30 DAYS WITH U

30 DAYS WITH U
21. JADILAH KEKASIHKU YANG SESUNGGUHNYA 1



Malam harinya, Keila memberikan selimut dan bantal baru kepada Andra dan mengantarkan Andra untuk tidur di kamar miliknya. 


“Ini bantal dan selimut baru yang bisa kamu gunakan,” Keila memberikan bantal dan selimut baru untuk Andra dan mengambil bantal dan selimut miliknya dari kamar miliknya. “Malam ini, kamu tidur di kamarku dan aku akan tidur bersama dengan ibuku. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa mengirim pesan kepadaku dan aku akan datang kemari. Mengerti?” 


Andra menganggukkan kepalanya sembari melihat sekeliling kamar lama milik Keila. “Jadi, ini kamarmu?” 


“Ya. Maaf jika kamarku ini terlalu sederhana dan sama sekali tidak feminim untuk kamar wanita.” 


“Ehm, kurasa memang begitu.” Andra melihat rak buku di kamar Keila dan melihat banyak tumpukan buku-buku di rak. “Aku bisa membaca buku-buku ini jika aku tidak bisa tidur?” 


Keila menganggukkan kepalanya. “Silakan saja. Aku tidak menyangka jika kamu juga suka membaca buku-buku seperti novel dan komik.” 


“Aku suka membaca hanya saja tidak sefanatik dirimu.” Andra melirik ke arah Keila dengan senyuman kecil di sudut bibirnya. “Karena pekerjaanku, terkadang aku harus banyak membaca.” 


Keila terdiam sejenak mendengar jawaban dari Andra. “Mungkinkah kamu bekerja di perusahaan penerbitan sepertiku? Selama ini aku tidak pernah bertanya karena kamu tidak pernah ingin cerita. Tapi. . . aku benar-benar penasaran dengan pekerjaanmu itu.” 


“Apa yang membuatmu penasaran?” Andra mengambil satu buku milik Keila dan membaca blurb di bagian belakang buku. 


“Kamu punya jam kerja yang bisa dikatakan tidak teratur. Kamu bahkan bisa bekerja dari rumah. Kamu juga diharuskan membaca beberapa buku. Jadi mungkinkah pekerjaanmu ini berhubungan dengan dunia buku sama seperti pekerjaanku?” 


Andra meletakkan buku yang diambilnya karena dirasa tidak menarik dan mengambil buku yang lain. Sembari dengan membaca bagian blurb, Andra menjawab pertanyaan Keila. “Jika kamu penasaran dengan pekerjaanku, jadilah kekasihku! Jika kamu melakukannya, aku akan memberitahu segalanya tentang diriku kepadamu bahkan semua aset pribadi atas namaku.” 


“Sudahlah. . .” Keila berbalik dan berjalan meninggalkan kamar di mana Andra akan tidur malam ini. “Aku lelah berdebat denganmu, Andra. Selamat malam dan selamat tidur. Kuharap kau tidak mengomel karena malam ini tidur di kamarku yang sederhana ini.” 


Tiga jam kemudian, Keila yang belum lama tertidur tiba-tiba mendengar suara notifikasi pesan masuk pada ponsel miliknya. 


Siapa yang malam-malam begini mengirim pesan padaku? Keila mengomel di dalam benaknya sembari meraih ponsel miliknya dengan mata yang masih setengah tertutup. 


[Andra: Aku tidak bisa tidur. Temani aku.]


Mata Keila langsung terbuka lebar ketika membaca pesan dari seseorang yang dikenalnya sedang menginap di rumahnya. Cih, dia benar-benar menggangguku seperti yang aku duga.


Dengan hati-hati agar ibunya tidak terbangun dari tidurnya, Keila membuka selimut yang membungkus tubuhnya dan perlahan turun dari tempat tidur. Keila bahkan berjalan dengan mengendap-endap dan membuka pintu kamar ibunya dengan super hati-hati agar ibunya tidak terbangun. 


Setelah memastikan langkahnya tidak mengganggu ibunya dan berhasil keluar dari kamar ibunya, Keila menghela napas panjang. Mata Keila langsung tertuju kepada Andra yang duduk di sofa di ruang tengah dengan memainkan ponsel miliknya.


“Malam.” Andra menyapa Keila. 


“Malam kepalamu! Ini bukan malam lagi, tapi tengah malam.” Keila menghampiri Andra dan duduk di sampingnya. “Kenapa kau tidak bisa tidur? Apa tempat tidurku tidak nyaman?” 


“Tidak.” Andra menggelengkan kepalanya. 


“Lalu apa? Apa banyak nyamuk? Perlukah aku menyalakan obat nyamuk?” 


“Bukan itu.” Andra menggelengkan kepalanya untuk kedua kalinya. 


“Lalu apa?” Keila bertanya dengan nada kesal karena Andra yang tidak bisa memberikan jawaban yang dapat dipahaminya. 


“Hawanya sedikit panas dan perutku lapar.” 


“Kau lapar?” Keila menatap Andra dengan tatapan tidak percaya. “Di tengah malam seperti ini? Ke mana perginya makanan yang tadi kamu makan saat makan malam?” 


Kali ini Andra menganggukkan kepalanya. “Entahlah aku tidak tahu. Yang jelas aku lapar dan sepertinya aku berniat untuk tidur di sini saja karena hawanya sedikit lebih sejuk.” 



“Terserah kau mau tidur di mana. Asal tidak tidur di kamar ibuku. Bahkan jika kamu ingin tidur di luar rumah, aku akan dengan senang hati membukakan pintu,” jawab Keila yang kemudian bangkit dari duduknya dan melihat ke dapur miliknya. Keila kemudian menemukan beberapa bungkus mie instan dan telur. “Kau mau makan mie instan?” 



“Jika kamu yang memasak, aku pasti akan memakannya. Karena jika aku yang memasaknya, aku tidak akan makan.” 



“Apa maksudnya dengan itu?” Keila merasa heran. 



“Aku tidak akan makan karena aku tidak punya tenaga untuk memasaknya. Jadi pemandangan aku memasak adalah pemandangan yang hanya ada di dalam benakku saja.”



Sial. Dia mempermainkan aku. Keila mengumpat di dalam benaknya mendengar jawaban dari Andra. Keila mengembuskan napasnya menahan rasa kesalnya. “Ya. . ya. . .ya, aku yang akan memasaknya. Puas?”



“Ya.” Andra menjawab dengan mata berbinar layaknya anak kecil yang merasa sangat senang. 



Sial. Benar-benar sial. Dia membuatku memasakkan makanan tengah malam untuknya. Keila mengumpat kesal namun tangannya justru melakukan sesuatu yang berbeda. Dengan gerakan cepat, Keila mulai mengambil air dan memanaskannya di panci. Begitu air mendidih, Keila memasukkan semua bumbu, mie dan telur secara bersamaan. Dalam jangka waktu lima belas menit kemudian, mie instan buatan Keila sudah matang. 



Tadinya Keila hendak membawa panci panas yang berisi mie dan telur itu ke meja di ruang tengah. Namun Andra tanpa satu suara pun lebih dulu membawa panci yang berisi mie yang panas ke meja ruang tengah di rumah Keila. 




“Kau suka??” Andra mulai menyendok kuah panas dari mie instan sebelum akhirnya meminumnya. “Jika suka, maka jadilah kekasihku.” 



Keila yang merasa kesal karena mendengar kalimat itu lagi kemudian menarik panci yang berisi mie instan mendekat ke arahnya dan menjauh dari Andra. “Jika kau ingin makan, berhentilah mengatakan kata jadilah kekasihku. Masih mau makan?” 



Andra yang sudah sangat kelaparan dengan cepat menganggukkan kepalanya menurut. “Aku tidak akan mengatakannya saat ini saja.” 



Keila tersenyum melihat Andra yang cepat menurut. Keila kemudian mendorong panci berisi mie instan itu ke tengah dan membiarkan Andra untuk mulai makan malam atau lebih tepatnya makan tengah malam. Keila yang memasak mie instan hanya bisa diam melihat Andra dengan cepat menghabiskan mie instan dua bungkus dengan dua telur di dalamnya. 



“Kau benar-benar kelaparan rupanya.” Keila mengambil selimut dan bantal yang digunakan Andra untuk tidur dan memindahkannya ke sofa di ruang tengah. 



“Ya. Aku benar-benar lapar,” jawab Andra yang sedang mencuci panci dan sendok kotor bekasnya makan. “Tapi. . . kenapa kamu tidak ikut makan? Kukira kamu akan ikut makan karena kamu memasukkan dua bungkus mie instan dan dua telur di dalamnya.” 



“Aku tidak begitu lapar dan lagi makan di tengah malam akan membuat lemak di tubuhku menumpuk.” Keila telah selesai menatap selimut dan bantal yang akan digunakan oleh Andra yang tidur di sofa ruang tengah. “Kau yakin ingin tidur di sini?” 



“Ya.” Andra yang telah selesai mencuci kemudian menghampiri Keila. “Tapi. . . akan lebih baik jika kau menemani aku tidur di sini. Mungkin aku tidak bisa tidur karena belum terbiasa saja.” 



Keila menatap tajam ke arah Andra. “Bukannya kamu tidur dengan nyenyak di hotel? Kenapa sekarang di sini kamu bilang kamu tidak terbiasa tidur di tempat asing?” 



“Aku tidak tahu kenapa.” Andra mengangkat kedua bahunya. “Tapi jika kamu tidak ingin aku kirimi pesan lagi dan tidurmu terganggu, akan lebih baik jika kamu menemani aku tidur di sini.” 



“Di mana? Di sini hanya ada satu sofa besar dan aku tidak akan mau tidur di sofa yang sama denganmu.” Untuk sesaat rasa panik tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh Keila. 



Sementara itu Andra yang menyadari rasa panik yang menyerang Keila, kemudian mengambil bantal dan selimutnya dan meletakkannya di atas karpet. “Aku akan tidur di sini dan kamu yang akan tidur di atas sofa. Bagaimana? Kamu mau menemaniku?” 



“Kamu tidak akan macam-macam bukan?” Keila menatap Andra dengan tatapan tajamnya. 



“Kamu bisa pegang ucapanku, Keila. Aku tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuanmu. Aku bahkan tidak melakukan apapun ketika makan di apartemenmu, bukan?” 



Benar juga. Selama ini dia selalu memperlakukanku dengan hormat. Jadi untuk apa rasa curigaku ini ada? Keila menganggukkan kepalanya setuju. “Baiklah. Aku akan menemanimu tidur di sini.” 


Keila kemudian mengambil bantal dan selimutnya di kamar ibunya dan kemudian berbaring di atas sofa sementara Andra tidur dengan beralaskan karpet di ruang tengah rumah Keila. 


Karena rasa lelahnya, dalam waktu singkat Keila kemudian memejamkan matanya. Dengan sisa tenaganya dan sebelum benar-benar jatuh terlelap, Keila kemudian mengucapkan salam terakhirnya kepada Andra. “Selamat tidur.” 



“Ya, selamat tidur,” balas Andra dengan tersenyum. 



Keila yang jatuh terlelap kemudian menggerakkan tubuhnya dari posisi terlentang menjadi posisi miring. Dengan posisi miring Keila, Andra dapat dengan jelas menatap wajah Keila yang tertidur dengan lelap. Andra tersenyum kecil melihat wajah Keila yang tertidur layaknya bayi yang menggemaskan. Tanpa sadar, tangan Andra kemudian bergerak ke arah wajah Keila untuk membelainya dengan lembut. 



Andra kemudian bangkit dari tidurnya agar bisa memandang wajah Keila lebih dekat. Andra membelai wajah Keila perlahan sebelum akhirnya memberikan ciuman “selamat tidur” di kening Keila. Andra kemudian berbisik kepada Keila, “Selamat tidur, kekasihku.” 



Setelah memberikan ciuman selamat tidurnya, Andra kemudian kembali berbaring dan memejamkan matanya dengan senyuman bahagia di wajahnya.