku juga tidak berpikir
untuk menggunakan kekuatanku
agar bisa mengetahui apa isi dalam
pikiranya. firasatku mengatakan
"Hahahah!!... kau kroco yang
sedikit bandel, ini sangat jarang
aku bisa terbuka untuk seseorang,
aku sedikit suka dengan gayamu,
kau orang yang menarik"
"Saya senang mendengarnya,
maka tidak heran saya sadar
harus bersikap formal"(Retnan)
"Aku adalah raja dari raja, aku
adalah makna dari raja itu sendiri,
segalanya bisa aku dapatkan,
namaku... adalah Dystoria Argeus"
Sesaat...
Aku sedikit tersentak mendengar
seseorang menyandang nama itu.
Aku langsung terpikirkan oleh Afreon.
"Nama saya, Retnan Noir, saya
seorang organisasi yang ingin
meraih lapisan atas. saya mohon
maaf... tapi bisakah saya bertanya
sesuatu?" (Retnan)
"Akan aku beri tiga kesempatan
kau bisa bertanya" (Dystoria)
"Tidak, satu saja cukup. bagaimana
pendapat anda... tentang nama
tersebut?"
Aku sambil tersenyum mengatakan
hal itu.
"Maksudmu... Argeus?, sejujurnya
aku tidak ingin menyandang nama
ini, meski sejak awal aku memang
menyandangnya, tapi karena aku
memiliki janji dengan seorang wanita, mau tidak mau aku harus memakainya entah kenapa aku merasa di bodohi tentang pertanyaan ini"(Dystoria)
"Itu sudah cukup, aku hanya
sekedar penasaran dengan
tanggapan orang arogan seperti
anda"
Aku dengan santai mengatakanya.
"Yahh... aku yang mendengarnya
sedikit kesal"(Dystoria)sambil
terseyum.
"Baiklah, langsung saja ke intinya.
apa anda yang-"
"Tunggu sebentar binatang"
Tiba-tiba raja itu memotong
pembicaraanku yang belum selesai.
Aku yang sedikit terkejut membuat
suasana ini sedikit serius.
"Ada apa... Raja?"
Aku menatapnya dengan wajah
serius, karena aku memiliki firasat
buruk tentang hal ini.
"Kau tidak perlu, menyembunyikan
wanita itu lagi" (Dystoria) sambil
tersenyum.
"He?"
Aku sedikit tersentak dengan apa
yang dia katakan, di tambah
senyuman itu membuatku semakin
ragu.
"Kau telah... membuat kontrak
bukan dengan si dewa kehancuran,
Verly" (Dystoria)
Seketika...
Aku yang mendengar perkataanya
langsung membuatku membeku.
Aku terus berpikir...
"Ini tidak mungkin"
bagaimana dia bisa mengetahui
keberadaan Verly yang jelas-jelas
itu hal yang sangat mustahil karena
dia sekarang berada di dalam
kastilnya, yang juga terletak
benar-benar di luar dari semua
lapisan yang sangat jauh.
Apapun yang terjadi. aku harus
menghentikan perkataan raja itu.
"Walah... di lihat dari ekspresi
wajahmu, aku benar bukan,
apa kau tahu siapa yang aku
sebut dengan wanita tersebut?.
yang tidak lain adalah... Verly"
(Dystoria)
Mendengarnya membuatku
semakin kesal.
"Bagaimana kau mengetahui
keberadaan nya?"
Aku mengatakanya dengan wajah
serius sambil menggepalkan
tanganku sebagai arti, aku sedang
menahan emosi.
"Ya itu juga alasan kenapa aku
terbuka untukmu, karena sejak
awal memang aku sudah
menyadari keberadaanya. dia ada
di setiap dunia... namun itu
bukanlah sosok aslinya, lalu...
setelah aku menyadari kehadiranmu seketika aku merasa ada kehadiran
yang tidak asing bagiku. dia adalah seseorang yang pernah aku cintai,
aku pernah sekali melamarnya untuk membuat kontrak, tapi...
tak kusangka aku akan di tolak
mentah mentahan. dan kau tahu?
apa yang dia lakukan setelahnya?.
dia justru mengambil segalanya
dariku, bahkan arti dari sang raja ini. bukankah itu terdengar benar-benar
licik ha?" (Dystoria)
Aku masih menahan emosi ini
yang ingin sekali membungkam
mulut raja itu.
"Diamlah..."
Aku menatapnya dengan wajah
yang kesal.
"Akan aku ceritakan sedikit, tentang
hubungan kita. dulu... dia pernah
beraliansi denganku, untuk meraih
lapisan atas, bukan hanya aku saja
ada satu wanita lagi yang pada saat
itu Verly lah yang mengajak wanita
itu untuk bergabung bersama.
si Verly itu sangat gila akan
pertarungan, bahkan di antara kami... hanya dialah yang berambisi untuk menghancurkan para dewa
sendirian, dia telah mengorbankan statusnya sebagai dewa tertinggi
hanya demi ambisi untuk
menghancurkan lapisan atas. dia
benar-benar tipeku, dan tentu itu
sebelum aku menjadi tuhan
di tangga ini, meski setelah kejadian
itu... selanjutnya dia melakukanya
seorang diri" (Dystoria)sambil
tersenyum.
"Hentikan semua pembicaraan ini..!!!"
"He?"
Aku terkejut...
Tiba-tiba Risty yang berada di
sampingku berteriak sekencang
mungkin untuk menghentikan
pembicaraan ini.
Aku yang dalam menahan emosi
tentu itu membuatku terkejut.
"Retnan!!.. bukankah kita datang
untuk membahas tentang informasi
untuk mencari organisasiku kan!?,,
kau membuat kesal tahu"(Risty)
Dia mengatakan hal itu dengan
wajah memerah yang ia tunjukan.
"Oh... Ya-Yah..."
Aku mengatakanya dengan rasa
ragu yang aku tunjukan.
"Itu benar, kau harus membayarnya
setelah semua ini berakhir"(Risty)
"Siapa wanita itu... benar-benar
tidak ada hubunganya"(Dystoria)
*TIK*
Suara jentikan terdengar....
Dalam sekejap...
Aku melihat Risty yang berada di
sampingku, langsung hancur lebur
yang hanya menyisakan lumuran
darah di setiap jalan.
Yang aku pikir itu adalah perbuatan
si raja yang hanya duduk berada
di atas tahtanya.
Aku terkejut sekaligus tidak bisa
menahan emosi ini lagi setelah
melihat... seseorang yang berharap
kepadaku, mati di depan mataku.
"Ya ampun... kurasa memang
benar. aku harus menelan emosi
yang sudah menggumpal di dalam
jiwaku ini"
Tanpa pikir panjang...
Aku langsung mengeluarkan
pedang milik Verly dari inti
keberadaan nya.
Perlahan... sebuah pedang katana
pekat hitam mulai muncul berada
di hadapanku.
Dengan cepat aku langsung
mengambil pedang tersebut,
dan mencoba melakukanya
dengan perasaan yang terbilang
santai.
"Oh ya... itulah pedang milik Verly,
tidak aku sangka bisa melihatnya
untuk sekali lagi. tapi sebelum
kau benar-benar melawanku.
setidaknya aku ingin bertanya...
kenapa dia memilihmu untuk
menjadi pasangan hidupnya?"
(Dystoria)
"Aku juga tidak tahu, tapi satu hal
yang pasti. entah perbuatan apapun
yang dia lakukan, seberapa banyak
dosa yang dia lakukan, entah dia
menghianatiku atau tidak. bagiku...
dia adalah seseorang yang telah
merubah segalanya dalam hidupku
dan itu... sudah lebih dari cukup"
Perlahan aku mulai mengangkat
pedang Verly dengan aura hitam
dan ungu meyelimuti setiap
sisi pedang ini.
"Bagus... sekarang... mari kita
mulai keseriusan ini, majulahh..!!
suami Verly..!!" (Dystoria)