A The Creators

A The Creators
Inti Keberadaan



Di tengah kekacauan....


Tepat di tengah arena colosseum...


"Kau... kenapa bisa ada di sini!?"


(Afreon) dengan wajah terkejut


melihat kehadiran Demonstia.


"Maaf... saya belum memberitahu


nama saya, panggil saya Demonstia


tuan Afreon, atau anda bisa


memanggil saya dengan sebutan


Demona" (Demonstia) masih


menahan pedang yang mengarah


kepada Afreon dengan genggaman


tanganya.


"Cih, tak kusangka kau bisa


menahan hunusan pedangku,


bahkan menghilangkan dampaknya,


aku terlalu meremehkan wanita ini"


(Zenuar)


Zenuar terus menekan pedangnya


agar bisa membuat Demona yang


masih menahan pedangnya terjatuh.


"Afreon..." (Xanxus) mencoba


memanggil Afreon sambil berjalan


menghampirinya.


"Xanxus?... oi dimana Retnan?,


aku memintanya untuk menjaga


wanita ini agar tidak ikut campur"


(Afreon)


"Bodoh apa yang kau pikirkan,


dengan wajah tampan ini justru


aku mengkhawatirkanmu, pria


itu juga tidak masuk akal, kau tahu


monster Zoa yang telah aku bunuh


itu terbuat dari apa?" (Xanxus)


Berbicara kepada Afreon yang


berada dekat denganya.


"Tentu saja sihir negatif, kenapa


malah jadi membahas itu?"


(Afreon) dengan wajah bingung


melihat Xanxus.


"Tidak, bahkan itu jenis yang baru,


monster Zoa yang aku lawan itu


malah mempunyai inti keberadaan


yang bagiku sendiri... inti itu


sangat sulit aku raih. meski dari


penampilan yang seperti zombie


tapi aku merasa Zoa itu adalah


entitas dewa"(Xanxus)


"He?" (Afreon) cukup terkejut.


"Tapi santai saja, aku sudah


membunuhnya, yang lebih penting


bagaimana caranya menghentikan


orang ini?, kita harus mengakhiri


ini segera, lupakan ego mu...


untuk sekarang tidak cocok


untuk melawan dia, apa kau lupa


sekarang kita berada di tengah


pedesaan?, apa yang terjadi jika


kalian bertarung dengan serius?"


(Xanxus) dengan wajah serius


mengatakanya.


"Aku tahu... aku akan segera


mengakhi-"


*WUSHHHH*


"BLARRR*


Suara hantaman yang begitu kuat


hingga menembus beberapa


fasilitas yang tidak lain... Demonstia


yang terhempaskan oleh pedang


Zenuar.


"Maaf... kurasa, ini waktunya


kita untuk berpisah, rekanku telah


memanggilku di tangga kedua,


aku berubah pikiran untuk


mendapatkan segalanya dari


tangga ini, lagi pula... aku sudah


mendapatkan informasi agar


bisa sampai ke tangga berikutnya,


kalau begitu... bye-bye sampai


berjumpa lagi... Afreon"(Zenuar)


Dalam sekejap Zenuar langsung


menghilang tanpa ada tanda-tanda


hilangnya dirinya.


Mereka yang melihat Demonstia


terpuruk langsung dengan cepat


menghampinya.


"Demona... kau masih sadar?"


(Afreon) yang berada dekat


dengan Demonstia yang sedang


terbaring mencoba untuk


menanyai keadaanya.


"Tuan Afreon... saya sangat..."


Tanpa di sadari tindakan Demonstia


membuat mereka berdua terkejut.


Yang tiba-tiba bangkit dan langsung


memeluk Afreon yang berada


dekat denganya.


Pelukan Demonstia semakin erat


memeluk Afreon yang hanya


memasang ekspresi wajah terkejut.


"Wahh..!! anak mudah... aku iri


padamu sial" (Xanxus) memasang


wajah datar melihat mereka berdua.


"Eh?.. tu.. tunggu, kenapa kau


tiba-tiba memeluku!?.." (Afreon)


yang masih dalam kondisi pelukan


dari Demonstia.


"Mari... kita menikah, ayo kita buat


kontrak suami-istri" (Demonstia)


dengan wajah bahagia memeluk


Afreon.


"Tu.. Tunggu... apa yang sebenarnya


terjadi dengan dirimu?, kau yang


sebelumnya benar-benar sangat


arogan dan sekarang..." (Afreon)


dengan wajah malu memerah


ketika Demonstia mengatakan hal


itu.


"Siaal... aku benar-benar iri...


melihat kalian membuatku


semakin rindu dengan istriku"


(Xanxus) heboh.


"Ayo... kita buat kontrak"


(Demonstia) semakin melakukan


hal aneh ketika memeluk Afreon.


"Kau memang menawan sih...


tapi... aku masih belum memikirkan


sampai sejauh itu" (Afreon) dengan


wajah datar menolak keras dan


langsung melepaskan tangan


Demonstia yang masih terikat


olehnya.


Tak lama...


Terdengar suara langkahan


seseorang dari belakang mereka.


Mereka yang mendengar setiap


langkahan tersebut langsung


dengan siap berwaspada.


".... Maaf... sedikit lama..."


"He?... Retnan!?"


Aku melihat mereka terkejut


secara bersamaan saat melihat


kehadiran diriku yang tiba-tiba.


"Baiklah... nona iblis, apa ini yang


kau butuhkan"


Aku sambil melemparkan sesuatu


ke arah Demonstia.


Dia yang melihatnya langsung


menerima lemparanku.


"Kau benar... bagaimana caramu


kau bisa mendapatkan mataku


kembali?" (Demonstia) menerima


sepasang bola mata.


Mereka-mereka yang melihatnya


merespon dengan wajah terkejut.


"Itu tidak semudah yang kau


katakan, aku harus mencapai


inti keberadaanmu agar bisa


mengunjungi gerbang iblis"


***


Beberapa waktu yang lalu


sebelum Demonstia datang


membantu Afreon.


Di luar colosseum tepat


di dalam salah satu rumah penduduk


setempat....


"Jadi... apa yang membuatmu


lemah untuk menjaga tangga


pertama ini?"(Retnan)


"Soal itu... saat aku dalam kondisi


prima dimana aku dapat


memanipulasi neraka untuk


melahirkan iblis-iblis, saat itu aku


telah mendapatkan otoritas menjadi


dewa tertinggi yang mengatur


tahtanan dunia, sekaligus menjadi


penguasa tangga pertama, namun


itu tidaklah lama. aku yang dulu


mengatur tangga pertama sangat


ambisius dalam menghentikan


setiap organisasi atau mereka yang


ingin meraih lapisan atas, sampai-


sampai... aku di juluki oleh para


dewa sebagai ratu neraka, lalu...


organisasi itu muncul dan...


sekaligus merenggut segala yang


aku terima" (Demonstia)


"Organisasi?... apa mereka itu dari


luar gerbang?"(Retnan)


"Tidak, mereka orang yang bebas


menjelajahi semua tangga hanya


demi permainan mereka, terutama


ketua mereka yang telah, menodai


diriku, dia memaksa diriku untuk


pergi ke gerbang iblis untuk terus


melahirkan mereka para iblis, tak


sampai di situ, setelah aku


melahirkan banyaknya iblis


mereka semua secara bersamaan


ingin merenggut apa yang telah aku


miliki. yaitu... mengambil sepasang


bola mataku yang mana semua


kekuatanku hanya ada pada bola


mata itu, setelah mereka


mendapatkan apa yang mereka


inginkan. sejak saat itu...


aku memakai mata manusia dan


sekai lagi mengatur tangga pertama


dengan kedamaian yang aku


inginkan"(Demonstia)


"Bola mata? apa itu sekelas


dengan mata [Moon light Aurora]..?"


(Retnan)


"Kau... mengetahui mata itu?,


kurasa hampir... karena...


kerjanya sama dengan mata itu


yang berefek hanya satu kali,


mata yang aku miliki adalah


wujud dari perwujudan diriku


yang sejak awal memang aku


miliki, aku adalah dewa perwujudan


iblis dan mata itu lahir sebagai


perwujudan neraka, tanpa mata itu


pada akhirnya aku hanya sebatas


dewa biasa"(Demonstia)


"Neraka kah?.. sudah kuduga kau


sebenarnya jauh lebih kuat dari


yang sekarang, lalu... siapa...


organisasi itu?" (Retnan)


"Mereka adalah wujud dari


kegelapan hati seseorang yang


paling dalam, yaitu... Pure Evil"


(Demonstia)


"Mereka lagi kah, aku benar-benar


muak mendengar mereka, andai


saja... aku menyuruh Verly untuk


membunuh salah satu dari mereka


waktu itu, lalu... apa yang harus


aku lakukan?" (Retnan)


"Harus?... tunggu, apa kau


bermaksud membantuku?,


tapi itu percuma, kau tidak mungkin


bisa mengambilnya" (Demonstia)


"Hee... begitu kah, bagaimana


kalau begini, kita membuat


kesepakatan. bagaimana?" (Retnan)


"Umm... yang aku bisa tawarkan


padamu hanyalah tubuhku, kau


yakin?" (Demonstia)


"Tidak-tidak, kau salah... ada lagi


yang kau bisa tawarkan padaku,


sesuatu yang aku butuhkan"


(Retnan)


"Apa itu?... jangan bilang kau


ingin juga merenggut apa yang


sekarang telah aku miliki"


(Demonstia)


"Aku tidak butuh yang seperti itu,


singkatnya... aku ingin kau bersedia


menjadi senjata Authority ku"


(Retnan)


"Kau tampak bahagia hanya


dengan mengatakan hal itu,


baiklah, tapi... jika itu kau berhasil"


(Demonstia)


"Lalu... bagaimana caranya agar


aku bisa membantumu?"(Retnan)


"Aku kurang mengerti... soal


orang biasa mengakses gerbang


iblis yang berada di luar lapisan"


(Demonstia)


"Kalau begitu... aku cukup bertanya


satu hal. kau adalah wujud dari


iblis, yang berarti kau pondasi


dari iblis bukan? yang artinya...


kau adalah awal mula iblis" (Retnan)


"Ya itu benar" (Demonstia)


"Kalau begitu ini cukup mudah,


namun juga sulit, hmm... aku


butuh sihir yang bisa mengakses


inti keberadaanmu, yang berarti


menemukan akar intimu"


(Retnan)


Aku sambil menutup kedua mata


Demonstia menggunakan tanganku.


"Oh ya satu lagi, bagian tubuhmu


mana yang bisa terhubung oleh


inti keberadaanmu selain mata itu?"


Akar inti adalah keterhubungan


dengen inti keberadaan seperti


halnya sehelai benang yang merujuk


pada satu hal yang terhubung.


Untuk menemukan akar inti


membutuhkan sesuatu yang sejak


awal memang tercipta dari


inti keberadaan. ini seperti sebuah


akar yang terhubung oleh pohon,


dan untuk bisa meraih pohon


tersebut...


Di butuhkan jalur akar yang memang tercipta dan terhubung oleh pohon tersebut. orang lain tidak akan


bisa semudah itu untuk ikut campur


karena mereka akan membutuhkan


sesuatu seperti bagian dari


inti keberadaan untuk bisa


mengetahui atau memengaruhi


inti keberadaan tersebut.


Dan semua itu tergantung sejauh


mana tempat inti keberadaan


mereka berada pada seluruh dimensi alam semesta.


***


"Selain mataku yang menjadi akar


inti keberadaanku, ada satu lagi


yang bisa kau pakai, yaitu tubuhku,


aku sekarang memakai bagian


dari inti keberadaanku yang tidak


lain adalah tubuhku ini"(Demonstia)


"Jadi... sejak awal kau memakai


tubuh aslimu, dan bukanya avatar,


dan... bagaimana caranya aku


bisa mengakses intimu? aku tidak


ahlih soal inti"


Aku masih menutup mata Demonstia


dengan tanganku.


"Kurasa itu tidak bisa, sebaiknya


lupakan saja soal ingin membantu


diriku" (Demonstia)


"Tidak... aku harus melakukanya,


aku tidak bilang bahwa aku tidak


bisa, aku hanya sedikit ragu jika


itu juga dapat menghancurkan inti keberadaanmu" (Retnan)


"Heh?..." (Demonstia)


Perlahan aku berdiri sekali lagi.


Tanpa pikir panjang aku langsung


mengarahkan tanganku ke depan


hingga sebuah senjata seperti


pedang katana pekat hitam


di selimuti aura hitam dan ungu


mulai muncul.


Yang tidak lain pedang dari inti Verly.


"Tunggu... pedang apa itu?.. aura


begitu kuat menyelimuti pedang itu"


(Demonstia)


Aku melihat reaksi Demonstia


yang terkejut saat melihat pedang


inti Verly, dan untung saja dia tidak


mengetahui tentang hal ini.


Sebelum aku benar-benar menusuk


Demonstia dengan pedang ini...


aku harus sangat berhati-hati


dalam melakukanya, karena jika


sedikit saja terdapat kesalahan...


itu juga akan mempengaruhi inti


dan mungkin akan langsung hancur.


"Aku akan menusukmu tepat di


dadamu, aku hanya sekedar


mengambil akar intimu dan


setelah itu aku hanya harus


mengikuti alur akar itu, untuk


mencapai inti keberadaanmu,


aku mulai berpikir bahwa...


gerbang iblis itu... adalah


bagian dari inti keberadaanmu


namun terikat oleh neraka, secara


logis itu masuk akal"


Aku sambil tersenyum.


"Kau..."


*SRING*


*JERP*


Suara tusukan terdengar....