A The Creators

A The Creators
Wanita Yang Sulit Di Atur



Melihat situasi saat ini yang


di luar perkiraan, membuatku


yakin pada satu hal.


Yang aku pikir.. semua kejadian


yang seharusnya terjadi secara


alami, seperti tidak adanya


Minotaur dalam pertarungan


mereka, justru kini menjadi


di luar perkiraanku, seperti


ada seseorang yang sengaja


mengatur situasi saat ini.


Yang tidak lain.. adalah Verly,


tidak ada orang lain selain dia


yang dapat memberikan kekuatan


kepada Afreon dan mengatur semua


ini.


Selain hasrat cinta yang ia


inginkan, di samping itu rasa


kebosananya yang aku pikir..


ia sengaja memberikan kekuatan


itu kepada Afreon.


Yah... meski pada akhirnya itu


hanyalah sebatas opiniku.


Apapun itu, ini waktu yang pas


untuk menghampiri mereka


secara langsung.


Aku sekarang sedang berjalan


hampir mendekati mereka yang


berada dalam situasi menegangkan.


Di sisi lain...


Aku melihat wanita Minotaur


tersebut menyiksa Baron dengan


makhluk yang ia ciptakan.


"...... Baiklah.. kurasa itu sudah


cukup, wanita Minotaur.."


Semua langsung tertuju kepadaku


saat aku berjalan menghampiri


mereka, dan meminta kepada


wanita Minotaur tersebut yang


terlihat menyiksa Baron untuk


segera berhenti.


"Re-Retnan!?.."


Ucap mereka semua yang


merasa terkejut ketika aku


hadir di dekat mereka.


Aku terus berjalan mendekati


mereka hingga langkah berjalanku berhenti ketika aku sampai di tengah


pertarungan mereka.


Di samping itu... aku sedikit


melirik ke arah Baron yang jika


di lihat kembali.. dia benar-benar


terpuruk.


"Yah... aku tidak menyangka yang


akan menyelesaikan nya adalah


wanita Minotaur, meski tepat


dalam kurung waktu satu jam.


Jangan membunuhnya, meski


kau membunuhnya bukan berarti


dia akan mati sepenuhnya, dan..


apakah raja Dystoria bergantung


kepada orang ini?"


Aku mencoba bertanya santai


seperti aku memasukan kedua


tanganku ke dalam saku celanaku.


"Ya, raja Dystoria adalah dewa


tertinggi namun dengan murni


kekuatan meski tanpa terlahir


sebagai perwujudan, dan itu


di tandai dengan gelarnya.


Jika ia sebagai pahlawan justru


membunuh kehidupan itu akan


menjadikanya dosa besar karena


telah melanggar aturan sebagai


pahlawan."(Minotaur)


"Itu tidak masuk akal. Masih


banyak hal yang tidak aku ketahui


tentang para Dewa Tertinggi,


namun... yang aku ketahui... yang


di maksud gelar mungkin dia telah


menerima tugas dari keberadaan


yang lebih tinggi. Aku percaya


dengan perkataanmu meski dia


pernah membunuh walau tidak


sampai ke inti keberadaan."(Retnan)


"Kau benar, melanggar sama


dengan berarti mereka sudah


ternodai sesuatu yang awalnya


suci menjadi tidak suci, yang


berarti dosa. Tapi pada akhirnya


itu tergantung seberapa tinggi


keberadaan mereka."(Minotaur)


"Hey... ayolah.. kenapa malah


menjadi obrolan di tengah


pertarungan ini."(Afreon)


Afreon tiba-tiba ikut campur


dengan obrolan mereka, mencoba


untuk mengembalikan situasi


yang sebenarnya.


"O-Ohh... kupikir aku sedikit tertarik


dengan perbincangan ini. Baiklah...


aku juga akan mencoba ikut


dalam pertarungan kalian."


Aku langsung mengarahkan


tangan kananku ke arah depanku,


dan secara langsung.. terwujud


sebuah cahaya berwarna putih


yang perlahan membentuk sebuah pedang.


Hanya dengan sedikit menampakan wujud pedang itu, sudah membuat


segala hal menjadi debu di


sekitarnya.


Namun...


Di saat yang sama, aku melihat


mereka semua menghilang secara


tiba-tiba.


Aku tidak tahu, apa yang sebenarnya


terjadi ketika aku mulai sedikit


mengeluarkan pedang ini.


Hingga aku menyadari adanya


sebuah tangan memegangi tanganku


yang mencoba mengeluarkan


pedang ini.


Tidak ada wujud lain selain


tangan tersebut yang ternyata...


itu keluar dari luar perutku.


Dan itu terlihat menempel di


perutku.


".... Sebaiknya anda jangan gebabah


dalam menggunakan senjata dari inti keberadaan anda, suamiku."


Aku sudah mengirah bahwa


kehadiran yang aku rasakan


adalah orang terdekatku,


yang tidak lain yaitu Verly.


Ia muncul dari perutku hanya


sebatas sebagai tangan yang


mencoba menghentikan diriku


dalam menggunakan pedang ini.


"Sudah kubilang bukan, untuk tidak


melibatkan dirimu dalam masalah


apapun yang aku hadapi. Kau


benar-benar wanita yang sulit


di atur."


Aku dengan rasa kesal berbicara


kepada Verly lewat batin kita yang


saling terhubung.


"Kemarahan anda terhadap saya,


itu sama dengan rasa cinta anda


terhadap saya, maafkan saya yang


telah sedikit melanggar janji.


Saya kemari ingin memberitahu


anda bahwa jangan terlalu


terobsesi dengan suasana ini,


dan mengeluarkan sesuatu yang


seharusnya tidak boleh anda


lakukan hanya demi membunuh


sebatas kroco tersebut."(Verly)


"Ha?.. apa itu hanya alasan agar


kau dapat bertemu denganku?


padahal kau bisa memberitahukan


semua itu lewat percakapan kita


saat ini."


Aku sambil menahan pedang


tersebut yang masih dalam


wujud sebagian, yang juga..


tangan Verly yang masih


menahan tanganku.


"Ya ampun... mungkin yang anda


katakan benar, tapi jika saya


memberitahukan anda lewat


batin kita, saya yakin anda pasti


akan mengabaikan nya, karena


anda masih menginginkan saya


untuk tidak saling berhubungan


dengan anda. Rahim ini begitu


kesepian tanpa adanya kehadiran


anda."(Verly)


"Sudahlah berhenti menggodaku,


aku yakin kau juga melakukanya


kepada Afreon. Kau tahu bukan...


aku tidak bisa leluasa dalam


menggunakan sihir sejak aku hadir


di dunia ini, mengandalkan inti


keberadaan mungkin itu lebih mudah."(Retnan)


"Anda salah, sihirlah yang tidak


bisa bersingkron dengan anda,


termasuk setiap sihir yang anda


keluarkan. Sejujurnya... itu


mengandung sedikit kekuatan


dari inti keberadaan anda.


Maka dari itu... saya mohon jika


gunakanlah saya sebagai senjata


anda. Menggunakannya dalam


kehampaan justru membuat


senjata dari inti keberadaan saya


menjadi lebih kuat. Dan satu hal


lagi, jika anda menggunakan


senjata inti keberadaan anda di


dalam dunia dan bukan di luar,


dalam sekejap seluruh dunia di


tangga ini akan hancur."(Verly)


Setelah mendengar pernyataan


dari Verly, aku memutuskan untuk


menuruti perkataanya.


Perlahan.. pedang cahaya yang


masih terwujud setengah di tanganku


mulai memudar dan menghilang.


Aku tidak memiliki alasan untuk


menolaknya, hanya saja aku


merasakan demikian.


"Syukurlah anda mengerti... suami


tercinta saya..."(Verly)


Verly yang hadir hanya sebatas


sebagai wujud tangan, langsung


meraih wajahku sambil mengelus


-elusnya, walau tanpa menunjukan keseluruhan tubuhnya.


Namun...


"Oh ya, bagaimana kalau begini...


[Another Body] yang aku miliki


ini bertugas untuk menahan


wujud abstrak dari inti keberadaan


diriku bukan? bagaimana jika kau


merubahnya menjadi... sifat


kekosongan, dimana wujud manusia


yang aku miliki menjadi kebal


tehadap jenis serangan fisik


setidaknya... bisa menahan


serangan berbasis konseptual.


Dan tentu sebagai gantinya...


kau dapat mengakses bagian dari


inti keberadaanku, tidak buruk


bukan kau bisa menggunakan


pedang itu semaumu ha!?"


Aku tidak mengerti, aku merasa


ingin mengatakan hal tersebut,


seakan ada keinginan lain dari


diriku.


Aku juga merasa percaya diri


ketika mengatakan hal itu tanpa


adanya keraguan.


Lalu...


Aku tidak menyangka.. respon


Verly yang hanya sebagai tangan


menunjukan reaksi yang begitu


terlihat serius.


Tangan Verly begetar ketakutan


setelah aku mengatakan hal


tersebut yang membuatnya


langsung melepaskan tanganya


dari wajahku.


"Ma-Mata anda... becahaya ungu,


Ah... tidak maksud saya.. itu


kesepakatan yang bagus sayang.


Memikirkanya saja... sudah


membuat saya menjadi basah,


Ahhhhh.... saya merasa ingin


segera mengandung anak kita.


Saya setuju... dengan kesepakatan


itu. Itu cukup mudah bagi saya."


(Verly)


"Yosh.. tapi itu tidak untuk sekarang,


maupun kedepanya, jadi kau harus


menahan hasratmu itu untuk


sementara waktu."


Aku dengan santai mengobrol


bersama tangan Verly yang masih


menempel di perutku, dan tentunya


lewat batin kita.


"Baiklah sayang, apapun itu untuk


hasrat cinta ini, dan tentunya


kepuasan pribadi, dan jika bisa...


saya ingin meraih inti keberadaan


anda yang berada di luar tahtanan."


(Verly)


"Oh?.. kau lebih tertarik hal seperti


itu kah? yahh... terserah, ketika


aku sudah mengetahui setidaknya


sedikit informasi diriku... aku akan


mengabulkan keinginanmu. Walau


aku tidak peduli tujuanmu."(Retnan)


"Syukurlah-Syukurlah..!! andai saja


saya hadir sepenuhnya, mungkin...


saya bisa mencium anda. Dan..


mungkin anda bertanya-tanya


soal mereka yang tiba-tiba


menghilang."(Verly)


"O-Ohh... aku hampir tidak peduli


dengan mereka. Sebenarnya...


kau kirim kemana mereka?"


(Retnan)


"Ya... ke akhirat mutlak. Namun..


tidak berlaku untuk teman suamiku,


sisanya... anda bisa lihat hasilnya


sendiri."(Verly)


*TIK*


Suara jentikan dari tangan Verly


terdengar... dan sekaligus.. ia


menghilang.


Hingga secara langsung membawa


mereka semua kembali ke tempat


awal berkumpul, yaitu di tengah


pertarungan sebelumnya.


Namun... ketika mereka telah


kembali, yang menjadi pandangan


awal mereka adalah... tertujunya


sorot mata mereka ke arahku.


Aku tidak mengerti apa yang telah


terjadi, namun... mereka semua


tertuju kepadaku.


Dan aku memutuskan mencari


kembali keberadaan Baron,


lalu saat aku menyadarinya...


"... Huh?"


Pupil mataku membesar,


aku benar-benar terkejut saat


melihat Baron telah tewas secara mengenaskan. Dari pemandangan


yang ku lihat, dia mati akibat pedang


milik Verly yang menembus topeng


yang ia kenakan.


Aku mulai berpikir, ini ulah dari


Verly karena adanya pedang


miliknya yang seharusnya tidak


ada di sana.


Tak lama...


Pedang Verly yang masih menancap


di wajah Baron perlahan terlihat


mulai menghilang.


Aku tidak tahu harus bersikap


apa di saat berada dalam situasi


yang membingungkan ini.


"A-A... apa kau benar-benar sekuat


itu?.. Retnan?"(Afreon)


"He?"


Suatu pertanyaan keluar yang


bahkan aku sendiri bingung untuk


menjawab, aku merasa tidak


seperti diriku yang biasanya.


"Apa yang kau bicarakan?"


Aku dengan santai mengatakanya.


"Tidak, hanya saja kau dapat


membunuh sepenuhnya entitas


itu, hanya dalam sekejap."(Xanxus)


Aku semakin bingung dengan


apa yang terjadi sebenarnya.


"Apa.. yang kalian lihat waktu itu?"


(Retnan)


"Entah... kau yang punya hak


atas kekuatan itu, yang jelas...


kami berada di neraka walau


hanya dalam waktu kurang dari


lima detik."(Xanxus)


Mendengar perkataan mereka...


aku merasa tidak bisa berkata-kata


lagi, seakan Verly benar-benar


telah membereskan semua ini.


"Begitu ya..."


Lalu...


Di saat situasi yang begitu tenang,


tiba-tiba sebuah cahaya berwarna


emas hadir begitu terang-benerang


hingga mampu menyinari semua


dunia di tangga ini.


Semua begitu tersilaukan oleh


cahaya dari langit tersebut.


Hingga...


Kami semua melihat suatu


sosok menunggangi kuda


di atas langit, ya itu terlihat


terbang.


"Wah.. Wah.. tidak aku sangka


kalian bisa mengalahkanya.


Sisanya... biar diriku yang akan


mengurusnya."


Dan saat itu... kami seakan melihat


sosok malaikat berkuda di atas


langit dengan cahaya yang


membimbing jalanya.


Yang tidak lain... raja Dystoria.