A The Creators

A The Creators
Keputusan Mutlak & Awal Baru



"Sayang... Sayang..."


Saat itu... aku mendengar suara


Verly yang mencoba membangunkan


diriku.


Perlahan aku mulai membuka mata


sekali lagi, dan yang menjadi awal


pandanganku adalah... Verly


yang menerima wajahku di atas


pahanya.


Dia menaruh wajahku di atas


pahanya sambil mengelusnya


dengan wajah bahagia.


Lalu saat itu aku sadar bahwa


aku sekarang berada di kastil Verly


tepat di dalam ruang kamarnya.


"Verly?, maaf soal sebelumnya..


aku membuatmu cemas, kurasa


memang benar, dia musuh yang


sulit di kalahkan, aku seharusnya


berpikir matang terlebih dahulu,


sial.. aku memang bodoh, lagi-lagi


aku membuatmu terlibat"


Aku masih terbaring di atas


paha Verly, dan menunjukan


wajah kesalku.


"Itu tidaklah penting, melihat suami


saya kembali dengan selamat,


itu sudah membuat saya bahagia,


terlebih lagi sekarang tuan Afreon


juga terbaring pingsan, saya telah


membawanya kembali dari jalur


menuju lapisan atas"(Verly)


Dan benar...


Aku melihat Afreon terbaring


di atas kasur Verly.


Perlahan... aku mulai mengangkat


wajahku sekali lagi dari paha Verly.


Dan aku baru sadar, aku sudah


telanjang bulat, yang aku pikir...


ini adalah perbuatan dari Verly


karena aku merasa tubuhku lengket,


sama seperti waktu aku di dalam


mulut naga.


"Maaf, saya melakukanya tanpa


seizin anda, saya begitu khawatir


jadi saya membuka seluruh pakaian


anda hingga telanjang bulat, yang


lebih penting, sebaiknya kita harus


pergi ke jalur menuju lapisan atas,


karena... percuma juga jika kita


tetap berada di lapisan tengah,


karena yang anda lihat hanyalah


sebuah kehancuran"(Verly)


Dia menunjukan senyuman


bahagia kepadaku.


"Tapi... berjanjilah kepadaku,


untuk tidak ceroboh menunjukan


dirimu, atau terlibat oleh setiap


tindakanku, yang kau lakukan


hanyalah harus percaya"


Aku sambil menatap Verly dengan


wajah serius mengatakanya.


Di waktu yang sama Verly malah


merespon dengan senyuman


yang terlihat menahan rasa tertawa.


"Ya ampun sayang, mengatakanya


memang mudah, tapi jika itu


melibatkan kematian, tentu saya


sebagai seorang istri tidak akan


berdiam saja, tapi jika itu


keinginan anda... maka saya juga


akan membuat kesepakatan"


(Verly)


Aku merasa memiliki firasat buruk


saat Verly mulai membuat


kesepakatan itu sambil menunjukan


wajah mesum kepadaku.


"Ya apapun itu, jika itu mengenai


soal sebelumnya, mungkin..


kita bisa melakukanya"


Aku memakaikan kembali


pakaianku sendiri sembari


mengobrol dengan Verly.


"Hee.. mesum juga ya suami saya,


ya itu memang keinginan tedalam


saya, namun... ada satu hal yang


selalu saya benci ketika anda


melakukanya, yaitu... tolong...


berhentilah merokok, karena


anda terlihat sangat menikmati


rokok yang bersentuhan dengan


bibir anda, dari pada memilih


bibir saya, terlebih lagi.. ketika


kita selesai melakukan ciuman, lalu


anda menyalakan rokok.. itu telah


menodai rasa cinta saya sebagai


seorang istri"(Verly)


.... Aku mulai berpikir Verly hanya


menunjukan hasrat cinta nya saja.


"Hahh... itu memang buruk, tapi


terserahlah yang penting, kau


tetap aman, jadi.. apa itu jalur


menuju ranah atas?"(Retnan)


"Di jalur itu untuk mencapai lapisan


atas kita harus melewati, lapisan


lagi yang berisikan 100 lapisan"


(Verly)


Dan lagi-lagi aku di bingungkan


oleh perkataan nya.


Mendengar lebih dari tiga lapisan


sudah membuatku di bingungkan


oleh semesta ini.


"Bukankah... hanya ada tiga lapisan?


apa di sana... hanya ada para dewa


yang tinggal?" (Retnan)


"Umm... di bilang lapisan itu terasa


ambigu, lebih tepatnya... sebuah


tangga, tangga yang mana akan


membimbing jalan menuju ranah


atas, setiap tangga... sama seperti


lapisan-lapisan yang lain, namun


setiap lantainya hanya memiliki


ruang dunia yang lebih kecil dari


pada lapisan, makanya itu di sebut


sebagai tangga karena ruang yang


hanya merujuk semakin naik ke atas


bukan melebar seperti lapisan


pada umumnya, maka dari itu...


lapisan atas berada di dimensi


yang jauh melebihi semua lapisan,


dan ya, hanya para entitas tertinggi


yang mendiami setiap tangga"


(Verly)


"Para dewa kah... aku juga ingin


mendapatkan sesuatu dari mereka,


beritahu aku... bagaimana cara


menjadikan mereka sebagai


Authority?"


Aku yang masih duduk berada


dekat dengan Verly, menatapnya


dengan wajah serius.


"Hee... jika anda terus menatap saya,


bisa-bisa saya hamil, yah.. itu cukup


mudah, namun juga mustahil"(Verly)


"Mustahil?"


Aku cukup terkejut.


"Ya, tidak semua dewa bisa di jadikan


Authority, dewa tertinggi adalah


dewa yang di beri tugas untuk


menata semua semesta, menjaga


aturan, untuk menjadi dewa tertinggi


setidaknya mereka harus lahir


sebagai perwujudan dari semua


yang berkaitan dengan isi semesta,


ada juga cara menjadi seperti


mereka hanya dengan kekuatan,


yang tidak lain... mereka harus


memiliki inti keberadaan yang


berada setara dengan dimensi


lapisan atas, karena... pada


dasarnya, penghuni lapisan atas


hanyalah para dewa tertinggi yang


tinggal, semakin anda meraih


tingkatan lantai... maka lawan anda


akan semakin kuat, karena... mereka


bisa dengan mudah menggunakan kekuatan mereka secara totalitas,


saya rasa pernah menjelaskanya


kepada anda, dan yang menjadikan


hal itu mustahil adalah, keinginan


mereka juga, jika mereka sangat


berkeinginan memberikan segalanya kepada anda... itu justru lebih mempermudah, tapi jika anda


ingin paksaan, kurasa... anda tahu


sendiri iya kan? bahwa semua itu


tidaklah mustahil bagi anda" (Verly)


"Ya ampun, aku tidak berpikir


sejauh itu, mulai sekarang...


aku tidak akan melibatkanmu lagi,


meski ini terdengar konyol karena


selama ini, kau yang selalu tampil


beraksi"


Aku sambil tersenyum dengan


rasa percaya diri yang tinggi.


Perlahan aku mulai berdiri


lalu mengulurkan tanganku


kepada Verly yang masih duduk.


"Sayang..." (Verly)


Dia meihatku yang sedang


mengulurkan tangan kepada


dirinya.


"Kita mulai... perjalanan kita.."


Aku sambil menunjukan rasa


antisipasiku.


"Ya ampun... aku benar-benar iri


dengan kisah romantis kalian"


(Afreon)


Tiba-tiba Afreon menyelat


pembicaraan kita secara langsung.


Dan aku pikir dia sudah baik-baik


saja.


"Kau sudah bangun kah, kurasa...


sejak awal kau memang sudah


bangun, iya kan? Afreon"


Aku sambil tersenyum.


"Tentu saja bodoh, mana mungkin


aku semudah itu pingsan, yang


lebih penting... bagaimana kalau


kita segera pergi ke jalur itu ha?"


(Afreon)sedikit berseru.


"Ya, kali ini... aku akan benar-benar


serius, dan aku tidak akan


mengulangi kejadian yang sama,


untuk sekali lagi"


Aku merasa sedikit bersemangat


tentang hal ini.


Tak lama...


Kami mulai berteleportasi


menuju jalur lapisan atas.


***


Satu jam kemudian...


Kami akhirnya telah menginjaki


awal mula tangga yang menuju


jalur lapisan atas. begitulah yang


di katakan oleh Verly.


Yang menjadi pandangan kami


adalah sebuah gerbang yang sangat


amat besar membentang menutupi


jalan, sisanya hanyalah sebatas pemandangan luar angkasa.


"Ini... besar sekali, aku tidak


merasakan tanda-tanda sihir


mengalir di gerbang ini, Retnan...


apa yang di katakan Verly saat


kita sudah sampai di sini?"


(Afreon)


Afreon sambil mencoba mengecek


ke seluruhan gerbang tersebut.


Untuk kali ini, aku tidak menyuruh


Verly untuk menjadi mulut di


telapak tangan kiriku lagi.


karena mulai sekarang aku


benar-benar tidak ingin melibatkan


dirinya lagi.


Dia sekarang sibuk berada di


dalam kastilnya sendiri.


"Ya, aku rasa... ada entitas


yang mendiami gerbang ini,


dan gerbang ini tercipta dari sihir


penciptaan, memang gerbang ini


tidak ada aura sihir sama sekali,


karena... entitas itu adalah...


gerbang ini sendiri" (Retnan)


"Begitukah?.. mungkin itu alasan


aku terlempar hanya sebatas


di luar gerbang, lalu saat itu...


aku tiba-tiba di bawah kembali


oleh sihir Verly, jadi... kita hanya


perlu menghancurkan nya bukan?"


(Afreon) dengan semangat tinggi.


"Tidak perlu, karena... orang itu...


sudah berada di belakang kita"


Aku sambil tersenyum tanpa


melihat ke belakang.


"He?.."(Afreon) menunjukan


wajah terkejut.


Kami tidak bisa menoleh ke arah


orang tersebut yang berada di


belakang kami. karena... kami


seakan terjebak di salah satu


sihir yang memang sudah ada


sejak awal.


Sihir itu membuat kita tidak bisa


menuruti kehendak kami sendiri.


" Tamu kah? kalian terlihat cukup


kuat, ini sangat jarang loh, umm...


yahh.. aku akan membuka gerbang


untuk kalian, jika bersedia untuk


membantuku, aku tidak biasanya


baik seperti ini lohh... biasanya


aku langsung membunuh mereka


yang datang kemari,he?"


Saat itu...


Aku sudah memegang kepala orang


yang berada di belakang kita.


Aku menunjukan ekspresi tawaku


seakan sihirnya tidak bekerja


kepadaku.


"Maaf paman naga, sihir anda


kurasa tidak bekerja kepada kami,


dan itu menjadi pertanda


akhir hidup anda"


Aku sambil memegang erat


kepala orang itu dengan senyuman


yang lebar aku tunjukan.


Sosok orang itu bukanlah


manusia, melainkan sosok naga


dengan postur selayaknya manusia,


dia memiliki kulit berwarna biru


dan memakai sebuah zirah emas


sambil membawa sebuah tongkat.


Yang aku pikir... dia cukup tua.


"Mu.. Mustahil, bahkan dewa


sekalipun akan tunduk di


hadapanku, yahh... itu bukan


berarti kalian merasa lebih kuat


dariku, aku minta maaf jadi...


lepaskan tanganmu dari kepalaku"


Aku yang mendengarnya terlihat


tersiksa, jadi aku memutuskan


untuk melepaskan kepalanya


dari genggaman tanganku.


Perlahan aku memutuskan duduk


lalu mendengar apa yang paman


naga itu bicarakan.


Dan mereka semua mengikuti


apa yang aku lakukan.


"Akhirnya ada juga orang dewasa


yang mengerti situasi ini, aku


tidak bermaksud jahat, hanya saja


aku ingin meminta tolong kepada


kalian, dan itu juga adalah syarat


agar aku mau membukakan gerbang


untuk kalian, aku seharusnya tidak


boleh meminta tolong kepada


pengunjung, namun... aku tidak


memperdulikan konsekuensi


apapun itu, aku harus... membawa


kembali... istriku, oh maaf...


aku belum memperkenalkan diri,


namaku... Xanxus, sang naga


penjaga gerbang"


"Oh aku Afreon, dia Retnan"


(Afreon) sambil menelunjukan


jarinya ke arahku.


"Yah... sebenarnya aku tidak


terlalu peduli, tapi jika itu syarat


agar bisa memasuki gerbang,


kurasa tidak ada jalan lain, tapi...


sebelum aku memutuskan nya.


setidaknya... aku harus percaya


dengan apa yang kau katakan,


kau terlihat licik, aku telah


mengalami banyak kebohongan


dari setiap keputusan, yang pada


akhirnya jatuh untuk ke untungan


mereka sendiri, aku benci dengan


hal itu paman"(Retnan)


"Bodoh.. mana mungkin jiwa


seorang dewa, ternodai hanya


dengan melanggar janji, aku malah


lebih memilih untuk mati jika hal


itu harus terjadi, dan wajahmu tidak


menunjukan wajah keraguan


kepadaku, kau orang yang cukup


santai di ajak bicara"(XanXus)


"Kita langsung saja terima


apa yang ia katakan Retnan,


jadi... apa yang telah terjadi


kepada istrimu?"(Afreon) mencoba


menanyakan sesuatu kepada


Xanxus yang duduk dekat denganya.


Lalu di saat yang sama...


Xanxus mengeluarkan sebuah


pedang dari portal yang keluar


berada di sampingnya.


Perlahan... dia mengambil


senjata tersebut yang keluar


dari sebuah portal.


Aku tidak berpikir dia berniat


melakukan sebaliknya. karena


bagiku itu hal yang sia-sia jika dia


memang melakukanya.


"Ini... adalah sebuah pedang


Authority, dan ya, istriku sendiri


adalah Authorityku sendiri"


(XanXus) sambil menunjukan


pedang tersebut kepada kami.


Tapi pedang tersebut seakan


terselimuti oleh sihir yang mencoba


menghancurkan pedangnya


sendiri.


"Tunggu... bukankah, justru pedang


itu adalah istrimu yang sudah


berada di sampingmu?, lalu...


apa yang sebenarnya kau pikirkan?"


(Afreon)


"Memang Authority adalah wujud


seseorang yang sudah menjadi


sarung pedang untuk orang


tersebut, tapi berbeda jika sudah


melakukan kontrak hubungan


suami-istri. yang artinya...


kita sudah menjalin hubungan


di tambah dia juga telah menjadi


pedangku, kedua hal itu membuat


ikatan kita semakin kuat, yang mana


meski dia kehilangan kontak


denganku... aku bisa menggunakan


Authority nya tanpa wujud dirinya"


(Xanxus)


"Yang artinya... istrimu telah hilang,


namun... kau masih bisa


menggunakan Authority istrimu


tanpa wujud dirinya karena kontrak


hubungan itu, berarti... yang kau


bawa itu Authority istrimu namun


dengan kekuatan inti keberadaan


dirinya begitu kah?"(Retnan)


"Ya, pada dasarnya Authority adalah


senjata dari wujud seseorang,


seseorang itu berubah menjadi


senjata saat di panggil oleh


kehendak yang mempunyai hak


tersebut, tapi Authority istriku


berbeda karena telah menjalani


hubungan suami-istri, yang mana


tanpa kehadiran dirinya senjata


ini akan terbentuk sendiri, dan


sepenuhnya bisa aku kendalikan.


kalian pasti sudah faham, jadi...


kita langsung saja ke intinya"


(Xanxus)


Dan saat itu situasi mulai tegang