A The Creators

A The Creators
Wujud Cinta



Satu hari sudah berlalu...


Aku berada di dalam kamar Verly...


"Suamiku... sebelum anda pergi mohon bawalah ini.." (Verly)


Verly memberikanku sebuah cincin berwarna ungu dengan aura kegelapan menyelimutinya.


Aku tidak mengerti apa maksud Verly tiba-tiba memberikanku sebuah cincin kepadaku.


Yah wajar juga dia sudah menjadi istriku.


Dia langsung memegang tangan kiriku, dan perlahan memasangkan cicin tersebut ke jari tengahku.


"Eee.. apa ini bentuk cintamu? atau aksesoris lainnya?"


Aku sedikit bingung dengan apa yang Verly berikan ke padaku, jadi aku mencoba bertanya.


"Itu juga termasuk, cicin ini adalah wujud dari sisi negatif cinta saya, dari hal-hal berbau dewasa hingga rasa cinta saya yang berlebihan."(Verly)


Dia terlihat tersenyum bahagia yang bagiku.. terlalu berlebihan.


".... Apa tidak ada fungsi lain selain... apa yang kau pikirkan?"


Aku benar-benar bingung dengan apa yang Verly maksud.


Yang aku pikirkan hanyalah hasrat seksual dirinya, namun entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan perilaku Verly, mengingat ia yang licik dalam berbagai hal.


"Tidak, tidak ada, itu hanya wujud cinta saya yang mungkin... suatu saat.. itu sangat berguna." (Verly)


Dia tersenyum bahagia dengan wajah mesum nya.


Seharusnya setelah melakukan kontrak konsep, kita bisa membagi pikiran dan perasaan.


Namun jujur saja.


Sampai sekarang aku masih belum bisa mengetahui apa yang Verly pikirkan, dia seakan tidak memikirkan apapun dan hanya menunjukan rasa bahagiannya kepadaku tanpa ada perasaan lain.


Memang dia pernah membagi informasi dari pikiran kita, namun oleh kehendaknya sendiri tanpa aku bisa mengambilnya sendiri dari pikirannya.


Seakan dia bisa memanipulasi pikiran dan perasaannya sendiri.


"Ya aku dengan senang menerima pemberian darimu, lebih baik... kau segera kenakan kembali pakaianmu, aku tidak ingin Afreon melihat dirimu telanjang."


Setelah itu aku berjalan pergi meninggalkan ruangan Verly.


"Suamiku memang yang terbaik, seharusnya aku bisa melayaninya sebagai seorang istri."(Verly)


Di sisi lain...


Di pintu masuk kastil.


"Maaf menunggu sedikit lama Afreon."


Aku sambil menunjukan wajah senangku kepada Afreon yang sejak awal sudah menungguku.


Perlahan aku berjalan menghampiri dia.


"Ha?.. aku bahkan menunggumu lebih dari satu jam, sebenarnya apa yang kau lakukan ke ruangan istrimu."(Afreon)


Dia terlihat lesuh.


"Dia hanya memberikanku sebuah cincin tanpa memberikanya sebuah alasan." (Retnan)


"Yah sudahlah, aku juga tidak ingin tahu, jadi.. apa kita akan benar-benar melakukanya?"(Afreon)


"Ya, aku menyuruh Verly untuk mengirim kita ke zona semesta lapisan tengah, sebentar lagi dia juga akan datang."


Lalu.. aku melihat Verly perlahan berjalan menghampiri kita sambil tersenyum kepada kita.


Tapi.. lagi-lagi aku bingung dengan apa yang kali ini Verly bawa.


Dia membawa sebuah pedang dengan aura sihir yang benar-benar besar.


"Sebelum kalian pergi, saya ingin memberikan senjata ini kepada tuan Afreon." (Verly)


"He?" (Afreon)


Afreon yang mendengar hal itu langsung memasang ekspresi terkejut.


Bukan hanya dia.. aku sendiri juga merasa heran.


"Apa... maksudnya ini?.. istri Retnan memberikan sesuatu kepadaku?, apa pedang itu sebuah titipan?"(Afreon)


Afreon bertanya kepada Verly dengan wajah ragu melihat apa yang Verly berikan kepadanya.


"Tidak, anggap saja ini sebuah bingkisan dari seseorang yang sudah mengujungi rumahnya,


pedang ini bernama [Arch Demon] senjata Authority." (Verly)


"Oi.. Oi... serius nih?.. kau memberikan senjata Authoritymu kepada orang lain dengan begitu


saja!?" (Afreon)


Tindakan Verly benar-benar membuat Afreon dan aku sangat terkejut.


Bagaimana tidak.


Itu sama saja dia telah memberikan sebuah jiwa dewa yang berbentuk senjata kepada Afreon.


"Anda sudah dekat dengan suami saya, jadi tidak ada alasan lain untuk saya memberikan anda senjata ini, lagi pula Authority ini bukanlah sosok dewa, melainkan sihir yang hanya bisa digunakan ras Divine Spirit, ras Spirit adalah nenek moyang dari semua dewa, tanpa adanya mereka, dewa-dewa baru tidak akan pernah terlahir, namun dari semua itu hanya ada satu orang yang mewarisi darah murni ras itu, dulu.. sebelum lapisan-lapisan itu tercipta, ada seseorang dari ras Spirit meminta kepada saya untuk membuatkan sebuah senjata yang hanya bisa di gunakan oleh ras Divine Spirit, lalu setelah itu orang itu meminta saya untuk memberikanya kepada masa depan saat saya telah menemukan darah murni ras Spirit."(Verly)


Pernjelasan Verly membuatku teringat akan sesuatu tentang tujuan ia membawaku ke Altair.


Yaitu sejak awal... ternyata benar Verly telah merencanakan agar aku bisa bertemu dengan Afreon demi tujuannya untuk memberikan Authority tersebut.


"Jadi... kau tahu segalanya ya... aku pernah membaca sebuah peradaban sejarah dari artefak kuno, tentang nenek moyangku yang meminta seseorang untuk membuatkanya sebuah senjata, jadi... itu kau... si dewa kehancuran Verly!?.."


(Afreon)


"Saya suka dengan wajah terkejut anda, senjata itu hanya bisa menerima sihir dari ras spirit, saya sudah membuat konsep pada senjata itu, tetapi... meski senjata ini tidak memiliki kehendaknya sendiri, namun... jika anda tidak bisa menggunakanya secara totalitas pada akhirnya itu sama saja akan menjadi rongsokan, dan tentunya.. senjata Authority tidak dapat di gabungkan dengan inti keberadaan bagi siapa yang memegangnya itu pada umumnya, namun... kali ini senjata Authority tersebut... bisa anda gabungkan dengan kekuatan inti keberadaan, mohon terimalah ini..."(Verly)


Pedang berlapis aura yang begitu kuat seakan melapisi pedang itu membuat pedang itu bercahaya emas.


Verly mengulurkan pedang tersebut kepada Afreon.


Afreon dengan senang hati menerima pedang tersebut.


"Aku berjanji tidak akan membuat ujung pedang ini menjadi tumpul, aku berterima kasih padamu.. dewa Verly."(Afreon)


"Ya itu harus jika tidak, saya tidak akan pernah memberikanya pada anda meski itu permintaan nenek moyang anda, jadi suamiku.. saya memutuskan untuk mengirim kalian ke dalam zona semesta lapisan tengah, tapi di sana kalian mungkin akan bertemu dengan para dewa, apa kalian keberatan?"(Verly)


"Oh ya Verly, jika ini ada hubungan dengan para dewa, aku ingin kau benar-benar harus menyembunyikan keberadaanmu, entah kenapa aku merasa kesal jika masalah apapun kau juga terlibat."


Aku dengan wajah serius mengatakan itu.


"Ahh.. sayang, anda tidak seperti biasanya, perkataan anda membuat perasaan saya berdebar-debar, jika itu keinginan anda... maka itu mutlak, iyakan.. suamiku"(Verly)


Verly sambil mengelus-elus wajahku dengan tatapan mesumnya.


"Sial.. aku benar-benar iri dengan kalian, jadi... kapan ini akan mulai?"(Afreon)


Tanpa basa-basi Verly langsung menggunakan sihirnya untuk membuat sebuah portal.


Dan kami perlahan berjalan masuk ke dalam portal tersebut.


"Bye... sampai berjumpa lagi.. suamiku dan anda juga Tuan Afreon." (Verly)


Tak membutuhkan waktu lama... kita sudah berada di lapisan tengah tepat di dalam zona semesta.


***


Namun... lagi-lagi aku melihat pemandangan yang sama dengan sebelumnya, itu semua terlihat sangat kacau balau seperti sudah di landai badai.


Di sini aku mulai menyadari


sesuatu tentang lapisan ini, dewa-dewa yang melakukan deklarasi perang di sini hanya bertujuan untuk memperbanyak semesta entah itu mereka sadari ataupun sebaliknya, di lihat dari keseluruhan manapun aku tidak merasakan tanda-tanda kehidupan, seakan mereka sudah merekayasa setiap ciptaan mereka, tapi ini hanyalah teori menurutku yang aku sendiri masih meragukan pendapatku.


Waktu itu Afreon menunjukan suatu arah yang tertuju pada seseorang.


Aku langsung menoleh ke sosok itu lalu sekilas aku melihat penampilan dari orang itu sangat familiar dengan katagori dewa.


Dan... aku baru menyadarinya dia ternyata seorang wanita.


Aku berpikir untuk tidak memanggil orang itu atau ikut campur namun... tak kusangka Afreon malah memanggil berteriak kepada orang itu.


Wanita itu pun menoleh kepada kita dari atas ketinggian langit.


Awalnya hanya sekedar tatapan yang ia tunjukkan, aku juga tidak terlalu memperhatikan pakaiannya namun kelihatanya pakaian yang wanita itu kenakan cukup tipis dengan rambut panjang dan dada yang besar.


Kemudian wanita itu yang menyadari kita, perlahan ia mulai turun dari atas langit menghampiri kita yang sedang memperhatikannya.


Tidak ada respon yang ia tunjukan saat menyadari keberadaan kita di depan mata.


"Aku tahu kau seorang dewa, aku ingin berbicara sesuatu denganmu."


Dia tetap tidak mau membuka mulut dan terus turun menghampiri kita.


Saat kakinya baru menginjaki permukaan tanah...


Dia langsung mengeluarkan sebuah buku lalu berjalan dengan sangat cepat menghampiri kita.


Aku terus mencoba memanggilnya beberapa kali namun...


Tetap.


Wanita itu seakan tidak memperdulikan kehadiran kita dan terus melangkah berjalan menghampiri kita.


"Woi.. aku ingin berbi-" (Afreon)


Lalu... perkataan Afreon seakan terhenti saat wanita itu membuka bukunya.


Tak lama... ada suatu reaksi pada tubuh Afreon yang benar-benar membuatku terkejut...


Itu... secara perlahan tubuh Afreon mengeluarkan abu dalam keadaan yang seperti membeku...


Aku pikir itu hanyalah hal sepele, hingga... aku melihat sekujur tubuh Afreon ikut menjadi abu secara perlahan.


Aku merasa orang ini benar-benar serius melakukannya tanpa bisa di ajak bicara.


"Kurasa... nona ini sedikit sulit untuk di ajak bicara, iya kan?"


Saat wanita itu hampir mendekatiku aku mengangkat tangan kakanku ke atas.


"Aku bertanya sekali lagi denganmu, kenapa kau tiba-tiba menyerang kami?"


Dan lagi-lagi wanita itu tetap menutup mulut.


"Memang benar kita tidak bisa mengobrol ya, kalau begitu..."


*Blar*


Wanita itu langsung terjatuh tunduk di hadapanku karena aku menggunakan sihir tingkatan untuk membuat gravitasi yang setara kuatnya dengan Black Hole.


Aku langsung menghampiri wanita itu yang tidak bisa mengangkat dirinya sendiri.


"Seandainya kau tadi menyerangku terlebih dahulu, mungkin aku akan merespon sebaliknya, nona... ternyata kau memakai pakaian yang cukup menggoda itu benar-benar tipis hanya menutupinya dengan beberapa kain, ternyata benar... kau seorang dewa, aku ingin berbicara dengan mu tanpa melakukan ini, kurasa itu tidak bisa, jadi langsung saja... sebutkan namamu."


Wanita itu memakai pakaian yang hanya sebatas menutupi dirinya dengan beberapa kain lalu rambut panjangnya berwarna putih.


Lalu aku menyadari...


Orang yang sekarang tunduk di hadapanku ini hanyalah sebuah clone.


Walau begitu ini terasa seperti aslinya.


*SRING*


Aku merasa ada seseorang di belakangku yang sedang menyodongkan senjata pedang tepat di leherku.


Aku tidak ingin menoleh... jika aku menoleh kurasa itu akan menjadi pertanda pemberontakan dan membuat kesan untuk meyatakan pertarungan.


"Siapa kau?"


Aku mencoba bertanya tanpa menoleh kepada orang tersebut yang masih menodongku dengan senjatanya di belakangku tepat di leherku.


"Aku orang yang kau perlakukan tidak sopan nak, syukurlah jika kau tidak mengetahui namaku, jika kau berada di sini.. berarti kau sama ikut bertarung bersama mereka."


"Mereka?"


Aku cukup bingung dengan perkataannya, lalu.. aku melihat sisi lain dari pandanganku sekarang dan...


Aku melihat ribuan orang mati tergeletak sedikit jauh dengan keberadaanku sekarang.


Hingga aku teringat...


Tempat ini hanya berisikan dewa yang melakukan sebuah pertarungan, yang artinya... ribuan orang itu juga adalah seorang dewa, lalu yang membunuh mereka adalah...


Dia.


Aku merasakan aura membunuh yang kuat, bukan hanya itu... aku bisa tahu wanita ini... sangat kuat.


Di lihat dari clonenya yang aku pikir itu sangat nyata seperti aslinya, karena bisa menghapus Afreon dengan begitu saja.


"Sebelum ajal menjemput, akan kuberitahu namaku dan sebaiknya anakmu atau generasimu tidak akan mengetahui namaku, karena itu akan sedikit merepotkan dan-"


"Hee... Boooodohhh..."(Verly)


*Duar!!*


*Blar..!! Blar..!! Blar..!!*


Aku terkejut...


Verly tiba-tiba keluar dengan setengah badan dan langsung memukul wanita itu dengan begitu keras.


Hantaman itu terdengar sangat keras pukulanya mengguncang seluruh semesta di dalam zona semesta ini dan secara langsung membuat wanita itu terpental keluar dari zona semesta dalam sekejap.


Aku benar-benar di kejutkan oleh Verly padahal aku ingin dia untuk tidak menunjukan keberadaanya karena dia adalah ancaman seluruh semesta.


Tidak, sekali lagi aku meliha dampak dari pukulan Verly terlihat menghancurkan beberapa semesta di dalam zona ini.


Tapi...


Wanita itu benar-benar cepat kembali di hadapanku sekali lagi setelah hantaman pukulan yang sekejap melemparkan nya.


Dia tersenyum... sama seperti Verly yang masih menunjukan setengah dirinya di dalam diriku.


"Aku menemukan sesuatu yang menarik di sini, ternyata itu kau... Verly, aku sudah menyadari kau membuat kontrak dengan manusia setelah aku mengetahui namamu berganti, tapi aku benar-benar terkejut... setelah kau kembali dari neraka Zoa yang aku kirimkan untukmu sebanyak 50% dari total monster Zoa di seluruh semesta, apa kau menikmati di perkosa oleh Zoa sebanyak itu?.. aku yakin otakmu sudah bergeser."


Aku melihat mereka berdua tersenyum lebar tanpa mempermasalahkan apa yang baru saja terjadi.


Seakan mereka berdua... menikmati pertemuan ini.


"Tidak juga, buktinya aku tidak pernah melahirkan siapapun, yah mungkin aku sedikit menikmati di sana, lagi pula... aku sudah menjalin hubungan suami-istri, aku tidak membutuhkan segalanya selagi suamiku mencintaiku, tapi... ini benar-benar sebuah kebetulan kita bisa bertemu, kurasa suamiku tidak akan suka dengan suasana ini jadi jika kau masih ingin membunuh suamiku, aku akan meladenimu..." (Verly)


Verly tersenyum lebar seakan dia benar-benar menikmati obrolan ini.


"Verly... aku ingin kau tetap kembali menjadi mulut, sudah kubilang bukan untuk menuruti perintah suamimu ini."


Aku dengan wajah serius mengatakan nya dengan rasa kesal.


"Saya mohon minta maaf yang sebesar-besarnya... sayang."(Verly)


Perlahan Verly kembali menjadi mulut di telapak tangan kiriku.


Dan aku langsung menoleh ke arah wanita itu.


" Aku benci dengan seseorang yang terlibat oleh masalah Verly, jadi bisakah kau memberitahu namamu sebelum memulai pertarungan ini?"


Aku dengan wajah sedikit kesal dengan apa yang di lakukan oleh wanita ini terhadap Afreon.


"Baiklah suami Verly, namaku... Lambaelda... mantan teman istrimu, sekaligus... dewa tertinggi dari semua dewa."