
Di tengah kekacauan....
Tepat di tengah arena colosseum...
"Kau... kenapa bisa ada di sini!?"
(Afreon) dengan wajah terkejut
melihat kehadiran Demonstia.
"Maaf... saya belum memberitahu
nama saya, panggil saya Demonstia
tuan Afreon, atau anda bisa
memanggil saya dengan sebutan
Demona" (Demonstia) masih
menahan pedang yang mengarah
kepada Afreon dengan genggaman
tanganya.
"Cih, tak kusangka kau bisa
menahan hunusan pedangku,
bahkan menghilangkan dampaknya,
aku terlalu meremehkan wanita ini"
(Zenuar)
Zenuar terus menekan pedangnya
agar bisa membuat Demona yang
masih menahan pedangnya terjatuh.
"Afreon..." (Xanxus) mencoba
memanggil Afreon sambil berjalan
menghampirinya.
"Xanxus?... oi dimana Retnan?,
aku memintanya untuk menjaga
wanita ini agar tidak ikut campur"
(Afreon)
"Bodoh apa yang kau pikirkan,
dengan wajah tampan ini justru
aku mengkhawatirkanmu, pria
itu juga tidak masuk akal, kau tahu
monster Zoa yang telah aku bunuh
itu terbuat dari apa?" (Xanxus)
Berbicara kepada Afreon yang
berada dekat denganya.
"Tentu saja sihir negatif, kenapa
malah jadi membahas itu?"
(Afreon) dengan wajah bingung
melihat Xanxus.
"Tidak, bahkan itu jenis yang baru,
monster Zoa yang aku lawan itu
malah mempunyai inti keberadaan
yang bagiku sendiri... inti itu
sangat sulit aku raih. meski dari
penampilan yang seperti zombie
tapi aku merasa Zoa itu adalah
entitas dewa"(Xanxus)
"He?" (Afreon) cukup terkejut.
"Tapi santai saja, aku sudah
membunuhnya, yang lebih penting
bagaimana caranya menghentikan
orang ini?, kita harus mengakhiri
ini segera, lupakan ego mu...
untuk sekarang tidak cocok
untuk melawan dia, apa kau lupa
sekarang kita berada di tengah
pedesaan?, apa yang terjadi jika
kalian bertarung dengan serius?"
(Xanxus) dengan wajah serius
mengatakanya.
"Aku tahu... aku akan segera
mengakhi-"
*WUSHHHH*
"BLARRR*
Suara hantaman yang begitu kuat
hingga menembus beberapa
fasilitas yang tidak lain... Demonstia
yang terhempaskan oleh pedang
Zenuar.
"Maaf... kurasa, ini waktunya
kita untuk berpisah, rekanku telah
memanggilku di tangga kedua,
aku berubah pikiran untuk
mendapatkan segalanya dari
tangga ini, lagi pula... aku sudah
mendapatkan informasi agar
bisa sampai ke tangga berikutnya,
kalau begitu... bye-bye sampai
berjumpa lagi... Afreon"(Zenuar)
Dalam sekejap Zenuar langsung
menghilang tanpa ada tanda-tanda
hilangnya dirinya.
Mereka yang melihat Demonstia
terpuruk langsung dengan cepat
menghampinya.
"Demona... kau masih sadar?"
(Afreon) yang berada dekat
dengan Demonstia yang sedang
terbaring mencoba untuk
menanyai keadaanya.
"Tuan Afreon... saya sangat..."
Tanpa di sadari tindakan Demonstia
membuat mereka berdua terkejut.
Yang tiba-tiba bangkit dan langsung
memeluk Afreon yang berada
dekat denganya.
Pelukan Demonstia semakin erat
memeluk Afreon yang hanya
memasang ekspresi wajah terkejut.
"Wahh..!! anak mudah... aku iri
padamu sial" (Xanxus) memasang
wajah datar melihat mereka berdua.
"Eh?.. tu.. tunggu, kenapa kau
tiba-tiba memeluku!?.." (Afreon)
yang masih dalam kondisi pelukan
dari Demonstia.
"Mari... kita menikah, ayo kita buat
kontrak suami-istri" (Demonstia)
dengan wajah bahagia memeluk
Afreon.
"Tu.. Tunggu... apa yang sebenarnya
terjadi dengan dirimu?, kau yang
sebelumnya benar-benar sangat
arogan dan sekarang..." (Afreon)
dengan wajah malu memerah
ketika Demonstia mengatakan hal
itu.
"Siaal... aku benar-benar iri...
melihat kalian membuatku
semakin rindu dengan istriku"
(Xanxus) heboh.
"Ayo... kita buat kontrak"
(Demonstia) semakin melakukan
hal aneh ketika memeluk Afreon.
"Kau memang menawan sih...
tapi... aku masih belum memikirkan
sampai sejauh itu" (Afreon) dengan
wajah datar menolak keras dan
langsung melepaskan tangan
Demonstia yang masih terikat
olehnya.
Tak lama...
Terdengar suara langkahan
seseorang dari belakang mereka.
Mereka yang mendengar setiap
langkahan tersebut langsung
dengan siap berwaspada.
".... Maaf... sedikit lama..."
"He?... Retnan!?"
Aku melihat mereka terkejut
secara bersamaan saat melihat
kehadiran diriku yang tiba-tiba.
"Baiklah... nona iblis, apa ini yang
kau butuhkan"
Aku sambil melemparkan sesuatu
ke arah Demonstia.
Dia yang melihatnya langsung
menerima lemparanku.
"Kau benar... bagaimana caramu
kau bisa mendapatkan mataku
kembali?" (Demonstia) menerima
sepasang bola mata.
Mereka-mereka yang melihatnya
merespon dengan wajah terkejut.
"Itu tidak semudah yang kau
katakan, aku harus mencapai
inti keberadaanmu agar bisa
mengunjungi gerbang iblis"
***
Beberapa waktu yang lalu
sebelum Demonstia datang
membantu Afreon.
Di luar colosseum tepat
di dalam salah satu rumah penduduk
setempat....
"Jadi... apa yang membuatmu
lemah untuk menjaga tangga
pertama ini?"(Retnan)
"Soal itu... saat aku dalam kondisi
prima dimana aku dapat
memanipulasi neraka untuk
melahirkan iblis-iblis, saat itu aku
telah mendapatkan otoritas menjadi
dewa tertinggi yang mengatur
tahtanan dunia, sekaligus menjadi
penguasa tangga pertama, namun
itu tidaklah lama. aku yang dulu
mengatur tangga pertama sangat
ambisius dalam menghentikan
setiap organisasi atau mereka yang
ingin meraih lapisan atas, sampai-
sampai... aku di juluki oleh para
dewa sebagai ratu neraka, lalu...
organisasi itu muncul dan...
sekaligus merenggut segala yang
aku terima" (Demonstia)
"Organisasi?... apa mereka itu dari
luar gerbang?"(Retnan)
"Tidak, mereka orang yang bebas
menjelajahi semua tangga hanya
demi permainan mereka, terutama
ketua mereka yang telah, menodai
diriku, dia memaksa diriku untuk
pergi ke gerbang iblis untuk terus
melahirkan mereka para iblis, tak
sampai di situ, setelah aku
melahirkan banyaknya iblis
mereka semua secara bersamaan
ingin merenggut apa yang telah aku
miliki. yaitu... mengambil sepasang
bola mataku yang mana semua
kekuatanku hanya ada pada bola
mata itu, setelah mereka
mendapatkan apa yang mereka
inginkan. sejak saat itu...
aku memakai mata manusia dan
sekai lagi mengatur tangga pertama
dengan kedamaian yang aku
inginkan"(Demonstia)
"Bola mata? apa itu sekelas
dengan mata [Moon light Aurora]..?"
(Retnan)
"Kau... mengetahui mata itu?,
kurasa hampir... karena...
kerjanya sama dengan mata itu
yang berefek hanya satu kali,
mata yang aku miliki adalah
wujud dari perwujudan diriku
yang sejak awal memang aku
miliki, aku adalah dewa perwujudan
iblis dan mata itu lahir sebagai
perwujudan neraka, tanpa mata itu
pada akhirnya aku hanya sebatas
dewa biasa"(Demonstia)
"Neraka kah?.. sudah kuduga kau
sebenarnya jauh lebih kuat dari
yang sekarang, lalu... siapa...
organisasi itu?" (Retnan)
"Mereka adalah wujud dari
kegelapan hati seseorang yang
paling dalam, yaitu... Pure Evil"
(Demonstia)
"Mereka lagi kah, aku benar-benar
muak mendengar mereka, andai
saja... aku menyuruh Verly untuk
membunuh salah satu dari mereka
waktu itu, lalu... apa yang harus
aku lakukan?" (Retnan)
"Harus?... tunggu, apa kau
bermaksud membantuku?,
tapi itu percuma, kau tidak mungkin
bisa mengambilnya" (Demonstia)
"Hee... begitu kah, bagaimana
kalau begini, kita membuat
kesepakatan. bagaimana?" (Retnan)
"Umm... yang aku bisa tawarkan
padamu hanyalah tubuhku, kau
yakin?" (Demonstia)
"Tidak-tidak, kau salah... ada lagi
yang kau bisa tawarkan padaku,
sesuatu yang aku butuhkan"
(Retnan)
"Apa itu?... jangan bilang kau
ingin juga merenggut apa yang
sekarang telah aku miliki"
(Demonstia)
"Aku tidak butuh yang seperti itu,
singkatnya... aku ingin kau bersedia
menjadi senjata Authority ku"
(Retnan)
"Kau tampak bahagia hanya
dengan mengatakan hal itu,
baiklah, tapi... jika itu kau berhasil"
(Demonstia)
"Lalu... bagaimana caranya agar
aku bisa membantumu?"(Retnan)
"Aku kurang mengerti... soal
orang biasa mengakses gerbang
iblis yang berada di luar lapisan"
(Demonstia)
"Kalau begitu... aku cukup bertanya
satu hal. kau adalah wujud dari
iblis, yang berarti kau pondasi
dari iblis bukan? yang artinya...
kau adalah awal mula iblis" (Retnan)
"Ya itu benar" (Demonstia)
"Kalau begitu ini cukup mudah,
namun juga sulit, hmm... aku
butuh sihir yang bisa mengakses
inti keberadaanmu, yang berarti
menemukan akar intimu"
(Retnan)
Aku sambil menutup kedua mata
Demonstia menggunakan tanganku.
"Oh ya satu lagi, bagian tubuhmu
mana yang bisa terhubung oleh
inti keberadaanmu selain mata itu?"
Akar inti adalah keterhubungan
dengen inti keberadaan seperti
halnya sehelai benang yang merujuk
pada satu hal yang terhubung.
Untuk menemukan akar inti
membutuhkan sesuatu yang sejak
awal memang tercipta dari
inti keberadaan. ini seperti sebuah
akar yang terhubung oleh pohon,
dan untuk bisa meraih pohon
tersebut...
Di butuhkan jalur akar yang memang tercipta dan terhubung oleh pohon tersebut. orang lain tidak akan
bisa semudah itu untuk ikut campur
karena mereka akan membutuhkan
sesuatu seperti bagian dari
inti keberadaan untuk bisa
mengetahui atau memengaruhi
inti keberadaan tersebut.
Dan semua itu tergantung sejauh
mana tempat inti keberadaan
mereka berada pada seluruh dimensi alam semesta.
***
"Selain mataku yang menjadi akar
inti keberadaanku, ada satu lagi
yang bisa kau pakai, yaitu tubuhku,
aku sekarang memakai bagian
dari inti keberadaanku yang tidak
lain adalah tubuhku ini"(Demonstia)
"Jadi... sejak awal kau memakai
tubuh aslimu, dan bukanya avatar,
dan... bagaimana caranya aku
bisa mengakses intimu? aku tidak
ahlih soal inti"
Aku masih menutup mata Demonstia
dengan tanganku.
"Kurasa itu tidak bisa, sebaiknya
lupakan saja soal ingin membantu
diriku" (Demonstia)
"Tidak... aku harus melakukanya,
aku tidak bilang bahwa aku tidak
bisa, aku hanya sedikit ragu jika
itu juga dapat menghancurkan inti keberadaanmu" (Retnan)
"Heh?..." (Demonstia)
Perlahan aku berdiri sekali lagi.
Tanpa pikir panjang aku langsung
mengarahkan tanganku ke depan
hingga sebuah senjata seperti
pedang katana pekat hitam
di selimuti aura hitam dan ungu
mulai muncul.
Yang tidak lain pedang dari inti Verly.
"Tunggu... pedang apa itu?.. aura
begitu kuat menyelimuti pedang itu"
(Demonstia)
Aku melihat reaksi Demonstia
yang terkejut saat melihat pedang
inti Verly, dan untung saja dia tidak
mengetahui tentang hal ini.
Sebelum aku benar-benar menusuk
Demonstia dengan pedang ini...
aku harus sangat berhati-hati
dalam melakukanya, karena jika
sedikit saja terdapat kesalahan...
itu juga akan mempengaruhi inti
dan mungkin akan langsung hancur.
"Aku akan menusukmu tepat di
dadamu, aku hanya sekedar
mengambil akar intimu dan
setelah itu aku hanya harus
mengikuti alur akar itu, untuk
mencapai inti keberadaanmu,
aku mulai berpikir bahwa...
gerbang iblis itu... adalah
bagian dari inti keberadaanmu
namun terikat oleh neraka, secara
logis itu masuk akal"
Aku sambil tersenyum.
"Kau..."
*SRING*
*JERP*
Suara tusukan terdengar....