A The Creators

A The Creators
Tidak Terduga



Di tempat yang sama...


Dalam tengah kegelapan...


Kami semua berkumpul dalam satu


pembicaraan, tanpa adanya


gangguan dari luar.


"Aku... sedikit tidak yakin bahwa


kalian bisa mengalahkanya. Tapi


jika kalian kemari memang dengan


tujuan tersebut... maka aku akan


memberitahu kalian.


Tempat ini adalah inti yang berpusat


dari semua lubang hitam yang


sekarang masih tersebar dan akan


terus bertambah seiring sedikit


timbulnya kekacauan. Setiap lubang


hitam... adalah dirinya sendiri."


(Sakuya)


"Dirinya kah... yang berarti apa kita


harus mengalahkan semuanya?,


tapi kupikir tidak. Setelah kau bilang


tempat ini adalah pusat intinya."


(Retnan)


"Ya benar, jika tempat ini hancur


maka keseluruhan mereka akan


ikut hancur, tetapi tidak dengan


entitas asli mereka yang sekarang


kalian cari. Dari semua lubang hitam


yang ada tempat inilah yang tercipta


dari kekuatan entitas tersebut.


Setidaknya dengan menghancurkan


tempat ini maka keberadaan entitas


tersebut mungkin akan di temukan,


dan terlebih lagi, setelah kalian


membebaskanku."(Sakuya)


"Ha?.. jadi pada akhirnya itu masih


kemungkinan ya?, aku juga kemari


atas keinginanku untuk mencari


anggota organisasiku yang telah


hilang entah kemana, yang mungkin


itu ada kaitanya dengan entitas ini."


(Risty)


"Begitu rupanya, tapi mungkin


temanmu itu sudah di lahap dan


menjadi bagian dari kekacauan."


(Sakuya)


Dan saat itulah aku melihat Risty


menunjukan wajah begitu marah


saat setelah mendengar perkataan


Sakuya.


Ya aku yakin itu menyakitkan ketika


sesuatu yang belum pasti tapi


kemungkinan-kemungkinan itu


masih dapat terjadi.


"Hentik-"


"Sudahlah... Risty"


Aku memegang tanganya mencoba


untuk menghentikan tindakanya


yang ingin melancarkan pukulan


ke arah Sakuya.


"Jangan terbawa suasana, hanya


dengan memikirkan kemungkinan


itu, belum tentu hal itu akan terjadi.


Yang lebih penting... soal perkataan


tadi. Apa ada hubunganya dengan


dirimu yang tersegel?."


Aku bertanya kembali kepada


Sakuya.


"Tidak juga, namun... alasanku


tersegel hanyalah sebagai sandra


untuk keinginanya sendiri, yang


tidak lain... dia ingin memanfaatkan


diriku untuk bertemu kembali


dengan raja Dystoria dan bermaksud


melakukan pertarungan ulang.


Di samping itu aku juga adalah


generasi terakhir dari ras yang telah


lama punah, yaitu... ras Vampire,


dimana dia membutuhkan darahku


untuk menciptakan tempat ini


sebagai inti dari semua lubang hitam yang ada." (Sakuya)


"Darah?.. jadi itu keunggulan dari


ras Vampire, Eh? Vampire!?..


padahal kau identik dengan


seorang Elf"(Afreon)


"Dan jika di pikir kembali tentang


tempat ini... kurasa tempat inilah


entitas itu." (Xanxus)


Untuk sesaat.. kami yang mendengar


pernyataannya cukup terkejut.


"Tunggu... apa kau juga berpikir


orang yang menculik anggotaku


juga adalah entitas itu?"(Risty)


"Ya, saat aku bersama dengan


Afreon... aku juga menyadari


kehadiran seseorang meski hanya


sesaat, dan... kehadiran yang aku


rasakan sama dengan tempat ini,


begitu menyedihkan dan penuh


emosional." (Xanxus)


"Oh ya, tempat ini terbuat dari


kekuatan sihir bukan?.. maka tidak


heran bila Xanxus dapat menyadari


aura sihir yang sama, menyadari


kehadiran seseorang itu juga sama


halnya merasakan aura dari orang


tersebut." (Risty)


"Tempat ini seakan tidak memiliki


ujung. Semua begitu gelap seperti


kita berada di dalam kekosongan.


menghancurkannya cukup mudah,


tapi aku masih bingung, apa mereka


yang telah di telan akan mati?,


jujur saja... waktu itu aku masih


belum sempat di lahap."(Afreon)


"Tidak, tujuan lubang itu hanyalah


membuat kekacauan, tapi... soal


entitas itu yang berhendak sendiri


seperti hilangnya anggota Sakuya,


aku tidak tahu."(Sakuya)


Mendengar percakapan mereka


membuatku mengerti tentang


semua ini.


Perlahan... aku mulai berjalan pergi


meninggalkan mereka, tanpa sedikit


mengucapkan sekata pun.


"Eh?.. Retnan kau mau kemana?"


(Afreon) mencoba memanggilku


yang sedang berjalan pergi.


"Keluar dari tempat ini, sebaiknya


kalian juga, kita tidak akan bisa


menghancurkan tempat ini dari


dalam."


Aku sambil berbicara tanpa menoleh kepada mereka dan terus berjalan


pergi.


Tak membutuhkan waktu lama...


Hingga ketika aku sudah berada di


luar lubang hitam ini, aku kembali


terbang dan bermaksud mendekati lubang hitam itu untuk sekali lagi.


*Swooshhh*


"Retnan..!! apa yang ingin kau


lakukan!?"


Aku mendengar Afreon dan juga


mereka yang menungguku di bawah


terdengar mencoba memanggilku,


yang dalam proses pendekatan


dengan lubang hitam itu untuk sekali


lagi tanpa sedikit memberitahukan


alasanku kepada mereka.


Aku menjawab teriakan Afreon,


di samping itu aku mulai serius


dalam mengeluarkan sihirku.


Tanpa pikir panjang, sebuah pedang


hitam murni terlihat begitu sangat panjang mulai terbentuk dalam


kedua genggaman tanganku.


Pandangan mataku langsung


berfokus dan berpusat pada satu hal


yaitu.. lubang hitam tersebut yang


berada dekat dengan pandanganku.


"Kita lihat... bagaimana pedang ini


bekerja, [0/??Endless]"


Ketika aku mulai mengangkat


kedua pedang ini.. secara langsung


merespon dan menjadi bertambah


panjang.


Aku tidak berpikir akan langsung


menghancurkanya, satu alasan yang


aku miliki, lubang hitam itu tidak


lagi bertambah besar yang artinya


sampai sekarang tidak ada yang


bisa mempengaruhi lubang itu


untuk menjadi lebih besar lagi.


Dan selama lubang hitam itu


tidak bertambah besar lagi...


menghancurkannya hanya akan


menghasilkan hal yang sia-sia.


Karena... entitas itu bukanlah


lubang hitam tersebut, melainkan


apa yang menjadi pusaran yang


menelan apapun itu.


Tidak lebih tepatnya... konsep


tarikan itu, dan jika hal itu dapat


di geser sedikit itu akan menjadikan


lubang hitam tersebut bertambah


merjadi lebih besar, entitas itu


tidaklah menjadi lubang hitam itu, melainkan telah menjadi bagian


konsep dari lubang hitam tersebut.


Singkatnya... lubang hitam itu


seperti sebuah tanganya yang


dapat mengambil apapun dan


menghancurkan apapun, namun


keberadaan entitas itu sekarang


berada di luar semua kekacauan ini


dan selagi semuanya terkendali


dalam genggamanya, ia tidak perlu


repot-repot untuk turun tangan.


Aku yang sudah memahaminya


langsung mengarahkan kedua


pedang ini yang berada di dalam


genggamanku menuju ke arah


lubang hitam tersebut yang menjadi


intinya.


"Mungkin... dengan menggunakan


pedang milik Verly akan jauh lebih


mudah, tapi yahh... se-sekali aku


ingin menggunakan pedang yang


tercipta dari sihirku"


Tanpa pikir panjang dan tanpa


sekata-kata pun, aku dengan cepat


langsung mengayunkan kedua


pedang ini dan secara langsung


menebas ke arah lubang hitam


tersebut yang terlihat amat begitu


besar dari atas ketinggian yang


tidak terlalu dekat.


"Raaa...!!"


Ketika kedua sayatan tebasan itu


mengenai lubang hitam tersebut...


Secara instant tercipta lubang


hitam yang sama dengan tarikan


yang saling menarik satu sama lain.


Ini tidak akan berpotensi akan


menghancurkan lubang hitam


tersebut melainkan, menjadikan


lubang hitam itu menjadi semakin


bertambah besar.


Afreon dan yang lainnya sedikit


bingung dengan apa yang telah


aku lakukan.


Tapi dengan cara ini aku yakin...


si entitas itu akan menampakan


dirinya karena merasa bagian


kekuatanya terancam.


Namun itu hanya berlaku sesaat.


"He?.. dia mencoba menelan


ciptaan dari pedangku ya, tak


kusangka akan sekuat ini"


Aku yang menyadari kekuatanku


masih belum cukup, untuk sekali


lagi aku mencoba mengayunkan


kedua pedang ini .


Tidak.


Itu terlihat masih belum cukup.


Aku memutuskan secara terus


menerus mengirim tebasan dari


pedangku ke arah lubang hitam


tersebut.


Tidak ada kata henti, hingga


membuat lubang hitam tersebut


mulai kalah dengan daya tarikan


dari lubang hitam miliku.


"Yah... kurasa ini sudah cukup,


aku mungkin-"


*Deg*


Untuk sesaat...


Aku merasa semuanya terasa


berhenti, dan secara sadar...


aku juga merasa telah menerima


pukulan dari seseorang tepat


di wajahku.


Semua begitu lamban hingga aku


merasa tidak bisa menghindarinya.


"Apa ini?... aku merasa terhentikan


oleh sesuatu"


Aku berbicara dalam batin dengan


keadaan yang mengejutkan.


Semua begitu lamban termasuk


pergerakan tubuhku, dan segala


yang menjadi pandangan mataku


juga ikut melamban.


Hingga...


*Swoosh..*


*Bamm...*


Sebuah pukulan itu kembali


dengan cepat, tepat di wajahku,


semua yang awalnya terhenti


telah kembali menjadi normal.


Dan jelas itu membuat reflekku


yang menerima pukulan tersebut


langsung terhempaskan begitu


sangat cepat hingga aku


benar-benar terlempar begitu


sangat jauh.


Aku terus menabrak berbagai


material tanpa henti.


Hingga aku mengambil tindakan


untuk menghentikan hempasan ini.


"Hiyaaa..."


Aku langsung menahan diriku


untuk menghentikan dentuman


kecepatan ini, dan setelah aku


terhenti dari hempasan tersebut...


Aku dengan cepat kembali ke


tempat yang membuatku terlempar


begitu jauh ini.