A The Creators

A The Creators
Anggota Baru



"Hahhh... ini melegakan, meski


aku tidak bisa merasakan."


Aku sekarang berada dalam


pemandian air panas bersama


dengan Sakuya, ya kami bersama


berdua saja, ia berendam di


depanku.


Namun dia terlihat cukup canggung


dengan suasana ini, tapi bagiku itu


hal yang normal bagi seorang


wanita.


"Jangan menatapku terus, kau


tahu bukan aku benci dengan para


pria."(Sakuya) dengan wajah kesal


menatapku.


"Jika begitu kenapa kau pada


akhirnya menerima tawaranku


untuk pergi ke pemandian bersama."


Aku dengan santainya sambil


melanjutkan menikmati beberapa


rokok batangku yang masih tersisa


dalam tengah pemandian ini.


"Aku tidak memiliki maksud lain,


hanya saja aku juga ragu dengan


diriku yang menolak tawaranmu.


Mungkin... aku bertindak egois."


(Sakuya)


"Aku tidak akan bertanya apa


alasanmu membenci pria, tapi


jika itu ada hubunganya dengan


balas dendam. Tentu aku akan


menolakmu bergabung denganku."


(Retnan)


"Sudahku duga, kau akan berkata


demikian. Ras Vampire memiliki


kelebihan yang di luar sihir lebih


tepatnya mengandalkan darah.


Sedikit darah.. kami mampu


menciptakan kehidupan baru,


atau semacamnya seperti sihir.


Dan mungkin alasanku menerima


tawaranmu adalah karena aku


tidak merasakan tanda-tanda bahwa


kau seorang manusia."(Sakuya)


"Jadi... kau menganggapku sama


seperti mu kah? yah itu masuk akal,


aku sendiri juga tidak mengerti apa


aku seorang manusia atau tidak.


Tapi bukankah sejak awal seseorang


yang menggapai tangga dirinya


bukanlah lagi seorang manusia?


terkecuali penghuni tangga."


(Retnan)


"Kau ada benarnya, mana mungkin


orang luar yang bisa berada di sini


hanyalah manusia normal. Entah


kenapa... aku merasa sedikit


canggung.."(Sakuya)


"Hahh... apa itu bisa di jadikan


alasan untuk memberitahukan


sesuatu kepadaku? kau terlihat


seakan ingin mengatakan sesuatu."


Aku dengan santai berendam


dan berbicara kepada Sakuya


sambil menikmati rokok tersebut.


"Mungkin... sejujurnya... maaf


atas perilaku buruk ku yang


sebelumnya."(Sakuya)


"Huh?"


Inilah yang membuatku terheran-


heran denganya, kenapa setiap


kali bertemu atau bertindak, dia


seakan selalu merubah kepribadian


dirinya.


Dari cara pandangan yang terkadang


merendahkan, hingga menjadi sifat


wanita dewasa.


Dan ini sudah ke tiga kalinya.


"..... Oh ya, apa reaksimu jika aku


mengatakan " Kau sangat cantik "?"


(Retnan)


"Umm... entahlah, mungkin aku akan


merasa malu, ya jika itu memang


kau katakan. Mungkin sih."(Sakuya)


Mendengarnya... membuatku


semakin yakin, ini bukan sesuatu


yang wajar.


Aku langsung mematikan rokok ku


dan memulai obrolan serius.


"Namamu Sakuya bukan, apa kau


sebenarnya memiliki seperti dua kepribadian yang berlawanan


dengan sifat aslimu? bahkan aku


sendiri bingung yang mana sifat aslimu."(Retnan)


"Kau menyadarinya ya. Di bilang


kepribadian kurasa itu kurang


cocok. Mungkin... dua keberadaan."


(Sakuya)


"Dua keberadaan?"


Aku dengan rasa bingung.


"Benar, Alpha dan Omega. Aku


tidak sepenuhnya mengerti tentang


lebih lanjut ke dua hal yang


menyangkut diriku tersebut, namun


aku mengetahui satu hal, aku adalah


Alpha, dan mungkin kepribadian lain


yang kau maksud adalah Omega."


(Sakuya)


"Tapi... aku tidak merasakan hal


tersebut, kau tetaplah kau, tidak


ada dua keberadaan."(Retnan)


"Keberadaan yang di maksud itu


adalah kekuatan, yang memiliki


ego seperti suatu entitas. Dan aku


sebagai Alpha adalah menyegel


entitas tersebut, aku menyegel


keberadaan nya dalam diriku.


Lebih tepatnya... menyatu dengan


inti keberadaanku, untuk itulah dia


bergantung kepadaku."(Sakuya)


"Kekuatan?.. apa memang sekuat


itu kau harus menyegelnya?."


Mendengar sesuatu yang cukup


menarik, membuatku mulai


menyukai obrolan ini.


"Entahlah, dalam catatan kuno


dari ras kami. Itu adalah tingkatan


sihir yang paling terkuat dalam


ke awalan dan ke akhiran, tidak


ada yang bisa melampaui kedua


hal itu. Alpha dan Omega adalah


awal dan akhir dari segala kekuatan


sihir. Aku terlahir... dan terikat


bersama olehnya."(Sakuya)


"Itu terdengar cukup sulit bagimu,


apa kau tidak keberatan menerima


"Justru... aku berpikir ini sebuah


berkah tapi juga sebuah kutukan.


Meski aku sendiri tidak tahu


bagaimana kedepanya diriku.


Kita mengobrol cukup akrab.


Mungkin aku akan memberitahu


alasan raja Dystoria menginginkan


diriku ikut bersama kalian."(Sakuya)


"...... Tidak perlu. Dari perkataanmu


pada akhirnya kau hanya ingin


membalas dendam bukan?"


Aku sambil berdiri dari dalam


pemandian tersebut, dengan tubuh


yang telanjang sekaligus menutupi


diriku lagi dengan handuk.


"Kau sudah ingin pergi?"(Sakuya)


"Oh ya, aku ingin bertanya beberapa


hal sebelum aku pergi. Kepada siapa


kau ingin balas dendam? yang jelas,


jika kau memang berniat ingin


bergabung dengan kami, yang berarti


tujuanmu adalah lapisan atas."


Aku sambil melangkah mulai


berjalan pergi meninggalkan


Sakuya.


".......... Tuhan."


"He?"


Perkataannya benar-benar di luar


akal sehat.


Itulah yang pertama kali terlintas di pikiran ku saat mendengar perkataan Sakuya.


Perkataannya membuatku melamun, langkah kaki ku terhenti dan aku termenung untuk sejenak.


"Hidupku tidak memiliki tujuan,


mungkin berpikir balas dendam


kepada Tuhan yang telah memberi


segalanya adalah sesuatu yang


tidak logis. Ya, aku ingin membalas


dendam dengan alasan aku yang


telahirkan di dunia ini. Bergabung


dengan kalian untuk meraih lapisan


atas, mungkin aku bisa mendapatkan


informasi agar bisa berinteraksi


dengan Tuhan. Kau boleh tertawa


jika kau ingin tertawa."(Sakuya)


Setelah mendengar pernyataan nya..


aku kembali menoleh kepada Sakuya.


"Yahh... memang benar perkataan


yang kau ucapkan patut di tertawai.


Berinteraksi dengan Tuhan saja...


itu jelas tidak masuk akal. Aku


juga tidak merasakan kebohongan


kepadamu. Tapi aku yakin, itu


hanyakah kedok agar kau bisa


mencari tujuan hidupmu yang


sebenarnya, selama perjalanan."


(Retnan)


"Mungkin, ya mungkin benar, jika


ada sesuatu yang menjadikan


tujuan hidupku, aku pasti akan


melupakan balas dendamku


kepada Tuhan. Aku dulu berpikir


mungkin menjadi seorang ibu,


itu terasa seperti hidup, aku terus


berpikir itu hal yang indah. Untuk


itulah aku menjauhi setiap pria,


sejujurnya aku tidak ingin dekat


dengan mereka, Omega yang ada


pada diriku, membenci jika ada


seseorang yang merengut


ke perawananku. Hanya masalah


sepelah dia menggantikan


keberadaan ku."(Sakuya)


"Jika kau mengatakan nya semudah


itu, yang berarti kau mampu


mengontrol kekuatan itu?"(Retnan).


"Benar, sejak awal aku dengan


sengaja mengganti kepribadianku


dengan Omega. Untuk beberapa


alasan juga, raja Dystoria ingin


diriku untuk bergabung dengan


organisasi. Dia hanya ingin aku


tetap aman bersama dengan


organisasi yang dapat di percaya."


(Sakuya)


"Maksudmu... kau berpikir tentang


keberadaan mu yang spesial?"


(Retnan)


"Ti-Tidak, aku tidak bermaksud


sombong."(Sakuya)


Di lihat dari reaksinya dan wajahnya


yang langsung memalingkan


pandangan nya dariku, itu membuat dirinya mudah di tebak.


Lalu... aku terpikirkan oleh beberapa


pertanyaan.


"Oh ya, apa definisi dari kedua


kekuatan tersebut?"(Retnan)


"Soal itu... aku sebagai Alpha


adalah pelindung, sedangkan


Omega adalah penyerang, kedua


hal ini saling bersingkron. Apa


kau berfikir... apa yang akan terjadi


jika kedua hal ini menyatu?"(Sakuya)


Aku cukup terkejut ketika dia


mengetahui maksud dari


perkataan ku.


"Kau benar, apa itu sesuatu yang


buruk?"(Retnan)


"Entahlah, aku juga belum pernah


memikirkan hingga sejauh itu.


Tapi... ku pikir itu adalah sesuatu


yang tabu, atau semacamnya."


(Sakuya)


"Yahh... kurasa itu sudah cukup."


Aku sambil mengulurkan tanganku


kepada Sakuya yang masih di dalam


pemandian air panas tersebut.


"Apa... maksudmu?"(Sakuya) dengan


ekspresi wajah bingung ketika aku


mengulurkan tangan ku kepadanya.


"Kau bisa mengontrol kekuatan


besar itu kan? kurasa itu sudah


cukup, untuk kau bergabung


dengan kami, meski tujuan mu


tidak begitu jelas."


Aku sambil tersenyum kepadanya,


dan perlahan... Sakuya mulai meraih


uluran tangan ku dengan wajah


senangnya.


"Te-Terima kasih, entah kenapa...


mengobrol denganmu, aku mulai


sedikit megenali tujuanku yang


sebenarnya, mungkin... mencari


tahu tentang kekuatan ku, itu


terdengar tidaklah buruk."(Sakuya)