
Di tengah sebuah kota dengan
pemandangan lautan pasir dan
penduduk kota yang banyak
melakukan aktivitas.
Kami berjalan di tengah kota
yang penduduknya benar-benar
sangat padat.
Kota ini terlihat begitu sangat besar
yang bahkan titik akhirnya saja tidak
bisa di jangkau oleh pandangan mata.
Rumah mereka terlihat begitu kuno
seakan ini berada di peradaban
mesir kuno.
"Aku merasa tidak asing dengan
tangga ini" (Xanxus)
"He? bukankah kau bilang tidak
pernah memasuki gerbang itu?"
(Afreon)
"Aku juga tidak tahu, tapi aku merasa
memiliki firasat baik di siang ini"
(Xanxus)
"Oh ya, kota ini sangat besar, apa
kalian tidak ingin bersenang-senang
dahulu?, aku merasa kita tidak
pernah bersenang-senang, soal
tuhan di tangga ini kalian bisa menyerahkan tugas ini kepadaku"
Aku mensarankan mereka
sambil terus berjalan bersama
mereka di tengah kota besar ini.
"Aku tidak berpikir sampai kesana
tapi jika ada kesempatan, aku ingin
pergi ke perpustakaan setempat,
kota ini kuno mungkin ada beberapa
buku kuno tentang ras spirit, dimana
bagaimana cara mereka, bisa
menggunakan kekuatan sihir
tak terbatas mereka" (Afreon)
"He? bukankah... kau memang
bisa menggunakanya sejak awal?"
(Xanxus)
"Itu benar, tapi kapasitas tubuhku
untuk menggunakanya secara
keseluruhan tidak mencukupi,
dan pada akhirnya aku tidak bisa
mencapai tingkat konseptual.
jiwaku memang setengah dewa
namun sejak lahir... aku hanya
memiliki tubuh manusia normal"
(Afreon)
"Kalau begitu... aku akan ikut
denganmu" (Xanxus) sambil
terseyum kepada Afreon.
"Aku tidak butuh orang yang
mengganggu, lagi pula tidak akan
ada yang berani melawanku, kau
lebih baik mencari wanita sana
dengan memamerkan wajah yang
seperti pangeran itu" (Afreon)
Sesaat... aku langsung berhenti
berjalan di sambung dengan
mereka.
"Oh ya soal wanita, Demonstia...
aku memanggilmu..."
Suatu cahaya muncul di hadapanku
setelah aku menyebut namanya.
Itu Demonstia dengan aura yang
ganas serta paras cantiknya
secara langsung datang di
hadapanku.
"Dengan segala hormat tuan,
kenapa anda memanggil saya?"
(Demonstia) sambil tunduk
di hadapanku.
"Bukankah ini yang kau mau?
ingin menemani dan bersama
dengan Afreon?"
Aku mengatakanya dengan santai.
"Itu benar, saya ingin melayani
tuan Afreon, izinkan saya untuk
selalu di sisi anda dan menjaga
anda" (Demonstia) dengan wajah
bahagia menunjukanya kepada
Afreon.
"Kenapa kau memanggilnya Retnan?,
ini jelas-jelas mengganggu
lagi pula dia sudah menjadi
Authoritymu" (Afreon) dengan wajah
datar mengatakanya.
"Justru karena dia memiliki rasa
terhadapmu, aku tidak peduli...
aku akan pergi, tolong urus dia
Demonstia"
Aku kembali berjalan dan tanpa
pikir panjang aku langsung
meninggalkan mereka.
"Yahh.. meski aku iri dengan kalian
tapi aku memutuskan untuk
tetap ikut" (Xanxus)
"Terserah, selagi kalian ikut campur
urusanku" (Afreon)
***
Di sisi lain...
Aku memutuskan untuk pergi
ke sebuah istana yang benar-benar
mewah, yang berada di tengah
kota besar ini. bahkan kemewahan
dari istana tersebut jauh melebihi
semua penduduk di kota ini
Seakan itu di lakukan dengan sengaja atas perintah seseorang, semua
terlihat kuno, hanya istana tersebut
saja yang menjunjung kekayaan.
Ini benar-benar terlihat seperti telah
di rekasaya.
Di setiap tempat... aku hanya
melihat para penduduk melakukan
pembangunan rumah tanpa sedikit
saja menggunakan sihir mereka.
Meski hanya beberapa saja tapi
bagiku... aku sedikit penasaran
dengan pemimpin(tuhan) dari
tangga ini.
"Eh?"
Saat aku yang sedang berjalan
dengan wajah tertutupi jubah...
Tiba-tiba seorang wanita muda
menyengol bahuku saat aku sedang
asik berjalan.
Dia terlihat berlari terburu-buru
seakan ada seseorang yang
sedang mengejarnya.
"Maaf...!!"
Dia bahkan sempat melambaikan
tanganya ke arahku dari kejauhan
sambil terus berlari.
"Yahh... biarlah, aku tidak ingin
ikut campur urusan orang.
tapi... mungkin juga wanita itu
adalah kunci agar aku bisa
mengakses istana itu"
Aku melihat beberapa orang
dengan pakaian layaknya seorang
prajurit mengejar wanita tersebut.
Yang membuatku berpikir...
wanita itu sedang membawa sesuatu
yang penting dari istana.
"Aku rasa... wanita itu adalah
kuncinya, kurasa aku akan sedikit bergerak menolong nya"
Tanpa pikir panjang aku langsung
berlari bergerak dengan cepat
menyamai kehandiranya yang masih dalam jangkauan penglihatanku.
*Sret*
kehadiranku yang tiba-tiba ada di
hadapanya.
"Maaf nona... izinkan aku untuk
membawamu ke suatu tempat yang
sedikit jauh"
Aku langsung memegang tanganya
dan lemparkanya ke atas langit
tanpa memperdulikan hal lain.
"Tidakkkk..!!"
Wanita itu berteriak dengan kencang
saat masih dalam kondisi terlempar
ke atas langit.
*WUSHHH*
Aku langsung melesat ke atas langit mengarah pada wanita tersebut yang masih dalam kondisi terlempar, dan
secara langsung aku menggendong
dirinya.
"Tu-Tunggu mesum, lepaskan aku
kau tidak berhak memegangku"
Aku tidak memperdulikan
perkataanya yang juga ingin
memberontak.
Aku terus terbang dalam ketinggian
dengan mereka yang masih
mengejar wanita ini dari arah
belakang.
"Kurasa... cukup untuk bermain
kejar-kejaranya"
Aku yang masih terbang sambil
menggendong wanita ini perlahan
aku membuat bentukan jentikan
di jariku dan...
*TIK*
Suara jentikan terdengar...
Dan secara instant mereka yang
masih mengejar wanita ini langsung
terhapus dari keberadaan.
Lalu...
Dengan santai perlahan aku mulai
turun dari ketinggian langit,
bersamaan aku melepaskan wanita
itu dari gendonganku.
***
Di pinggir rumah salah satu
penduduk....
Kita saling memandang wajah
dengan tatapan yang tidak terlihat
romantis.
Dia terus memandangiku dengan
wajah kesal memerah, dan aku
hanya bisa membalasnya dengan
wajah tersenyum.
"Yah... maaf membawamu secara
tiba-tiba"
Aku mencoba membuka percakapan.
"Bodoh, bu-bukan berarti aku akan
berterima kasih kepadamu loh ya,
jujur saja kau pasti mengincar
tubuhku"
Wanita itu sambil memalingkan
wajahnya ke arah lain, padahal
aku berada di hadapanya.
"Ya aku tidak peduli apa yang kau
katakan, tapi jika kau tidak ingin
membantuku, kurasa tidak ada
cara lain selain secara paksa
aku masuk ke istana itu, yah meski
aku belum tahu sedetail apa istana
tersebut"
Aku mengatakan langsung ke inti
pembicaraan ini.
"Jadi... kau ingin pergi ke kerajaan
orang itu?, aku pikir kau hanya
ingin tubuhku"
"Ha?.. apa yang kau katakan,
dan responmu berbeda dengan
yang sebelumnya" (Retnan)
Aku melihat wanita itu sekali lagi
secara keseluruhan.
Dimana aku melihat dia memiliki
rambut sepanjang bahu berwarna
merah, memakai sebuah zirah besi
tipis, wajah yang begitu mulus nan
mata yang indah seakan terlihat
memancarkan cahaya.
"Soal itu... lebih baik kau lupakan
saja keinginanmu untuk pergi
ke istana tersebut, orang yang
berada di sana sangat sombong
yaitu pemimpin mereka"
"Lalu... kenapa kau di kejar mereka?
dan Kenapa kau berada di sini jika
semua itu tidak ada hubunganya?,
aku yakin kau bukanlah salah satu penduduk di dunia ini, apa kau organisasi?"
Aku bertanya dengan wajah
serius.
"Ini semua tidak ada hubunganya
denganmu, dan maaf saja ya aku
tidak bisa menuruti ocehanmu.
tapi... jika kau bisa membantuku
aku akan menceriatakan apa yang
sebenarnya terjadi, dan akan
membawamu ke istana tersebut"
"Yah... aku tidak bilang aku ingin
seorang wanita menemaniku,
sudahlah... lupakan apa yang telah
aku katakan, sejak awal aku hanya
membuang-buang waktu padahal
aku bisa melakukanya sendiri"
Aku memutuskan berjalan kembali
pergi meninggalkan wanita tersebut.
"Tu... Tunggu..!!"
Sesaat... aku mendengar teriakan
dari wanita itu lagi ke arah belakang,
aku yang mendengar teriakan itu
langsung berhenti melangkah
berjalan.
"Jangan pergi, maaf... atas apa
yang telah aku katakan, aku yakin
kau orang yang cukup kuat, tolong
dengarkan ceritaku sebentar"
"Apa untung yang aku dapatkan?"
Aku tanpa menoleh ke arah gadis
tersebut.
"Untung?.. tunggu apa-apaan ini?
teganya kau ingin membantu seorang
wanita hanya demi keuntunganmu"
"Aku tidak memperdulikan soal
lawan jenis, tapi jika kau bisa
menjanjikan satu hal, mungkin
aku bisa melakukanya"(Retnan)
"Baiklah, aku akan memberitahu
informasi agar sampai ke tangga
berikutnya, karena... tangga ini
mencangkup sejumlah dunia
tak terbatas dalam suatu bentuk
yang juga memiliki nilai tak
terbatas, akan sulit agar bisa
sampai ke tangga berikutnya"
"Yahh... kelihatanya itu sudah cukup,
baiklah aku akan membantumu,
sebelum itu perkenalkan nama,
namaku Retnan Noir"
Aku sambil menghadap kembali
ke arah gadis tersebut.
"Namaku Risty Mirshela... seorang
organisasi, naman organisasi
[Snow White]"(Risty)
"Organisasiku [Another] jadi...
bisakah kita duduk dan mendengar
kilas ceritamu?"