
Enam bulan telah berlalu...
sejak kejadian yang membuatku merubah diriku sendiri atas kemauanku.
Kini aku sedang berada di dalam kastil Verly sejak kejadian Rethos sampai sekarang.
Ya, aku sudah mengetahui keberadaan kastil Verly sejak kita membuat ikatan kontrak baru
yang artinya menuju ke tingkat yang lebih dari sekedar kontrak belaka.
Alasan aku datang kemari... karena setelah kejadian itu membuat tubuh abstak yang aku dapatkan tidak bisa menahan jiwa kemanusiaanku.
Dan jika itu di biarkan...
Aku akan benar-benar kehilangan jiwa kemanusiaanku dan terganti oleh wujud abstrak yang telah aku miliki.
Verly bilang dia bisa menahan wujud itu dengan sihirnya jadi aku mengunjungi kastil ini sesuai dengan perkataanya.
"Tuan... anda boleh masuk ke kamar saya sekarang." (Verly)
Aku berada di depan luar pintu ruangan Verly karena sebelumnya dia menyuruhku untuk menunggunya di luar.
Setelah mendengar perkataanya aku mulai membuka pintu kamar Verly lalu berjalan memasukinya.
Saat aku memasuki kamarnya dan melihat ruanganya...
Sangat berbeda dengan semua ruangan yang ada di kastil ini.
Semua ruangan tampak seperti kerajaan, namun hanya kamarnya saja yang benar-benar seperti kamar penjara dengan hawa yang lembab.
Meski hanya kasurnya saja yang mewah.
"Ohh.. anda sudah masuk kah... maaf atas kamar saya yang sedikit kotor, karena saya biasanya melakukan kesibukan di sini, oh ya anda terbaring lah di atas kasur saya akan menyiapkan diri." (Verly)
"Aku merasakan pikiran negatif dari ikatan kita saat kau menyebut kesibukan itu, yahh... terserah."
Perlahan aku berjalan menghampiri kasur Verly sesuai perkataanya lalu aku terbaring di atas kasurnya.
"Tunggu sebentar tuan, saya akan segera menyiapkanya, santai saja saya ada di samping anda yang sedang terbaring."(Verly)
Lagi-lagi perkataan yang membuaku seperti anak kecil saja.
Aku menunggunya sambil terbaring dia atas kasur dengan Verly yang berdiri menyiapkan sesuatu di meja sampingku.
Hingga lebih dari setengah jam berlalu...
"Ini... keterlaluan banget, apa kau sudah selesai?"
Saat aku bertanya padanya dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku bahkan tidak menoleh kepadaku.
Aku cukup heran dengan sikapnya yang berbeda dari sebelumnya, perlahan aku meraih tanganya
dan saat tanganku menyentuh tanganya...
Aku sama sekali tidak merasakan jiwa padanya.
Itu membuatku berpikir bahwa...
Verly yang sekarang berada dekat denganku adalah...
Clone.
"He?.. ini.. Clone? lalu dimana Verly yang asli berada sekarang?"
Aku cukup bingung dan terkejut.
lalu tiba-tiba...
Aku mendengar suara ledakan dari luar istana yang bagiku ini tidak mungkin terjadi.
Aku mendengar bahwa hanya Verly seorang lah yang tinggal di kastilnya sendiri, kastil ini juga berada di dimensi yang di buat oleh Verly sendiri, jadi tidak mungkin orang lain bisa memasuki ranah ini.
Namun jika ada ledakan yang terjadi di luar istana...
Yang berarti ada keberadaan lain yang mengunjungi ranah ini selain aku dan Verly.
Aku dengan segera langsung keluar dari kastil dan langsung menuju ke atas langit karena ledakan tersebut terjadi tepat di atas kastil terbang ini.
Hingga...
Aku melihat Verly dengan seorang pria yang menutupi dirinya dengan memakai jubah putih.
Mereka bedua berada di atas langit lebih tinggi dariku.
Dan tampaknya mereka saling berhadapan saat aku melihat seorang pria itu memegang sebuah senjata.
***
"Hee.. aku tidak menyangka seorang budak berani menentang tuanya, apa kau mengerti hukum seorang budak yang berani menentang tuannya?"(Verly)
"Tidak, aku hanya ingin perhatianmu terhadap... perjanjian kita."(Achronos)
"Ya ampun... dasar dewa yang tidak sabaran, kau sudah melayaniku selama lebih dari enam bulan, aku mengerti perasaanmu yang ingin segera membunuhnya, tapi aku tetap menunggu tuanku yang beraksi melawan nya, entah selama apa itu aku tetap menunggunya, dan jika kau terus mengoceh... aku akan menghukumu menjilati kakiku yang cantik ini, aku yakin kau pasti kegirangan." (Verly)
"Sial... aku melayanimu dari membersihkan tubuhmu, menemani setiap pesta di pemandian bersama, dan bahkan... melihat kesibukanmu saat berada di kamarmu, aku merasa setiap harinya.. harga diriku terinjaki oleh dewa mesum sepertimu."(Achronos)
"Hee.. bukankah yang kau sebut itu kenikmatan yang aku berikan?.. tapi bagiku.. semua orang kecuali tuanku adalah boneka budaku... entah sekuat apa mereka, bagiku mereka hanyalah sekumpulan ikan teri."(Verly)
"Hentikan...!!, sialan...!!, kau... benar-benar dewa yang licik, aku bersumpah akan membunuhmu meski keberadaanku terikat oleh kastilmu, tapi aku pasti-"(Achronos)
"Verly..!! hey..!!"
Aku mencoba meneriaki Verly yang masih berada di atas langit ia terlihat sibuk berdebat dengan orang itu.
"Ahh.. tuan.. anda-"
*SRING!!*
"He?"
Suara tebasan pedang... terdengar.
Tepat di mataku... melihat orang itu menusuk perut Verly yang saat itu sedang menoleh ke padaku.
Gumpalan darah keluar dari perut Verly.
Tapi dia tetap terdiam dan masih memandangiku dari atas langit.
"Dewa Verly, pedang ini akan perlahan menghapus segala sesuatu menjadi titik nol kembali, termasuk ikatan kontrak anda dengan tuanmu dengan begini, aku bisa-"
"Apa kau tidak melihat tuanku sedang melihat ke arahku, tanpa rasa cemas di wajahnya, yang berarti tuanku yakin bahwa aku tidak akan mati semudah ini... iyakan... Achronos." (Verly)
"Ti-Tidak mungkin... hentikan senyumanmu itu." (Achronos)
Aku melihat orang itu semakin menusuk perut Verly.
Darah terus keluar dari mulut nya dan perut nya, walau begitu dia masih terus memandangi ku dari atas langit.
"Achronos... apa kau berusaha untuk membuka kain yang menutupi mataku ini, dan membawaku tepat di hadapan odin ha?, aku sekarang menoleh kepadamu.. jadi jawablah arti dari senyuman ku ini." (Verly)
"He?.."
Sekali lagi...
Aku melihat pria itu ketakutanhingga menarik kembali pedangnya dari perut Verly yang sebelumnya menancap.
Perlahan aku melihat tubuh Verly kembali seperti semula seakan memiliki regenerasi yang cepat.
"... Jika sekali lagi kau ingin melakukanya aku benar-benar akan membunuhmu bahkan sampai ke asal muasalmu, tapi sebaliknya jika kau tetap ingin melayaniku, aku mungkin akan memaafkan perbuatanmu pada tuanmu ini, dan juga jangan khawatir soal perjanjian kita, aku akan selalu menepatinya."(Verly) Tersenyum.
"Begitu ya, apa lagi-lagi aku menjadi pemuasmu?, aku memang sudah terjebak oleh omonganmu, dan akibatnya aku tidak bisa menentang dirimu, jika begitu... tidak ada cara lain,aku akan tetap menunggu sampai hari itu tiba."(Achronos)
" Akhirnya itu pilihanmu, santai saja kau akan merasakan di surga jika menjadi pelayanku."(Verly)
Sesuatu yang belum pernah aku lihat dari Verly.
Yang sebelumnya mereka seakan bertarung kini tiba-tiba Verly mendekati wajah pria itu.
Aku tidak tahu apa yang Verly lakukan, dia tidak membagi informasi dari kontrak kita lewat pikiran.
Lebih dari tiga menit Verly masih terus menciumnya seakan dia benar-benar menikmatinya.
Sedangkan pria itu terdiam dengan tatapan kosong.
Aku yang melihat mereka dari kejauhan merasa tidak cocok dengan suasana ini.
Hingga...
Saat aku ingin kembali, sekali lagi aku menoleh ke arah mereka dari kejauhan.
Karena aku menyadari... pria itu sebenarnya kesakitan.
aku merasakan sihir Verly mengalir kepada pria itu lewat ciuman mereka, namun juga sihir Verly seakan secara perlahan menelan jiwa pria itu.
Dia memang hanya menunjukan tatapan kosong dengan Verly yang terus menciumnya, namun tubuhnya tidak bisa berbohong seakan menolak hal itu.
Aku melihat cahaya keluar dari pria itu, yang seakan itu menarik dari mulut Verly.
"Oi Verly.."
Dan saat aku memanggilnya dengan nada yang pelan dari kejauhan karena aku juga merasa ragu.
Perlahan aku melihat dia melepaskan ciuman nya dari pria itu dan langsung menoleh kepadaku.
"Tuanku?.. maaf.. pasti anda sedikit cemburu, tapi anda tidak perlu khawatir saya tidak tertarik sama sekali dengan pria ini, suamiku hanyalah tuanku." (Verly)
"... Ha? kau terlihat senang disana yang lebih penting apa yang sedang kau lakukan dengan pria itu..!!"
Aku tidak mendengar perkataan Verly yang berada di atas langit lebih tinggi dariku jadi aku mencoba meneriakinya.
"... Aku pikir tuanku tidak menggunakan sihirnya untuk mendengar percakapan kita, ya ampun... lihatlah dirimu Achronos kau terlihat indah dengan tatapan itu, ku pikir ciuman yang aku berikan padamu... sudah cukup, dan sekarang...."(Verly)
Sekali lagi aku melihat aura sihir Verly menyelimuti pria itu.
Dan perlahan semakin mengecil membuat pria itu yang berada di dalam sihir Verly ikut mengecil.
"Tidak aku sangka, akan sesulit itu mencari keberadaan mu lewat ciumanku Achronos, ternyata aku masih memiliki kelemahan, tapi setidaknya sekarang... segalanya yang kau miliki, keterikatan dengan maha kuasa, takdir, masa depan, kematian, informasi, asal muasal dirimu... semuanya... sekarang... berada di genggamanku, aku merasa senang sekarang dengan apa yang aku miliki sekarang, menjadi dewa dan... menjadi seorang istri." (Verly)
Tubuh pria itu semakin mengecil hingga saat aku melihat Verly mengulurkan tanganya kepada pria itu.
Tiba-tiba tanpa adanya sebab akibat orang itu sekejap...
Menjadi sesuatu seperti bola mutiara berwarna ungu.
Aku bahkan tidak merasakan sihir Verly sama sekali saat dia merubah orang itu, dan itu seakan seperti terjadi secara alami.
Semakin aku mengikuti alur ini semakin aku di buat bingung oleh mereka.
Verly yang mengetahui mutiara yang berada di hadapanya, aku melihat dia langsung mengambilnya.
"Ya ampun... mutiara kecil ini terlihat cantik, dan aku merasakan sifat sesungguhnya dari mutiara ini, yang tidak lain... kebencian terhadap diriku sebanyak (90%), rasa takut (70%), dan rasa cinta (60%), aku tidak menyangka dia masih memiliki belas kasih terhadap tuanya, yahh... inilah yang kau terima atas dosamu Achronos, bahkan kau sudah tidak terikat lagi dengan Authoritymu, Ahh.. aku lupa, kau sudah menjadi benih kecilku." (Verly)
Aku terkejut melihat Verly yang masih berdiri di atas langit melakukan sesuatu dengan mutiara itu, ia terlihat mengarahkan mutiara tersebut ke arah mulutnya.
Lalu... dia langsung memasukan mutiara itu kedalam mulutnya dan perlahan mengunyah hingga menelan mutiara itu dengan ekspresi bahagia di wajahnya.
Bahkan aku tidak berpikir kalau Verly akan melakukan sesuatu yang benar-benar tidak aku mengerti namun.. aku merasa...
Hal yang tidak aku mengerti dari setiap tindakanya adalah sesuatu yang menonjol darinya, yang terkadang ingin membuatku mengerti.
"Oi..!! Verly..!!"
Aku mencoba berteriak memanggilnya.
Tak lama dia menoleh kepadaku lalu mulai menghampiri ku tepat di hadapanku.
"Maaf.. atas keributan tadi... melihat suami saya memperhatikan saya, itu membuat perasaan saya terlarut oleh cinta.." (Verly)
"Hahh... apa yang kau maksud suami-suami itu, aku yang berusia 25 tahun saja masih perjaka, yang lebih penting siapa pria tadi?"
Aku mencoba bertanya tentang seseorang yang sebelumnya Verly rubah menjadi mutiara dan memakannya.
Tapi.. setiap kejadian apapun, ekspresi senyumlah yang selalu dia tunjukan tanpa sebuah alasan.
"Yaa.. itu wajar jika anda cemburu, tapi anda tidak perlu khawatir, saya hanya sedikit membuatnya jerah atas dosanya, tapi saya tidak benar-benar membunuhnya, anda pasti berpikir... kenapa saya memakan mutiara tersebut."(Verly)
"Ohh.. benar"
Aku dengan ekspresi biasa memperhatikan Verly.
"Intinya... ini akan menguntungkan anda dalam mempertahankan wujud manusia anda, dan.. bisakah kita segera kembali ke kastil."(Verly)
Pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali kedalam kastil bersama Verly.
***
Sekali lagi... aku berada di dalam ruangan tempat kamar Verly berada, yang bagiku sama saja berada di dalam mulut naga.
"Baiklah tuan.. anda bisa berbaring di atas kasur saya, karena metode kali ini berbeda dengan sebelumnya ini.. tidak bisa di lakukan dengan sihir, membuat wadah seseorang itu tidaklah mudah, kecuali anda bisa mengendalikan wadah atau wujud anda sendiri, ini seperti halnya wujud abstrak anda yang mana itu terhubung dengan inti keberadaan anda mencoba menarik anda menjadi abstak lagi, terkecuali jika anda bisa dengan mudah menggunakan kekuatan inti dari keberadaan anda."(Verly)
Aku memutuskan duduk di atas kasur sambil memperhatikan penjelasan Verly yang juga sedang duduk di sampingku.
Lalu... sebuah pertanyaan keluar dari pikiranku.
"Berarti... kau mengubah orang itu menjadi mutiara menggunakan inti keberadaanmu?"
Aku mencoba bertanya secara langsung dari pada menjelaskan lewat pikiran kita.
"Ya, semua makhluk hidup memiliki inti keberadaan, ini seperti segala sesuatu yang ia punya hanya memiliki satu inti yang mana jika inti ini di hancurkan maka orang tersebut benar-benar akan mati, dan... kekuatan dari inti keberadaan sangat superior dari pada sihir, kita ambil contoh dari setiap dewa, setiap dewa yang menduduki dunia ini hanyalah memakai avatar wadah sebagai bentuk interaksi sesama makhluk hidup, lalu.. apa yang anda pikirkan jika dewa tersebut memakai wujud asli mereka jika berada di sini?"(Verly)
"Mungkin... dunia akan hancur"
aku menjawab dengan apa yang menurut perkiraanku benar.
"Tidak juga, ingat.. inti keberadaan itu sama halnya wujud asli mereka, jadi.. kuat tidaknya mereka itu tergantung seberapa susahnya mencari keberadaan mereka dalam seluruh ruang semesta, dan... senjata [RealityNova] yang anda miliki bukan terbentuk dari sihir, namun dari inti keberadaan anda, untuk alasan itulah wujud abstrak anda mencoba mengubah sosok anda karena itu terhubung dengan inti keberadaan anda setelah anda dapat meraih senjata itu."(Verly)
"Begitu yaa.. berarti sejak awal aku memang bukanlah manusia, ahh.. tidak, maksudku keberadaan diriku yang sebenarnya adalah abstrak, namun butuh sebuah penghubung dari inti keberadaanku agar bisa menyatu dengan wujudku, yang tidak lain adalah.. senjata itu.."
Aku mencoba berpendapat dengan Verly yang sedang duduk di sebelahku memperhatikan diriku yang sedang berbicara.
"Yaa.. suamiku memang hebat, dan bisakah kita mulai untuk metode terakhir ini, dan setelah itu anda benar-benar bisa mengontrol wujud anda setelahnya."(Verly)
"Hmm.. ada banyak hal yang ingin aku tanyakan sih." (Retnan)
"Kalau begitu, izinkan saya melepas pakaian anda, metode ini butuh tubuh yang telanjang bulat, sembari anda bertanya juga."(Verly)
Aku melihat wajah Verly memerah dengan penuh gairah seolah ia sedang menahan sesuatu.
"O..Ohh.. bukan masalah sih, lagi pula saat dalam pemandian kau sudah melihat seluruh tubuhku, yang lebih penting... kenapa kau menyebutku sebagai suamimu? dan ini mungkin ada kaitanya saat kita berada di dunia [MirrorCrown]."
Aku bertanya kepada Verly sembari ia mulai melepaskan pakaian yang aku kenakan dengan tanganya secara perlahan, dan ia duduk tepat di sebelahku di atas kasur.
"Ohh.. soal waktu itu, yaa.. ada tiga jenis kontrak yang bukan hanya sebatas jalinan ikatan, saat kita bertemu untuk pertama kalinya,adalah tipe kontrak jiwa, yang mana saya juga bisa menerima luka dari anda jika terserang oleh monster, atau menerima sihir anda dengan izin tertentu, lalu evolusi selanjutnya adalah keberadaan, untuk mencapai kontrak ini seseorang harus saling menerima keberadaan mereka satu sama lain entah dia memiliki kekurangan apapun mereka harus mati bersama, merasakan sakit bersama, mengorbankan segalanya antara satu sama lain, lalu.. kontrak terakhir... yaitu konsep, seperti kita sudah menjadi suami istri, seseorang dengan kontrak ini dapat menerima apapun antara satu sama lain, jika di jelaskan ini akan sangat panjang jadi singkatnya... " Segalanya" namun segalanya itu bukan suatu ucapan melainkan menjadi konsep yang hanya bisa kita lakukan, jadi seseorang tidak akan semudah itu menghancurkan ikatan kita karena sudah menjadi konsep itu sendiri, ini seperti sebuah ruang yang mana hanya kita saja yang dapat mengakses ruang tersebut, yang terdiri dari segela keterikatan diri kita."(Verly)
"Ternyata ada cara seperti itu, yahh.. selama itu dirimu, kurasa itu sesuatu yang membahagiakan"
Dan saat itu aku telah di buat benar-benar telanjang oleh Verly.
Dia tersenyum kepadaku dengan wajah bahagia,
meski aku tidak bisa melihat matanya yang tertutup oleh sebuah kain.
"Oi.. Verly, bawah pahamu benar-benar terlihat basah, aku tidak merasakan kau kesakitan, tapi apa kau baik-baik saja?"
Aku melihat di bawah pahanya benar-benar basah dan sejujurnya aku tidak ingin mengindentifikasinya karena kupikir itu adalah hal yang wajar bagi sosok yang ia miliki.
"Ahhh... tidak apa-apa tuan, ini hanya sebagaian kecil dari wujud cinta saya kepada suami saya yaitu anda." (Verly)
"Oi... jangan bilang sesuatu yang memalukan disaat kau melihatku telanjang bulat."
Aku merespon dengan wajah datar melihat Verly yang tegang dengan keadaannya.
"Ahhh... anda adalah suami saya, tentu itu malah membuat saya bahagia sebagai seorang istri, dan sekarang... saya ingin anda.. menerima sesuatu dari mulut saya."(Verly)