
Di tengah malam tepat di atas
gedung pencakar langit, dengan
mereka-mereka yang berada di
bawah gedung sibuk bertarung.
Kini aku bertatapan langsung dengan Almus dalam suasana yang cukup
serius.
Dimana aku menodongkan pedang
ke arah lehernya tanpa ada rasa ragu
untuk melakukan hal yang buruk,
seperti apa yang di lakukanya
terhadap Kenma.
Namun setiap tindakan yang aku
lakukan kepadanya, dia selalu saja
menunjukan wajah yang terlihat
percaya diri, padahal situasinya
sepenuhnya berada di pihak ku.
Dia berdiri dalam situasi yang tidak
menguntungkan dirinya, dan terus
memperlihatkan wajah tersebut.
"Wah.. Pedang itu sedikit mengiris
kulitku, dan aku bisa merasakan
itu perlahan menghapus setiap
sel-sel tubuhku yang membentuk
struktur tubuhku. Aku bisa
merasakan kekuatan wanita itu
mengalir dalam tubuhku."(Almus)
"Sebelum memulai pertarungan
kita..."
Tanpa memberikanya sebuah
alasan, aku secara perlahan
menurunkan pedang tersebut
dari wajahnya.
Lalu.. Pedang tersebut secara
langsung menghilang dari
genggaman tanganku, yang sekilas
membuat Almus merasa bingung.
Namun tindakanku tersebut masih
belum berakhir untuk membuatnya
bingung.
Dan sekarang aku mengarahkan
tangan kananku ke arah mayat
Kenma yang berada di bawahku
tanpa menyentuhnya atau bahkan
mendekatinya.
Hingga... Suatu portal mulai
muncul pada titik dimana mayat
Kenma berada, dan itu secara
perlahan mulai menyerap menarik
mayat tersebut untuk masuk ke
dalam portal tersebut.
".... Aku tidak tahu apa yang kau
pikirikan dengan mayat itu, yang
jelas... Aku ingin segera
menyelesaikan misiku."(Almus)
"Ya, sekarang kita bisa memulainya."
Aku dengan rasa percaya diri
tanpa menunjukan rasa keraguan
yang terlihat di wajahku.
Dan sekali lagi.. Dia menunjukan
senyuman yang seolah-olah
melebihi rasa kepercayaan diriku.
"Yoshh.. Bagus, sebelum itu aku
akan sedikit merubah tema ini."
(Almus)
*TIK*
Suara jentikan jari terdengar...
Hingga secara langsung merubah
malam yang penuh cahaya bulan
menjadi cahaya mentari di pagi
hari.
Dimana yang sebenarnya ia merubah
tata surya bukan dalam satu dunia, melainkan seluruh semesta menjadi terpapar sinar matahari.
Namun... Bukan hanya sekedar
mengganti tata surya, untuk sekali
lagi aku menyadari bahwa aku telah
di pindahkan secara paksa ke
suatu dunia yang berbeda dengan
pandanganku sebelumnya.
Dan juga dunia itu jika di amati
kembali dalam sudut yang berbeda
seperti jumlah, semua itu tidak
ada bedanya dari dunia di zona
tangga sebelumnya, hanya saja
sejumlah dunia itu tidak saling
menyatu, itu seperti sejumlah
kelereng tak terbatas jika di amati
dari kejauhan.
Dan aku yakin, ini masih berada di
dalam zona tangga.
Sekarang aku sedang melayang
di ruang angkasa berada di atas dari sejumlah kelereng tersebut, dengan Almus yang berada di hadapanku,
kita saling memperhatikan
selayaknya seseorang yang ingin
segera memulai pertarungan.
"Maaf mengirim mu secara tiba-tiba,
ya dunia ini adalah ciptaanku,
dimana aku menciptakan sejumlah
dunia tak terbatas yang menampung
sejumlah dunia sekali lagi, inilah
multiverse seperti halnya dunia
yang berada di luar zona. Ini berada
jauh di atas zona tangga. Alasanku
mengirim mu ke dunia ini, tentu
untuk bertarung secara leluasa,
sekarang tidak ada yang perlu kau
khawatirkan karena tidak ada
kehidupan yang tinggal, oh ya satu
hal lagi, jika kau sampai terlempar
kau akan masuk ke dalam salah
satu kelereng yang menampung
sejumlah dunia tak terbatas.
Aku yakin itu bukan suatu hambatan
untuk pertarungan kita."(Almus)
"Aku sudah menduga, kelereng-
kelereng itu hadir menampung
semesta, yah aku tidak peduli kau
mengirimku kemana, asal semua
ini segera berakhir, itu sudah cukup."
Aku dengan santai mengatakanya
sambil memasukan kedua tangan
ku ke dalam saku celana, lalu
memperhatikan Almus yang terlihat
percaya diri.
"Setelah semua ini berakhir, ada
banyak hal yang ingin kutanyakan
kepadamu."(Retnan)
"Sekarang..."(Almus)
*Swooshh...*
-
*BAMM..!!*
Di saat keheningan tercipta suatu bentrokan yang saling menghantam
terjadi.
Sebuah pukulan yang saling
menerima benturan dalam satu
waktu begitu cepat melibatkan
berbagai hal di sekitar hingga
mampu mengguncang seluruh
multiverse tak terbatas hanya dalam
satu bentrokan.
Dalam tengah pertarungan yang
saling menerima pukulan dengan
kekuatan penuh kami, aku dan
Almus memperlihatkan kesenangan
di wajah kami, seolah-olah ini
begitu mendebarkan.
Kami saling menerima pukulan
tersebut karena reaksi yang begitu
sama, tidak ada yang terluka di
antara kami yang ada hanyalah
rasa antusias tersebut.
"Kau tahu?.. Jarang sekali aku
meladeni seseorang yang bisa
setara denganku, kau dan istrimu
benar-benar membuatku berdebar-
debar."(Almus) dengan rasa senang
terlihat di wajahnya.
Kami terus menahan pukulan kami
yang saling menekan satu sama
lain.
"Ini terasa kau malah melupakan
tujuanmu dengan Verly, yah ini
justru lebih baik. Namun bukan
selamanya."
*Swoosh...*
Dalam tengah mempertahankan
situasi, aku dengan rasa percaya
diri membalikan keadaan dimana
aku secara cepat berbalik ke arah
belakangnya.
Namun... Untuk sekilas.. Saat
aku melampaui dirinya dalam
proses membalikan keadaan..
Aku melihat ia tersenyum melirik
ke arahku seola-olah ia telah
mengetahui gerak-gerik ku bahkan
reaksi kecepatanku.
Aku mulai berpikir orang ini setara
dengan Dewa tertinggi yang
memiliki otoritas tinggi.
""
Sebuah gerbang kekosongan mulai
terbuka dan secara langsung
mengeluarkan sebuah tombak
dengan aura hitam menyelimutinya.
Aku berpikir mungkin dengan
tombak yang hanya tertuju pada
targetnya bisa membuatku
menghilangkan rasa kepecayaan
dirinya itu.
Namun... Ketika aku mulai ingin
melepaskan genggaman tanganku
dari tombak tersebut...
Tiba-tiba sebuah tangan mencoba
meraih wajahku, itu terlihat ingin
menerkam diriku.
"Gawat..."
Dan dengan cepat tangan itu
berhasil meraih wajahku lalu
memegangnya dalam genggaman
tangan seakan ia bisa melemparku
kapan saja.
"Sampai jumpa.."(Almus)
*Wusshhh..!!*
Dalam satu ayunan lemparan..
Aku secara langsung terlempar
dengan begitu cepat hingga
dentuman tersebut seakan tidak
akan pernah berakhir.
Aku terus terbolak-balikan di tengah
ruang semesta ini hingga
terhantamkan berbagai tata surya.
Itu terasa seperti aku terbawa oleh
arus tanpa akhir.
"Ya ampun... Aku tidak menyangka
dia selalu bisa membalikan
keadaan."
Dalam tengah proses jatuhnya
diriku yang mungkin akan berakhir
masuk ke dalam salah satu kelereng
semesta, sebelum hal itu terjadi...
Aku dengan serius memulai
serangan mutlak, dimana aku
secara cepat mengarahkan tombak
yang masih berada di genggamanku
tersebut ke arah Almus yang hanya
tersenyum memandangiku dari
tempat awal aku terlempar.
Ia tersenyum tertawa menyaksikan
diriku tersiksa.
"Ini masih belum berakhir bodoh."
*Sring..!!*
Aku langsung mengayunkan tombak
tersebut lalu melepaskanya dalam
satu ayunan dan secara cepat
tombak itu melesat tanpa
memperhitungkan waktu.
Semua yang terlintas akan di
abaikan oleh tombak itu dan secara
terhantam menghapuskan berbagai
hal yang melintasinya, lalu pada
akhirnya.. Itu hanya akan berakhir
pada target yang telah terkunci.
Almus merasa terkejut dengan
mulut terbuka setelah menerima
serangan tersebut yang pada
akhirnya menusuk dadanya.
Di balik lemparan yang menusuk
dadanya.. Aku secara momentum
terhempas ke arah kelereng
semesta berada.
"Kau menusuk ku ya, tapi.. kau
harus tahu, sesuatu yang bersifat kehancuran tidak akan bisa
membuatku tewas secara totalitas.
Kau benar-benar-"(Almus)
*Fringgg...!!*
Secara instant aku telah berada di
hadapan Almus menggantikan
keberadaan tombak tersebut.
Hingga tombak tersebut tergantikan
oleh pedang Verly yang
menggantikan tusukan di dadanya
tersebut.
Untuk sekali lagi.. Aku telah
mengejutkan dirinya kembali tanpa
adanya sebab akibat.
"Sayang sekali... Untuk sekali lagi
kau berada di genggamanku. Kau
terlalu bodoh untuk mengetahui
lawanmu, dan justru menerimanya
dengan senang hati."
Aku dengan cepat menggabungkan
sihirku ke dalam pedang Verly yang
terlihat masih menusuk dirinya.
""
Secara langsung tercipta sebuah
pusaran kekosongan yang mampu
menghancurkan apapun itu terlihat
mulai menyatu dengan tubuh Almus.
"Ini..."(Almus)
Dia terlihat kebingungan ketika
secara perlahan tubuhnya mulai
hancur terlahap oleh pusaran
tersebut.
"Aku mulai menyadari... Bahwa
tubuhmu adalah kehancuran,
maka dari itu aku tidak bisa
membunuhmu secara mutlak.
Namun aku memiliki cara lain
untuk membuatmu kehilangan
kebebasan, mulai sekarang...
hidupmu tergantung oleh pusaran
kekosongan itu, anggap saja..
inti keberadaanmu adalah
kekosongan itu. Tapi... jangan
berharap kau tidak merasakan
rasa sakit."(Retnan)
Secara tiba-tiba tubuh Almus
lenyap lalu kembali hidup lagi,
lenyap lalu kembali lagi, seolah-olah
itu terus terulang dalam sirklus
tanpa akhir.
"Jangan pikir kau bisa terlepas
dari kekosongan itu, karena seluruh
hidupmu berada di dalamnya
yang artinya... aku dapat dengan
mudah mempengaruhimu entah
dimana dirimu berada.
Dan jangan pikir kau bisa kabur..
Orang lain yang mencoba untuk
berinteraksi dengan kekosongan
itu akan menjadi akhir hidupnya, Termasuk orang yang bersamamu
itu, dia akan mengalami hal yang
sama. Jadi.. apa kau mengakui
kekalahan? meski kau mengakui
kekalahanmu... Itu tidak akan
merubah fakta bahwa sekarang
inti keberadaanmu adalah pusaran kekosongan tersebut."
Di saat yang sama.. Almus justru
merespon dengan rasa percaya
diri yang terlihat di wajahnya.
Padahal.. Dirinya dalam sirklus
siksaan tanpa akhir.