
Aku terus melangkahi tangga yang
terlihat sampai di titik dimana
menjadi akhir perjalanan menelusuri
jalan penuh tangga ini.
Ketika aku mencapai ujung tempat
itu, yang menjadi awal pandanganku
adalah...
Sesuatu yang bersifat kesurgawian
dimana itu terasa aku berada di
tempat para dewa, di lihat dari
banyaknya manusia bersayap
seolah-olah mereka seperti malaikat.
Bukan hanya sekedar kehidupan
malaikat, namun berbagai hal yang
tidak sewajarnya manusia biasa
menduduki ranah ini, seperti
banyaknya bangunan-bangunan
yang menopang di atas awan.
Lalu.. Ketika sekali lagi aku
mengamati, ternyata... Seluruh
kehidupan di ranah ini menopang
di atas awan, seakan awan itu
adalah tanah suci mereka.
Itulah kesan awalku ketika melihat
berbagai hal yang aku pikir.. Tidak
sepantasnya aku berada di tempat
para malaikat ini, meski itu hanyalah
pendapatku dalam sudut yang
berbeda.
Meski begitu.. Aku memutuskan
untuk tetap terus berjalan sambil
melihat berbagai hal yang sedang
terjadi.
"Ya ampun... Aku yakin.. Banyak
dari organisasi tidak akan pernah
bisa melanjutkan perjalanan mereka. Berada di sini saja.. Itu terlihat
hampir mustahil, karena semuanya
mayoritas malaikat.. Kupikir banyak
hal tabu yang menyimpang tangga
ini."
Langkahku terhenti ketika sorot
mataku tertuju kepada sebuah
istana yang begitu megah
membentang di tengah dunia ini.
Melihat hal tersebut, aku sangat
yakin.. Bahwa apa yang menjadi
tujuanku datang kemari adalah
apa yang ada di dalam sana.
Aku dengan segera melangkah
menghampiri istana tersebut
hingga...
"Tu-Tunggu... Apa maksudnya ini."
Ketika aku berjalan mengarah
menghampiri istana tersebut.
Tiba-tiba beberapa wanita bersayap
memegangi kedua tanganku lalu
perlahan terbang sehingga aku
juga turut terbang.
Aku cukup di bingungkan dengan
mereka yang tiba-tiba berinteraksi
denganku tanpa mereka kenal,
bahkan aku yakin, aku tidak sedang melanggar hal tabu, ya meski penampilanku berbeda dengan
mereka sih.
"Maaf tuan.. Saya di perintahkan
kepada ratu untuk membawa
anda dan menghadap kepada
beliau secara langsung."
"Huh?"
Para malaikat itu mengatakan
sesuatu yang jauh lebih membuatku
bingung, terlebih lagi mereka
perlahan membawaku ke arah
dimana istana itu berada.
Tapi.. Aku yakin tidak sedang
melanggar hal tabu, dan jujur saja
aku merasa tidak nyaman dengan
cara mereka membawaku.
Beberapa menit kemudian...
***
Aku telah berada di luar istana
dan mereka yang sebelumnya
membawaku mulai menurunkanku.
Sekarang... Setelah aku sampai
berada di depan istana.. Beberapa
hal lagi membuatku bingung.
Dimana kali ini aku di bingungkan
dengan banyaknya kehadiran
mereka para malaikat terlihat
menunggu kehadiranku, namun
itu... Di lakukan dengan bersujud.
Aku sama sekali tidak mengerti
apa maksud dari semua ini, tapi
mereka memberiku sebuah jalur
di dalam istana yang mengarah
langsung ke tahta dari Tuhan di
tangga ini.
"Aku benar-benar di bingungkan
dengan sikap mereka, yahh.. apapun
itu yang terpenting sekarang... Aku
hanya perlu memasuki istana ini."
Lalu... Suatu kehadiran datang
menghampiriku ketika aku perlahan
berjalan menuju ke tahta istana
tersebut.
Terlihat burung merpati yang
memang berkeinginan bertemu
denganku. Ia terbang dan secara
langsung turun menghadap
kepadaku.
Hingga.. Suatu cahaya tiba-tiba
hadir menyelimuti burung tersebut.
Secara langsung.. Menghadirkan
suatu sosok seperti seorang
wanita.
Ia menampilkan sosok yang
terlihat suci, dimana ia memiliki
sepasang sayap seperti yang
lainnya, pakaian yang terlihat
anggun membuat dirinya seolah-
olah memiliki derajat yang lebih
tinggi.
Untuk sekali lagi...
Aku di bingungkan lagi ketika
wanita itu juga melakukan hal
yang sama, ia tunduk di hadapanku
tanpa adanya sebuah alasan.
Aku sangat yakin ini bukanlah
sebuah ilusi atau hal magis lainnya,
wanita yang sedang tunduk ini...
Aku juga merasa keberadaan nya
berbeda dengan semua kehidupan
di sini.
"...... Saya senang, melihat anda
baik-baik saja, saya menyambut
kalian... Tuanku dan nona Verly."
"Huh?"
Tuan? Orang sepertinya
memanggilku dengan sebutan
tuan?
Dia.. Mengetahui nama Verly?
Apakah dia memiliki suatu
hubungan denganku tanpaku
sadari?
Aku langsung di bingungkan dengan
semua perkataan yang ia lontarkan
padaku.
Di tambah.. Yang paling membuat
diriku terkejut adalah.. Dia
mengetahui keberadaan Verly.
"Ya saya telah memperkirakan
respon anda akan sangat terkejut,
maaf saya belum memperkenalkan
nama di hadapan anda. Nama saya...
Letica Morpheus. Sayalah yang
akan menggantikan posisi nona
Verly sebagai pembimbing anda,
dan tentu... Ini adalah permintaan
langsung dari nona Verly."
"Apa yang kau katakan?.. Bagaimana
kau bisa memiliki hubungan dengan
Verly. Dan kenapa kau mengetahui
diriku?"
Aku langsung bertanya dengan
serius kepada wanita tersebut
yang masih tunduk di hadapanku.
"Lebih singkatnya... Saya adalah
bagian informasi diri anda."(Letica)
"Huh?"
Kelopak mataku terbuka lebar
dengan rasa terkejut yang seolah-
olah membuat diriku tidak bisa
berkata-kata lagi.
Aku tidak menduga bisa bertemu
dengan hal yang berada di luar
tujuanku.
"Berikan saya sedikit kasih sayang
maka... Anda akan mengingkat
sebagian diri anda kembali."
(Letica)
Wanita itu berdiri dan mulai
berjalan menghampiriku yang
berada di hadapan nya.
"Tunggu sebentar.."
Wanita tersebut merasa tersentak
dan langsung terhentikan langkahan
nya untuk menghampiriku saat
setelah aku mengatakan hal
tersebut.
"Aku cukup yakin dengan ucapanmu
terlebih lagi itu menyangkut Verly.
Mumpung... Ada sesuatu yang
menarik di sini. Aku akan bertanya
beberapa hal sebelum kau membagi
informasi diriku."(Retnan)
"Baik, apapun untuk anda."(Letica)
Untuk sekali lagi, ia merendahkan
diri dan tunduk di hadapanku.
Aku mulai berpikir ini akan menjadi
kesempatan yang tepat untuk aku
bertanya tentang hubunganku
dengan orang-orang yang
memegang informasi diriku.
"Pertama.. Apa maksud dari
perkataanmu yang ingin
menggantikan posisi Verly?"
(Retnan)
"Beliau hanya ingin perjanjian
anda tetap terjaga, di samping
itu saya telah di percayai
sepenuhnya untuk selalu ada
di samping anda."(Letica)
Ia mengatakan hal itu dengan cukup
sopan, dan itu terlihat tidak
menunjukan sedikit kebohongan.
Meskipun sejak awal aku telah
percaya karena ia telah mengenal
Verly.
"Itu terdengar tidak seperti dirinya
yang biasanya. Yah aku sampingkan
pertanyaan itu, dan ini mungkin
terdengar berlebihan tapi bisakah
kau memberitahu... Informasi
tentang dirimu? mungkin itu bisa
menjadi berguna di lain waktu
karena kau memiliki hubungan
denganku. Apa lagi menyangkut
informasi diriku."
Aku bertanya dengan serius
dengan rasa penasaran untuk
mendengar jawaban wanita itu.
"Saya tidak hanya akan memberitahu
informasi diri saya, tapi... Semua
tentang kami yang memegang
kepingan informasi anda.
Saya ulangi, saya Letica Morpheus
hadir sebagai wujud cinta dan
amarah anda, saya adalah salah satu
keberadaan yang anda dan nona
Verly ciptakan."(Letica)
"Ciptakan?"
Aku dengan rasa terheran-heran
dan bingung mendengarnya.
"Benar, anda dan nona Verly itu
adalah orang tua kami sendiri,
namun nona Verly menolak
keberadaan nya sendiri sebagai
seorang ibu. Dan ya.. kami hadir
dengan sejumlah orang yang
membawa berbagai informasi
dan mewakili wujud anda yang
berbeda-beda."(Letica)
"Sejumlah orang itu berarti
seseorang yang aku ciptakan?"
(Retnan)
"Benar, bisa di katakan.. Kalian
menciptakan tujuh orang sebagai
pembawa informasi anda, dan
seperti saya, ketika anda telah
mengetahui seluruh kepingan
informasi anda, maka tugas kami
telah selesai. Namun... Kami terlahir bukan hanya sekedar membawa informasi anda, tapi juga sebagai
utusan yang selalu ada untuk anda."
(Letica)
"Dan juga Kenapa aku menyimpan
informasi diriku kepada kalian?
dan kenapa mereka yang menjadi
informasi diriku tidak langsung
saja berkumpul dan memberikan
nya kembali padaku?"
Aku sambil memegang daguku dan
berpikir.
"Itu adalah permintaan anda di
masa itu, tapi saya bisa sedikit
memberitahu tentang tujuan anda
memerintahkan hal tersebut.
He?... Maaf saya pikir ini bukan
waktu yang tepat untuk
memberitahu siapa anda yang sebenarnya. Saya terlalu bahagia
hingga terbawa suasana."(Letica)
"Oh begitu ya, aku memang
tertarik tapi aku tidak memaksamu
untuk mengatakan semuanya.
Di samping itu... Dimana ketujuh
orang lainnya yang menjadi
informasi diriku?"(Retnan)
"Anda memang memerintahkan
untuk menyimpan informasi anda
kepada kami, tapi anda bukanlah
orang yang mengatur seluruh
informasi tersebut."(Letica)
"Jadi..."(Retnan)
"..... Ibu kamilah yaitu nona Verly
yang mengatur semua tentang
anda, bahkan takdir yang beliau
buat agar kami bisa bertemu
dengan tuan kami secara berturut.
Meski saya tidak mengetahui apa
maksud beliau. Tapi saya yakin
pada dasarnya ia hanya ingin
mewujudkan keinginan anda.
Jika anda berhasil berada di sini..
Artinya anda telah bertemu dengan
tuan Rethos."(Letica)
"Ya.. Itulah awal aku berpikir untuk
mencari tahu informasi diriku,
maksudmu... Pertemuanku dengan
dia bahkan denganmu adalah... "
(Retnan)
"Benar, takdir yang nona Verly
buat untuk kami. Anda tidak ada
di masa lalu dan informasi anda
ada pada kami orang lain tidak
akan bisa mengetahui diri anda
di masa lalu tekecuali kami, dan
anda adalah sosok yang menentang takdir Tuhan, maka... Untuk
membawa anda ke takdir nona
Verly... Perlu adanya pembimbing
di samping anda sebagai pemandu
untuk tetap mengikuti takdir nona
Verly. Karena keberadaan anda
sulit untuk kami pegang dan kami
kendalikan. Intinya... Semua itu
telah di atur oleh nona Verly hingga
sampai sekarang takdir itu akan
terus berjalan."(Letica)
"..... Itu terdengar merepotkan,
kenapa kalian tidak menggunakan
kekuatan magis atau hal lainnya
yang bisa membawa langsung
diriku ke takdir Verly?"(Retnan)
"Keberadaan anda seperti dewa
tertinggi yang menentang takdir
dari orang lain. Tapi anda jauh
melebihi takdir yaitu menentang
Tuhan, dan itu sama saja telah
menolak adanya takdir. Tapi..
Masih ada kesempatan yang bisa
kami lakukan yaitu lewat informasi
diri anda di masa lalu yang kami
pegang yang orang lain tidak bisa
gapai. Namun nona Verly menolak
keputusan tersebut."(Letica)
"Um?.. Tanpa kau sadari kau telah
membagi informasi diriku."(Retnan)
"Tidak masalah, Itu juga ada pada informasi yang akan saya berikan
kepada anda."(Letica)
"Oh ya.. Satu pertanyaan lagi
sebelum aku menerima dirimu
sebagai pengganti Verly."(Retnan)
"Jadi... Anda akan menerima
keberadaan saya?"(Letica)
"Sejujurnya aku tidak peduli ada
atau tidak, tapi jika itu permintaan
wanita itu. Aku tidak keberatan.
Tapi... Pertama.. Kau harus siap
menerima hukuman."
Aku sambil mengarahkan tangan
kananku ke arah wanita itu berada
yang sedang tunduk di hadapanku.
"Huh?.. A-Apa maksud anda?..
Saya rasa tidak sedang melakukan
kesalahan."(Letica)
"Kau Tuhan di tangga ini bukan?
karena ulahmu aku hampir terbawa
emosi dan berkeinginan untuk
menghancurkan segalanya di sana."
(Retnan)
"Ma... Maafkan saya jika itu sangat
berlebihan untuk anda, saya pikir
anda akan senang dengan sistem
dunia yang saya buat tersebut.
Saya membuat semua itu hanya
untuk membuat kalian berdua
merasa jatuh cinta, saya hanya
ingin membuat anda bahagia.
Tapi ternyata.. Itu malah membuat
anda merasakan sebaliknya. Saya
mohon maaf sebesar-besarnya..
Saya siap menerima hukuman
apapun sampai anda merasa puas."
(Letica)
Ketika aku memperhatikan dia
yang sedang tunduk di hadapanku
dengan wajah yang terlihat sangat
bersalah, dimana ia tidak ingin
menunjukan wajahnya kepadaku,
dimana rasa keraguan begitu jujur
ia perlihatkan dengan rasa takut.
Aku mulai berpikir kembali tentang
keinginanku untuk menghukumnya.
"................... Lupakan."
Aku langsung menurunkan tanganku
yang mengarah ke wajah wanita itu.
"He?.. Kenapa bisa begitu? jika
anda tidak menghukum saya,
seluruh hidup saya akan di penuhi
rasa ketakutan."(Letica)
Dia masih memperlihatkan wajah
begitu bersalah, padahal aku serius
untuk melupakan nya.
Aku mulai berpikir dia sama seperti
Verly hanya saja ia terobsesi dengan
kepercayaanku.
"Aku tidak tahu apakah itu juga
termasuk takdir Verly hingga
aku berkeinginan untuk merusak
duniamu. Tapi pada akhirnya...
Aku terikat lagi oleh takdir Verly
seperti pertemuan ini, anggap saja
semua emosiku adalah bagian
dari takdir Verly. Dan soal hukuman
itu... Aku telah memutuskan nya."
Aku dengan santai mengatakan
hal tersebut.
"A-Apa itu tuanku?"(Letica)
Dia tampak antusias ketika aku
memutuskan jawabanku.
"Ya sebelum itu, aku ingin kau
menyerahkan informasi diriku.
Sebelumnya kau bilang dengan
kasih sayang? apa aku harus
melakukan seperti apa yang
Verly selalu inginkan?"(Retnan)
"He?.. Ti-Tidak mungkin, melakukan
hal itu terlalu berlebihan. Saya rasa
hanya sekedar saling mendekatkan
dahi.. Itu sudah cukup."(Letica)
Dia mulai berdiri dan melangkah
berjalan kepadaku yang berada
di hadapan nya.
"Itu cukup mudah..."(Retnan)
"Eh?"(Letica)
Tanpa pikir panjang aku langsung
memegang kedua bahunya dan
mendekatkan dahi kami satu sama
lain hingga saling bersentuhan.
Ketika hal itu berlangsung...
Aku merasakan semua tentang
diriku, dari sifatku yang sebenarnya,
keburukan yang pernah aku alami,
kejahatan, kekacauan, kebencian,
kenaifan, amarah, hancurnya
harapan, hingga timbul rasa cinta.
Semua itu mengalir pada diriku
dan perlahan seolah-olah
membentuk pribadi yang baru.
Ketika aku merasakan semua hal
itu, aku langsung melepaskan
dahi kami yang saling bersentuhan.
"Tuan?.. Anda tidak apa-apa?"
(Letica)
Untuk sesaat.. Aku terdiam.
Entah kenapa.. Aku merasa ingin
tertawa tanpa sebuah alasan,
seakan ada sesuatu yang mendesak
diriku untuk melakukan hendaknya.
Dan aku merasa terlahirkan kembali
dengan kepribadian yang sedikit
berbeda.
"Kau... Tidak perlu khawatir Letica,
aku tidak apa-apa. Yang lebih
penting.. Kau harus menerima
hukumanmu bukan?"
Aku sambil menunjukan wajah
dengan senyum yang begitu lebar
kepada Letica.
Seolah-olah aku memandang
rendah dirinya.
"Itu benar, tapi sebelum itu izinkan
saya untuk membuat kontrak
dengan anda, hanya sebatas
hubungan saja."(Letica)
"Tidak perlu..."
Aku mengatakan hal itu dengan
santai.
"He?.. Ada apa tuan?"(Letica)
Dia kebingungan dengan apa yang
telah aku katakan.
"Dari pada kontrak, aku akan
membawamu ke suatu tempat
sekaligus sebagai hukumanmu."
*TIK*
Suara jentikan terdengar...
Hingga sebuah gerbang kekosongan
mulai keluar sekaligus terbuka.
Itu terlihat seperti sebuah pusaran
yang terlihat mampu menghisap
segalanya.
"Gerbang itu akan langsung
membawa dirimu ke kastil yang
aku miliki. Di sana.. Kau akan
menerima hukuman, dimana kau
harus menjaga semua senjata
dewa yang telah aku miliki,
sekaligus kau harus melayani
diriku, jangan khawatir soal kita
berhubungan. Dalam kastil.. Kita
masih bisa berhubungan lewat
batin kita. Dan jangan khawatir
soal ikatan, selama kau berada
di sana.. Aku jamin jutaan dewa
pun tidak akan bisa menemuimu."
Aku mengatakan semua itu dengan
rasa kepercayaan yang tinggi
terlihat di wajahku.
"Saya senang mendengarnya,
mulai saat ini... Saya Letica
Morpheus.. Akan selalu berada
di samping anda.. Tuanku."(Letica)
Ia mulai berjalan melangkah
menghampiri gerbang tersebut yang
berada di hadapanya, dan secara
langsung... Ia telah memasukinya.