
"Entitas itu kuat, mempercayakan
mereka mungkin sedikit keterlaluan,
tapi tidak bagi Afreon, dan aku
pikir... di mata mereka... entah
kuat atau tidak itu justru menjadi
sebaliknya, setidaknya... mereka
tidak akan mati haha.."
Aku berada di atas ketinggian
tebing mengamati mereka semua
yang sedang melaksanakan
pertarungan melawan entitas
bernama Baron itu di tengah
dataran pasir, dengan kekacauan
yang terlihat di samping mereka.
***
Di tengah dataran pasir yang
terlihat penuh kekacauan di
sekitarnya...
Dengan suasana menegangkan
terjadi di tengah kekacauan.
"Hey.. apa-apaan Retnan tadi!?..
dia pergi meninggalkan kita
seenaknya, yah aku percaya dia
itu memang kuat... tapi tidak usah
sampai segitunya dong. Hey.. apa
kalian dengar para pria!?"(Risty)
mencoba memanggil mereka
berdua yang hanya terdiam dan
tersenyum tertuju pada Baron.
"Diamlah jika kau tidak ingin
terlibat, aku tidak peduli apa yang
di katakan Retnan, selagi kami
bisa bertarung itu sudah cukup."
(Afreon) dengan rasa percaya diri
tertuju pada Baron yang berada
di depan mereka semua.
"Ya, itulah yang aku suka dari
anak muda, tidak ada yang perlu
kau takutkan ketika kau sudah
membulatkan tekad, Retnan hanya
yakin... bahwa kita mampu untuk
menyelesaikan ini, lagi pula... dia
itu pemimpin organisasi ini."(Xanxus)
"Terserah, aku juga akan ikut."
(Risty)
"Aku tidak, aku tidak ingin
melibatkan diriku lagi, bye-bye."
(Sakuya) sambil menunjukan wajah
ekspresi datar lalu berjalan pergi meninggalkan mereka begitu saja.
Di samping itu...
Sebuah tongkat kayu dengan
ganggang berbentuk naga mulai
keluar dari arah depan Xanxus.
Dan ketika Xanxus memegangnya..
suatu gejolak dari bumi begitu
terasa, seakan berpotensi membuat
gempa di sebagaian besar wilayah.
"Mungkin memakai tongkat
dengan tubuh anak muda memang
tidak cocok, tapi kalau soal
kekuatan... aku tidak akan kalah.
Afreon... majulah aku akan membuat
dirinya merasakan rasa sakit, secara
instant." (Xanxus) dengan wajah
serius dan kata-katanya.
"Baiklah, berharap menjadi yang
petama itu mengasikan, dan juga...
ketika aku tahu dia tidak memiliki
wujud fisik, menggabungkan sihir
dengan Authorityku mungkin bisa
memutuskan keterikatan itu."(Afreon)
Gumpalan aura sihir dalam satu
genggaman di tangan kiri Afreon
membentuk sebuah pedang
bercahaya hijau.
Tidak.
Lebih tepatnya... pedang itu tercipta
dari unsur cahaya dengan penyatuan
sihir dan inti keberadaan membuat
itu bersingkron yang pada akhirnya
merubahnya tampak menjadi
seperti cahaya.
Kini Afreon memiliki kedua senjata,
di genggaman tangan kananya
terwujud pedang Authority lalu di
di sebelah tangan kirinya tercipta
sebuah pedang cahaya yang
bernama...
"[Heavenly Deadly], kombinasi dari
sifat sihir dan inti keberadaan.
Kedua hal inilah yang akan
membalikan keadaan."(Afreon)
dengan semangat bertarungnya.
"Sang fajar kah... sejujurnya aku
tidak ingin melawanmu, sebaiknya
kau tidak perlu terlibat oleh lapisan
atas, singkatnya lebih baik teruslah
membuat keturunan agar sang fajar
kelak nanti dapat-"(Baron)
*Swooshh...*
Tanpa memperdulikan perkataan
Baron, Afreon secara langsung
melesat dengan cepat mengarah
ke arah Baron sambil menegakan
kedua pedangnya.
"Aku tidak peduli apa yang kau
ocehkan, aku hanya ingin segera
mengakhiri pertempuran ini."
Kedua pedang yang terangkat
tertuju pada Baron yang berada
di depan mata Afreon, tanpa
berkata lagi... Afreon langsung
melanjutkan lancaran serangannya
dengan mengayunkan kedua pedang
tersebut secara bersamaan.
"Dasar tipe orang yang tidak bisa
di ajak mengobrol."(Baron)
Ketika Afreon dengan kedua
pedangnya melewati sepasang
tangan yang begitu besar ada
pada Baron di balik punggungnya...
Ia menyadari sesuatu, yang tidak
lain berada di lingkup yang salah,
sepasang tangan besar itu yang ada
pada Baron bertugas sebagai
kehendaknya sendiri, singkatnya
dia sendiri tidak perlu bertindak
dengan tubuh aslinya dan sesuatu
yang mencoba melewatinya...
maka akan langsung bereaksi
menyerang.
Ini sudah terlambat bagi Afreon
yang sudah melewati sepasang
tangan tersebut jika berpikir untuk
keluar dari lingkup ini, yang mana
sepasang tangan tersebut mulai
bereaksi ketika keberadaan Afreon
mencapai Baron.
"... Lima detik... tidak, tiga detik..
tidak, satu detik!?, aku merasa
tangan itu mencoba menyerapku
dan juga reaksinya begitu cepat...
hanya dengan satu detik, sudah
mulai bereaksi menyerangku,
tapi... ini baru permulaan..."
(Afreon) dalam batin.
Ketika tubuh Afreon mulai terserap
oleh sepasang tangan tersebut...
tiba-tiba keberadaan Afreon
menghilang dengan begitu saja.
Tidak ada tanda-tanda yang
membuat hal itu terjadi, dan tentu
Baron yang sebelumnya melihat
Afreon berada sangat dekat dengan keberadaanya, lalu setelah melihat kejadian ini... ia benar-benar di
kejutkan oleh tindakanya.
Bukan hanya sekadar baron,
melainkan mereka semua yang
menyaksikanya juga turut terkejut.
Lalu...
Tanpa Baron sadari... sepasang
tangan asli miliknya secara
langsung terpotong tepat di waktu
yang sama ketika Afreon
menghilang di hadapanya.
"Hehe... kurasa itu timing yang
pas, sedikit saja aku tidak bisa
melampaui reaksi tangan
monstermu itu... mungkin aku juga
akan berakhir menjadi lubang hitam."(Afreon)
Kini Afreon terlihat kembali
ke tempat awal ia berada
sambil tertuju kepada Baron.
Untuk sesaat... suasana menjadi
hening ketika tangan Baron yang
seharusnya sudah terbelah...
perlahan mulai meregenerasi
kembali.
"Wah-Wah... itu kecepatan yang
luar biasa, tapi tentu... itu tidak
akan cukup untuk benar-benar
melukaiku, tidak. Pedangmu
telah mengiris salah satu bagian
tubuhku yang seharusnya tidak
bisa di serang oleh serangan fisik,
namun... selama aku masih bisa
meregenerasi... itu tidak akan ada
artinya, seranganmu sia-sia."(Baron)
telah kembali normal meski tanpa
ada luka, ia tampak kembali
seperti baru di lahirkan.
"Ya, kurasa kau benar, karena
refleks melihat kejutan dari tangan
monstermu, membuatku tidak
bisa mengeluarkan sepenuhnya
kekuatanku. Aku tidak peduli
kuat tidaknya, selama itu bisa
menggores kulitmu, sisanya...
aku hanya perlu memikirkan
serangan telak."(Afreon)
"Afreon... sekarang kau tidak perlu
khawatir soal tangan tersebut,
mulai sekarang... aku yang akan
membukakan jalan untukmu,
dan kalian para wanita, untuk kali
ini tidak usah repot-repot untuk
mengeluarkan kekuatan kalian,
tugas kalian adalah mengamati
situasi Afreon."(Xanxus)
"Tunggu apa-apaan itu!?.. apa itu
strategimu?"(Risty) dengan wajah
kesal tertuju pada Xanxus.
"Ya benar, dan aku yakin dengan
apa yang aku rencanakan."(Xanxus)
dengan rasa percaya diri.
"Umm... terserah."(Risty)
"Baiklah, Afreon... bergeraklah
sekali lagi, kali ini... dia akan
benar-benar merasakan rasa
sakit."(Xanxus)
Afreon yang seharusnya memiliki
dua pedang, kini ia telah menyisakan
satu pedang yang tidak lain adalah
senjata Authority nya.
Ia memutuskan untuk melawanya
hanya dengan satu senjata.
" Aku pikir... istri Retnan, Verly
pernah bilang. Bahwa di balik
senjata ini ada suatu entitas yang
hidup seperti iblis, kukira, mungkin
jika aku berinteraksi dengan iblis
itu aku bisa sedikit berkembang."
(Afreon) dalam batin.
***
Beberapa waktu lalu sebelum
semua ini terjadi, tepat ketika
Afreon masih berada di salah
satu tempat penuh buku yaitu
perpustakaan yang di penuhi
begitu banyakanya buku tertata
rapi di setiap rak.
Dan ketika ia berada di dalam
perpustakaan...
Afreon sibuk berjalan mondar-
mandir mencari sebuah buku yang
cocok untuknya.
"Ahh... banyak yang ingin aku baca,
meski kebanyakan aku sudah
membacanya, walau begitu... aku
masih tertarik dengan apa yang
telah aku baca. Mumpung sekarang
tidak ada mereka dan sepi, kupikir
sekarang saatnya beralih ke buku
sejarah dan tentu lewat buku itu
aku akan sedikit mengetahui
tentang bagaimana cara
mencapai kekuatan ke tingkat
yang lebih tinggi, Dan..."(Afreon)
Tiba-tiba perkataan Afreon yang
belum selesai, terhentikan, saat
ia melihat sebuah buku dengan
aura sihir hitam bercampur ungu
menyelimuti buku tersebut.
".... Apa ini?.. buku ini tercipta dari
sihir, aku tidak bisa membukanya,
entah kenapa... sihir tidak bekerja
pada buku ini. Apa mungkin...
hanya pemiliknya saja yang bisa
membukanya?"(Afreon) dengan
wajah bingung melihatnya.
*Tik-Tok-Tik-Tok-Tik*
"He?.."
Terdengar suara langkahan kaki
yang membuat Afreon cukup
terkejut ketika menyadarinya.
Perpustakaan ini begitu luas,
dan Afreon sekarang berada
di salah satu lantai yang
terbilang sepi peminat pembaca.
Hingga hanya ia seorang yang
berada di sana.
Terlebih lagi... suara langkahan
kaki itu terdengar seperti memakai
sepatu hak tinggi yang perlahan
berjalan mengarah ke Afreon.
Dalam lantai perpustakaan ini,
begitu gelap karena sepi pengunjung
yang seakan ruangan ini terkesan tertutup.
"Siapa di sana!?.. atau aku akan
menggunakan sihirku."(Afreon)
mencoba memanggil langkahan
kaki tersebut yang terdengar
semakin mendekati dirinya.
Tidak ada respon dari kehadiran
sosok itu, Afreon yang mulai
merasa aneh secara perlahan
mengalirkan aura sihirnya untuk
melihat sosok tersebut sekaligus membuat suatu gertakan.
Hingga...
"He?.. kau.."
Saat itulah Afreon menghentikan
tindakanya sendiri, ketika melihat
sosok itu tidak asing baginya.
"Hee.. maaf membuat anda
terkejut, tuan Afreon."
Yang tidak lain suara wanita itu
adalah... Verly, dengan penampilan
kimono yang sama.
Untuk sekali lagi Afreon terkejut
melihat kehadiranya yang jarang
sekali mengunjungi dirinya.
"Ke.. Kenapa istri Retnan kemari
mengunjungiku?, maksudku nona
Verly, Sial aku canggung tanpa
kehadiran Retnan."(Afreon) dengan
wajah memerah.
"Ya ampun ada apa dengan wajah
anda, dan juga... anda tidak perlu
bersikap formal. Saya kemari atas
keinginan saya sendiri."(Verly)
sambil tersenyum manis kepada
Afreon.
"Be-Begitu kah? Eh?, keinginan
sendiri?, berarti ada maksud lain
atas kedatanganmu kemari?"
(Afreon)
"Ya, yang mungkin ada hubunganya
dengan hasrat anda."(Verly)
Suatu tindakan yang membuat
Afreon semakin canggung mulai
terlihat.
Dimana Verly perlahan melangkah
semakin mendekati Afreon dan
terus melangkah hingga membuat mereka semakin dekat.
"Ahh.. tentu yang saya maksud
adalah hasrat meraih kekuatan
yang lebih kuat"(Verly) sambil mendekatkan tubuhnya kepada
Afreon.
"Kuat?.. dan yang lebih penting,
bi-bisakah kau berhenti menggodaku
aku merasa tidak enak, tubuhmu
hampir bersentuhan denganku."
(Afreon) mengalihkan pandanganya
dari Verly yang sangat dekat
denganya.
"Hee.. padahal saya belum
melakukan apa-apa, seandainya
anda adalah suami saya, mungkin
itu akan menjadi moment bercinta
yang sangat romansa, yah lupakan."
Verly mulai melangkah mundur
sedikit menjauh dari Afreon
yang berada di hadapanya.
"Ya, tidak masalah sih, lalu...
soal apa yang kau katakan,
apa yang kau maksud itu?"
(Afreon) dengan wajah bingung.
"Ahh.. sebelum itu, biasakah anda
memberikan kembali buku dengan
aura sihir itu kepada saya?"(Verly)
sambil tersenyum dan mengulurkan
tanganya kepada Afreon.
"Oh-Ohh... bukan masalah sih."
(Afreon)
Tanpa pikir panjang.. Afreon
langsung melakukan apa yang
Verly katakan, ia langsung
memberikan buku tersebut kepada
Verly.
Dan Verly yang menyadarinya
langsung menerima pemberian
dari Afreon.
"Terima kasih, dan soal kunjungan
saya..."(Verly)