
Kini.. Masih tengah malam...
Dan sejujurnya aku bingung kemana
arah jalanku pulang. Aku sudah
memutuskan untuk tidak kembali
kepada Verly, aku tidak ingin lagi
mengingatnya lagi.
Yah... Setidaknya sekarang aku
memiliki tujuanku sendiri untuk
mengakhiri perjalanan di tangga ini.
Menunggu mereka dalam lima
hari kedepan itu memanglah
tujuanku, tapi...
"Eh?"
Ketika aku berjalan santai di pinggir
kota tengah malam.
Seorang wanita mudah melintasiku
ketika sorot mataku tertuju padanya,
itu terlihat tidak asing lagi.
Aku seakan mengenali wanita itu.
Namun... Itu cukup mengherankan
ketika dia terlihat memakai sebuah
kostum binatang yang mampu untuk
menutupi dirinya.
Meski begitu.. Aku sangat yakin
bahwa ia seseorang yang ku kenal
beberapa hari yang lalu.
"Oi.. Kau yang berkostum beruang."
Aku mencoba memanggilnya yang
sedang berjalan tak jauh dari
jarak ku yang memanggilnya.
Dia merasa tersentak yang aku
pikir dia menyadari panggilanku
tersebut.
Secara langsung ia berbalik arah
kepadaku, dan...
"He?.. Ka-Kau... organisasi yang
waktu itu."
Dan benar.. Dialah wanita yang
sebelumnya para anggotaku
berpikir bahwa ia seseorang yang
licik.
Yang tidak lain... Adalah Risty.
"Aku tidak menyangka kau dapat
kemari lebih cepat, ternyata
organisasimu kuat juga."(Retnan)
"Ti-Tidak, sejujurnya.. Anu... Saat
kalian pergi dengan gerbang milik
raja Dystoria. Sejak awal kami
mengawasi kalian dan.. memasuki
gerbang tanpa kalian sadari."
Aku tidak menyangka dia akan
mengatakan sejujurnya.
"Lalu... Ada apa dengan pakaian
itu, dan dimana anggotamu yang
lainnya? yah bukan berarti aku
peduli sih."(Retnan)
Aku sambil menggaruk rambutku
sendiri seolah-olah mengatakan
hal itu dengan mudah.
"Oh mereka? sekarang.. Kami tidak
lagi melanjutkan perjalanan, bukan
karena dunia ini. Hanya saja...
kami sedang ada beberapa tujuan
lain di tangga ini. Kau tahu.. Alasan
kami menjadi organisasi bukan
menuju ke lapisan atas, melainkan
mencari kesibukan. Dimana itu
membawa kami dalam kesenangan,
seperti apa yang aku tunjukan
padamu saat ini, ini adalah bukti
bahwa kami mencari kesenangan
bersama di setiap tangga."(Risty)
Aku tidak mengerti apa yang
dia ucapkan, namun perkataan nya
cukup meragukan.
"Kurasa... Menelusuri tangga tidak
cocok dengan dirimu, anggotamu
mengkhianatimu bukan?"
Aku mengatakan apa yang aku
pikirkan, yang seharusnya
keberadaan nya tidak semudah itu
berada di sini.
"Ti-Tidak aku yakin kau pasti akan
berpendapat seperti itu. Dari pada
mengkhianati... Mereka tidak
membutuhkanku lagi, kau tahu
bukan tentang tangga ini yang
sebenarnya."(Risty)
"Harapan ya, kupikir apa yang kau
katakan tadi adalah untuk dirimu
sendiri. Aku tidak akan bertanya
apa alasanmu menjalani perjalanan
tangga Dewa ini, namun.. Aku
berpendapat kau hanya ingin
bersenang-senang menjalani
perjalanan ini dan memikirkan soal
kematian atau tidak, itu hanyalah
persoalan belakang, buktinya
sekarang kau justru memilih
jalanmu sendiri meski mereka
telah melupakanmu."
Aku dengan santainya mengatakan
semua itu dengan rasa kebosananku
yang entah sampai kapan ini terus
berlangsung.
"Memang benar, kau seseorang
yang bisa di ajak bicara dengan
mudah. Mungkin.. Kau ada benarnya,
berakhir seperti ini tidaklah buruk.
Mungkin kedepanya aku akan tetap
melanjutkan perjalanan ini jika
memang aku mampu."(Risty)
"Begitu rupanya, kau cukup hebat
tidak terikat oleh harapan di tangga
ini, atau memang tidak ada yang
mengharapakanmu. Yah.. apapun
itu semoga harimu menyenangkan,
aku pergi."
Aku langsung mulai melangkah
berjalan pergi sambil memasukkan
kedua tanganku ke dalam saku
celana, seakan itu terkesan berjalan
santai meninggalkan Risty.
"Eh? tu-tunggu.. ada hal yang
ingin aku beritahu, dan kau pasti
akan tetarik."
Langkahanku terhentikan ketika
aku mendengar sekali lagi
perkataan Risty yang membuatku
penasaran.
"Ya, apa itu?"
Aku hanya sekedar menoleh tanpa
membalikan badan kepadanya.
"Kau terlihat tidak bersemangat,
beritahu. Ada seseorang yang
mengetahui dimana Tuhan di
tangga ini berasal, tapi... itu tidak
semudah yang kau kira. Karena
informasi itu berada di tangan
seseorang yang kuat, aku pernah
merasakan kehadirannya hanya
dengan melintasiku berjalan, itu
terasa mencengkam, lalu... di saat
yang sama aku melihat dia mampu
mempengaruhi dimensi ini, itu
cukup membuatku yakin bahwa dia
memiliki informasi tentang tangga
ini."(Risty)
"Begitu kah, jika begitu terima kasih."
Aku langsung mengakhiri obrolan
tersebut dan kembali berjalan
meninggalkan Risty.
"He? hanya begitu saja responmu?
yahh.. apapun yang terjadi, dia
harus membunuh seseorang
tersebut, karena... dia telah...
membunuh anggota ku."(Risty)
berbicara pada dirinya sendiri
dengan rasa khawatir.
***
Beberapa waktu kemudian...
Untuk sekali lagi aku menyadari
sesuatu di tengah perjalananku.
Mendengar bahwa ada seseorang
yang terbilang kuat di 'tangga' ini,
berarti ada beberapa orang yang
terbilang bebas untuk
mempengaruhi 'tangga' ini.
Artinya... Mereka juga mencari
tujuan yang sama untuk segera
keluar di dimensi ini.
Dan jika ada seseorang yang telah
mengetahui dimana keberadaan
Tuhan di 'tangga' ini berada, satu hal
yang pasti.
Itu akan menjadi incaran bagi
mereka yang ingin segera
melanjutkan ke tangga berikutnya.
Seseorang yang telah mengetahui
keberadaan Tuhan di 'tangga' ini,
sangat di butuhkan oleh mereka
yang ingin segera keluar dari
dimensi tangga ini.
"Entah kenapa... Ini membuatku
sedikit tertarik walau merepotkan.
Tapi selagi itu bisa segera bertemu
dengan Tuhan di tangga ini dan
segera menghajarnya. Itu sudah
cukup."
Aku sekarang masih berjalan berada
di pinggir kota, walau tanpa tujuan
yang jelas tapi selagi semua
informasi sudah ku ketahui mencari
jalan keluar bukanlah masalah lagi.
Hingga...
"Hmmpp...."
Terdengar suara yang begitu redup
dari seseorang di sebuah gang
sempit di pinggiran kota.
Aku yang sibuk berjalan tanpa arah,
mendengar suara yang begitu
tak asing bagiku.
Membuatku berpikir untuk
menghampiri suara tersebut berasal.
"Suara ini... "
Aku memiliki firasat buruk tentang
hal ini ketika aku mulai berpikir
kembali tentang seseorang yang
memiliki otoritas bebas di 'tangga'
ini.
Aku dengan segera berlari
menghampiri suara tersebut berasal
meski firasat buruk ini masih
melekat padaku.
*Swoosh*
Tak membutuhkan waktu yang lama
aku sudah berada di gang sempit
tepat dimana suara tersebut berasal.
Aku terus berjalan menelusuri
gang tersebut.
Itu begitu gelap dengan banyaknya
buruk gagak yang mendiami di
setiap tempat.
Aku tidak berpikir itu pertanda
buruk, dan semua itu seakan
membimbing jalanku menuju
suara tersebut.
"Tempat ini..."
Dan ketika aku telah sampai ke
ujung gang tersebut. Ternyata
firasat buruk ku itu memang nyata.
Ketika aku melihat mayat seorang
wanita yang baru saja aku temui.
"Begitu ya, sudah kuduga sejak
awal, kau memang telah di incar,
karena anggota organisasimu
sebenarnya telah tewas... Risty."
Darah begitu banyak di seluruh
tubuhnya hingga para gagak mulai
menggerogotinya.
Itu adalah akhir hidupnya, aku tidak
merasakan lagi inti keberadaan
yang masih utuh.
"Tidak aku sangka, wanita sepertimu
mati secepat ini, apa lagi kau baru
saja ingin menggunakan wujud
asli dari inti keberadaanmu. Kau
begitu malang. Semoga Tu-"
*Sring*
Terdengar suara lemparan pedang
secara mendadak mengarah padaku
yang ingin menutup mata Risty.
Itu begitu cepat, hingga aku hampir
saja mengenai ujung pedang tersebut.
*Swoosh*
"Aku akan menunggu kehadiranmu
di tengah lapangan kota ini, sang
pahlawan."
"Huh?"
Untuk sesaat.. Tepat setelah
lancaran pedang itu menerjang
padaku.
Aku mendengar suatu bisikan dari
kehadiran seseorang yang terasa
sesaat.
Yang aku pikir... Orang itulah dalang
di balik kejadian ini.