A The Creators

A The Creators
Seorang Pengganti



Aku terus melangkahi tangga yang


terlihat sampai di titik dimana


menjadi akhir perjalanan menelusuri


jalan penuh tangga ini.


Ketika aku mencapai ujung tempat


itu, yang menjadi awal pandanganku


adalah...


Sesuatu yang bersifat kesurgawian


dimana itu terasa aku berada di


tempat para dewa, di lihat dari


banyaknya manusia bersayap


seolah-olah mereka seperti malaikat.


Bukan hanya sekedar kehidupan


malaikat, namun berbagai hal yang


tidak sewajarnya manusia biasa


menduduki ranah ini, seperti


banyaknya bangunan-bangunan


yang menopang di atas awan.


Lalu.. Ketika sekali lagi aku


mengamati, ternyata... Seluruh


kehidupan di ranah ini menopang


di atas awan, seakan awan itu


adalah tanah suci mereka.


Itulah kesan awalku ketika melihat


berbagai hal yang aku pikir.. Tidak


sepantasnya aku berada di tempat


para malaikat ini, meski itu hanyalah


pendapatku dalam sudut yang


berbeda.


Meski begitu.. Aku memutuskan


untuk tetap terus berjalan sambil


melihat berbagai hal yang sedang


terjadi.


"Ya ampun... Aku yakin.. Banyak


dari organisasi tidak akan pernah


bisa melanjutkan perjalanan mereka. Berada di sini saja.. Itu terlihat


hampir mustahil, karena semuanya


mayoritas malaikat.. Kupikir banyak


hal tabu yang menyimpang tangga


ini."


Langkahku terhenti ketika sorot


mataku tertuju kepada sebuah


istana yang begitu megah


membentang di tengah dunia ini.


Melihat hal tersebut, aku sangat


yakin.. Bahwa apa yang menjadi


tujuanku datang kemari adalah


apa yang ada di dalam sana.


Aku dengan segera melangkah


menghampiri istana tersebut


hingga...


"Tu-Tunggu... Apa maksudnya ini."


Ketika aku berjalan mengarah


menghampiri istana tersebut.


Tiba-tiba beberapa wanita bersayap


memegangi kedua tanganku lalu


perlahan terbang sehingga aku


juga turut terbang.


Aku cukup di bingungkan dengan


mereka yang tiba-tiba berinteraksi


denganku tanpa mereka kenal,


bahkan aku yakin, aku tidak sedang melanggar hal tabu, ya meski penampilanku berbeda dengan


mereka sih.


"Maaf tuan.. Saya di perintahkan


kepada ratu untuk membawa


anda dan menghadap kepada


beliau secara langsung."


"Huh?"


Para malaikat itu mengatakan


sesuatu yang jauh lebih membuatku


bingung, terlebih lagi mereka


perlahan membawaku ke arah


dimana istana itu berada.


Tapi.. Aku yakin tidak sedang


melanggar hal tabu, dan jujur saja


aku merasa tidak nyaman dengan


cara mereka membawaku.


Beberapa menit kemudian...


***


Aku telah berada di luar istana


dan mereka yang sebelumnya


membawaku mulai menurunkanku.


Sekarang... Setelah aku sampai


berada di depan istana.. Beberapa


hal lagi membuatku bingung.


Dimana kali ini aku di bingungkan


dengan banyaknya kehadiran


mereka para malaikat terlihat


menunggu kehadiranku, namun


itu... Di lakukan dengan bersujud.


Aku sama sekali tidak mengerti


apa maksud dari semua ini, tapi


mereka memberiku sebuah jalur


di dalam istana yang mengarah


langsung ke tahta dari Tuhan di


tangga ini.


"Aku benar-benar di bingungkan


dengan sikap mereka, yahh.. apapun


itu yang terpenting sekarang... Aku


hanya perlu memasuki istana ini."


Lalu... Suatu kehadiran datang


menghampiriku ketika aku perlahan


berjalan menuju ke tahta istana


tersebut.


Terlihat burung merpati yang


memang berkeinginan bertemu


denganku. Ia terbang dan secara


langsung turun menghadap


kepadaku.


Hingga.. Suatu cahaya tiba-tiba


hadir menyelimuti burung tersebut.


Secara langsung.. Menghadirkan


suatu sosok seperti seorang


wanita.


Ia menampilkan sosok yang


terlihat suci, dimana ia memiliki


sepasang sayap seperti yang


lainnya, pakaian yang terlihat


anggun membuat dirinya seolah-


olah memiliki derajat yang lebih


tinggi.


Untuk sekali lagi...


Aku di bingungkan lagi ketika


wanita itu juga melakukan hal


yang sama, ia tunduk di hadapanku


tanpa adanya sebuah alasan.


Aku sangat yakin ini bukanlah


sebuah ilusi atau hal magis lainnya,


wanita yang sedang tunduk ini...


Aku juga merasa keberadaan nya


berbeda dengan semua kehidupan


di sini.


"...... Saya senang, melihat anda


baik-baik saja, saya menyambut


kalian... Tuanku dan nona Verly."


"Huh?"


Tuan? Orang sepertinya


memanggilku dengan sebutan


tuan?


Dia.. Mengetahui nama Verly?


Apakah dia memiliki suatu


hubungan denganku tanpaku


sadari?


Aku langsung di bingungkan dengan


semua perkataan yang ia lontarkan


padaku.


Di tambah.. Yang paling membuat


diriku terkejut adalah.. Dia


mengetahui keberadaan Verly.


"Ya saya telah memperkirakan


respon anda akan sangat terkejut,


maaf saya belum memperkenalkan


nama di hadapan anda. Nama saya...


Letica Morpheus. Sayalah yang


akan menggantikan posisi nona


Verly sebagai pembimbing anda,


dan tentu... Ini adalah permintaan


langsung dari nona Verly."



"Apa yang kau katakan?.. Bagaimana


kau bisa memiliki hubungan dengan


Verly. Dan kenapa kau mengetahui


diriku?"


Aku langsung bertanya dengan


serius kepada wanita tersebut


yang masih tunduk di hadapanku.


"Lebih singkatnya... Saya adalah


bagian informasi diri anda."(Letica)


"Huh?"


Kelopak mataku terbuka lebar


dengan rasa terkejut yang seolah-


olah membuat diriku tidak bisa


berkata-kata lagi.


Aku tidak menduga bisa bertemu


dengan hal yang berada di luar


tujuanku.


"Berikan saya sedikit kasih sayang


maka... Anda akan mengingkat


sebagian diri anda kembali."


(Letica)


Wanita itu berdiri dan mulai


berjalan menghampiriku yang


berada di hadapan nya.


"Tunggu sebentar.."


Wanita tersebut merasa tersentak


dan langsung terhentikan langkahan


nya untuk menghampiriku saat


setelah aku mengatakan hal


tersebut.


"Aku cukup yakin dengan ucapanmu


terlebih lagi itu menyangkut Verly.


Mumpung... Ada sesuatu yang


menarik di sini. Aku akan bertanya


beberapa hal sebelum kau membagi


informasi diriku."(Retnan)


"Baik, apapun untuk anda."(Letica)


Untuk sekali lagi, ia merendahkan


diri dan tunduk di hadapanku.


Aku mulai berpikir ini akan menjadi


kesempatan yang tepat untuk aku


bertanya tentang hubunganku


dengan orang-orang yang


memegang informasi diriku.


"Pertama.. Apa maksud dari


perkataanmu yang ingin


menggantikan posisi Verly?"


(Retnan)


"Beliau hanya ingin perjanjian


anda tetap terjaga, di samping


itu saya telah di percayai


sepenuhnya untuk selalu ada


di samping anda."(Letica)


Ia mengatakan hal itu dengan cukup


sopan, dan itu terlihat tidak


menunjukan sedikit kebohongan.


Meskipun sejak awal aku telah


percaya karena ia telah mengenal


Verly.


"Itu terdengar tidak seperti dirinya


yang biasanya. Yah aku sampingkan


pertanyaan itu, dan ini mungkin


terdengar berlebihan tapi bisakah


kau memberitahu... Informasi


tentang dirimu? mungkin itu bisa


menjadi berguna di lain waktu


karena kau memiliki hubungan


denganku. Apa lagi menyangkut


informasi diriku."


Aku bertanya dengan serius


dengan rasa penasaran untuk


mendengar jawaban wanita itu.


"Saya tidak hanya akan memberitahu


informasi diri saya, tapi... Semua


tentang kami yang memegang


kepingan informasi anda.


Saya ulangi, saya Letica Morpheus


hadir sebagai wujud cinta dan


amarah anda, saya adalah salah satu


keberadaan yang anda dan nona


Verly ciptakan."(Letica)


"Ciptakan?"


Aku dengan rasa terheran-heran


dan bingung mendengarnya.


"Benar, anda dan nona Verly itu


adalah orang tua kami sendiri,


namun nona Verly menolak


keberadaan nya sendiri sebagai


seorang ibu. Dan ya.. kami hadir


dengan sejumlah orang yang


membawa berbagai informasi


dan mewakili wujud anda yang


berbeda-beda."(Letica)


"Sejumlah orang itu berarti


seseorang yang aku ciptakan?"


(Retnan)


"Benar, bisa di katakan.. Kalian


menciptakan tujuh orang sebagai


pembawa informasi anda, dan


seperti saya, ketika anda telah


mengetahui seluruh kepingan


informasi anda, maka tugas kami


telah selesai. Namun... Kami terlahir bukan hanya sekedar membawa informasi anda, tapi juga sebagai


utusan yang selalu ada untuk anda."


(Letica)


"Dan juga Kenapa aku menyimpan


informasi diriku kepada kalian?


dan kenapa mereka yang menjadi


informasi diriku tidak langsung


saja berkumpul dan memberikan


nya kembali padaku?"


Aku sambil memegang daguku dan


berpikir.


"Itu adalah permintaan anda di


masa itu, tapi saya bisa sedikit


memberitahu tentang tujuan anda


memerintahkan hal tersebut.


He?... Maaf saya pikir ini bukan


waktu yang tepat untuk


memberitahu siapa anda yang sebenarnya. Saya terlalu bahagia


hingga terbawa suasana."(Letica)


"Oh begitu ya, aku memang


tertarik tapi aku tidak memaksamu


untuk mengatakan semuanya.


Di samping itu... Dimana ketujuh


orang lainnya yang menjadi


informasi diriku?"(Retnan)


"Anda memang memerintahkan


untuk menyimpan informasi anda


kepada kami, tapi anda bukanlah


orang yang mengatur seluruh


informasi tersebut."(Letica)


"Jadi..."(Retnan)


"..... Ibu kamilah yaitu nona Verly


yang mengatur semua tentang


anda, bahkan takdir yang beliau


buat agar kami bisa bertemu


dengan tuan kami secara berturut.


Meski saya tidak mengetahui apa


maksud beliau. Tapi saya yakin


pada dasarnya ia hanya ingin


mewujudkan keinginan anda.


Jika anda berhasil berada di sini..


Artinya anda telah bertemu dengan


tuan Rethos."(Letica)


"Ya.. Itulah awal aku berpikir untuk


mencari tahu informasi diriku,


maksudmu... Pertemuanku dengan


dia bahkan denganmu adalah... "


(Retnan)


"Benar, takdir yang nona Verly


buat untuk kami. Anda tidak ada


di masa lalu dan informasi anda


ada pada kami orang lain tidak


akan bisa mengetahui diri anda


di masa lalu tekecuali kami, dan


anda adalah sosok yang menentang takdir Tuhan, maka... Untuk


membawa anda ke takdir nona


Verly... Perlu adanya pembimbing


di samping anda sebagai pemandu


untuk tetap mengikuti takdir nona


Verly. Karena keberadaan anda


sulit untuk kami pegang dan kami


kendalikan. Intinya... Semua itu


telah di atur oleh nona Verly hingga


sampai sekarang takdir itu akan


terus berjalan."(Letica)


"..... Itu terdengar merepotkan,


kenapa kalian tidak menggunakan


kekuatan magis atau hal lainnya


yang bisa membawa langsung


diriku ke takdir Verly?"(Retnan)


"Keberadaan anda seperti dewa


tertinggi yang menentang takdir


dari orang lain. Tapi anda jauh


melebihi takdir yaitu menentang


Tuhan, dan itu sama saja telah


menolak adanya takdir. Tapi..


Masih ada kesempatan yang bisa


kami lakukan yaitu lewat informasi


diri anda di masa lalu yang kami


pegang yang orang lain tidak bisa


gapai. Namun nona Verly menolak


keputusan tersebut."(Letica)


"Um?.. Tanpa kau sadari kau telah


membagi informasi diriku."(Retnan)


"Tidak masalah, Itu juga ada pada informasi yang akan saya berikan


kepada anda."(Letica)


"Oh ya.. Satu pertanyaan lagi


sebelum aku menerima dirimu


sebagai pengganti Verly."(Retnan)


"Jadi... Anda akan menerima


keberadaan saya?"(Letica)


"Sejujurnya aku tidak peduli ada


atau tidak, tapi jika itu permintaan


wanita itu. Aku tidak keberatan.


Tapi... Pertama.. Kau harus siap


menerima hukuman."


Aku sambil mengarahkan tangan


kananku ke arah wanita itu berada


yang sedang tunduk di hadapanku.


"Huh?.. A-Apa maksud anda?..


Saya rasa tidak sedang melakukan


kesalahan."(Letica)


"Kau Tuhan di tangga ini bukan?


karena ulahmu aku hampir terbawa


emosi dan berkeinginan untuk


menghancurkan segalanya di sana."


(Retnan)


"Ma... Maafkan saya jika itu sangat


berlebihan untuk anda, saya pikir


anda akan senang dengan sistem


dunia yang saya buat tersebut.


Saya membuat semua itu hanya


untuk membuat kalian berdua


merasa jatuh cinta, saya hanya


ingin membuat anda bahagia.


Tapi ternyata.. Itu malah membuat


anda merasakan sebaliknya. Saya


mohon maaf sebesar-besarnya..


Saya siap menerima hukuman


apapun sampai anda merasa puas."


(Letica)


Ketika aku memperhatikan dia


yang sedang tunduk di hadapanku


dengan wajah yang terlihat sangat


bersalah, dimana ia tidak ingin


menunjukan wajahnya kepadaku,


dimana rasa keraguan begitu jujur


ia perlihatkan dengan rasa takut.


Aku mulai berpikir kembali tentang


keinginanku untuk menghukumnya.


"................... Lupakan."


Aku langsung menurunkan tanganku


yang mengarah ke wajah wanita itu.


"He?.. Kenapa bisa begitu? jika


anda tidak menghukum saya,


seluruh hidup saya akan di penuhi


rasa ketakutan."(Letica)


Dia masih memperlihatkan wajah


begitu bersalah, padahal aku serius


untuk melupakan nya.


Aku mulai berpikir dia sama seperti


Verly hanya saja ia terobsesi dengan


kepercayaanku.


"Aku tidak tahu apakah itu juga


termasuk takdir Verly hingga


aku berkeinginan untuk merusak


duniamu. Tapi pada akhirnya...


Aku terikat lagi oleh takdir Verly


seperti pertemuan ini, anggap saja


semua emosiku adalah bagian


dari takdir Verly. Dan soal hukuman


itu... Aku telah memutuskan nya."


Aku dengan santai mengatakan


hal tersebut.


"A-Apa itu tuanku?"(Letica)


Dia tampak antusias ketika aku


memutuskan jawabanku.


"Ya sebelum itu, aku ingin kau


menyerahkan informasi diriku.


Sebelumnya kau bilang dengan


kasih sayang? apa aku harus


melakukan seperti apa yang


Verly selalu inginkan?"(Retnan)


"He?.. Ti-Tidak mungkin, melakukan


hal itu terlalu berlebihan. Saya rasa


hanya sekedar saling mendekatkan


dahi.. Itu sudah cukup."(Letica)


Dia mulai berdiri dan melangkah


berjalan kepadaku yang berada


di hadapan nya.


"Itu cukup mudah..."(Retnan)


"Eh?"(Letica)


Tanpa pikir panjang aku langsung


memegang kedua bahunya dan


mendekatkan dahi kami satu sama


lain hingga saling bersentuhan.


Ketika hal itu berlangsung...


Aku merasakan semua tentang


diriku, dari sifatku yang sebenarnya,


keburukan yang pernah aku alami,


kejahatan, kekacauan, kebencian,


kenaifan, amarah, hancurnya


harapan, hingga timbul rasa cinta.


Semua itu mengalir pada diriku


dan perlahan seolah-olah


membentuk pribadi yang baru.


Ketika aku merasakan semua hal


itu, aku langsung melepaskan


dahi kami yang saling bersentuhan.


"Tuan?.. Anda tidak apa-apa?"


(Letica)


Untuk sesaat.. Aku terdiam.


Entah kenapa.. Aku merasa ingin


tertawa tanpa sebuah alasan,


seakan ada sesuatu yang mendesak


diriku untuk melakukan hendaknya.


Dan aku merasa terlahirkan kembali


dengan kepribadian yang sedikit


berbeda.


"Kau... Tidak perlu khawatir Letica,


aku tidak apa-apa. Yang lebih


penting.. Kau harus menerima


hukumanmu bukan?"


Aku sambil menunjukan wajah


dengan senyum yang begitu lebar


kepada Letica.


Seolah-olah aku memandang


rendah dirinya.


"Itu benar, tapi sebelum itu izinkan


saya untuk membuat kontrak


dengan anda, hanya sebatas


hubungan saja."(Letica)


"Tidak perlu..."


Aku mengatakan hal itu dengan


santai.


"He?.. Ada apa tuan?"(Letica)


Dia kebingungan dengan apa yang


telah aku katakan.


"Dari pada kontrak, aku akan


membawamu ke suatu tempat


sekaligus sebagai hukumanmu."


*TIK*


Suara jentikan terdengar...


Hingga sebuah gerbang kekosongan


mulai keluar sekaligus terbuka.


Itu terlihat seperti sebuah pusaran


yang terlihat mampu menghisap


segalanya.


"Gerbang itu akan langsung


membawa dirimu ke kastil yang


aku miliki. Di sana.. Kau akan


menerima hukuman, dimana kau


harus menjaga semua senjata


dewa yang telah aku miliki,


sekaligus kau harus melayani


diriku, jangan khawatir soal kita


berhubungan. Dalam kastil.. Kita


masih bisa berhubungan lewat


batin kita. Dan jangan khawatir


soal ikatan, selama kau berada


di sana.. Aku jamin jutaan dewa


pun tidak akan bisa menemuimu."


Aku mengatakan semua itu dengan


rasa kepercayaan yang tinggi


terlihat di wajahku.


"Saya senang mendengarnya,


mulai saat ini... Saya Letica


Morpheus.. Akan selalu berada


di samping anda.. Tuanku."(Letica)


Ia mulai berjalan melangkah


menghampiri gerbang tersebut yang


berada di hadapanya, dan secara


langsung... Ia telah memasukinya.