
Tiga jam kemudian, Keila dan Andra kembali ke apartemennya setelah berbelanja di pasar dan supermarket. Seperti sebelumnya, Andra langsung membawa seluruh belanjaan ke apartemen Keila tanpa diminta oleh Keila. Sementara itu Keila yang kedua tangannya bebas, menggantikan Andra yang biasanya menekan tombol masuk dan keluar lift.
“Terima kasih,” ucap Keila ketika masuk ke dalam apartemennya dan melihat Andra meletakkan semua belanjaannya di dapur Keila.
“Ya. Ini juga untuk makanku.”
“Lalu apa yang ingin kamu makan siang nanti?” Keila berbaik hati bertanya karena Andra sudah sangat membantu ketika berbelanja tadi.
“Apa yang ingin kamu makan?” Andra berbalik bertanya.
“Ehm. . .” Keila memikirkan apa yang ingin dimakannya saat siang nanti. “Mungkin sesuatu yang ringan. Karena nanti malam aku berniat untuk membuat hot pot dengan daging yang tadi kubeli.”
“Baiklah kalau begitu, aku ikut juga.” Andra menyetujui rencana Keila. “Jam berapa nanti malam aku harus datang kemari untuk makan?”
Keila yang sedang menata bahan makanan di kulkas menjatuhkan sayuran yang digenggamnya karena terkejut dengan pertanyaan dari Andra. “HAH?? Kamu akan makan di sini???”
“Ya.” Andra menganggukkan kepalanya. “Tentu saja. Bukankah kamu bilang akan makan hotpot? Itu artinya makanan itu harus di makan panas-panas dan itu artinya aku harus makan di sini bersamamu karena di apartemenku tidak peralatan untuk makan hotpot.”
Keila menghela napas karena tidak mengira Andra dengan mudahnya membuat kesimpulan seperti itu. Keila yang merasa lelah karena pergi berbelanja selama tiga jam lamanya, akhirnya mengiyakan kesimpulan yang dibuat Andra. “Jam tujuh malam. Bagaimana?”
“Baiklah kalau begitu.”
Andra kembali ke apartemen miliknya sendiri sementara Keila masih menata bahan makanan yang dibelinya di pasar dan supermarket. Begitu selesai menatap semua bahan makanan, Keila kemudian membersihkan dirinya dan berniat untuk bersantai sejenak dengan buku-bukunya sebelum menyiapkan makan siang untuk dirinya dan Andra. Namun niat awal Keila itu berubah ketika menerima panggilan dari sahabatnya-Bonita, yang tiba-tiba menghubunginya.
“Halo?” Keila mengangkat panggilan dari Bonita dengan nada suara pelan.
“Kau-Key! Bagaimana bisa kamu tidak menghubungiku ketika kamu diskorsing selama sebulan dari kantormu??”
Keila menarik jauh ponselnya dari telinganya karena mendengar suara teriakan Bonita yang kencang. “Bisakah kau tidak berteriak, Bonita? Telingaku sakit mendengar teriakanmu.”
“Biar saja. Kau benar-benar jahat! Kenapa tidak memberitahuku ketika kau diskorsing karena ulah Noah??”
“I-itu terjadi begitu saja,” Keila enggan menceritakan kesialan yang menimpanya beberapa hari lalu. “Tapi. . . lihat sisi baiknya, aku punya banyak waktu luang selama sebulan ini yang sebelumnya tidak pernah aku miliki.” Keila menggelengkan kepalanya. Dari mana Bonita tahu? Apa berita tentang ulah Noah masuk berita? Tapi. . . memang Bonita selalu tahu akan segalanya. Mungkin di perusahaan tempatku bekerja ada kenalan Bonita dan Handra yang tidak aku tahu dan memberitahu Bonita.
“Kau ini! Kau masih menganggapku teman bukan?” Bonita berbicara masih dengan sedikit berteriak.
“Tentu saja.” Keila menjawab dengan cepat pertanyaan Bonita. Keila tahu masalahnya akan lebih bertambah besar jika Bonita-sahabatnya, marah.
“Kalau begitu jam makan siang ini, aku akan menunggumu. Kita makan bersama.”
“Tapi-“
“Tidak ada tapi-tapian. Jika kau masih ingin berteman denganku maka datanglah. Kau tahu aku sangat merindukanmu, Keila.”
Setelah mengatakan apa yang perlu dikatakannya kepada Keila, Bonita langsung menutup panggilannya begitu saja tanpa memberikan kesempatan bagi Keila untuk berbicara lebih jauh lagi.
Huft. . . Keila mengembuskan napasnya sembari melirik ke arah jam dinding di ruang keluarga apartemennya. Tidak. Aku hanya punya waktu satu jam untuk memasak dan satu jam untuk bersiap-siap bertemu dengan Bonita.
Keila bergegas ke kulkasnya dan melihat seluruh isi kulkasnya. Sesuatu terpikir ketika mata Keila berhenti pada roti yang ada di kulkasnya. Terpaksa, aku membuatkan sandwich untuk Andra. tanpa berpikir panjang lagi, Keila mengambil roti di dalam kulkasnya dan beberapa sayuran segar dan daging. Dengan cepat, Keila mulai membuatkan makan siang untuk Andra sebelum dirinya bertemu dengan Bonita-sahabatnya.
Dua jam berlalu. Keila sudah menyelesaikan masakan sederhana untuk makan siang Andra dan juga telah berganti pakaian dengan pakaian yang cukup bagus dan cukup modis seperti yang biasa dikenakannya ketika berangkat bekerja. Keila meraih ponsel dan dompetnya dan kemudian memasukkannya ke dalam tas slempang kecilnya. Dengan membawa kotak makan yang berisi makan siang Andra, Keila berjalan keluar dari apartemen miliknya.
Ting. . . tong. . .
Keila membunyikan bel apartemen milik Andra dan seperti biasa, tidak butuh waktu lama bagi Andra untuk keluar dari apartemennya.
Andra menatap Keila dari atas kepala hingga ke ujung sepatu yang dikenakannya. “Sesuatu mendadak itu seperti apa hingga kau masih sempat untuk berdandan?”
“Sudah jangan banyak tanya lagi!” Keila menarik tangan Andra dan membuat tangan Andra menerima kotak makan yang dibawanya. “Aku harus segera pergi kalau tidak-“
“Mau aku antar?”
Keila yang belum menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba disela oleh tawaran yang keluar dari mulut Andra secara tiba-tiba. Keila menatap ke arah Andra dengan tatapan tidak percaya. “Lalu bagaimana dengan makan siang dan pekerjaanmu?”
“Soal ini,” Andra mengangkat kotak makan yang ada di tangannya. “Aku bisa memakannya di mobil. Lalu untuk pekerjaanku, tidak ada masalah jika aku meninggalkan pekerjaanku satu hari saja.”
“Benar?” Keila bertanya lagi untuk memastikan.
Andra menganggukkan kepalanya. “Ya.”
“Kalau begitu, aku terima tawaran itu.”
Andra kemudian menarik tangan Keila dan memberikan kotak makan itu lagi ke tangan Keila. Setelah melakukan itu, Andra kemudian masuk kembali ke apartemennya dan tidak lama kemudian kembali menemui Keila setelah berganti pakaian dengan pakaian yang rapi. Andra bahkan menyisir rambutnya dan menatanya menjadi lebih rapi dari biasanya. Penampilan Andra itu, untuk sesaat membuat Keila yang melihatnya merasa terpesona.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Andra yang melihat Keila terus menatapnya.
“Aku terkejut.” Keila menjawab pertanyaan Andra setelah menyadarkan dirinya dari pesona milik Andra. “Benar-benar terkejut. Kenapa kamu menata rambutmu, padahal selama ini kamu selalu membiarkannya terlihat berantakan?”
“Karena kamu berdandan seperti ini, maka setidaknya aku harus terlihat rapi,” jawab Andra yang kemudian mengunci pintu apartemennya. Setelah mengunci pintu apartemennya, Andra mengambil kembali kotak makan yang berada di tangan Keila. Andra kemudian memimpin jalan menuju ke arah lift. “Ayo!”
Keila yang mengikuti Andra di belakangnya merasa ragu dengan jawaban yang didengar dari mulut Andra. Ketika Keila dan Andra berada di dalam lift, Keila kemudian mengajukan pertanyaan kepada Andra. “Apakah kamu selalu begini ketika memiliki kekasih?”
“Begini bagaimana?”
“Yah seperti yang baru saja kamu lakukan. Seperti berusaha mengimbangi cara berpakaian kekasihmu ketika pergi bersama.”
“Apakah itu aneh?” Andra berbalik bertanya kepada Keila.
“Ti-tidak.”
“Lalu?” Andra bertanya lagi kepada Keila.
“Hanya saja para pria biasanya jarang mengikuti gaya berpakaian kekasihnya jika bukan pergi ke tempat-tempat tertentu seperti undangan pernikahan,” jelas Keila berdasarkan pengalamannya.
“Ah benarkah?”
“Karena itu aku bertanya padamu, Andra.” Keila mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh Andra. “Apa kamu biasa melakukan hal ini kepada kekasihmu?”
“Ya, melihatmu keluar dengan berdandan tidak mungkin aku mengantarmu dengan mengenakan celana pendek dan sandal jepit bukan?”
Keila menghela napasnya merasa lega. “Sudah kuduga, kamu pasti punya banyak kekasih.”
“Kekasihku hanya kamu saja, Keila. Aku tidak pernah punya kekasih lain selain kau.”
Pintu lift terbuka. Andra berjalan keluar sementara Keila diam membeku karena terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Andra. Dengan tatapan bingung dan tidak percaya, Keila memandang ke arah Andra yang berjalan keluar lift. Keila diam membeku hingga pintu lift yang terbuka perlahan hendak tertutup. Dia pasti berbohong. Dia pasti punya banyak kekasih di luar sana. Apa yang terucap sekarang pasti hanya caranya mempermainkanku. Pria tampan sepertinya pasti punya banyak kekasih di luar sana,
Andra menghentikan pintu lift yang nyaris tertutup lagi dan membuat Keila sadar dari sikap membekunya. Keila berjalan keluar dari lift dan melihat tangan Andra yang hendak menggenggam tangannya. Keila bergerak menjauh dari tangan Andra yang berusaha menggenggam tangannya sembari berkata, “Berhentilah mempermainkanku, Andra! Aku bukan kekasihmu!”