A The Creators

A The Creators
Keterbalikan Keadaan



Situasi saat ini... di dalam ruang kehampaan dan kekosongan dengan satu entitas yang memenuhi ruang itu.


Yang tidak lain adalah... pusaran akhir kekosongan.


Verly berhadapan dengan Lambaleda dengan perasaan saling membunuh, ini adalah tempat ruang kehampaan dan kekosongan sejati berada, tidak ada sesuatu yang bisa di jadikan pijakan, mereka yang berada di sini secara alami akan terbang karena gaya gravitasi atau relativitas sudah tidak berlaku.


Ini berada di sisi lain dari seluruh lapisan, dari setiap kehancuran dunia yang tak terbatas, kekacauan dunia... kematian, semua yang "ada" menjadi "tiada", hingga semua itu membuat segala keterikatan tidak berlaku. lalu terciptalah ruang kehampaan dari setiap kejadian di seluruh lapisan.


"Akhirat mutlak katamu?.. kau memiliki sesuatu yang seperti itu ya, aku yakin itu bukanlah sihir, tapi sebelum kau mengirimku... aku akan sedikit merubah keadaan ini menjadi keterbalikan."


*Fiuittt...*


Suara siulan terdengar...


Tanpa di sadari Verly yang sebelumnya berada sangat jauh dari pandangan Lambaelda, setelah siulan itu di mulai secara instant Verly sudah berada di hadapan Lambaelda.


Namun... Di saat yang sama...


Seluruh tubuh Verly terikat oleh sebuah rantai yang memancarkan percikan api telihat sangat panas.


Rantai itu membuat Verly tidak bisa menggerakan dirinya sendiri.


"Lebih baik kau jangan terlalu dekat denganku, cukup dengan aku bisa memandangimu, sekarang... aku tidak tahu kekuatan apa yang sebelumnya ingin kau gunakan kepadaku, tetapi... jika itu ada hubunganya dengan membuka penutup matamu, tentu... aku tidak bisa tinggal diam." (Lambaelda) terlihat berseru.


"Hee... apa maksudnya kau mengikatku dengan rantai panas ini?" (Verly) sambil tersenyum.


"Ya... untuk mencegahmu bertindak ceroboh, tapi bukan berarti aku menghindari pertarungan kita, kau tidak akan bisa keluar dari rantai neraka itu, sekuat apapun dirimu berusaha kabur... maka suhu panas dari rantai itu akan semakin bertambah, santai saja aku tidak akan lagi mengkotori dirimu ke alam Zoa, lagi pula itu hanya akan membuatmu merasa puas, tapi... bisa di bilang aku juga ingin bertanya sesuatu denganmu, kita dulu pernah menjadi teman bukan? dan aku sangat mengerti tentang dirimu, tapi itu sebelum kau mengenali suamimu." (Lambaelda) dengan santainya berbicara.


"Kurasa tidak ada hal yang harus kita bicarakan, bukankah kau tahu segalanya?.. itu sama saja membuang waktu bila masih bertanya kepadaku, aku tahu persis siapa dirimu, tapi... selagi itu membuat suamiku menjauhi dirimu, kurasa itu lebih baik."(Verly) sambil tersenyum di akhir.


"Yah bagus, aku juga lebih suka memandangimu yang sedang tersiksa meski sejujurnya rasa sakit itu tidak berefek kepadamu, langsung saja... apa suamimu sudah mengetahui tentang apa yang seharusnya kau tidak boleh beritahukan pada siapa pun?"(Lambaelda) dengan wajah sedikit serius.


"Ya.. aku sudah-"(Verly)


*Krinding!!*


Suara rantai terdengar semakin mengikat tubuh Verly dengan suhu panas yang semakin bertambah.


"Apa maksudnya ini?... aku tidak mencoba memberontak" (Verly)dengan wajah seriusnya.


"Maaf.. itu kesengajaan, karena... kau sudah melanggar janji dengan para petinggi Dewa. ini sudah sepantasnya bukan aku harus menghukumu, aku yakin suhu panas


itu akan merusak tubuh indahmu, meski


kau tidak merasakan rasa sakit, aku yakin kau merasa risau dengan hal ini, terutama ketika seseorang berhasil menyudutkanmu dan berbalik memerintahmu, kau sangat benci hal itu bukan? yah tidak termasuk suamimu. Dan sedikit yang kau katakan tentang janji itu kau sama saja telah melanggar hukum."(Lambaelda) sambil tersenyum sedikit berseru menunjukanya kepada Verly yang berada di depannya.


"Hee... kau tidak berhak mengaturku lagi pula, yang aku ucapkan kepada seluruh pillar surgawi hanyalah omong kosong, tidak ada yang bisa mengaturku di hidup ini. Hanya suami tercintaku yang bis-" (Verly)


Saat itu...


Ucapan Verly terhenti...


Dia merasa rantai api yang mengikat dirinya sendiri semakin menusuk tubuhnya seakan suhu api rantai itu semakin panas.


Tidak.


Perubahan suhu itu sangatlah derastis berubah, yang awalnya Verly rasakan hanya sebatas panasnya lahar api 40x lebih panas, hingga... panasnya menjadi setara dengan panas matahari.


Lalu Verly menyadarinya...


Ternyata konsep dari rantai api itu bukan hanya sekedar bergerak saja yang dapat menambahkan suhunya, namun... hanya dengan kata-kata saja dapat merubah suhunya dengan sangat drastis.


Dan saat itulah Verly mulai merasakan rasa sakit, rasa sakit ini bukan ia rasakan secara fisik namun secara bawah sadar, ya itu menggoyahkan jiwanya.


"Ya ampun... tak kusangka kau mampu menahan panasnya matahari itu dengan wajah yang masih bisa tersenyum, ups.. Aku yakin kau telah menyadarinya, tapi percuma saja kau memberontak, rantai itu akan terus terikat olehmu dan kau bisa menganggap rantai itu sebagai dirimu sendiri, karena... rantai itu sudah tertanam pada jiwamu, semakin kau membuat suhunya semakin panas... maka... secara perlahan rantai panas itu akan menyatu dengan inti yang mana... akhir hayatmu di tentukan oleh rantai itu, inilah hukum dewa... tidak ada yang bisa memberontak ketika aku bertindak, lebih baik kau jangan pikirkan soal bertarung kita, tapi jujur saja, aku lebih suka mengobrol denganmu yang dalam keadaan seperti ini, dan.. ini terlihat masih bukan hukuman."(Lambaelda)


Perlahan Lambaelda mengeluarkan sebuah buku tanpa memakai kedua tanganya yang sudah terhapus, dan secara langsung sebuah tombak mulai keluar dari dalam buku.


Tombak itu benar-benar memiliki aura sihir yang begitu terasa menutupi seluruh ruang kehampaan ini.


Verly yang melihatnya sangat terkejut, ia merasa Lambaelda telah melakukan sesuatu pada dirinya.


Tak lama...


Hingga... sesuatu seperti kabut hitam bercampur ungu mulai keluar dari dalam mulut Verly.


Verly terus menerus memuntahkan apa yang keluar dari dalam mulutnya.


"Ini luar biasa... tak kusangka... semua yang kau miliki berpusat pada satu keterhubungan, yang tidak lain adalah dari dalam mulutmu, kabut hitam ini adalah akar dari inti keberadaan mu, inti dengan orang yang memilikinya itu terhubung seperti akar cara kerjanya, tombak ini adalah salah satu dari senjata tuhan yang aku ciptakan sendiri dari buku ilahi, dengan begini secara perlahan aku dapat dengan mudah membunuh inti keberadaanmu lewat akar ini meski dimensi ini akan hancur karena menerima intimu, tapi... itu hanyalah masalah sepeleh."(Lambaelda) terus menyerap apa yang keluar dari dalam mulut Verly dengan begitu antusias.


Verly terasa tersiksa dengan apa yang Lambaelda lakukan padanya.


Lalu... tubuh Verly seakan mulai hancur meleleh tanpa adanya tindakan untuk menghentikan Lambaelda.


"Bagus.. Bagus.. teruslah memuntahkan apa yang ada di dalam mulut mu, sedikit lagi... aku bisa..."(Lambaelda)


Secara tiba-tiba Lambaelda merubah ekspresi wajahnya sendiri menjadi terkejut dan ragu.


Lalu menoleh ke arah perutnya sendiri yang ternyata...


Tanpa di sadari.. Lambaelda telah menerima tusukan dari pedang Verly tepat di tengah perutnya dari belakang.


Keadaan ini benar-benar membuat Lambaelda terkejut, bahwa ia yakin orang yang sekarang berada di hadapanya adalah Verly yang asli bukanlah clone.


"Apa ini?..." (Lambaelda) dengan ekspresi terkejut perlahan menoleh ke arah belakangnya.


"Bodohh.. apa yang sedang kau lihat?" (Verly)


"Ve.. Verly?.. tidak mungkin, kau yang berada di hadapanku... adalah sebuah clone!?"(Lambaelda) dengan ekspresi sangat terkejut melihat kehadiran Verly yang berada di belakangnya.


"Tidak, yang kau siksa itu memang diriku. tapi... aku berpikir kau berpura -pura bodoh atau apa? kita pernah bertarung apa kau sudah lupa bahwa... kehampaan, kekosongan, kekacauan, adalah... bagian dari diriku sendiri, bahkan meski kau telah menghancurkan inti keberadaanku bukan berarti kau benar-benar membunuhku, meski kau membunuh diriku belum tentu aku akan mati, aku yakin kau tahu akan hal itu."(Verly) sambil menahan pedangnya yang masih tertusuk di perut Lambaelda.


".....Memang.... kita sekarang berada di kehampaan, tapi kehampaan ini kekosongan ini... tidak terikat oleh apapun yang ada hanyalah satu entitas yang hidup, mana mungkin ini salah satu bagian dari dirimu."(Lambaelda) dengan wajah serius menatap Verly yang berada di belakangnya.


"Ya itu benar, namun dasar tetaplah dasar, yang berarti tidak peduli mereka tidak terikat oleh konsep apapun, selama aspek fundamental itu masih ada maka... itu masih tetap menjadi bagian dari diriku sendiri, terciptannya sebuah konsep adalah dari dasar, dasar adalah akar yang menjunjung semua yang telah di ciptakan oleh Tuhan. aku tahu kau mengerti juga bukan? sekarang... kau memilih ku bunuh dengan pedang ini yang akan langsung melenyapkanmu beserta intimu, atau... kau ingin ku kirim ke akhirat mutlak? atau.. kau ingin menjadi budaku ha!?" (Verly) tersenyum lebar dan semakin menusuk tubuh Lambaelda.


Di saat yang sama... Lambaelda justru tersenyum kembali.


"Verly... lagi-lagi kau membuatku tekejut, aku berpikir bahwa kau akan semudah itu kujadikan mainanku, tapi kelihatanya tidak ya... aku akan bertanya sekali lagi, apa kau... benar-benar mencintai suamimu?"(Lambaelda) dengan wajah tersenyum lebar.


"Tentu, dia adalah segalanya yang aku miliki, bahkan rahim ini siap untuk menerima asupan cintanya, apa maksudmu kau meragukan kata-kataku?" (Verly) masih menahan pedangnya.


"Ohh.. begitu kah?. apa di balik cintamu ada maksud lain?, seperti.. mengincar apa yang ada di dalam suamimu? kurasa itu juga masuk akal untuk orang sepertimu."(Lambaelda)


".... Sekali lagi... kau meragukan cintaku kepada suamiku... aku... akan benar-benar serius, akan membunuhmu, dan sekarang... pilihlah jawabanmu untuk mati"(Verly)


"Satu hal yang perlu kau ingat, aku bukanlah sosok yang hidup di dimensi rendah ini, kau lebih mengerti diriku dari pada orang lain, aku mengaku kalah dengan apa yang kita lakukan sekarang, aku berubah pikiran, aku ingin membantu suamimu mencapai ranah atas, aku tidak memiliki sebuah alasan jadi... bagamana?" (Lambaelda) sambil tersenyum menoleh kepada Verly yang berada di belakangnya.


"Tidak, suamiku hanya boleh memiliki hubungan satu orang wanita yaitu diriku sendiri, kau tidak-"(Verly)


*SRING!!*


Perkataan Verly terhenti saat...


Sebuah tombak melintasi ke arah mereka yang sedang mengobrol.


Itu sangat cepat, hingga membuat setengah badan Lambaelda langsung terhapus terkena dampaknya.


Lambaelda terkejut, sedangkan Verly tersenyum lebar.


"Apa ini?... rasanya seperti aku mengenai pedang Verly."(Lambaelda) bergumam.


Perlahan Verly mencabut kembali pedang intinya dari perut Lambaelda.


"Maaf.. membuatmu menunggu lama... Verly, aku butuh beberapa waktu untuk memahami kembali kekuatanku."


"Su..Suamiku... akhirnya, anda mengunjungi saya..!!"(Verly)


Verly yang melihatku kembali... langsung dengan cepat menghampiriku lalu memeluk tubuhku dengan wajah bahagia.


"Sayang... saya sangat rindu dengan anda, bagaimana kalau setelah semua ini berakhir kita... membuat ruang cinta, hanya untuk kita berdua, lalu... lalu..."(Verly)


Dia terus memegangi wajahku dan mengelus-elus nya.


"Aku tidak mengerti apa yang ingin kau katakan namun sekarang... aku sedikit mengerti tentang, inti keberadaanku setelah semua yang kau katakan, Verly."