A The Creators

A The Creators
Kerja Tim



Ribuan orang bersorak dalam


satu acara yang sedang berlangsung.


Di tengah acara terdapat beberapa


orang yang melakukan sebuah


pertarungan satu sama lain.


Ya inilah colosseum dimana acara


yang di nantikan oleh pemimpin


dunia tangga pertama. kami


beruntung bisa dengan mudah


menemukan pemimpin dunia ini


secara tidak langsung.


Mereka yang berpatisipasi, tentu


menginginkan sesuatu dalam


acara yang sedang berlangsung ini.


Bisa di lihat dari papan nama di atas


colosseum, ada satu orang yang memecahkan rekor bertarung


terbanyak dan tidak terkalahkan,


yakni seorang wanita yang


menurutku dalam pandangan


orang-orang benar-benar seksi dan menawan.


Yang tidak lain adalah pemimpin


dunia tangga pertama ini.


Dia telah memenangkan


pertarungan sebanyak 10.839 kali


dengan kekalahan 0 dalam kurung


waktu 100 tahun.


Dan tujuan mereka berpatisipasi


tidak lain...


ingin menjadi kekasih sang


pemimpin dunia ini.


Ya itulah beberapa informasi


yang telah aku dapatkan dari


beberapa waktu yang lalu sebelum


kami memasuki colosseum ini.


"Ini benar-benar ramai sekali,


dan aku tidak berpikir pemimpin


dunia tangga pertama, ternyata...


seorang wanita dan dia...


bukan tipeku" (Afreon)


Kami sekarang sedang duduk


menikmati acara ini di salah


satu tempat khusus penonton.


"Apa yang kau bicarakan anak muda,


dada yang begitu besar di tambah


postur badan yang seksi itu begitu


menawan, yah meski tidak


sebanding dengan istriku" (Xanxus) sambil memakan buah.


"Kenapa kau malah membanding


bandingkan dengan istrimu?,


memang tidak buruk cara


berpakaianya, kukira dia seorang


iblis, karena... memiliki sepasang


tanduk, tapi dia bukan tipeku


karena sifat aroganya terlihat


berlebihan, bahkan beberapa


laki-laki terus mengelus bagian


tubuh wanita itu, aku yakin dia


itu iblis pelacur"(Afreon) dengan


tatapan datar melihatnya.



*Sekiranya begitu(kedepanya mau


saya bikin sendiri)


Sc:Google*


Lalu... aku baru sadar ketika


banyak orang dengan pakaian


yang berbeda-beda berpartisipasi


mengikuti acara ini, yang aku pikir


mereka tidak termasuk orang-orang


yang tinggal di tangga pertama ini.


Pantas, wanita itu yang memimpin


tangga ini tidak menyembunyikan


keberadaan nya, karena...


Mereka² yang berpartisipasi dalam


acara ini ternyata... orang-orang


dengan tujuan yang sama untuk


meraih lapisan atas, yang berarti


orang luar, sama seperti kami.


Yang aku rasa dia memang


sengaja mengatur semua ini,


dan dengan cara ini mereka yang


berkeinginan untuk meraih tangga


berikutnya akan berpikir kembali.


"Semua wanita itu... benar-benar


licik ya"(Retnan)


"Apa yang kau bicarakan Retnan?,


dan apa kau juga berpikir hal yang


sama? bahwa, orang-orang di sini


kebanyakan dari luar gerbang, dan


lihat... kurang dari satu jam wanita


itu tanpa bergerak sudah menambah


kemenangan sebanyak ratusan kali,


aku merasa ingin saja ikut serta"


(Afreon)


"Aku mulai berpikir dia cukup kuat,


namun aku juga merasa... dia


telah kehilangan banyak sesuatu


yang seharusnya itu bisa


membuatnya semakin bertambah


kuat"


Aku mengatakan apa yang aku


pikirkan.


"....Apa... yang kau katakan?"


(Afreon)


Aku melihat Afreon cukup


bingung dengan apa yang aku


katakan, padahal aku hanya


mengatakan apa yang aku


pikirkan tanpa ada maksud lain.


"Tidak ada, aku hanya merasa...


di balik kesenanganya yang


dapat memanipulasi acara ini


selayaknya boneka... di balik itu...


dia sedang menahan luka yang mendalam, aku tidak mengetahui


aku hanya merasakanya"(Retnan)


"Aku tidak berpikir seperti itu


atau pun merasakan apa yang


telah kau katakan, aku hanya


melihat dia melakukan semua ini


atas kesombonganya, apa yang


membuatmu berpikir sebaliknya?"


(Afreon)bertanya sambil menoleh


kepada diriku yang sedang duduk


berada di sampingnya.


"Sudah kubilang aku hanya


merasa saja, saat aku melihat


wanita itu... seakan aku melihat


diriku sendiri, ya diriku yang


tinggal di dunia sebelumnya,


dimana aku hanya menelan luka


di saat harapan mulai sirnah.


ketika harapanmu sirnah kau hanya


akan berpikir bagaimana cara


agar kau bisa bersenang-senang


dengan tujuan untuk melupakan


luka yang telah kau terima"


(Retnan)


"Aku tidak menyangka kau pernah


mengalami hal semacam itu,


ceritamu sedikit berbeda dengan


orang yang memberikanku


seragam yang kau katakan


SMA ini, pada akhirnya... dia


memutuskan bunuh diri" (Afreon)


"Yahh... lagi pula aku sudah


memutuskan untuk membuang


memori kehidupanku yang dulu,


kuharap kau melupakan apa yang


telah aku katakan"


Aku sambil membuka sebungkus


permen.


Hingga... semakin aku menyaksikan


acara ini semakin membuatku


muak, dengan apa yang di lakukan


wanita itu.


Bagaimana tidak.


Kami seakan menyaksikan sebuah permainan yang di mainkan oleh


wanita itu, padahal dia tidak ikut serta dalam acara ini tapi dengan


mudahnya, dia memainkan para


peserta selayaknya boneka yang bisa


ia mainkan tanpa adanya rasa


apapun.


Itu seperti mereka sedang menari


di telapak tangan wanita itu.


Ikut serta?, bagiku wanita itu hanya


seperti memainkan mereka tanpa


sedikit pun mengangkat tubuhnya.


Dan rekor yang dia dapatkan adalah


hasil dari setiap kesenanganya.


"Kalian... kurasa ini saatnya, aku


sudah bosan berada di sini, lebih


baik.. kita harus segera bergerak"


(Retnan)


"Oi... lihatlah wanita itu sekali lagi"


(Afreon)


Aku melihat Afreon menelunjukan


jarinya ke suatu arah, dan tepat


di tempat singgasana wanita itu.


Tapi...


sendiri tidak menyadari seakan


semua itu langsung terjadi.


Kami melihat... wanita yang bekuasa


di tangga pertama... sedang di cekik


oleh seorang pria berambut putih


di tengah singgasana.


Dia tersenyum... dan semakin


mencekik wanita itu tanpa adanya


perlawanan balik dari sang wanita.


Ini membuat situasi sekarang


menjadi keterbalikan dan


kebingungan.


Semua orang sangat terkejut


menyadari hal ini secara tiba-tiba.


Satu hal yang aku ketahui...


orang itu juga termasuk seseorang


yang ingin meraih lapisan atas


namun juga memiliki tujuan lain,


yaitu seperti apa yang ia perbuat sekarang.


Walau aku sendiri masih bingung.


***


*Di tengah kekacauan...


"Lemah sekali pemimpin tangga


pertama, kau melakukan semua ini


hanya untuk menggeretak kami


bukan?, teruslah duduk dan


menikmati semua ini, aku yang


melihatnya benar-benar muak,


yang kau lakukan hanyalah


memainkan jarimu selayaknya


kau sedang bermain boneka tali,


sambil menunjukan paras cantiknya


wajahmu, sayang sekali aku tidak


tertarik dengan wanita manapun,


selain... bertemu orang kuat"


Pria itu masih mencekik wanita itu


tanpa belas kasihan dan hanya


menunjukan senyumanya.


"Di... am... lah... aku..."


"Ha?... kau ingin tahu apa yang


di maksud menyenangkan itu?,


mari... kita lihat"


*TIK"


Suara jentikan terdengar...


Dan suatu makhluk muncul di tengah


pertandingan.


"Pria itu... mungkinkah..." (Afreon)


Aku melihat ekspresi wajah Afreon


terkejut saat...


Sebuah makhluk berpostur tubuh


manusia selayaknya zombie


muncul dengan badan yang besar,


yang aku pikir... monster itu bertipe


Zoa.


Tindakan pria itu tentu membuat


mereka yang menyaksikan semua ini


bersorak riang, karena... mereka


pikir ini akan menjadi tontonan


yang bagus atas perilaku yang telah


wanita itu perbuat pada mereka


yang ikut berpartisipasi.


"Semuanya..!!, siapkan burung kalian


dan nikmati tontonan seru ini,


dimana... wanita ini siap menerima


setiap benih dari monster Zoa yang


perkasa di depan mata kalian"


Aku melihat wanita itu seakan


pasrah dengan harga dirinya yang


telah di injak oleh pria tersebut.


"Tapi... kurasa ini belum menjadi


tontonan yang seru, umm... ah


bagaimana kalau..."


"Arghhh...!!"


Suara jeritan rasa sakit terdengar


keras.


Saat pria itu menanam sebuah segel


pada leher wanita itu dan secara


perlahan menyeluruh ke seluruh


tubuhnya.


"Segel itu tidak akan bisa kau


lepaskan, entah apa yang akan kau


perbuat, segel itu menjadi pertanda


kau telah menjadi miliku, tunggu...


ini masih belum, ini masih belum


memadai siksa neraka"


*Sring.. Sring... Sring... Sring...*


Puluhan pedang muncul berada


di atas langit, itu mengarah tepat


kepada wanita itu yang masih


tercekik.


Satu persatu pedang itu menusuk


setiap bagian anggota tubuh wanita


itu secara perlahan.


Dia menggigit bibirnya seakan


dia terlihat menahan rasa sakit dari


setiap tusukan yang menembus organ dalamnya.


Di balik semua itu... mereka-mereka


yang menyaksikan secara langsung


malah bersorak gembira tidak ada


tanda-tanda di wajah mereka yang


menunjukan rasa menolong.


"Ya ya... bagus, tahanlah terus


rasa sakit yang perlahan akan


menghancurkan moral dan


mentalmu, aku akan memberimu


syarat agar terbebas dari beban ini,


yaitu... berikan aku segala yang kau


punya, dunia ini... kehidupan ini...


bahkan dirimu sendiri"


Pria itu tersenyum lebar kepada


kita semua.


Di samping itu...


Afreon dan Xanxus mulai terbawa


suasana yang mana mereka


menunjukan wajah penuh amarah


ketika melihat wanita itu tersiksa.


Sebenarnya aku tidak terlalu peduli


tentang semua ini, namun aku juga


merasa sedikit jengkel dengan


perilaku pria itu yang berani


menindas harga diri seorang wanita seenak jidatnya.


Aku tahu wanita itu juga memiliki


dosa yang besar, tapi... tetap aku


benci dengan cara pria itu.


"Nahh..!! mari kita mu-"


*CRINZ*


*BLARRRRR...*


"He?"


Aku terkejut...


Saat pria itu merobek pakaian


yang wanita itu kenakan...


Di waktu yang sama...


Afreon dan Xanxus dengan cepat


menghampiri pria itu dan secara


bersamaan mereka melancarkan


tendangan tepat mengarah ke wajah


pria itu hingga terhempas keluar dari colosseum.


Mengakibatkan gempa sesaat


hanya karena tendangan mereka


yang di lancarkan secara bersamaan.


Bukan hanya diriku saja yang


terkejut melihat kerja tim mereka


namun... semua orang yang berada


di sana benar-benar di kejutkan oleh


kehadiran mereka berdua.


***


Di tengah arena colosseum...


"Xanxus... biarkan aku yang


mengatasi pria ini, kau lebih baik


segera membunuh Zoa itu,


ini... sebuah permintaan" (Afreon)


dengan wajah serius.


"Baiklah" (Xanxus)


Perlahan... pria itu mulai bangkit


kembali setelah terhempas begitu


kuat.


"Ya ampun... aku bertemu dengan


organisasi yang kuat ternyata,


aku tidak menyadari tendangan


kalian, tapi... kalian memang


terlihat kuat, dan tunggu. apa kau


orang yang di kirim sama sepertiku?


di lihat dari seragam anak sekolahan


yang kau pakai itu, sama seperti


miliku yang dulu aku pakai sebelum


aku memasuki dunia ini"


Pria itu sambil tersenyum kepada


Afreon.


"Aku tidak peduli, tapi aku peduli


dengan pertemuan kita" (Afreon)


"Hmm... menarik, sebelum itu...


jika kau di kirim di dunia ini. yang


berarti kau pasti sudah pernah


bertemu dengan hukum dewa...


iya kan?"


"He?..."