30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
34. STATUS KEKASIH 5



Jam kerja berakhir. Kali ini Keila yang telah menyelesaikan pekerjaannya keluar dari gedung perusahaan bersama dengan tiga rekannya sekaligus juniornya: Suci, Nuri dan Irene. 



“Kak Key, bisakah aku bertanya?” tanya Irene yang berjalan di samping Keila. 



“Apa yang ingin kamu tanyakan?” 



Lift terbuka, Keila bersama dengan Suci, Nuri dan Irene kemudian masuk ke dalam lift dan turun menuju lantai dasar. Irene kemudian mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Keila untuk berbisik kepada Keila. 



“Apa mungkin minggu lalu Kakak sengaja pulang terlambat karena masalah Kakak dengan kekasih Kakak?” 



Keila menghela napas panjang mendengar pertanyaan Irene dan kemudian menolehkan kepalanya melihat Irene dengan pupil membesar. “Bagaimana kau bisa menebaknya dengan mudah, Irene?” 



Irene kembali ke posisinya kembali. “Itu terbaca dengan mudah di wajah Kakak. Mungkin hal yang sama berlaku pada kekasih Kakak. Raut wajah Kakak mungkin terlalu mudah dibaca oleh kekasih Kakak.” 



Mendengar kata “kekasih” keluar dari mulut Irene, Suci dan Nuri yang berdiri di depan Keila dan Irene langsung membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Keila. 



“Apa mungkin ada yang belum Kakak ceritakan pada kami?” tanya Suci penasaran. 



“Hehe.” Keila terkekeh mendengar pertanyaan Suci. Pintu lift terbuka lagi dan banyak karyawan yang masuk ke dalam lift. Keila yang tidak ingin menceritakan hubungan pribadinya itu di tempat yang bisa didengar banyak orang kemudian memilih untuk tidak bercerita kepada Suci. “Sudah tidak ada lagi, Suci. Aku suda menceritakan segalanya kepada kalian saat makan siang tadi.” 



“Lalu apa yang maksud kata kekasih yang aku dengar dari Irene itu?” tanya Nuri dengan sedikit berbisik karena melihat lift yang hampir dalam keadaan penuh. 



Keila menghela napas panjangnya lagi dan berbisik kepada Nuri, “Nanti setelah kita keluar dari lift ini, aku akan mengatakannya kepada kalian.” 



Setelah beberapa kali pintu lift terbuka, lift akhirnya tiba di lantai pertama. Lift yang sudah penuh sesak dengan banyak karyawan yang segera ingin pulang ke rumah mereka, berhamburan keluar tidak terkecuali Keila bersama dengan ketiga rekannya. 



Berjalan bersama keluar dari gedung perusahaan, Nuri kemudian mengajukan pertanyaannya kembali kepada Keila. “Jadi kenapa aku tadi mendengar kata kekasih keluar dari mulut Irene?” 



“Hahaha, itu karena Irene penasaran dengan wajah kekasihku sekarang,” Keila berbohong sembari menyikut Irene. 



“Ya, itu benar.” Irene yang mendapat sikutan Keila langsung memberikan jawaban dengan cepat, menyesuaikan jawaban Keila. “Aku penasaran dengan wajah kekasih Kak Keila. Aku penasaran apakah kekasih Kak Key sekarang lebih tampan dari Kak Noah atau sebaliknya.” 



“Ah, kau jahat sekali, Irene. Kau tidak bisa membanding-bandingkan wajah mantan Kak Key dengan kekasihnya saat ini. Bagaimanapun rupa kekasih Kak Key sekarang, yang penting Kak Key sekarang bahagia. Itu saja.”



Mendengar ucapan Nuri yang bijak, spontan Keila bersama dengan Suci dan Irene terkejut. Untuk pertama kalinya, juniorku yang satu ini bersikap dewasa dan bijak. Keila memuji di dalam benaknya. 



“Tapi. . . mendengar ucapan Irene, aku juga tiba-tiba merasa penasaran dengan wajah kekasih Kak Key sekarang. Apakah dia tampan? Apakah lebih tampan dari Kak Noah? Jika Kak Key ingin membalas wanita ular yang telah menjadi penyebab masalah Kak Key, harusnya Kak Key mencari kekasih yang jauh lebih tampan dari Kak Noah, lebih kaya dari Kak Noah dan lebih dari segalanya jika dibandingkan dengan Kak Noah,” jelas Nuri. 



Keila bersama dengan Suci dan Irene yang baru saja memuji sikap bijak dari Nuri kemudian nyaris tersandung kaki mereka sendiri karena terkejut melihat perubahan Nuri yang hanya sebatas hitungan detik saja. 



“Apa-apaan kau ini, Nuri?” tanya Suci tidak terima. “Bukankah sebelumnya kamu bilang tidak baik membanding-bandingkan orang? Kenapa tiba-tiba membandingkan kekasih Kak Key yang sekarang dengan mantannya-Kak Noah?” 



“Aku hanya ingin melihat wajah wanita ular yang berusaha untuk mendapatkan hati idola kita itu, sakit karena Kak Key yang selalu membuatnya iri itu mendapatkan sesuatu yang lebih besar daripada dugaannya,” jelas Nuri dengan penuh semangat. “Jika hal itu terjadi, aku pasti akan jadi orang pertama yang berdiri di sisi Kak Key dan bertepuk tangan paling kencang.” 



Suci menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Nuri. “Kalau begitu, aku akan jadi orang nomor dua yang berdiri di sisi Kak Key dan bertepuk tangan kencang setelah kau, Nuri.” 



“Hey,” teriak Irene kepada Suci dan Nuri. “Kenapa tiba-tiba kalian berdua jadi berpikir ke sana?” 




“Tidak.” Irene menjawab dengan datarnya dan kemudian senyuman kecil muncul di bibirnya. “Tidak salah. Jika Nuri jadi orang pertama, Suci jadi orang kedua, maka aku akan jadi orang ketiga yang berdiri di sisi Kak Key dan bertepuk tangan dengan kencang.” 



Keila yang tadinya mengira Irene yang paling cerdas akan menegur Suci dan Nuri karena pemikiran kekanakan mereka, ternyata justru bergabung dengan Suci dan Nuri. Keila hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tersenyum melihat ketiga rekan, junior, teman dan pendukungnya memberikan dukungannya kepada Keila. “Terima kasih banyak kepada kalian bertiga.” 



Karena candaan kecil di antara mereka, Keila bersama dengan ketiga rekannya tidak terasa telah berjalan keluar dari gedung perusahaan. 



“Ke mana kekasih Kakak?” tanya Nuri penasaran. 



“Apakah dia tidak menjemput Kakak?” tambah Suci. “Aku penasaran ingin melihat wajahnya, Kak.” 



“Irene juga?” tanya Keila kepada Irene yang berdiri tepat di sampingnya. 



Irene menganggukkan kepalanya. “Tentu saja, Kak. Kami bertiga adalah pendukung pertama, kedua dan ketiga Kakak. Jadi kami bertiga tentu penasaran dengan wajah dari kekasih Kak Key.” 



Keila menatap ketiga rekannya itu secara bergantian dan kemudian tersenyum kecil. “Sayang sekali, aku tidak bisa mempertemukan kalian sekarang. Aku baru resmi menjadi kekasihnya dan aku merasa hubungan yang kami miliki masih terlalu singkat. Begini saja jika dalam sebulan ke depan aku masih bersama dengannya, aku akan memperkenalkan kalian. Apa kalian keberatan?” 



Ketiga rekan Keila serentak menjawab bersamaan. “Setuju.” 



“Aku senang mendengarnya.” Keila tersenyum memandang ketiga rekannya bergantian. “Dan satu lagi, aku ingin meminta tolong kepada kalian.” 



“Apa itu?” tanya Nuri lebih cepat. 



“Asal bukan permintaan yang sulit, kami bisa membantu Kakak,” tambah Suci. 



“Bagaimana denganmu Irene?” tanya Keila pada Irene yang lebih banyak diam seperti biasanya. 



“Aku akan membantu asalkan bukan hal yang sulit, Kak Key.” 



“Kalau begitu, tolong rahasiakan fakta bahwa aku sedang memiliki hubungan. Rahasiakan bahwa aku memiliki kekasih sekarang. Jaga rahasia ini hingga setidaknya kalian kuperkenalkan padanya. Apa bisa?” tanya Keila. 



Nuri, Suci dan Irene kemudian saling memandang satu sama lain secara bergantian, sebelum akhirnya setuju dengan permintaan Keila. 



“Baiklah,” jawab ketiga rekan Keila bersamaan.



“Asal. . .” Nuri menambahkan ucapannya dan membuat Suci, Irene dan Keila heran di saat yang bersamaan. 


  “Asal apa?” tanya Keila. 


“Asal Kakak bertanya kepada kekasih Kakak siapa kenalannya yang memiliki hubungan dengan Liam. Jika bisa kami ingin menemukan informasi apapun tentang Liam meski itu hanya facebook atau instagram miliknya, bagaimana?” 



Mendengar ucapan Nuri, Keila hanya bisa mengembuskan napasnya panjang karena tidak menyangka akan mendengar syarat yang konyol dari mulut Nuri. Keila kemudian memandang ke arah Suci dan Irene yang tadinya sama herannya dengan dirinya. Namun Irene dan Suci kemudian memandang Keila dengan tatapan yang sama dengan Nuri saat ini. Sial, kukira Irena dan Suci akan terkejut mendengar syarat dari Nuri. Tapi ternyata mereka berdua sependapat dengan Nuri. Keila berbicara di dalam benaknya sembari memandang mata berbinar ketiga rekan kerjanya sekaligus juniornya itu. Aku penasaran, benar-benar penasaran dengan wajah dari direktur muda itu. Melihat Suci, Nuri dan bahkan Irene yang begitu mengidolakannya hingga berusaha mendekati Liam untuk menemukan informasinya, aku rasa direktur muda itu pasti benar-benar tampan dan memiliki pesona yang mampu menghipnotis seluruh karyawan wanita di perusahaan ini. Aku benar-benar bodoh! Harusnya saat di lift waktu itu, aku sedikit menengadahkan kepalaku untuk mencuri pandang ke arah direktur muda itu. Dengan begitu, aku akan bisa melihat alasan ketiga rekanku ini begitu mengidolakannya. 



“Aku setuju. Tapi. . . jika kekasihku bisa meminta ijin dari yang bersangkutan. Bagaimana?” 



Nuri, Suci dan Irene kemudian menganggukkan kepalanya dengan senyuman di wajah mereka. Nuri kemudian menjawab mewakili kedua rekannya. “Baiklah, kami tunggu kabar baik dari Kakak.”