A The Creators

A The Creators
Perjalanan Penuh Drama



[EPISODE INI DAN SETERUSNYA


AKAN BERPUSAT PADA


FLASHBACK SAAT Verly MEMULAI KEHANCURAN DI LAPISAN ATAS]


***


Satu bulan telah berlalu...


Verly dan Dystoria kini telah melalui


banyak rintangan dan pada akhirnya


mereka telah sampai di tangga ke 25


dalam kurung waktu satu bulan.


Mereka sekarang berada di atas


awan dengan jalan lantai yang


merujuk semakin ke atas yang akan


membimbing jalan mereka.


Mereka terus berjalan di lantai


tersebut dengan santainya.


"Oh ya Verly, bagaimana caramu


mengetahui semua halangan


yang telah di siapkan oleh tuhan


di setiap tangga?, aku cukup terkejut


dalam waktu satu bulan kita telah


sampai di tangga ke 25" (Dystoria)


terus berjalan sambil membuka


percakapan kepada Verly yang


berada di sampingnya.


"Hee... itu juga berkat doronganmu,


dan lihatlah dirimu sekarang, kau


semakin luar biasa dengan


kekuatanmu. aku yakin kau akan


menjadi raja yang sangat di segani"


(Verly) sambil tersenyum dan terus


berjalan.


"Tidak, selagi aku yang menjadi


teratas. itu lebih dari cukup,


mungkin jika aku bisa membalasmu


yang waktu itu... aku akan langsung


berbahagia,tapi aku berpikir kembali


setelah kau mengembalikan konsep


cahaya itu, kau memang wanita


yang benar-benar kuat, tapi mungkin


dengan aku yang sekarang... aku


bisa membunuhmu dengah mudah.


Verly... mari kita bertarung untuk


sekali lagi"(Dystoria)


Tiba-tiba langkahan kaki Dystoria


terhenti, Verly yang menyadarinya


langsung mengikuti tindakanya.


Mereka berdua saling


memperhatikan satu sama lain


dengan Dystoria yang serius


mengatakanya dan Verly yang


hanya menunjukan wajah tersenyum.


"Ya ampun... apa kau mencoba


mempertahankan harga dirimu?


hanya karena masalah sepeleh?"


(Verly) sambil tersenyum kepada


Dystoria.


"Tidak, aku hanya ingin mengulangi


pertarungan kita yang dulu, lagi pula


sejak awal aku ingin sekali sedikit


menggores kulitmu"(Dystoria)


Tak lama...


Sebuah perubahan terlihat di


sekitar tubuh Dystoria, itu seperti


sebuah armor berlapis emas


secara instant terpasang langsung


di seluruh tubuhnya.


Di sambung dengan sebuah


gerbang bercahaya emas mulai


keluar dari arah belakang Dystoria.


Perlahan... terlihat sesuatu seperti


ujung tombak mulai keluar dari


gerbang tersebut.


Tombak itu bercahaya emas


yang bahkan menyilaukan langit


menelan setiap kegelapan.


Dan Dystoria tanpa pikir panjang


langsung mengambil tombak


tersebut.


"Hee... apa itu senjata Authoritymu


yang baru?, kurasa tidak"(Verly)


"Ini adalah bagian dari kekuatan


inti keberadaanku, dimana...


ini lebih superior dari Authority


dewa tertinggi, aku menantangmu..


Verly..!!" (Dystoria) berteriak kepada


Verly sambil tersenyum.


"Baiklah... aku akan meladenimu


lagi pula aku juga ingin tahu


seberapa kuat dirimu untuk


melawanku saat ini... Dystoria"


(Verly)


Di saat yang sama...


Sebuah pedang katana pekat hitam


dengan aura hitam bercampur ungu


yang menyelimutinya, mulai keluar


dari bawah di hadapan Verly.


Tak membutuhkan waktu yang


lama.. mereka berdua seakan


sudah siap untuk memulai


pertarungan mereka.


Tatapan yang saling memperhatikan


diri mereka satu sama lain lalu


keinginan yang terlihat di setiap


wajah mereka, hingga mereka


secara perlahan membuat sebuah


kuda-kuda.


Ujung tombak yang mengarah


ke lawan yang siap menerjang


sedangkan pedang yang


siap menebas lawanya.


Mereka berdua merasa tersanjung


atas keputusan mereka


tanpa memperlihatkan rasa ragu


di antara mereka.


"Jadi... cukup satu serangan saja ya"


(Verly)sambil tersenyum.


"Itu sudah lebih dari cukup untuk


membelah perutmu"(Dystoria)


"Kalau begitu..."(Verly)


"Ya..." (Dystoria)


Aura yang begitu kuat keluar dari


tubuh mereka membuat apa yang


ada di sana mulai hancur.


Cahaya dari tombak itu semakin


menelan setiap kegelapan yang


keluar dari pedang milik Verly.


Tanpa adanya suatu percakapan lagi


yang keluar.. dengan cepat mereka langsung mengayunkan senjata


mereka dan saling menerjang satu


sama lain.


"Majulah... Verly..!!" (Dystoria)


*SWOOSHH*


*SLASH*


Suara bentrokan antar kekuatan


dari ayunan senjata mereka


mulai terdengar...


Dalam sesaat...


Sebuah kekosongan yang hampir


melahap semua yang ada di dalam


tangga ini seketika terhentikan oleh


suatu cahaya yang bersifat


menghancurkan hal yang tidak


bermakna dalam artian suatu


ketiadaan tanpa arti.


Dan secara langsung membuat kekosongan tersebut lenyap dengan begitu saja. cahaya yang menelan


kekosongan itu perlahan kembali


menjadi unsur cahaya.


"Wah.. wah.. sudah ku bilang bukan


(Dystoria)


Tanpa di sadari...


Verly tiba-tiba kehilangan


keseimbangan dan pada akhirnya


terjatuh terbaring.


Dan... menerima sebuah luka yang


cukup besar di bagian perutnya.


Itu begitu besar hingga darah


terus keluar dari dalam tubuhnya.


Namun...


Itu hanya berlaku untuk sesaat,


Verly mulai bangkit kembali


dan tanpa di sadari tubuh yang


seharusnya menerima luka yang


cukup fatal secara tidak langsung


semua itu kembali seperti semula.


Seakan ia memiliki regenerasi


yang sangat cepat tanpa ada


tanda-tanda yang membuat


semua itu terjadi secara nyata.


"Hee... ya ampun. kau benar-benar


menggores hal yang seharusnya


tidak dapat orang lain pegang,


dan hal yang lebih mengejutkan


lagi... kau dapat melahap apa yang


memang tidak bisa di lenyapkan


yang seharusnya itu mutlak"(Verly)


sambil tersenyum memegangi


perutnya sendiri.


"Meski itu masih belum cukup


untuk membunuhmu, lagi pula...


membunuhmu belum tentu kau


akan mati. tapi dengan begini...


kelemahanmu memang berada


di pihaku"(Dystoria) dengan wajah


arogan.


"Hee... sekarang kau berani


menyombongkan dirimu hanya


karena kau telah merobek perutku,


yahh... aku tidak peduli apa yang


kau banggakan, tapi kau harus


ingat satu hal. di saat seseorang


melakukan perjalanan bersamaku,


akan ada sebuah cerita baru yang


akan merubah pemikiran mereka


terhadap diriku"(Verly)


"Maksudmu... aku berubah pikiran


tentang dirimu?. entah aku tidak


berpikir seperti itu, lagi pula itu


tidak akan merubah perasaan yang


aku pendam ini" (Dystoria)


"Perasaan?" (Verly) dengan wajah


bingung.


"Hahh... bukan apa-apa, ayo kita


lanjutkan saja perjalanan ini"(Dystoria)


Mereka seakan melupakan apa


yang baru saja terjadi dengan


begitu cepat.


Mereka berdua mulai kembali


berjalan melangkahi setiap lantai


dengan banyaknya awan menjadi pandangan mereka.


"Oh ya soal sebelumnya, saat kau


bisa melenyapkan apa yang pedang


intiku keluarkan, tombak itu..."(Verly)


"Kau pasti akan berpikir seperti itu,


memang ini seperti salah satu dari


senjata Tuhan, tapi aku adalah darah


ras Divine Spirit murni, dimana


segala yang aku punya hanyalah


miliku sendiri tanpa campur tangan


orang lain. kau mengetahuinya


karena konsep senjata itu yang


memang tidak logis bisa menghapus


hal yang seharusnya tidak ada"


(Dystoria)


"Kau salah, aku hanya berpikir


senjata itu memiliki kehendaknya


sendiri seperti Authority, saat kau


melenyapkan seranganku... aku


merasa... kau juga melenyapkan


dampaknya secara bersamaan


dan tugasmu hanya mengarahkan


tombak tersebut ke arah lawanmu"


(Verly)


"Apa in ha?.. tidak biasanya kau


menunjukan wajah datar, ya...


inilah kekuatan sejati yang aku


miliki, seperti waktu itu.. bukankah


itu juga senjata Authority? aku bisa


dengan paksa memaksa dewa-dewa


itu untuk menjadi Authorityku,itulah


kekuatan dari inti keberadaanku"


(Dystoria) sambil tersenyum lebar.


"Memaksa?.. itu hampir lebih tepat


membuat suatu kemungkinan, aku


mulai sedikit menyukaimu"(Verly)


sambil sedikit tersenyum.


"Aku sudah lebih dulu menyukaimu,


dan juga... aku ingin menghapus


nama " Argeus " ini"(Dystoria)


"Hee... kau bodoh atau apa?..


itu adalah simbol sang fajar yang


akan selalu mencapai suatu


perdamaian yang akan selalu


di pertemukan dengan sang bulan,


itu bukanlah takdir melainkan


alasan kenapa segalanya tercipta"


(Verly)


"Segalanya tercipta?. kurasa itu


juga tertulis di artefak semesta


dalam buku surgawi, tepat di tulis


oleh generasi pertama Argeus Noah,


meski aku sendiri bingung dengan


apa yang ada di dalamnya, dan yah


aku adalah generasi ke dua dari


total 5000 anak, dan akulah yang


memegang darah murni sang fajar,


maka bisa di bilang aku adalah


generasi kedua yang menyandang


nama Argeus. dan itulah yang


membuatku ingin mengganti


nama sandangan itu bagiku...


nama ini tidak begitu keren"


(Dystoria)


"Hee... alasan yang tidak begitu


logis, kau benar-benar bodoh"(Verly)


sambil tersenyum menoleh kepada


Dystoria yang berjalan di sampingnya.


"Selama itu membuatmu senang


maka... bagiku tidak masalah"


(Dystoria)


"Ya ampun kata-katamu tidak lebih


dari sekedar artian hasratmu" (Verly)


Mereka berdua terus melangkah


berjalan tanpa adanya suatu


halangan.


Hingga...


Langkah mereka terhenti saat


melihat sosok wanita yang tiba-tiba


hadir di depan mata mereka.


Wanita tersebut sedang duduk


di lantai yang menjadi arah tujuan


mereka berikutnya.


Seakan ia menghalangi jalan


tersebut sekaligus terlihat sejak awal


ia memang menunggu kehadiran


mereka berdua.