A The Creators

A The Creators
Perjalanan Baru Dengan Sedikit Perubahan



Situasi saat ini... di tengah malam...


Aku sekarang berada di luar tempat pemandian air panas.


Dan tentunya aku telah berhasil


membawa kembali wanita itu


yang tidak lain adalah Sakuya.


Ia sedang bersiap-siap untuk


kembali ke kerajaan bersamaku.


"Tapi... ini begitu lama, aku mulai


berpikir wanita itu tidak bisa


menyesuaikan waktu, entah kenapa


tiba-tiba Verly terlintas di benak ku,


yah mengingat cinta obsesinya,


aku jadi merinding. Selain itu...


sebaiknya aku-"


Di saat aku mulai mengeluarkan


rokok ku untuk sekali lagi, dan


ketika itu menggapai mulutku


secara tiba-tiba rokok tersebut


menjadi abu.


Aku tidak berpikir ada orang lain


yang mencoba berurusan denganku.


Aku sudah menyadari hal ini pasti


akan terjadi, yang tidak lain...


hubungan janjiku dengan Verly.


Ya, Verly sudah bertindak.


"Ya ampun... hilang sudah sesuatu


yang mendasari ketenangan ku.


Yah.. sudahlah."(Retnan)


"Hey... kau!!"


Suatu teriakan terdengar begitu


menggema, yang aku pikir teriakan


itu untuk ku.


Terlebih lagi teriakan tersebut


semakin mengarah dekat di


sampingku.


Aku yang menyadarinya langsung


menoleh ke arah teriakan tersebut


berasal.


"Huh?"


Dan benar... teriakan itu untuk ku


ketika aku melihat sosok wanita


yang tidak asing lagi bagiku.


Dia terlihat berlari mencoba untuk


menghampiri ku.


*Wushh.."


Suara hembusan angin terdengar...


Tak lama... dia telah berada di


hadapanku.


Dan saat itulah aku menyadari


sosok tersebut adalah.. Minotaur


yang waktu itu.


"Selamat malam..!"(Minotaur)


dengan nada suara yang tegas.


Aku cukup terheran-heran melihat


kehadiranya yang mencoba


mencariku, dan jika di pikir..


tidak ada hubunganya sama sekali.


"O-Ohh... selamat malam."


Aku dengan rasa bingung


menjawabnya.


"Kau... kemari hanya seorang diri?"


(Minotaur)


"Tidak, aku sedang bersama dengan


wanita. Apa itu terdengar aneh?"


Aku dengan santai menjawab.


"Ku pikir tidak, lagi pula aku kemari


atas keinginanku untuk bertemu


denganmu. Meski ini bukanlah


waktu yang tepat. Tapi setelah


mendengar kalian akan pergi,


kurasa... ini bukanlah waktu


yang buruk."(Minotaur)


"Memangnya... itu sesuatu yang


penting yang harus di sampaikan?"


Aku sambil mengeluarkan sebatang


permen, lalu menikmatinya di


tengah pembicaraan yang begitu


terasa damai ini.


Dimana malam ini begitu terasa


hening, tidak ada orang yang


melakukan aktivitas terbuka.


"Ya, ini penting untuk diriku sendiri,


karena... ini juga permintaan dari


leluhurku. Langsung saja, aku ingin


kau menerima senjata Nirvana


untuk ku."(Minotaur)


"He?"


Aku cukup bingung dengan maksud


dari perkataanya.


Tak lama... ia menunjukan senjata


tersebut kepadaku.


"Ini adalah kapak Nirvana, salah


satu senjata Dewa yang mewakili


suatu konsep. Leluhurku berpesan


jika ada seseorang yang terlihat


layak untuk menerima senjata ini,


maka aku harus memberikanya


pada orang tersebut. Kau layak


menerimanya."(Minotaur)


Mendengar pernyataanya...


membuatku bingung harus berkata


apa di saat situasi seperti ini.


Aku tidak berpikir akan menerima


senjata tersebut, meski aku


sedikit tertarik sih.


"Meski kau berkata seperti itu...


aku tidak bisa semudah itu


menerima pemberian dari


leluhur mu."(Retnan)


"Kau tidak harus menerimanya.


Setidaknya sebagai gantinya...


capailah lapisan atas, kau bisa


mengandalkan senjata ini."


(Minotaur)


"O-Ohh... terserah."


Pada akhirnya... aku menerima


pemberian senjata itu dari wanita


Minotaur tersebut.


"Kalau begitu aku pergi, aku titip


salam kepada wanita yang


bersamamu."(Minotaur) sambil


menundukan wajahnya sebagai


tanda terima kasih.


Tak lama.. aku melihat ia berjalan


pergi.


"Yah.. setidaknya ini bisa menjadi


koleksiku."


Perlahan... senjata tersebut yang


masih berada di genggamanku


mulai menghilang.


"Oh?.. kau habis berbicara dengan


siapa?"(Sakuya)


Di saat yang sama aku melihat


Sakuya yang akhirnya selesai


dengan persiapan nya.


Ia keluar dari tempat pemandian


tersebut dan segera menghampiri ku.


"Hanya obrolan kecil dengan para


wanita, dia juga menitipkan salam


kepadamu loh."(Retnan)


"Apa itu harem mu? dan cara


bicara macam itu, kau terlihat


tidak seperti dirimu."(Sakuya)


"......... Oh begitu kah, mungkin aku


akan merubah cara bicaraku, ya


selama itu membuat mu tersenyum


dengan yang lain. Itu tidak masalah."


(Retnan)


"Perkataan mu seakan ingin aku


itu tidak akan permah terjadi."


(Sakuya)


"Entah kenapa, aku berubah pikiran,


aku lebih suka sifat Omega, harem?


memiliki satu wanita saja sudah


merepotkan."(Retnan)


"He?.. kau memiliki wanita?"


(Sakuya)


"Lupakan... ayo kita pergi kembali."


Aku mulai berjalan pergi..


di susul dengan Sakuya.


"Tu-Tunggu..."(Sakuya)


Kami berjalan pergi bersama


menuju ke kerajaan kembali.


***


Beberapa jam kemudian...


Di sisi lain...


Di tengah tahta kerajaan...


Kami semua telah berkumpul


kembali dengan keadaan yang sama.


Dan tentunya.. semua langsung


terkejut ketika aku berhasil


membawa kembali Sakuya.


"Aku tahu, tujuan mu yang waktu


itu pasti mencari kembali wanita


itu."(Afreon)


"Tidak juga, aku hanya kebetulan


bertemu denganya, dan sedikit


ceramah... aku mendapatkan nya."


(Retnan)


"Tunggu... apa maksudmu dengan


ceramah?"(Sakuya) dengan wajah


kesal ia perlihatkan.


"Aku bahkan menikmati jamuan


itu sendiri, yah meski aku menolak


tawaran para pelacur."(Xanxus)


"Baiklah-baiklah. Kurasa ini akan


menjadi pertemuan terakhir kita.


Dan melihat wanita itu setuju


ikut bersama kalian, yang berarti


kalian telah memenuhi syaratku."


(Dystoria) dengan santainya


bebicara di atas tahta.


"Sebelum itu... Bisakah aku bertanya


Sesuatu?.. Tentang bagaimana


caranya anda mampu mengirim kami langsung ke tangga 10? Aku tidak meragukan anda. Hanya saja...


Aku sedikit penasaran tentang hal


itu."


Aku bertanya kepada raja Dystoria


dengan rasa serius.


Mereka semua yang bingung dengan


tindakanku langsung tertuju kepadaku.


"Aku tidak mengerti kau itu sopan


atau tidak dengan ucapan mu.


Tapi asal kau tahu... Akulah raja


pahlawan yang menyandang sang


fajar sekaligus di anugrahi oleh ke


Surgawian. Aku dapat bertindak


kemana pun jika aku mau, lewat


gerbang Surgawi aku akan mengirim


kalian."(Dystoria)


"Lagi-Lagi kata Surgawi. Sebenarnya


siapa Surgawi itu. Apakah mereka


Tuhan? aku merasa itu hampir mendekati."


Ketika aku bertanya tentang hal


tersebut...


Raja Dystoria justru merespon


dengan tawa yang menggelegar


begitu keras.


Mereka semua termasuk diriku


benar-benar di kejutkan oleh


tindakanya.


"Haaa... Bodoh. Tuhan? kenapa kau


menyimpulkanya begitu mudah,


padahal kau bisa mengetahuinya


lewat kontrak konsep istrimu."


(Dystoria)


"i—Istri?"(Sakuya)


"Aku tidak merasakan dia telah


mengetahui segalanya, seakan dia


menahan pengetahuanya."(Retnan)


"Jika aku jadi dirimu, aku akan selalu


memaksanya untuk mengikuti


perintahku. Dia itu jauh lebih kuat


dari apa yang kau bayangkan.


Dia tidak bermaksud untuk tidak


memberitahukanmu. Namun mencoba


untuk tidak melibatkan mu dalam


pengetahuanya."(Dystoria)


"Sekali lagi kau membahas dia...


aku tidak akan segan-segan untuk


menunjukan taring ku."


Aku dengan wajah kesal serta serius


mengatakanya.


Karena aku berjanji untuk tetap


menjaga keberadaan Verly.


"Dasar sepasang kekasih yang


tidak normal. Aku tidak akan


menjawab pertanyaan mu itu.


Yang bisa aku katakan... mereka


adalah entitas yang mengatur


tahtanan di seluruh dimensi


alam semesta beserta isinya."


(Dystoria)


Mendengar informasi, dari apa


yang selama ini membuatku


bingung, itu sudah cukup.


Aku mulai berpikir.. untuk mencari


tahu sendiri hal apa yang terkadang


tidak aku ketahui.


"Maaf.. kelihatanya aku bertanya


sesuatu yang tabu."


Aku dengan nada lembut


mengatakanya.


"Baguslah, sekarang... aku akan


mengirim kalian langsung menuju


ke tangga 10."(Dystoria)


Ketika raja Dystoria mulai betindak


mengangkat tanganya ke atas...


Suatu cahaya yang begitu sangat


menyilaukan terlihat begitu jelas,


hingga membuat pandangan kami


mulai kabur.


Tak lama...


Munculah sebuah gerbang yang


amat begitu besar membentang


di hadapan kami.


"Oh ya, kau pemimpin. Berjanjilah,


bahwa kau akan melindungi wanita


itu dari orang yang mencoba untuk


merebutnya, dia adalah sosok


yang spesial."(Dystoria)


"Itu tidak termasuk ke dalam


syarat. Tapi... anda tidak perlu


mengkhawatirkanya. Dia wanita


yang cukup mengenal situasi."


(Retnan)


"Baguslah jika kau mengerti,


baiklah... sekarang... berjalanlah


dan pergilah dari hadapanku."


(Dystoria)


Kami mulai berjalan menghampiri


gerbang yang membentang di


hadapan kami tersebut.


Dan...


Akhirnya.. kami memulai perjalanan


baru dengan sedikit perubahan.