
“Sekarang makanlah dulu bubur ini.” Andra mengambil mangkuk di atas nampan yang berisi bubur.
Asap mengepul di atas mangkuk tertangkap mata Keila, menandakan bubur itu masih dalam keadaan hangat. Keila mengangkat kedua tangannya dengan posisi meminta untuk menerima mangkuk yang saat ini berada di tangan Andra. “Kau membuatnya sendiri?”
Andra menatap heran kedua tangan Keila yang berada dalam posisi meminta padanya. Andra kemudian mengambil sesendok bubur dan mengarahkannya ke mulut Keila. “Buka mulutmu.”
Mata Keila membelalak lagi melihat tindakan Andra karena terkejut. Keila mengira Andra akan menyerahkan mangkuk itu padanya, akan tetapi Andra justru menyuapi bubur itu kepadanya. Salah tingkah dengan tindakan Andra padanya, Keila kemudian menutup mulutnya dan menolak untuk makan. “Aku bisa makan sendiri, Andra. Berikan itu padaku!”
“Berhenti berdebat denganku, Keila dan makan ini dengan tenang! Bisakah kamu melakukannya?” Andra memohon kepada Keila.
Melihat Andra yang memohon kepada Keila untuk pertama kalinya, Keila yang tadinya bersikeras untuk makan sendiri terpaksa menerima suapan dari Andra. Keila membuka mulutnya dan berkata, “Aaaa. . .”
“Pintar sekali.” Andra menyuapi bubur ke mulut Keila dengan tersenyum senang. “Sepertinya lain kali jika kamu ingin berdebat denganku, aku harus memohon seperti ini untuk membuatmu berhenti keras kepala.”
Keila menutup mulutnya dan menelan buburnya dari suapan Andra. Setelah melakukan hal itu, Keila yang merasa malu dengan ucapan Andra kemudian membalas ucapan Andra dengan mencubit lengan Andra.
“Auwwww!” teriak Andra yang kesakitan menerima cubitan kecil di lengannya. “Kenapa kau mencubitku, Keila?”
Keila tidak menjawab pertanyaan dan justru mengatakan hal lain kepada Andra. “Kalau kau lama menyuapiku, akan lebih baik jika aku makan sendiri.”
Andra tersenyum mendengar ucapan Keila. “Baik-baik. Ini.” Andra menyuapi bubur lagi ke mulut Keila.
Hingga bubur habis, Keila makan dengan tenang. Keila makan dengan cepat dan tidak banyak bicara. Di balik ketenangannya itu, Keila berusaha keras menyembunyikan rasa gugupnya ketika menerima tatapan dan senyuman Andra yang diarahkan kepadanya. Beberapa kali, Keila merasa ingin memalingkan wajahnya dari Andra. Namun niat itu terhenti ketika Keila ingat apa yang dilakukan Andra beberapa saat tadi ketika Keila bersembunyi di balik selimutnya. Jangan memalingkan wajahmu, Keila! Ingat apa yang dilakukan Andra ketika kau bersembunyi di balik selimutmu!
Bubur Keila akhirnya habis. Andra kemudian meletakkan mangkuk kosong itu kembali ke atas nampan dan mengambil air minum dan obat untuk Keila. “Minum ini dan setelah itu beristirahatlah lagi.”
Keila menerima gelas yang berisi minuman dari Andra dan menolak obat yang diberikan oleh Andra. “Aku sudah merasa lebih baik. Kurasa aku tidak perlu minum ob-“ Keila menghentikan kalimatnya ketika ingatannya samar-samar memutar kenangan asing di dalam kepalanya.
“Keila. . . Ayo bangun sebentar dan minum obatnya.” Andra memohon kepada Keila.
Samar-samar Keila berusaha membuka matanya dan berusaha untuk bangkit. Namun tubuhnya terasa sangat berat dan tubuhnya terasa sangat lelah untuk bangkit. Mata Keila sedikit terbuka, tapi tidak bisa sepenuhnya terbuka. Keila ingin membalas ucapan Andra namun mulut dan suaranya tidak bisa bergerak untuk bersuara karena tubuhnya yang terasa lelah dan berat.
“Maafkan aku, Keila. Aku terpaksa melakukan hal ini.”
Samar-samar Keila melihat Andra mengambil obat dan memasukkannya ke dalam mulut Keila. Andra kemudian mengambil gelas yang berisi air dan meminumnya. Tidak lama kemudian Andra menarik tubuh Keila dan membuat tubuh Keila sedikit bersandar di kepala tempat tidur. Andra kemudian membuka sedikit mulut Keila yang berisi obat dan menempelkan mulutnya ke mulut Keila. Sensasi lembut kemudian terasa di bibir Keila dan tidak lama kemudian sesuatu yang segar mengalir ke dalam mulut Keila dan mendorong obat pahit di dalam mulut Keila masuk ke dalam kerongkongannya.
Pyar. . .
Gelas yang digenggam Keila tiba-tiba terjatuh dan pecah, ketika ingatan samar itu terlihat semakin jelas dalam benak Keila.
“Kenapa Keila??” Andra bertanya dengan khawatir melihat gelas yang jatuh dan pecah di dekat kakinya. “Apa kau merasa pusing? Atau kau merasa tidak enak badan? Bukankah sudah kukatakan untuk minum obatnya?”
Andra melihat ke arah warna merah yang ditunjuk oleh jari Keila dan menyadari sesuatu yang sedang terjadi. Dengan tenang Andra menjawab, “Ah sepertinya kakiku terkena pecahan gelas.
“Sial! Kenapa reaksimu tenang sekali?” tanya Keila panik. Spontan Keila teringat dengan kotak P3Knya. “Ce-cepat obati sana! Kotak P3Knya ada di lemari di dekat TV!”
Dengan tenangnya, Andra mengambil kotak P3K di lemari seperti ucapan Keila. Dengan tenangnya, Andra mengobati lukanya sendiri seolah luka itu tidak menyakitinya. Sembari mengobati lukanya, Andra bahkan masih sempat bercanda kepada Keila. “Semalaman, aku mencari kotak ini dan aku tidak menyangka jika kau menyimpan kotak ini di lemari dekat TV.”
Keila memandang heran mendengar ucapan Andra. Mata Keila kemudian melihat ke arah obat yang tadi disodorkan Andra padanya. “Jika kau tidak menemukan kotak ini, lalu dari mana kamu mendapatkan obat ini?”
“Ah itu. . . aku meminta temanku datang untuk membelikannya. Aku juga meminta temanku membawa teman wanitanya untuk membantumu mengganti pakaianmu yang basah. Lalu, aku juga meminta temanku untuk mengantarkan surat ijinmu ke kantormu.” Andra menjawab dengan tenang setelah selesai membalut lukanya.
Andra kemudian menghilang dari hadapan Keila untuk sejenak ketika Keila ingin bertanya lebih jauh lagi. Andra kemudian muncul lagi di hadapan Keila dengan membawa kain dan tempat sampah untuk membersihkan pecahan gelas dan air yang tumpah.
Melihat Andra begitu tenang, Keila merasa bersalah. “Maaf. Maafkan aku. Karena aku, kakimu terluka. Aku terlalu terkejut dengan apa yang baru saja muncul di dalam ingatanku, jadi aku tidak sengaja menjatuhkan gelas itu.”
Andra menghentikan tindakannya membersihkan pecahan gelas dan menatap Keila. “Apa yang kamu ingat hingga kamu begitu terkejut?”
Keila panik mendengar pertanyaan Andra. Bola mata Keila bergerak ke kanan dan ke kiri karena panik bagaimana harus menjelaskan apa yang telah diingatnya baru saja.
“Apa yang kamu ingat, Keila?” Andra mengulangi pertanyaannya sembari membersihkan sisa pecahan gelas hingga bersih.
“I-tu. . .o-obat. . . se-semalam, kau dan aku-.” Keila menjawab dengan terbata-bata.
“Kamu mengingatnya rupanya, Keila,” ucap Andra yang telah selesai membersihkan gelas yang pecah dan air yang tumpah. “Kamu tidak marah? Tanpa seijinmu, aku melakukan itu.”
“Ta-tadinya aku ingin marah. Tapi karena keterkejutanku, aku membuat kakimu terluka dan aku melupakan rasa maraku karena panik melihatmu terluka.” Keila menjawab pertanyaan Andra dengan gugup.
“Lain kali aku akan melakukannya setelah meminta ijin darimu, Keila. Kali ini mohon maafkan aku karena tanpa seijinmu melakukan hal itu. Apa kamu mau memaafkanku?” Andra berkata dengan nada menyesalnya.
Melihat penyesalan di mata Andra, Keila memilih untuk memaafkan Andra. “Ya, aku maafkan.”
Andra tersenyum mendengar ucapan Keila. Andra yang duduk di tempat tidur Keila kemudian mengangkat tangannya dan membelai lembut kepala Keila sembari berkata, “Aku beruntung sekali punya kekasih yang baik hati sepertimu.”
Keila tersipu mendengar ucapan Andra. Kali ini, Keila tidak lagi marah mendengar kata “kekasih” keluar dari mulut Andra. Kali ini, Keila tidak lagi marah ketika Andra melabelinya dengan kata “kekasihku”. Kali ini, Keila justru merasa senang mendengar kata “kekasih” keluar dari mulut Andra. Untuk pertama kalinya, kata “kekasih” yang keluar dari mulut Andra membuat Keila merasa senang dan bukannya kesal.