
“Apa kamu mendengar dengan baik ceritaku?” tanya Pak Agung sembari melihat Keila yang sedang memandang ke langit di atasnya.
“Aku mendengarnya, Pak. Semua yang dilakukannya adalah untukku.”
“Lalu,” Pak Agung kemudian memukul bahu Keila dan membuat Keila berhenti menatap langit di atasnya. “Apa kamu juga menyadari jika selama ini penggemar rahasiamu itu telah beberapa kali muncul di hadapanmu?? Hanya saja. . . kamu tidak menyadarinya.”
Keila menurunkan pandangannya dan kemudian melihat ke arah Pak Agung dengan tatapan heran. “Apa itu benar, Pak? Andra muncul beberapa kali di hadapanku dan aku tidak mengenalinya?? Maaf, Pak. Sepertinya. . . aku tidak mendengar bagian itu.”
Pak Agung kemudian mengulangi kembali ucapan Andra. “Setelah berulang kali mencoba, Keila tidak pernah menyadari keberadaan saya. Bukankah kamu tadi bilang mendengarkan dengan baik??” Pak Agung kemudian memukul kepala Keila dengan sedikit kencang.
“Auwwww. . .” Keila meringis menerima pukulan di kepalanya. “Kenapa Bapak memukulku??”
“Biar kamu sadar tentang kebiasaan burukmu itu. Kebiasaan mengenakan earphone ketika pulang, kebiasaan ketika terlalu cuek, dan kebiasaanmu yang kurang peduli dengan orang-orang di sekitarmu meski kamu tidak bekerja sama dengan mereka. Mulai sekarang perbaiki sikapmu itu, Key.”
“Ah, baik-baik. Aku akan melakukannya, Pak,” jawab Keila masih dengan memegang bagian kepalanya yang menerima pukulan dari Pak Agung.
“Jika kamu tidak melakukannya, aku akan memukul kepalamu seperti ini lagi.” Pak Agung memberikan ancaman yang jelas kepada Keila.
“Aku bilang aku mengerti, Pak.” Keila menggeser duduknya untuk lebih jauh dari Pak Agung agar dirinya bisa menghindar jika sewaktu-waktu Pak Agung berniat untuk memukul kepalanya lagi. Keila kemudian berusaha mengalihkan perhatian Pak Agung dengan menunjukkan jam tangannya yang menunjukkan pukul satu siang di mana jam makan siang telah berakhir. “Ini sudah jam satu siang, Pak. Kita harus kembali bekerja, Pak.”
“Aku tahu, Key. Aku bisa melihatnya dengan kedua mataku ini,” ujar Pak Agung yang kemudian bangkit dari duduknya dan memimpin jalan kembali ke lantai tiga di mana departemen editing berada.
Sementara itu Keila yang berada di belakang Pak Agung kemudian bangkit juga dari duduknya dan hendak mengikuti langkah Pak Agung. Embusan angin membuat Keila menghentikan langkahnya sejenak dan memandang ke arah datangnya angin. Sembari menatap pemandangan kota, Keila berbicara sendiri di dalam benaknya. Ke mana kau, Andra? Aku punya banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu. Kamu berhutang penjelasan padaku, kamu berhutang menanggung rasa kesalku, rasa marahku dan terakhir, rasa rinduku. Baru satu hari aku lewati tanpa dirimu dan aku sudah sangat merindukanmu. Tahukah kau waktu berjalan begitu lambat tanpa adanya dirimu?
Keila menghela napas ketika merasakan terpaan angin di wajahnya. Huft. Bagaimana caramu melewati hari-harimu selama ini dalam bayang-bayang gelap tanpa bisa mengungkapkan rasa rindumu dan rasa cintamu padaku? Bagaimana caramu melalui hari-harimu hanya dengan status penggemar rahasia yang mungkin tidak akan mendapat balasan? Bagaimana caramu melakukannya, Andra?
\# \# \#
Begitu jam kerja berakhir, Keila yang sudah memilik banyak pertanyaan di dalam benaknya kemudian membuat keputusan. Aku harus bertemu dengan Andra. Aku harus bertemu dengannya dan mendengarkan semua penjelasan darinya. Aku tidak akan marah lagi padanya dan akan mendengarkan dengan baik.
“Kak Key??” panggil Irene.
“Ya??” tanya Keila yang bersiap-siap dengan tas miliknya.
“Ayo pulang.”
Keila menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan pulang bersama dengan kalian. Aku harus ke lantai delapan untuk bertemu dengan Andra.”
Suci dan Nuri yang mendengar kata “Andra” keluar dari mulut Keila kemudian membuar suara yang sama. “Ihiiiiiiiirrrrrr, Kak Keyyyy.”
Keila dan Irene yang mendengar suara dari Suci dan Nuri yang cukup kencang itu kemudian membuat gerakan yang sama: meletakkan telunjuk di bibir dan kemudian membuat suara yang sama, “Ssssssttttttttt.”
“. . . Bisakah kalian mengecilkan suara kalian??” tambah Keila sembari melirik ke kanan dan kirinya memastikan tidak ada orang yang mendengar suara yang dibuat oleh Suci dan Nuri baru saja.
“Ah, maaf,” ujar Nuri yang juga menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mengikuti Keila.
“Maaf, Kakak. Aku hanya senang saja melihat Kakak tidak memanggilnya direktur melainkan nama yang bahkan tidak pernah disebut ketika di perusahaan,” ujar Suci yang merasa senang.
“Aku harus bertemu dengan Andra. Sejak kemarin dia tidak menghubungiku padahal dia berjanji untuk menemuiku memberi penjelasan.”
“Mungkin Direktur sedang sibuk, Kak,” ujar Nuri.
“Ya, Kak. Mungkin Direktur sedang sibuk,” tambah Suci.
“Ya, aku tahu jika dia sedang sibuk. Tapi sejak kemarin dia belum kembali ke apartemennya. Karena itu aku merasa khawatir dan terpaksa, aku harus menemuinya di perusahaan meski Andra adalah Direktur di perusahaan tempatku bekerja,” jawab Keila. “Jadi maaf aku tidak akan turun bersama dengan kalian.”
“Kami mengerti, Kak,” ujar Nuri dengan senyuman di bibirnya yang merasa bahagia melihat hubungan antara Keila dan idolanya – Direktur Rafandra.
“Kakak tidak usah pedulikan kami,” tambah Suci yang juga membuat senyuman di bibirnya. “Kami tidak akan mati hanya karena Kakak tidak pulang bersama dengan kami.”
“Semoga Kakak bisa segera bertemu dengan Kakak dan menyelesaikan masalah Kakak,” tambah Irene yang menyemangati Keila.
“Terima kasih kalian semua,” ujar Keila yang kemudian membawa tasnya dan berlari menuju lift.
Tidak seperti ketiga rekannya yang hendak turun menuju ke lantai satu, Keila justru menekan tombol ke lantai delapan – tempat di mana ruangan Andra berada. Setelah lima menit menunggu Keila kemudian sudah berada di lantai delapan.
“Huft. . .” Keila mengembuskan napasnya kecil sebelum memantapkan langkahnya untuk berjalan ke ruangan di mana Andra bekerja. Jangan pedulikan orang lain, Keila! Kali ini kau harus bertemu dengan Andra untuk menjawab semua pertanyaan yang muncul di dalam benakmu sejak kemarin. Setelah Andra yang berusaha keras untuk mengejarmu selama ini, sekarang giliranmu untuk menyamakan langkahmu dengannya.
Setelah berbicara dengan dirinya sendiri dan memberikan keyakinan kepada dirinya sendiri, Keila kemudian mulai melangkahkan kakinya dengan berani untuk bertemu dengan Andra.
“Ada yang bisa saya bantu, Nona Keila?”
Keila yang tiba di ruangan Andra kemudian disambut oleh Baron-salah satu asisten Andra. Keila menghela napas lega karena Baron masih mengingat dirinya. “Senang rasanya jika kau masih mengingatku.”
Baron tersenyum kecil mendengar ucapan Keila. “Tentu saja saya masih mengingat dengan baik kejadian kemarin, Nona Keila. Kejadian kemarin benar-benar heboh, Nona dan saya termasuk di dalamnya.”
Benar juga. . . apa yang baru saja aku katakan?? Ini pasti karena aku terlalu gugup. Keila mengatur napasnya lagi sebelum bertanya kepada Baron. “I-itu. . . bisakah aku bertemu dengan Direktur Rafandra??”
Alis Baron mengerut dan nyaris menyambung satu sama lain mendengar pertanyaan Keila yang baru saja diajukan kepadanya. Baron kemudian berbalik mengajukan pertanyaan kepada Keila. “Nona tidak tahu??”
“Apa yang harus aku tahu??” tanya Keila yang juga sama herannya dengan Baron karena melihat reaksi Baron.
“Direktur mengambil cuti selama seminggu lamanya. Sesuatu terjadi kepada Presdir yang tidak lain adalah ayah dari Direktur. Karena hal itu kemarin malam setelah rapat, Direktur bersama dengan Liam segera pergi,” jelas Baron. “Apakah Direktur tidak memberitahukan hal ini kepada Nona??”
“A-aku tidak tahu. Ponselnya seharian ini tidak bisa kuhubungi, karena itu aku memberanikan diri untuk datang kemari,” jawab Keila dengan sedikit malu.
Baron yang menangkap wajah malu Keila karena merasa sebagai kekasih yang buruk, kemudian tersenyum dan menghibur Keila. “Ini sudah kebiasaan Direktur, jika terjadi sesuatu dengan Presdir. Bisa dibilang Presdir adalah orang yang cukup sulit, hingga ketika sesuatu terjadi, Direktur benar-benar tidak punya waktu untuk menggunakan ponselnya.”
Setelah Keila mengumpulkan keberaniannya untuk datang menemui Andra, Keila kembali dengan tangan kosong. Selama perjalanan pulang, Keila sibuk dengan pikiran dan benaknya sendiri: menyalahkan dirinya sendiri. Rasanya seperti. . . aku adalah kekasih yang buruk. Aku bahkan tidak tahu jika Andra mengambil cuti karena sesuatu yang menimpa ayahnya. Apa aku pantas menjadi kekasih Andra? Sebenarnya apa yang kau sukai dariku, Andra? Aku merasa kamu terlalu baik untukku, seperti malaikat yang turun dari langit hanya untukku yang seorang manusia biasa.