
"Sayang... Sayang..."
Saat itu... aku mendengar suara
Verly yang mencoba membangunkan
diriku.
Perlahan aku mulai membuka mata
sekali lagi, dan yang menjadi awal
pandanganku adalah... Verly
yang menerima wajahku di atas
pahanya.
Dia menaruh wajahku di atas
pahanya sambil mengelusnya
dengan wajah bahagia.
Lalu saat itu aku sadar bahwa
aku sekarang berada di kastil Verly
tepat di dalam ruang kamarnya.
"Verly?, maaf soal sebelumnya..
aku membuatmu cemas, kurasa
memang benar, dia musuh yang
sulit di kalahkan, aku seharusnya
berpikir matang terlebih dahulu,
sial.. aku memang bodoh, lagi-lagi
aku membuatmu terlibat"
Aku masih terbaring di atas
paha Verly, dan menunjukan
wajah kesalku.
"Itu tidaklah penting, melihat suami
saya kembali dengan selamat,
itu sudah membuat saya bahagia,
terlebih lagi sekarang tuan Afreon
juga terbaring pingsan, saya telah
membawanya kembali dari jalur
menuju lapisan atas"(Verly)
Dan benar...
Aku melihat Afreon terbaring
di atas kasur Verly.
Perlahan... aku mulai mengangkat
wajahku sekali lagi dari paha Verly.
Dan aku baru sadar, aku sudah
telanjang bulat, yang aku pikir...
ini adalah perbuatan dari Verly
karena aku merasa tubuhku lengket,
sama seperti waktu aku di dalam
mulut naga.
"Maaf, saya melakukanya tanpa
seizin anda, saya begitu khawatir
jadi saya membuka seluruh pakaian
anda hingga telanjang bulat, yang
lebih penting, sebaiknya kita harus
pergi ke jalur menuju lapisan atas,
karena... percuma juga jika kita
tetap berada di lapisan tengah,
karena yang anda lihat hanyalah
sebuah kehancuran"(Verly)
Dia menunjukan senyuman
bahagia kepadaku.
"Tapi... berjanjilah kepadaku,
untuk tidak ceroboh menunjukan
dirimu, atau terlibat oleh setiap
tindakanku, yang kau lakukan
hanyalah harus percaya"
Aku sambil menatap Verly dengan
wajah serius mengatakanya.
Di waktu yang sama Verly malah
merespon dengan senyuman
yang terlihat menahan rasa tertawa.
"Ya ampun sayang, mengatakanya
memang mudah, tapi jika itu
melibatkan kematian, tentu saya
sebagai seorang istri tidak akan
berdiam saja, tapi jika itu
keinginan anda... maka saya juga
akan membuat kesepakatan"
(Verly)
Aku merasa memiliki firasat buruk
saat Verly mulai membuat
kesepakatan itu sambil menunjukan
wajah mesum kepadaku.
"Ya apapun itu, jika itu mengenai
soal sebelumnya, mungkin..
kita bisa melakukanya"
Aku memakaikan kembali
pakaianku sendiri sembari
mengobrol dengan Verly.
"Hee.. mesum juga ya suami saya,
ya itu memang keinginan tedalam
saya, namun... ada satu hal yang
selalu saya benci ketika anda
melakukanya, yaitu... tolong...
berhentilah merokok, karena
anda terlihat sangat menikmati
rokok yang bersentuhan dengan
bibir anda, dari pada memilih
bibir saya, terlebih lagi.. ketika
kita selesai melakukan ciuman, lalu
anda menyalakan rokok.. itu telah
menodai rasa cinta saya sebagai
seorang istri"(Verly)
.... Aku mulai berpikir Verly hanya
menunjukan hasrat cinta nya saja.
"Hahh... itu memang buruk, tapi
terserahlah yang penting, kau
tetap aman, jadi.. apa itu jalur
menuju ranah atas?"(Retnan)
"Di jalur itu untuk mencapai lapisan
atas kita harus melewati, lapisan
lagi yang berisikan 100 lapisan"
(Verly)
Dan lagi-lagi aku di bingungkan
oleh perkataan nya.
Mendengar lebih dari tiga lapisan
sudah membuatku di bingungkan
oleh semesta ini.
"Bukankah... hanya ada tiga lapisan?
apa di sana... hanya ada para dewa
yang tinggal?" (Retnan)
"Umm... di bilang lapisan itu terasa
ambigu, lebih tepatnya... sebuah
tangga, tangga yang mana akan
membimbing jalan menuju ranah
atas, setiap tangga... sama seperti
lapisan-lapisan yang lain, namun
setiap lantainya hanya memiliki
ruang dunia yang lebih kecil dari
pada lapisan, makanya itu di sebut
sebagai tangga karena ruang yang
hanya merujuk semakin naik ke atas
bukan melebar seperti lapisan
pada umumnya, maka dari itu...
lapisan atas berada di dimensi
yang jauh melebihi semua lapisan,
dan ya, hanya para entitas tertinggi
yang mendiami setiap tangga"
(Verly)
"Para dewa kah... aku juga ingin
mendapatkan sesuatu dari mereka,
beritahu aku... bagaimana cara
menjadikan mereka sebagai
Authority?"
Aku yang masih duduk berada
dekat dengan Verly, menatapnya
dengan wajah serius.
"Hee... jika anda terus menatap saya,
bisa-bisa saya hamil, yah.. itu cukup
mudah, namun juga mustahil"(Verly)
"Mustahil?"
Aku cukup terkejut.
"Ya, tidak semua dewa bisa di jadikan
Authority, dewa tertinggi adalah
dewa yang di beri tugas untuk
menata semua semesta, menjaga
aturan, untuk menjadi dewa tertinggi
setidaknya mereka harus lahir
sebagai perwujudan dari semua
yang berkaitan dengan isi semesta,
ada juga cara menjadi seperti
mereka hanya dengan kekuatan,
yang tidak lain... mereka harus
memiliki inti keberadaan yang
berada setara dengan dimensi
lapisan atas, karena... pada
dasarnya, penghuni lapisan atas
hanyalah para dewa tertinggi yang
tinggal, semakin anda meraih
tingkatan lantai... maka lawan anda
akan semakin kuat, karena... mereka
bisa dengan mudah menggunakan kekuatan mereka secara totalitas,
saya rasa pernah menjelaskanya
kepada anda, dan yang menjadikan
hal itu mustahil adalah, keinginan
mereka juga, jika mereka sangat
berkeinginan memberikan segalanya kepada anda... itu justru lebih mempermudah, tapi jika anda
ingin paksaan, kurasa... anda tahu
sendiri iya kan? bahwa semua itu
tidaklah mustahil bagi anda" (Verly)
"Ya ampun, aku tidak berpikir
sejauh itu, mulai sekarang...
aku tidak akan melibatkanmu lagi,
meski ini terdengar konyol karena
selama ini, kau yang selalu tampil
beraksi"
Aku sambil tersenyum dengan
rasa percaya diri yang tinggi.
Perlahan aku mulai berdiri
lalu mengulurkan tanganku
kepada Verly yang masih duduk.
"Sayang..." (Verly)
Dia meihatku yang sedang
mengulurkan tangan kepada
dirinya.
"Kita mulai... perjalanan kita.."
Aku sambil menunjukan rasa
antisipasiku.
"Ya ampun... aku benar-benar iri
dengan kisah romantis kalian"
(Afreon)
Tiba-tiba Afreon menyelat
pembicaraan kita secara langsung.
Dan aku pikir dia sudah baik-baik
saja.
"Kau sudah bangun kah, kurasa...
sejak awal kau memang sudah
bangun, iya kan? Afreon"
Aku sambil tersenyum.
"Tentu saja bodoh, mana mungkin
aku semudah itu pingsan, yang
lebih penting... bagaimana kalau
kita segera pergi ke jalur itu ha?"
(Afreon)sedikit berseru.
"Ya, kali ini... aku akan benar-benar
serius, dan aku tidak akan
mengulangi kejadian yang sama,
untuk sekali lagi"
Aku merasa sedikit bersemangat
tentang hal ini.
Tak lama...
Kami mulai berteleportasi
menuju jalur lapisan atas.
***
Satu jam kemudian...
Kami akhirnya telah menginjaki
awal mula tangga yang menuju
jalur lapisan atas. begitulah yang
di katakan oleh Verly.
Yang menjadi pandangan kami
adalah sebuah gerbang yang sangat
amat besar membentang menutupi
jalan, sisanya hanyalah sebatas pemandangan luar angkasa.
"Ini... besar sekali, aku tidak
merasakan tanda-tanda sihir
mengalir di gerbang ini, Retnan...
apa yang di katakan Verly saat
kita sudah sampai di sini?"
(Afreon)
Afreon sambil mencoba mengecek
ke seluruhan gerbang tersebut.
Untuk kali ini, aku tidak menyuruh
Verly untuk menjadi mulut di
telapak tangan kiriku lagi.
karena mulai sekarang aku
benar-benar tidak ingin melibatkan
dirinya lagi.
Dia sekarang sibuk berada di
dalam kastilnya sendiri.
"Ya, aku rasa... ada entitas
yang mendiami gerbang ini,
dan gerbang ini tercipta dari sihir
penciptaan, memang gerbang ini
tidak ada aura sihir sama sekali,
karena... entitas itu adalah...
gerbang ini sendiri" (Retnan)
"Begitukah?.. mungkin itu alasan
aku terlempar hanya sebatas
di luar gerbang, lalu saat itu...
aku tiba-tiba di bawah kembali
oleh sihir Verly, jadi... kita hanya
perlu menghancurkan nya bukan?"
(Afreon) dengan semangat tinggi.
"Tidak perlu, karena... orang itu...
sudah berada di belakang kita"
Aku sambil tersenyum tanpa
melihat ke belakang.
"He?.."(Afreon) menunjukan
wajah terkejut.
Kami tidak bisa menoleh ke arah
orang tersebut yang berada di
belakang kami. karena... kami
seakan terjebak di salah satu
sihir yang memang sudah ada
sejak awal.
Sihir itu membuat kita tidak bisa
menuruti kehendak kami sendiri.
" Tamu kah? kalian terlihat cukup
kuat, ini sangat jarang loh, umm...
yahh.. aku akan membuka gerbang
untuk kalian, jika bersedia untuk
membantuku, aku tidak biasanya
baik seperti ini lohh... biasanya
aku langsung membunuh mereka
yang datang kemari,he?"
Saat itu...
Aku sudah memegang kepala orang
yang berada di belakang kita.
Aku menunjukan ekspresi tawaku
seakan sihirnya tidak bekerja
kepadaku.
"Maaf paman naga, sihir anda
kurasa tidak bekerja kepada kami,
dan itu menjadi pertanda
akhir hidup anda"
Aku sambil memegang erat
kepala orang itu dengan senyuman
yang lebar aku tunjukan.
Sosok orang itu bukanlah
manusia, melainkan sosok naga
dengan postur selayaknya manusia,
dia memiliki kulit berwarna biru
dan memakai sebuah zirah emas
sambil membawa sebuah tongkat.
Yang aku pikir... dia cukup tua.
"Mu.. Mustahil, bahkan dewa
sekalipun akan tunduk di
hadapanku, yahh... itu bukan
berarti kalian merasa lebih kuat
dariku, aku minta maaf jadi...
lepaskan tanganmu dari kepalaku"
Aku yang mendengarnya terlihat
tersiksa, jadi aku memutuskan
untuk melepaskan kepalanya
dari genggaman tanganku.
Perlahan aku memutuskan duduk
lalu mendengar apa yang paman
naga itu bicarakan.
Dan mereka semua mengikuti
apa yang aku lakukan.
"Akhirnya ada juga orang dewasa
yang mengerti situasi ini, aku
tidak bermaksud jahat, hanya saja
aku ingin meminta tolong kepada
kalian, dan itu juga adalah syarat
agar aku mau membukakan gerbang
untuk kalian, aku seharusnya tidak
boleh meminta tolong kepada
pengunjung, namun... aku tidak
memperdulikan konsekuensi
apapun itu, aku harus... membawa
kembali... istriku, oh maaf...
aku belum memperkenalkan diri,
namaku... Xanxus, sang naga
penjaga gerbang"
"Oh aku Afreon, dia Retnan"
(Afreon) sambil menelunjukan
jarinya ke arahku.
"Yah... sebenarnya aku tidak
terlalu peduli, tapi jika itu syarat
agar bisa memasuki gerbang,
kurasa tidak ada jalan lain, tapi...
sebelum aku memutuskan nya.
setidaknya... aku harus percaya
dengan apa yang kau katakan,
kau terlihat licik, aku telah
mengalami banyak kebohongan
dari setiap keputusan, yang pada
akhirnya jatuh untuk ke untungan
mereka sendiri, aku benci dengan
hal itu paman"(Retnan)
"Bodoh.. mana mungkin jiwa
seorang dewa, ternodai hanya
dengan melanggar janji, aku malah
lebih memilih untuk mati jika hal
itu harus terjadi, dan wajahmu tidak
menunjukan wajah keraguan
kepadaku, kau orang yang cukup
santai di ajak bicara"(XanXus)
"Kita langsung saja terima
apa yang ia katakan Retnan,
jadi... apa yang telah terjadi
kepada istrimu?"(Afreon) mencoba
menanyakan sesuatu kepada
Xanxus yang duduk dekat denganya.
Lalu di saat yang sama...
Xanxus mengeluarkan sebuah
pedang dari portal yang keluar
berada di sampingnya.
Perlahan... dia mengambil
senjata tersebut yang keluar
dari sebuah portal.
Aku tidak berpikir dia berniat
melakukan sebaliknya. karena
bagiku itu hal yang sia-sia jika dia
memang melakukanya.
"Ini... adalah sebuah pedang
Authority, dan ya, istriku sendiri
adalah Authorityku sendiri"
(XanXus) sambil menunjukan
pedang tersebut kepada kami.
Tapi pedang tersebut seakan
terselimuti oleh sihir yang mencoba
menghancurkan pedangnya
sendiri.
"Tunggu... bukankah, justru pedang
itu adalah istrimu yang sudah
berada di sampingmu?, lalu...
apa yang sebenarnya kau pikirkan?"
(Afreon)
"Memang Authority adalah wujud
seseorang yang sudah menjadi
sarung pedang untuk orang
tersebut, tapi berbeda jika sudah
melakukan kontrak hubungan
suami-istri. yang artinya...
kita sudah menjalin hubungan
di tambah dia juga telah menjadi
pedangku, kedua hal itu membuat
ikatan kita semakin kuat, yang mana
meski dia kehilangan kontak
denganku... aku bisa menggunakan
Authority nya tanpa wujud dirinya"
(Xanxus)
"Yang artinya... istrimu telah hilang,
namun... kau masih bisa
menggunakan Authority istrimu
tanpa wujud dirinya karena kontrak
hubungan itu, berarti... yang kau
bawa itu Authority istrimu namun
dengan kekuatan inti keberadaan
dirinya begitu kah?"(Retnan)
"Ya, pada dasarnya Authority adalah
senjata dari wujud seseorang,
seseorang itu berubah menjadi
senjata saat di panggil oleh
kehendak yang mempunyai hak
tersebut, tapi Authority istriku
berbeda karena telah menjalani
hubungan suami-istri, yang mana
tanpa kehadiran dirinya senjata
ini akan terbentuk sendiri, dan
sepenuhnya bisa aku kendalikan.
kalian pasti sudah faham, jadi...
kita langsung saja ke intinya"
(Xanxus)
Dan saat itu situasi mulai tegang